إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sesungguhnya Allah, Dialah Sang Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi kukuh.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- إِنَّ اللَّهَinna llaahasesungguhnya Allah
- هُوَ الرَّزَّاقُhuwa r-razzaaquDialah Sang Pemberi Rezeki
- ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُdzuu l-quwwati l-matiinuyang mempunyai kekuatan lagi kukuh
Terjemahan per kata (7 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- هُوَhuwaDialah
- الرَّزَّاقُr-razzaaquSang Pemberi Rezeki
- ذُوdzuupemilik
- الْقُوَّةِl-quwwatikekuatan
- الْمَتِينُl-matiinuyang kukuh
Inti bacaan
Frasa (ذُو الْقُوَّةِ, dzuu l-quwwati) hanya ada di 51:58.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ اللَّهَ هُوَ, inna llaaha huwa) yang berarti "sesungguhnya Allah, Dialah". Susunan itu muncul sebelas kali di sepuluh surah, yaitu 5:17, 5:72, 9:118, 31:26, 40:20, 42:5, 43:64, 51:58, 57:24, 60:6, dan 66:4. Jumlah surah lebih kecil dari jumlah kemunculan karena Surah 5 memuatnya dua kali, dan di kedua tempat itu susunan itu ada dalam ucapan orang-orang yang dinyatakan kufur. Isi pernyataan berbeda menurut kata yang menyusul sesudah (هُوَ, huwa) yang berarti "Dialah". Susunan (إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ, inna llaaha huwa l-ghaniyyu l-hamiidu) yang berarti "sesungguhnya Allah, Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 31:26, 57:24, dan 60:6. Di 43:64 susunan itu disusul (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku", dan di 51:58 disusul (الرَّزَّاقُ, r-razzaaqu).
Kata (الرَّزَّاقُ, r-razzaaqu) yang berarti "Sang Pemberi Rezeki" berakar ر-ز-ق dan muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 51:58. Dengan sandang takrif, kata itu terbaca sebagai gelar tetap, dan terjemahan memakai "Sang" sebagaimana pada (الْغَنِيُّ, l-ghaniyyu) di 31:26 yang diterjemahkan "Sang Berkecukupan". Akar yang sama sudah tampil dua kali lebih awal di surah ini: (رِزْقُكُمْ, rizqukum) yang berarti "rezeki kalian" di 51:22, dan (رِزْقٍ, rizqin) yang berarti "rezeki" di 51:57. Bentuk (رِزْقٍ, rizqin) muncul empat kali di empat surah, yaitu 10:59, 18:19, 45:5, dan 51:57. Pelaku pemberian rezeki di tempat lain disebut dalam bentuk jamak: (خَيْرُ الرَّازِقِينَ, khayru r-raaziqiina) yang berarti "sebaik-baik pemberi rezeki" muncul lima kali di lima surah, yaitu 5:114, 22:58, 23:72, 34:39, dan 62:11. Bentuk jamak itu didahului kata pembanding, sedangkan 51:58 tidak memuat kata pembanding, sehingga terjemahan membedakan keduanya: "Sang Pemberi Rezeki" di sini dan "sebaik-baik pemberi rezeki" di sana. Bentuk kata kerja (نَرْزُقُكَ, narzuquka) yang berarti "Kami memberimu rezeki" muncul satu kali, yaitu di 20:132, dan terjemahan di sana berbunyi "Kamilah yang memberi rezeki kepadamu". Ayat 51:58 memakai kata benda untuk hal yang sama.
Sebutan berikutnya, (ذُو الْقُوَّةِ, dzuu l-quwwati) yang berarti "yang mempunyai kekuatan", muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 51:58. Kata (ذُو, dzuu) yang berarti "yang mempunyai" dipakai untuk menyebut pemilik sesuatu, dan kata (الْقُوَّةِ, l-quwwati) yang berarti "kekuatan" muncul dua kali di dua surah, yaitu 28:76 dan 51:58. Di 28:76 bunyinya (أُولِي الْقُوَّةِ, ulii l-quwwati) yang berarti "pemilik kekuatan", dan terjemahan menuliskan bahwa kunci perbendaharaan Qarun "sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat". Bentuk (ذِي قُوَّةٍ, dzii quwwatin) yang berarti "yang memiliki kekuatan" muncul satu kali, yaitu di 81:20, dengan terjemahan "Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi yang memiliki Arasy", sesudah 81:19 yang menyebut "utusan yang mulia". Kata (ذُو, dzuu) dipakai juga untuk Allah dengan benda lain: (ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ, dzuu l-fadhli l-'azhiimi) yang berarti "pemilik karunia yang agung" muncul enam kali di lima surah, yaitu 2:105, 3:74, 8:29, 57:21, 57:29, dan 62:4, dan (ذُو الْعَرْشِ, dzuu l-'arsyi) yang berarti "pemilik Arasy" muncul dua kali di dua surah, yaitu 40:15 dan 85:15.
Sebutan penutup, (الْمَتِينُ, l-matiinu) yang berarti "yang kukuh", berakar م-ت-ن dan muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 51:58. Bentuk (مَتِينٌ, matiinun) yang berarti "kukuh" muncul dua kali di dua surah, yaitu 7:183 dan 68:45, dan keduanya berbunyi (إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ, inna kaydii matiinun) yang berarti "sesungguhnya siasat-Ku kukuh". Terjemahan 7:183 berbunyi "Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya siasat-Ku kukuh.", dan terjemahan 68:45 hampir sama. Di dua ayat itu kata kukuh dikenakan pada siasat Allah, dan di 51:58 kata yang sama dikenakan pada Allah sendiri.
Alasan menerjemahkan (الْمَتِينُ, l-matiinu) dengan "lagi kukuh" terletak pada susunan akhir ayat. Kata (الْمَتِينُ, l-matiinu) yang berarti "yang kukuh" berakhir dengan bunyi -u, sama dengan (الرَّزَّاقُ, r-razzaaqu) yang berarti "Sang Pemberi Rezeki" dan (ذُو, dzuu) yang berarti "yang mempunyai". Kata (الْقُوَّةِ, l-quwwati) yang berarti "kekuatan" berakhir dengan bunyi -i. Dalam data morfologi Al-Qur'an, (الْمَتِينُ, l-matiinu) bertanda kata sifat dengan kasus yang sama seperti (الرَّزَّاقُ, r-razzaaqu), sedangkan (الْقُوَّةِ, l-quwwati) bertanda kasus yang berbeda, sehingga (الْمَتِينُ, l-matiinu) terbaca sebagai sebutan bagi Allah, sejajar dengan sebutan sebelumnya, dan tidak sebagai keterangan bagi kekuatan. Ketiga sebutan tersusun tanpa huruf (وَ, wa) yang berarti "dan" di antaranya, dan kata "lagi" dalam terjemahan memakai pola yang sama dengan "lagi Sang Terpuji" di 31:26.
Tafsiran
Ayat ini berada di tengah rangkaian pendek yang berbicara tentang tujuan penciptaan dan tentang rezeki. Ayat 51:56 berbunyi "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." Ayat 51:57 berbunyi "Aku tidak menghendaki rezeki apa pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi-Ku makan." Kedua ayat itu berbicara dengan kata ganti orang pertama, sedangkan 51:58 menyebut nama Allah dan memakai kata ganti orang ketiga. Dari tiga ayat itu terbaca urutan: tujuan penciptaan dinyatakan, keinginan akan rezeki dari makhluk dinafikan, lalu pemberi rezeki disebut dengan nama. Hubungan sebab di antara ketiganya tetap bacaan, dan ayat tidak menyebut penerima rezeki di 51:58, sehingga sebutan itu berdiri tanpa pembatas.
Tiga sebutan berderet dalam satu kalimat tanpa kata kerja: pemberi rezeki, pemilik kekuatan, dan yang kukuh. Susunan itu dapat dibaca sebagai satu gambaran, yaitu pemberian yang ditopang kekuatan dan tidak goyah. Ayat 20:132 memakai kata kerja untuk perbuatan yang sama, sehingga 51:58 menempatkan pemberian rezeki pada sebutan, sedangkan 20:132 menempatkannya pada perbuatan.
Surah ini sendiri menyebut rezeki tiga kali dengan kata dari akar yang sama. Ayat 51:22 berbunyi "Dan di langit ada rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian." Ayat 51:57 menafikan rezeki dari makhluk, dan 51:58 menyebut pemberinya. Ketiga ayat dapat dibaca sebagai tiga langkah: letak rezeki, arah yang dinafikan, lalu pemberi yang disebut dengan nama.
Sesudah 51:58, surah beralih ke pihak lain. Ayat 51:59 berbunyi "Maka, sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim ada bagian seperti bagian teman-teman mereka; maka, janganlah mereka meminta-Ku menyegerakan." Ayat 51:60 berbunyi "Maka, celakalah orang-orang yang kufur, karena hari mereka yang dijanjikan." Ayat 51:58 berada tepat sebelum peralihan itu dan memuat tiga sebutan Allah dalam satu kalimat.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang merasa menjadi penopang utama bagi keluarga atau tim kerja dapat membaca 51:58 berdampingan dengan 20:132, yang berbunyi "Kami tidak meminta rezeki kepadamu; Kamilah yang memberi rezeki kepadamu." Di kedua tempat itu Allah menyebut diri-Nya sebagai pihak yang memberi rezeki, dan di 51:57 Allah menyatakan tidak menghendaki rezeki dari makhluk. Sebutan Sang Pemberi Rezeki ditaruh pada Allah, sehingga peran seseorang sebagai penopang dapat ditimbang dengan sebutan itu di sampingnya. Dalam peran sebagai penopang, sebutan mana yang selama ini dipakai untuk menamai peran itu?
- Kata kekuatan berbentuk l-quwwati tertulis di dua ayat, yaitu 28:76 dan 51:58. Di 28:76 kekuatan disebut pada sejumlah orang yang memikul kunci-kunci perbendaharaan Qarun, yang menurut terjemahan "sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat", dan di 51:58 kekuatan disebut pada Allah yang memberi rezeki. Pembaca yang memiliki harta, jabatan, atau tenaga yang besar dapat menimbang kekuatannya sendiri di antara dua tempat itu. Ketika kekuatan sendiri terasa cukup untuk mengamankan rezeki, dua tempat itu ditimbang dalam urutan yang mana?
- Akar kata yang berarti kukuh tertulis tiga kali di Al-Qur'an, dan ketiganya menyangkut Allah. Ayat 7:183 berbunyi "Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya siasat-Ku kukuh.", ayat 68:45 memuat kalimat Arab yang sama, dan ayat 51:58 memakai kata itu untuk Allah sendiri. Bagi pembaca yang sedang menimbang apakah sebuah pegangan cukup kukuh untuk dipercaya, ketiga tempat itu menyebut dua sasaran, yaitu siasat Allah dan Allah sendiri. Pegangan yang dipercaya selama ini dapat ditimbang dengan dua sasaran itu.
- Tiga ayat berurutan memuat arah yang berlainan. Ayat 51:56 menyebut bahwa jin dan manusia diciptakan agar mereka beribadah kepada Allah, ayat 51:57 menafikan keinginan akan rezeki dan makanan dari mereka, dan ayat 51:58 menyebut Allah Sang Pemberi Rezeki. Bagi pembaca yang menghitung ibadahnya seperti setoran yang menuntut imbalan, urutan itu dapat dibaca sebagai penempatan rezeki pada arah yang berlawanan dengan setoran, karena keinginan akan rezeki dari makhluk dinafikan. Bila ibadah dibaca bersama ketiga ayat itu, bagian mana dari perhitungan setoran yang masih bertahan?
- Ayat 17:31 berbunyi "Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian." dan ayat 6:151 berbunyi "Kamilah yang memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka." Pada kedua ayat itu tercantum kekhawatiran akan kemiskinan, dan pelaku pemberian rezeki bagi anak maupun orang tua dinyatakan satu, yaitu Allah. Di 51:58 tidak ada penerima yang disebut, sehingga sebutan Sang Pemberi Rezeki dapat dibaca bersama kedua ayat tadi oleh orang tua yang sedang menghitung kebutuhan anaknya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa anak dan orang tua disebut dalam satu rangkaian kalimat.
- Ayat 51:58 menyebut Allah dengan sebutan tanpa kata kerja yang menunjuk satu peristiwa, sedangkan 35:3 memakai kata kerja dalam bentuk pertanyaan: "Adakah pencipta selain Allah yang memberi kalian rezeki dari langit dan bumi?" Orang yang mengalami rezeki sebagai peristiwa, misalnya gaji yang cair, hasil panen, atau pesanan yang masuk, dapat memperhatikan bahwa 51:58 menamai Allah dengan sebutan, dan peristiwa tertentu tidak menjadi cara tunggal ayat membicarakan pemberian. Rezeki yang dialami sebagai peristiwa dapat dibaca ulang bersama sebutan yang tidak menunjuk peristiwa itu. Setelah pembacaan ulang itu, peristiwa itu terlihat berbeda atau tetap sama?