فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَا أَنْتَ بِمَلُومٍ

Maka, berpalinglah dari mereka; maka, engkau sama sekali bukan orang yang tercela.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَتَوَلَّ عَنْهُمْfa-tawalla 'anhummaka, berpalinglah dari mereka
  2. فَمَا أَنْتَ بِمَلُومٍfa-maa anta bi-maluuminmaka, engkau sama sekali bukan orang yang tercela

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَتَوَلَّfa-tawallamaka berpalinglah
  2. عَنْهُمْ'anhumdari mereka
  3. فَمَاfa-maamaka tidaklah
  4. أَنْتَantaengkau
  5. بِمَلُومٍbi-maluuminyang tercela

Inti bacaan

Frasa (فَتَوَلَّ عَنْهُمْ, fa-tawalla 'anhum) hanya muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:174, 51:54, dan 54:6.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَتَوَلَّ, fa-tawalla) yang berarti "maka berpalinglah", dari akar و-ل-ي. Kata ini memuat penyambung (فَ, fa) yang berarti "maka" dan kata kerja perintah untuk satu orang yang disapa. Frasa (فَتَوَلَّ عَنْهُمْ, fa-tawalla 'anhum) yang berarti "maka berpalinglah dari mereka" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 37:174, 51:54, dan 54:6, dan terjemahan menuliskan "Maka, berpalinglah dari mereka" pada ketiganya. Kata (عَنْهُمْ, 'anhum) yang berarti "dari mereka" tersusun dari (عَنْ, 'an) yang berarti "dari" dan akhiran (هُمْ, hum) yang berarti "mereka", yaitu jamak maskulin.

Kata kerja yang sama muncul dalam bentuk lampau di 51:39, yaitu (فَتَوَلَّىٰ, fa-tawallaa) yang berarti "maka dia berpaling", dengan pelaku Firaun. Bentuk itu muncul empat kali di tiga surah, yaitu 7:79, 7:93, 20:60, dan 51:39. Di 7:79 dan 7:93 pelakunya mengucapkan "Wahai kaumku", dan di 20:60 pelakunya Firaun. Terjemahan memakai "berpaling" pada keempatnya.

Terjemahan memakai "berpalinglah dari mereka" untuk dua kata kerja perintah lain dengan akar berbeda. Bunyi (فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ, fa-a'ridh 'anhum) yang berarti "maka berpalinglah dari mereka", dari akar ع-ر-ض, muncul empat kali di tiga surah, yaitu 4:63, 4:81, 6:68, dan 32:30. Terjemahan menuliskan "berpalinglah dari mereka" di 4:63, 4:81, dan 32:30, sedangkan di 6:68 tertulis "tinggalkanlah mereka". Bunyi (فَاصْفَحْ عَنْهُمْ, fa-shfah 'anhum) yang berarti "maka berpalinglah dari mereka", dari akar ص-ف-ح, muncul satu kali, yaitu di 43:89. Ketiga akar itu bertemu pada satu padanan Indonesia dalam tujuh dari delapan ayat tadi, sehingga akar و-ل-ي yang dipakai 51:54 hanya terbaca pada Arabnya.

Sebagai kontras, kata kerja dari akar و-ل-ي bermakna lain bila diikuti kata benda langsung tanpa (عَنْ, 'an). Bunyi (تَوَلَّوْا قَوْمًا, tawallaw qawman) yang berarti "mereka menjadikan suatu kaum sebagai sahabat" ada di 58:14, dan bunyi (تَتَوَلَّوْا قَوْمًا, tatawallaw qawman) yang berarti "kalian berteman akrab dengan suatu kaum" ada di 60:13. Di 51:54 kata kerja itu dipasangkan dengan (عَنْ, 'an) yang berarti "dari", sehingga geraknya menjauh, dan terjemahan memilih "berpalinglah" dan tidak memilih "jadikan sahabat".

Bagian kedua dibuka dengan (فَمَا أَنْتَ, fa-maa anta) yang berarti "maka tidaklah engkau". Penyambung (فَ, fa) yang berarti "maka" muncul lagi di sini, sehingga ayat memuat dua "maka" dan terjemahan menuliskan keduanya. Kata (مَا, maa) yang berarti "tidak" menafikan, dan (أَنْتَ, anta) yang berarti "engkau" menyapa satu orang laki-laki. Rangkaian (فَمَا أَنْتَ, fa-maa anta) yang berarti "maka tidaklah engkau" muncul dua kali di dua surah, yaitu 51:54 dan 52:29. Awalan (بِ, bi) yang berarti "dengan" menempel pada (مَلُومٍ, maluumin), dan terjemahan 51:54 menuliskan penafian itu dengan "sama sekali".

Kata yang dinafikan, (مَلُومٍ, maluumin) yang berarti "yang tercela", berakar ل-و-م dan muncul satu kali, yaitu di 51:54. Akar yang sama diterjemahkan "tercela" pada bentuk lain. Bunyi (مَلُومًا, maluuman) yang berarti "tercela" muncul dua kali di satu surah, yaitu 17:29 dan 17:39. Bunyi (غَيْرُ مَلُومِينَ, ghayru maluumiina) yang berarti "tidak tercela" muncul dua kali di dua surah, yaitu 23:6 dan 70:30. Bunyi (مُلِيمٌ, muliimun) yang berarti "tercela" muncul dua kali di dua surah, yaitu 37:142 dan 51:40. Data morfologi Al-Qur'an menandai (مَلُومٍ, maluumin) yang berarti "yang tercela" sebagai partisip pasif, dan menandai (مُلِيمٌ, muliimun) yang berarti "tercela" sebagai partisip aktif bentuk IV. Dari dua tanda itu dapat dinalar bahwa yang pertama menyebut pihak yang dikenai celaan dan yang kedua pihak yang berbuat sesuatu yang mendatangkan celaan; penalaran ini bukan tanda dalam data. Perbedaan itu tidak terbaca pada kata Indonesia "tercela", dan hanya terbaca pada bunyi Arabnya. Akar lain, ذ-م-م, juga diterjemahkan "tercela" pada (مَذْمُومًا, madzmuuman) yang berarti "tercela" di 17:18 dan 17:22.

Tafsiran

Ayat ini bersambung dengan 51:52 dan 51:53. Di 51:52 setiap rasul yang datang kepada orang-orang sebelum mereka menerima ucapan "Penyihir atau orang gila", dan 51:53 bertanya apakah mereka saling mewariskan ucapan itu, lalu menjawab bahwa mereka kaum yang melampaui batas. Dua ayat itu membicarakan "mereka", dan 51:54 beralih ke sapaan "engkau". Ayat ini tersusun dari dua bagian yang sama-sama dibuka dengan "maka": perintah berpaling dari mereka, lalu penafian celaan atas yang disapa.

Di surah yang sama gerak berpaling dan keadaan tercela sudah muncul untuk Firaun. Di 51:39 Firaun berpaling bersama pendukungnya sesudah Musa diutus dengan keterangan yang nyata di 51:38, lalu mengucapkan "Penyihir atau orang gila", dan 51:40 menutup bagian itu dengan Firaun dalam keadaan tercela. Di 51:54 dua unsur itu hadir lagi dengan pemegang yang berbeda: penerima perintah berpaling atas perintah, dan celaan dinafikan darinya. Susunan ini dapat dibaca sebagai penyeimbang, yaitu berpaling pada Firaun disusul keadaan tercela, sedangkan berpaling atas perintah disusul penafian celaan. Ayat tidak menyatakan hubungan itu, jadi bacaan ini tetap tafsir atas susunan surah.

Surah 52 memuat susunan serupa. Di 52:29 perintah memberi peringatan disusul penafian dengan pembuka yang sama dengan bagian kedua ayat ini, dan yang dinafikan di sana berupa dua sebutan: "engkau bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila". Sebutan "orang gila" itu juga yang muncul di 51:39 dan 51:52. Penafian di 52:29 menyangkut dua sebutan, dan penafian di 51:54 menyangkut celaan.

Dua kemunculan lain dari perintah berpaling disusul hal yang berlainan. Di 37:174 perintah itu disusul batas waktu, "sampai suatu waktu", dan di 54:6 disusul keterangan tentang hari ketika "penyeru menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan". Di 51:54 penyusulnya penafian celaan, lalu 51:55 menyambung dengan perintah lain: "Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan bermanfaat bagi orang-orang beriman." Pembagian sasaran dapat dibaca dari urutan itu: berpaling tertuju kepada "mereka", sedangkan manfaat peringatan dikaitkan dengan "orang-orang beriman".

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja berpaling dipakai untuk Firaun di 51:39 sesudah Musa diutus dengan keterangan yang nyata di 51:38, dan dipakai lagi di 51:54 sebagai perintah kepada yang disapa. Dua pelaku itu melakukan gerak yang tampak serupa, tetapi 51:40 menutup yang pertama dengan keadaan tercela, sedangkan 51:54 menafikan celaan dari yang kedua. Seseorang yang sedang menjauh dari sebuah pertemuan, pekerjaan, atau percakapan dapat memperhatikan apa yang sebenarnya ditinggalkannya: keterangan yang jelas, atau sikap orang-orang di sekitar keterangan itu. Ayat-ayat tadi memuat dua gerak serupa dengan penutup berlainan tanpa menyamakannya. Gerak menjauh yang sedang dijalani itu yang mana?
  • Di 2:272 tertulis bahwa Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan di 7:79 serta 7:93 pelaku yang berpaling dari mereka mengucapkan "sungguh aku telah menyampaikan kepada kalian". Ayat-ayat itu menempatkan petunjuk pada Allah dan penyampaian pada penyampai. Dengan latar tersebut, penafian celaan di 51:54 dapat dibaca sebagai penilaian atas pekerjaan menyampaikan, tidak atas hasil di hati pendengar. Orang yang sudah menjelaskan, mengingatkan, atau menasihati dengan sungguh-sungguh lalu berhadapan dengan penolakan dapat menimbang apakah ukuran yang dipakainya untuk menilai diri sudah sejalan dengan pembagian dalam ayat-ayat itu. Bila Allah yang memberi petunjuk, bagian mana dari sebuah hasil yang memang berada di tangan penyampai?
  • Di 17:39 kata tercela menyusul larangan menjadikan tuhan lain bersama Allah: "nanti engkau dilemparkan ke dalam Jahanam dalam keadaan tercela lagi terusir". Di 17:29 kata Indonesia yang sama menyusul larangan mengulurkan tangan sepenuh-penuhnya, dan di 51:40 kata Indonesia itu menyusul perbuatan Firaun di 51:39. Ketiga ayat mengaitkan kata tercela dengan perbuatan yang disebut dalam ayat itu sendiri atau tepat sebelumnya. Seseorang yang merasa dicela dapat mencari apakah ada perbuatan tertentu yang melekat pada celaan itu, sebelum menganggapnya pasti benar atau pasti keliru. Pencarian itu mengubah celaan dari kesan umum menjadi sesuatu yang dapat diperiksa satu per satu.
  • Di 43:89 perintah berpaling dari mereka disusul perintah mengucapkan "Salam", dan di 73:10 perintah meninggalkan mereka disertai "dengan cara yang baik". Dua ayat itu menyebut cara berpisah di samping perintah berpisahnya, sedangkan 51:54 memuat perintah berpaling tanpa keterangan tentang cara. Orang yang hendak menjauh dari sebuah perdebatan atau hubungan dapat membaca dua ayat tadi sebagai pemisah antara dua keputusan: jarak yang diambil dan sikap saat mengambilnya. Apakah kata terakhir yang diucapkan ketika meninggalkan sebuah percakapan pernah dipilih sesengaja keputusan untuk meninggalkannya?
  • Di 5:54 Allah menyebut suatu kaum yang Dia cintai dan yang mencintai-Nya, dan di antara ciri mereka tertulis "tidak takut pada celaan orang yang mencela". Penafian di 51:54 dan ciri di 5:54 sama-sama berurusan dengan celaan: yang pertama menafikannya dari yang disapa, yang kedua menyebut ketidakgentaran terhadapnya. Seseorang yang menimbang suatu langkah dapat memperhatikan seberapa besar celaan yang dibayangkan ikut menentukan keputusannya. Ayat 5:54 menaruh ketidakgentaran terhadap celaan di samping kecintaan timbal balik antara Allah dan kaum itu. Apakah celaan yang dibayangkan lebih menentukan langkah daripada alasan yang ada pada keputusan itu?
  • Di 51:50 tertulis "berlarilah kepada Allah", dan pembicara menyebut dirinya "seorang pemberi peringatan yang jelas", dengan kata yang sama di 51:51. Di 51:54 sapaan berubah menjadi "engkau", dan isinya menyangkut keadaan penyampai sendiri. Perubahan itu dapat dibaca sebagai perhatian kepada orang yang selama ini berbicara kepada orang lain. Bila sapaan di 51:54 dibaca sebagai sapaan Allah, penilaian atas pekerjaan menyampaikan dapat dibaca datang dari Dia kepada si penyampai, dan tidak dari para pendengarnya. Seseorang yang terus menyampaikan, mengajar, atau menasihati dapat memperhatikan siapa yang berhak menyatakan pekerjaannya sudah tunai. Dari pihak mana penilaian atas pekerjaan itu ditunggu?