Ayat 52:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
وَالطُّورِ
Demi gunung,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالطُّورِwa-th-thuuridemi gunung
Terjemahan per kata (1 kata)
- وَالطُّورِwa-th-thuuridemi gunung
Inti bacaan
Sumpah pembukaan At-Tur 'demi gunung', citra geografis pertama dalam rangkaian sumpah yang membangun suasana khidmat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالطُّورِ, wa-th-thuuri) yang berarti "demi gunung". Kata itu menyatu dengan awalan sumpah, sehingga bentuk utuhnya diterjemahkan "demi gunung" dan tidak "dan gunung". Ayat ini membuka surah, jadi tidak ada kalimat sebelumnya yang bisa disambung dengan kata "dan". Awalan yang sama membuka (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa) di 53:1 yang berarti "demi bintang ketika jatuh", dan (وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا, wa-dz-dzaariyaati dzarwan) di 51:1 yang berarti "demi angin yang menerbangkan dengan sekuat-kuatnya".
Kata (الطُّورِ, th-thuuri) dipakai di sepuluh ayat dalam seluruh korpus, yaitu 2:63, 2:93, 4:154, 19:52, 20:80, 23:20, 28:29, 28:46, 52:1, dan 95:2. Di 2:63, 2:93, dan 4:154 gunung itu diangkat di atas sekelompok orang, seperti (وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ, wa-rafa'naa fawqahumu th-thuura) di 4:154 yang berarti "dan Kami angkat gunung itu di atas mereka". Di 19:52, 20:80, 28:29, dan 28:46 gunung itu menjadi tempat sesuatu terjadi, seperti (جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ, jaanibi th-thuuri l-aymani) di 19:52 yang berarti "sisi kanan gunung Tur". Di 23:20 kata ini berpasangan dengan nama, yaitu (طُورِ سَيْنَاءَ, thuuri saynaa'a). Hanya dua ayat yang memakainya untuk bersumpah, yaitu 52:1 dan 95:2, (وَطُورِ سِينِينَ, wa-thuuri siiniina) yang berarti "dan demi gunung Sinai". Delapan dari sepuluh ayat itu memakai kata ini dengan kata sandang, yaitu 2:63, 2:93, 4:154, 19:52, 20:80, 28:29, 28:46, dan 52:1. Dua lainnya, 23:20 dan 95:2, memakainya tanpa kata sandang dan langsung disusul nama, sehingga terjemahan di dua tempat itu memuat namanya.
Terjemahan "gunung" tanpa kata "itu" mengikuti cara sumpah dalam korpus. Di 2:63 dan 4:154 kata "itu" dipakai karena gunung itu menjadi bagian dari kisah yang sedang diceritakan. Di ayat pembuka surah tidak ada pembicaraan sebelumnya, dan 51:1 serta 53:1 juga menyebut hal yang disumpahkan tanpa kata penunjuk. Nama diri tidak ditambahkan di sini, karena ayat ini tidak memuat kata sesudah (الطُّورِ, th-thuuri) yang menyebut nama itu, berbeda dengan 95:2 yang memuatnya.
Gunung yang disumpahkan di sini memakai kata yang berbeda dari gunung yang bergerak di 52:10, (وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا, wa-tasiiru l-jibaalu sayran) yang berarti "dan gunung-gunung bergerak dengan dahsyat". Kata (الْجِبَالُ, l-jibaalu) di ayat itu berbeda dari (الطُّورِ, th-thuuri), dan ayat ini tidak menyatakan bahwa keduanya menunjuk gunung yang sama. Surah At-Tur dibuka dengan rangkaian sumpah tanpa huruf muqatta'aat, konsisten dengan pola Surah 51 sebelumnya.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi gunung, sebagai pembuka rangkaian sumpah menuju penegasan kepastian azab. Rangkaian itu berjalan enam ayat. Gunung disebut di 52:1, kitab yang ditulis di 52:2, lembaran yang terbuka di 52:3, Rumah yang diramaikan di 52:4, atap yang ditinggikan di 52:5, dan laut yang dipenuhi di 52:6. Pernyataan yang dijawab oleh enam sumpah itu baru datang di 52:7, (إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ, inna 'adzaaba rabbika la-waaqi'un) yang berarti "sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi". Karena itu 52:1 tidak berdiri sendiri, dan baru terbaca penuh bersama ayat yang menutup rangkaiannya.
Letak ayat ini di awal surah memberi gunung kedudukan yang berbeda dari kelima sumpah sesudahnya. Gunung disebut tanpa keterangan apa pun, sedangkan kitab, lembaran, Rumah, dan atap masing-masing diikuti kata yang menerangkan keadaannya. Ayat-ayat berikutnya menambahkan keterangan keadaan pada benda yang disebut sesudahnya, sedangkan gunung disebut polos.
Surah ini menyebut gunung dalam dua keadaan. Di 52:1 gunung disumpahkan tanpa keterangan gerak, dan di 52:9-10 langit berguncang sekeras-kerasnya sementara gunung-gunung bergerak dengan dahsyat. Pembaca yang menaruh kedua ayat itu berdampingan melihat dua keadaan gunung dalam satu surah, dan keduanya dipisahkan oleh pernyataan di 52:7-8 tentang azab Tuhanmu yang pasti terjadi dan tidak dapat ditolak oleh sesuatu pun. Ayat ini tidak menjelaskan hubungan gunung yang disumpahkan dengan gunung-gunung yang bergerak itu.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini dibuka dengan satu benda yang tidak diberi keterangan apa pun, dan pembaca dibiarkan berdiri di depannya sebelum diberi alasan untuk ikut. Orang yang terbiasa meminta penjelasan dulu baru mau mendengar sering melewatkan hal yang hanya bisa dirasakan dengan berdiri diam beberapa saat. Gunung yang disebut sendirian di awal surah memberi contoh tentang cara menerima sebuah kabar, yaitu dengan memberi ruang bagi kabar itu untuk menjadi besar lebih dulu. Pembaca yang pernah berdiri di kaki gunung tahu bahwa rasa kecil muncul sebelum ada satu kalimat pun yang menerangkannya. Apa yang terjadi pada sebuah kabar jika pendengarnya diberi waktu sebentar untuk merasa kecil sebelum mendengar isinya?
- Gunung disumpahkan di 52:1 sebagai sesuatu yang tampak tidak berubah, lalu di 52:10 gunung-gunung bergerak dengan dahsyat pada hari ketika azab Tuhanmu terjadi seperti dinyatakan 52:7. Orang yang menaruh seluruh rasa amannya pada sesuatu yang terlihat kokoh, seperti jabatan, tabungan, atau nama keluarga, bisa menimbang ayat ini sebagai pengingat bahwa benda yang paling kokoh pun tercatat bergerak pada hari yang dijanjikan. Dua ayat yang berjauhan itu menggeser pertanyaan dari "apa yang masih tegak" menjadi "kepada apa pembaca menyandarkan diri ketika yang tegak pun bergerak".
- Enam sumpah beruntun menahan pembaca dengan satu pertanyaan yang belum dijawab, yaitu demi benda-benda itu apa yang akan dinyatakan. Jawabannya baru muncul di 52:7 dan menyebut Tuhanmu. Pembaca yang sabar menunggu enam ayat sampai pernyataan itu tiba mengalami sendiri bagaimana sebuah kabar disusun supaya tidak terdengar seperti kabar biasa. Orang yang mudah gelisah menunggu pesan penting, misalnya hasil pemeriksaan atau keputusan yang menentukan, mengenal jeda semacam ini dari pengalamannya sendiri.
- Kata gunung yang sama dipakai di 2:63, 2:93, dan 4:154 untuk gunung yang diangkat di atas sekelompok orang, dan di 19:52 serta 20:80 untuk sisi tempat sesuatu disampaikan. Gunung di 52:1 tidak membawa salah satu dari kedua kisah itu secara tertulis, tetapi pembaca yang mengenal ayat-ayat tadi mendengar gema keduanya. Orang yang membaca ulang sebuah ayat bertahun-tahun kemudian sering menemukan bahwa kata yang dulu terasa kosong ternyata sudah terisi oleh ayat lain yang dibacanya di antara waktu itu.
- Urutan sumpah memperlihatkan apa yang diletakkan pertama. Gunung berada di depan kitab, lembaran, Rumah, atap, dan laut. Pembaca bisa bertanya apa yang selalu diletakkannya pertama dalam daftar hal yang dianggapnya pasti, dan apakah urutan itu pernah diperiksanya. Orang yang menyusun hidupnya di sekitar sebuah urusan besar, misalnya pekerjaan atau pencapaian, kadang baru menyadari urutan itu ketika hal tersebut berubah.
- Seluruh rangkaian sumpah berujung pada 52:7 yang menyebut Tuhanmu, dan sasaran sapaan itu tunggal, yaitu engkau. Pembaca yang mendengar enam benda disebut berurutan, lalu disapa langsung pada ujungnya, mengalami perpindahan dari pemandangan yang luas ke pembaca sendiri. Pengalaman itu mirip berjalan di antara deretan gunung dan tiba-tiba mendengar namanya dipanggil dari jauh, sehingga perhatiannya yang tadi menyebar menjadi satu.
Ayat 52:2
وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ
dan demi Kitab yang ditulis,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَكِتَابٍwa-kitaabindan demi Kitab
- مَسْطُورٍmasthuurinyang ditulis
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَكِتَابٍwa-kitaabindan kitab
- مَسْطُورٍmasthuurinyang tertulis
Inti bacaan
Sumpah kedua 'demi Kitab yang ditulis', dimensi tekstual yang menambah bobot pada rangkaian sumpah pembukaan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ, wa-kitaabin masthuurin) yang berarti "dan demi Kitab yang ditulis". Awalan (وَ, wa) pada kata pertama di sini tetap berarti "demi", karena ayat ini melanjutkan sumpah dari 52:1. Kata (كِتَابٍ, kitaabin) tidak memakai kata sandang, sehingga bentuknya juga bisa dibaca "sebuah kitab". Surah ini belum menyebut kitab mana pun sebelum ayat ini, jadi kata itu tidak menunjuk kembali ke sesuatu yang sudah dikenal dari ayat sebelumnya. Huruf besar pada "Kitab" dalam terjemahan mengikuti pilihan yang dipakai di tempat lain untuk kitab sebagai catatan tertulis, yaitu 20:52 "di dalam sebuah Kitab", 22:70 "ada dalam sebuah Kitab", dan 35:11 "kecuali dalam Kitab".
Kata (مَسْطُورٍ, masthuurin) berakar س-ط-ر. Akar ini dipakai di enam belas ayat: 6:25, 8:31, 16:24, 17:58, 23:83, 25:5, 27:68, 33:6, 46:17, 52:2, 52:37, 54:53, 68:1, 68:15, 83:13, dan 88:22. Bentuk yang berarti "tertulis" ada di 17:58, 33:6, dan 52:2. Di 17:58 dan 33:6 bentuknya sama persis dan berpasangan dengan kitab, (فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا, fii l-kitaabi masthuuran) yang berarti "di dalam Kitab tertulis". Di 54:53 bentuk (مُسْتَطَرٌ, mustatharun) menyatakan hal yang sama untuk segala yang kecil dan yang besar, dan di 68:1 (وَمَا يَسْطُرُونَ, wa-maa yasthuruuna) menyebut apa yang mereka tuliskan, dengan pelaku yang disebut, yaitu mereka. Di 52:2 pelaku perbuatan menulis tidak disebut.
Dari enam belas ayat itu, sembilan memakai bentuk yang berarti "dongeng-dongeng", yaitu 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Contohnya (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliina) di 16:24 yang berarti "dongeng-dongeng orang-orang terdahulu", yang diucapkan untuk menjawab pertanyaan apa yang diturunkan Tuhan. Dua ayat lain memakai bentuk yang berarti "penguasa", yaitu (الْمُصَيْطِرُونَ, l-mushaythiruuna) di 52:37 dan (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaythirin) di 88:22. Akar ini dengan begitu menampung tiga arti di korpus, yaitu tulisan yang disumpahkan di 52:2, tulisan yang ditolak sebagai dongeng, dan kekuasaan. Arti itu ditentukan oleh bentuk kata dan susunannya, sehingga terjemahan "yang ditulis" di ayat ini tidak membawa arti dongeng.
Bentuk (مَسْطُورٍ, masthuurin) menyebut sesuatu yang sudah dikenai perbuatan menulis, sehingga terjemahannya "yang ditulis" dan tidak "yang menulis". Di 17:58 bentuk yang sama diterjemahkan "tertulis", dan itu juga benar. Di sini "yang ditulis" dipilih karena kata ini menerangkan "Kitab" secara langsung dalam deretan sumpah yang semuanya menyebut keadaan benda, yaitu "yang terbuka" di 52:3, "yang diramaikan" di 52:4, dan "yang ditinggikan" di 52:5.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sumpah demi catatan tertulis, yang dapat dibaca merujuk pada ketetapan yang telah dituliskan, walaupun ayat tidak menyebut isinya. Sumpah kedua ini berbeda dari yang pertama karena benda yang disumpahkan sudah memuat isi. Gunung di 52:1 adalah benda yang bisa dilihat, sedangkan kitab di 52:2 adalah benda yang bisa dibaca. Perpindahan dari yang dilihat ke yang dibaca terjadi di antara dua ayat yang bersebelahan.
Ayat ini dan ayat sesudahnya membentuk satu gambaran. Ayat 52:3 dibuka dengan (فِي رَقٍّ, fii raqqin) dan tidak memakai awalan sumpah, sedangkan 52:1, 52:2, 52:4, 52:5, dan 52:6 masing-masing dibuka dengan awalan itu. Karena itu (فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ, fii raqqin mansyuurin) terbaca sebagai keterangan tempat bagi kitab di ayat ini, dan dua ayat itu bersama berbunyi "Kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka". Rangkaian enam ayat itu dengan begitu berisi lima sumpah, yaitu gunung, kitab, Rumah, atap, dan laut.
Kata penutup tiap ayat dari 52:1 sampai 52:6 berbunyi akhir sama, yaitu -uur. Lima penutup dari 52:2 sampai 52:6, yaitu (مَسْطُورٍ, masthuurin), (مَنْشُورٍ, mansyuurin), (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri), (الْمَرْفُوعِ, al-marfuu'i), dan (الْمَسْجُورِ, al-masjuuri), semuanya menyebut sesuatu yang sudah dikenai perbuatan: ditulis, terbuka, diramaikan, ditinggikan, dan dipenuhi. Gunung di 52:1 disebut tanpa keterangan seperti itu, sehingga rangkaian sumpah ini bergerak dari benda yang disebut polos ke benda-benda yang masing-masing diberi keterangan keadaannya.
Ayat ini tidak menyebut isi tulisannya. Pernyataan yang menjawab rangkaian sumpah baru datang di 52:7, (إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ, inna 'adzaaba rabbika la-waaqi'un) yang berarti "sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi".
Renungan dan Hikmah
- Sumpah yang menyebut sesuatu yang tertulis menaruh sebuah gambaran di depan pembaca, yaitu halaman yang isinya sudah ada sebelum dibuka. Orang yang membuka surat tagihan, hasil ujian, atau catatan medis tahu bahwa isinya tidak berubah karena pembacanya menunda. Menunda membuka sering tidak disadari sebagai sikap tersendiri terhadap isi yang menunggu itu. Ayat ini mengajak membayangkan kitab dengan cara yang sama, yaitu sebagai sesuatu yang sudah selesai ditulis dan tinggal menunggu orang yang mau membacanya sampai habis. Berapa lama halaman yang sudah selesai ditulis dibiarkan menunggu di meja yang sama?
- Gunung bisa dipandang dari jauh tanpa membaca apa pun, tetapi kitab baru bermakna ketika dibuka dan dibaca. Perpindahan dari 52:1 ke 52:2 meminta pembaca menukar cara memperhatikan, dari melihat sekilas menjadi membaca perlahan. Orang yang selama ini cukup puas dengan kesan pertama terhadap orang lain atau sebuah berita bisa menimbang apakah sudah pernah membaca sampai ke isinya. Menilai dari sampul dan judul tidak cukup di hadapan benda yang isinya berupa tulisan.
- Di 20:52 pengetahuan tentang sesuatu disebut ada pada Tuhanku di dalam sebuah Kitab, lalu ayat itu langsung melanjutkan bahwa Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa. Dua kalimat itu berdampingan dalam satu ayat, dan pembaca yang pernah salah mengingat janji atau tanggal membacanya dengan rasa yang berbeda dari orang yang tidak pernah lupa. Kitab yang ditulis di 52:2 dapat dibaca bersama sandingan itu, sehingga kata "ditulis" terdengar sebagai kabar tentang sesuatu yang terjaga.
- Di 54:53 segala yang kecil dan yang besar tertulis, dan bentuk kata yang dipakai untuk tertulis itu seakar dengan kata di ayat ini. Pembaca yang menyimpan gagasan bahwa perkara kecil tidak pantas dicatat bisa mengingat ayat tadi, ketika hal-hal kecil seperti janji yang diucapkan sambil lalu juga terhitung. Gambaran itu membuat percakapan sehari-hari terasa berarti, sebab kata yang diucapkan memang meninggalkan bekas.
- Di 22:70 pertanyaan tentang pengetahuan Allah atas apa yang di langit dan di bumi disusul kalimat bahwa hal itu ada dalam sebuah Kitab. Di 35:11 umur yang dipanjangkan atau dikurangi disebut hanya terjadi dalam Kitab, lalu ayat itu ditutup dengan kalimat bahwa yang demikian mudah bagi Allah. Dua ayat itu menaruh Kitab di dekat nama Allah tanpa menjelaskan hubungannya, dan pembaca sumpah di 52:2 bisa bertanya apa yang berubah pada cara memandang umurnya sendiri jika catatan itu benar ada.
- Deretan sumpah ini berujung pada 52:7, ketika pembaca disapa dengan kata Tuhanmu. Kitab yang ditulis di 52:2 dengan begitu ikut tertarik ke dalam sapaan tersebut, sehingga tulisan itu dibaca sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan pembacanya. Orang yang membaca surat dari orang yang dikenalnya membaca dengan cara berbeda dari orang yang membaca dokumen tak bernama, dan perbedaan itu terasa sampai ke kecepatan membacanya.
Ayat 52:3
فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ
pada lembaran yang terbuka,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فِي رَقٍّfii raqqinpada lembaran
- مَنْشُورٍmansyuurinyang terbuka
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيfiipada
- رَقٍّraqqinlembaran
- مَنْشُورٍmansyuurinyang terbuka
Inti bacaan
Sumpah ketiga 'lembaran yang terbuka', kejelasan dan aksesibilitas dokumen sebagai citra tambahan yang memperkuat sumpah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ, fii raqqin mansyuurin) yang berarti "pada lembaran yang terbuka". Ayat ini tidak diawali awalan sumpah, sehingga tidak ada kata "demi" di depannya, dan terjemahannya menyambung langsung dengan "Kitab yang ditulis" di 52:2. Kata depan (فِي, fii) diterjemahkan "pada" dan tidak "di dalam", karena lembaran memiliki permukaan tempat tulisan berada. Terjemahan "di dalam" dipakai untuk kitab sebagai tempat catatan disimpan, seperti di 17:58.
Kata (رَقٍّ, raqqin) berakar ر-ق-ق, dan akar ini dipakai di satu ayat saja dalam seluruh korpus, yaitu 52:3. Karena tidak ada pemakaian lain, arti "lembaran" tidak bisa diuji dari ayat lain yang memakai kata yang sama. Terjemahan itu bertumpu pada petunjuk di sekitarnya: kata ini berpasangan dengan "ditulis" di 52:2 dan diterangkan dengan "terbuka". Korpus memiliki kata lain untuk lembaran tulisan, yaitu (صُحُفًا, shuhufan) dalam bentuk jamak, yang dipakai di delapan ayat: 20:133, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Contohnya (يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً, yatluu shuhufan muthahharatan) di 98:2 yang berarti "membacakan lembaran-lembaran yang disucikan". Terjemahan memakai kata Indonesia yang sama, "lembaran", untuk dua kata Arab itu, dan bedanya terjaga lewat jumlah: "lembaran" untuk satu dan "lembaran-lembaran" untuk banyak. Korpus tidak memberi pemakaian kedua bagi (رَقٍّ, raqqin), sehingga perbedaan arti di luar jumlah tidak bisa dipastikan.
Kata (مَنْشُورٍ, mansyuurin) berakar ن-ش-ر. Akar ini dipakai di dua puluh ayat: 17:13, 18:16, 21:21, 25:3, 25:40, 25:47, 30:20, 33:53, 35:9, 42:28, 43:11, 44:35, 52:3, 54:7, 62:10, 67:15, 74:52, 77:3, 80:22, dan 81:10. Pemakaiannya beragam, misalnya (فَانْتَشِرُوا, fa-ntasyiruu) di 62:10 yang berarti "bertebaranlah kalian", sehingga gambaran umumnya adalah sesuatu yang menyebar atau terbentang. Bentuk (مَنْشُورٍ, mansyuurin) sendiri dipakai dua kali, di 17:13 dan 52:3. Di 17:13, (كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا, kitaaban yalqaahu mansyuuran) yang berarti "sebuah kitab yang ia jumpai dalam keadaan terbuka", kata ini berpasangan dengan kitab seperti di 52:2-3. Di 74:52, (صُحُفًا مُنَشَّرَةً, shuhufan munasysyaratan) memakai bentuk lain dari akar yang sama untuk lembaran dan berarti "lembaran-lembaran yang terbuka". Di 81:10, (وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ, wa-idzaa sh-shuhufu nusyirat) memakai kata kerjanya dan berarti "dan apabila lembaran-lembaran dibentangkan". Terjemahan "yang terbuka" di 52:3 mengikuti 17:13 dan 74:52. Kata "dibentangkan" di 81:10 dipakai karena kata itu kata kerja yang berdiri di antara rangkaian peristiwa, sedangkan 52:3 menyebut keadaan lembaran.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan sifat catatan itu, yaitu terbentang terbuka dan tidak tersembunyi. Catatan yang ditulis di 52:2 bisa saja tersimpan tertutup, dan ayat ini menyebut keadaan yang berbeda, yaitu terbuka. Dua ayat berurutan itu menggambarkan satu benda dari dua sisi: 52:2 menyebut bahwa benda itu sudah ditulis, dan 52:3 menyebut bahwa benda itu sudah dibuka. Siapa yang membukanya tidak tertulis, karena kata yang dipakai menyebut keadaan lembaran yang sudah terbuka tanpa pelaku, sama seperti "ditulis" di 52:2 yang tanpa penulis.
Dalam korpus, tulisan yang terbuka muncul bersama saat ketika sesuatu ditunjukkan. Di 17:13 sebuah kitab dikeluarkan pada hari kebangkitan dan dijumpai dalam keadaan terbuka. Di 81:10 lembaran-lembaran dibentangkan di tengah rangkaian peristiwa yang berujung pada 81:14, ketika setiap jiwa mengetahui apa yang telah dikerjakannya. Di 74:52 setiap orang ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka. Ayat 52:3 tidak menyebut hari itu, tetapi pembaca yang mengenal ayat-ayat tadi mendengar gema yang sama.
Sesudah dua ayat tentang tulisan, rangkaian sumpah beralih ke benda yang ditempati dan ditinggikan, yaitu Rumah di 52:4 dan atap di 52:5. Perpindahan itu menaruh tulisan yang terbuka di antara gunung dan bangunan yang dihuni.
Renungan dan Hikmah
- Lembaran yang terbuka tidak punya halaman yang tertutup, sehingga apa yang tertulis dapat dibaca oleh siapa pun yang berdiri di dekatnya. Orang yang mengatur hidupnya dengan memisahkan apa yang diperlihatkan dan apa yang disimpan sering merasa tenang sampai ada yang membukanya, dan ayat ini menaruh gambaran sebaliknya di depan pembaca, yaitu catatan yang sejak awal terbuka. Pembaca bisa bertanya bagian mana dari hidupnya yang tahan dibiarkan terbuka tanpa rasa waswas, dan bagian mana yang membuatnya ingin menutup.
- Dalam korpus lembaran sering muncul dalam keadaan sedang dibacakan. Di 98:2 seorang Rasul dari Allah membacakan lembaran-lembaran yang disucikan, sehingga lembaran dihubungkan dengan suara yang membacakannya. Pembaca yang mendengar kata lembaran di 52:3 bisa membayangkan suara itu, lalu bertanya kapan terakhir kali ia mendengarkan sebuah tulisan sampai selesai tanpa memeriksa ponsel di tengahnya. Mendengarkan bacaan sampai tuntas adalah kebiasaan yang mudah hilang ketika semua bacaan tersedia di genggaman.
- Di 20:133 orang bertanya mengapa tidak datang tanda dari Tuhannya, lalu dijawab dengan pertanyaan apakah bukti nyata yang tersebut di dalam lembaran-lembaran terdahulu belum datang kepada mereka. Orang yang menunggu isyarat baru sebelum bertindak, sementara lembaran yang terbuka sudah ada di depannya, mengenal ketegangan ini. Ayat 52:3 menaruh lembaran itu dalam keadaan terbuka, sehingga alasan "belum ada yang menunjukkan" kehilangan sebagian tenaganya.
- Sesuatu yang terbuka dapat diperiksa, dan pemeriksaan itu tidak bergantung pada kemauan pemiliknya untuk menunjukkan. Orang yang pernah berurusan dengan pembukuan yang rapi tahu rasa lega ketika semua angka bisa dicocokkan satu per satu, dan rasa gelisah ketika ada halaman yang tidak boleh dilihat. Ayat ini menaruh catatan yang terbuka pada deretan benda yang disumpahkan. Rasa mana dari keduanya yang lebih sering muncul ketika memikirkan catatan hidup sendiri?
- Lembaran yang terbuka belum tentu sudah dibaca. Buku yang tergeletak terbuka di meja bisa berhari-hari berada di halaman yang sama, dan orang yang lewat mengira buku itu sedang dibaca. Ayat ini menyebut keadaan lembaran, dan pembaca bisa memeriksa jarak antara apa yang terbuka di sekelilingnya dan apa yang sungguh sedang dibacanya, misalnya nasihat yang sudah lama tersedia, peringatan yang sudah lama diketahui, atau pertanyaan yang sudah lama tidak dijawab.
- Dua ayat tentang tulisan berdiri di antara gunung dan Rumah, lalu seluruh rangkaian dijawab di 52:7 dengan pernyataan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi. Pembaca yang melewati kitab dan lembaran terbuka sebelum sampai pada sapaan itu mengalami urutan yang menaruh bukti tertulis lebih dulu, baru kemudian pernyataan yang menuntut jawabannya. Orang yang terbiasa menandatangani sesuatu setelah membaca semua pasalnya mengenal urutan seperti itu, karena kesepakatan terasa lebih berat bila isinya sudah dibaca.
Ayat 52:4
وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ
demi Rumah yang diramaikan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَالْبَيْتِwa-l-baytidemi Rumah
- الْمَعْمُورِal-ma'muuriyang diramaikan
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالْبَيْتِwa-l-baytidan rumah
- الْمَعْمُورِal-ma'muuriyang ramai dikunjungi
Inti bacaan
Sumpah keempat 'demi Rumah yang diramaikan', dimensi spiritual dan komunal dalam rangkaian sumpah yang terus berkembang.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ, wa-l-bayti al-ma'muuri) yang berarti "demi Rumah yang diramaikan". Awalan sumpah menyatu pada kata pertama, sehingga bentuk utuhnya diterjemahkan "demi". Kapitalisasi hanya pada kata benda utama "Rumah" yang dikapitalkan sebagai rujukan tempat khusus, dan kata sifat penyertanya, "diramaikan", menjadi huruf kecil.
Kata benda dengan kata sandang seperti (وَالْبَيْتِ, wa-l-bayti) di ayat ini dipakai di empat belas ayat: 2:125, 2:127, 2:158, 3:97, 5:2, 5:97, 8:35, 11:73, 22:26, 22:29, 22:33, 33:33, 52:4, dan 106:3. Di dua tempat kata ini diberi sifat yang menunjuk kedudukan tempatnya, yaitu (الْبَيْتَ الْحَرَامَ, l-bayta l-haraama) di 5:2 dan 5:97, dan (بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ, bi-l-bayti l-'atiiqi) di 22:29 dan 22:33. Di 106:3, (رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ, rabba haadzaa l-bayti) yang berarti "Tuhan Rumah ini", tempat itu dikaitkan dengan Tuhan, dan di 22:26 tempat itu disebut "Rumah-Ku" dalam ucapan kepada Ibrahim. Kata (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri) tidak dipakai di ayat lain, sehingga keterangan di 52:4 adalah keadaan Rumah itu, yaitu diramaikan.
Kata (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri) berakar ع-م-ر. Akar ini dipakai di sembilan belas ayat: 2:96, 2:158, 2:196, 9:17, 9:18, 9:19, 10:16, 11:61, 15:72, 16:70, 21:44, 22:5, 26:18, 28:45, 30:9, 35:11, 35:37, 36:68, dan 52:4. Terjemahan "diramaikan" mengikuti pemakaian akar ini untuk tempat dan negeri. Di 9:17 dan 9:19 terjemahannya "meramaikan" untuk masjid-masjid dan Masjidilharam, (يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ, ya'muru masaajida llaahi) di 9:18 menyebut orang yang meramaikan masjid-masjid Allah, dan (وَعَمَرُوهَا, wa-'amaruuhaa) di 30:9 menyebut orang-orang terdahulu yang mengolah bumi serta meramaikannya. Di 9:19 meramaikan Masjidilharam disandingkan dengan pemberian minuman kepada orang yang berhaji, lalu ayat itu mempertanyakan apakah keduanya sama dengan beriman kepada Allah dan hari Akhir. Di keempat ayat itu ada pelaku yang meramaikan, sedangkan di 52:4 bentuknya menyebut tempat yang sudah diramaikan tanpa menyebut pelakunya. Akar yang sama dipakai juga untuk umur, misalnya di 35:11 yang menyebut umur yang dipanjangkan atau dikurangi.
Ayat ini tidak menyebut Rumah yang mana. Di 5:97 dan 22:29 Rumah diberi sifat yang menunjuk kedudukannya, dan di 106:3 serta 22:26 Rumah itu dikaitkan dengan Tuhan, sedangkan keterangan di 52:4 adalah keadaan Rumah itu, yaitu diramaikan. Terjemahan menulis "Rumah" dengan huruf besar seperti di ayat-ayat itu dan membiarkan identifikasinya kepada pembaca.
Tafsiran
Ayat ini bersumpah demi Rumah yang diramaikan, dan sebutan itu dapat dibaca sebagai Rumah yang didatangi banyak orang. Sumpah keempat ini berbeda dari tiga sumpah sebelumnya karena benda yang disebut membawa kehadiran orang, walaupun orangnya tidak disebut. Gunung, kitab, dan lembaran adalah benda yang dapat berdiri sendiri, sedangkan Rumah yang diramaikan baru bisa dibayangkan bersama orang-orang yang mengisinya. Karena itu Rumah di ayat ini terbaca sebagai tempat yang hidup oleh kehadiran orang, dan tidak terbaca sebagai bangunan kosong yang dikagumi dari jauh.
Ayat ini berpasangan dengan ayat sesudahnya sebagai rumah dan atap. Kata (وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ, wa-s-saqfi al-marfuu'i) di 52:5 menyebut bagian bangunan yang menaungi, sehingga dua ayat itu bersama menggambarkan tempat yang berpenghuni dan beratap. Keduanya memakai kata keadaan yang menyebut perbuatan yang sudah dikenakan pada benda, yaitu diramaikan dan ditinggikan.
Di 106:3 Rumah disebut dalam perintah untuk menyembah Tuhan Rumah ini. Ayat 52:4 menyebut Rumah dalam sumpah yang dijawab dengan pernyataan tentang azab Tuhanmu di 52:7. Dua ayat itu memakai Rumah dalam dua susunan yang berbeda, dan hubungan Rumah yang disumpahkan dengan Rumah di ayat lain dibiarkan terbuka.
Renungan dan Hikmah
- Rumah yang diramaikan tidak bisa dibayangkan tanpa orang yang datang dan tinggal di dalamnya. Tempat yang sepi sering dikira masih utuh karena dindingnya masih berdiri, padahal ramainya sudah hilang. Orang yang pernah pulang ke rumah masa kecil yang kini kosong tahu bedanya antara bangunan dan tempat yang hidup. Ayat ini menaruh keramaian sebagai keadaan yang disumpahkan. Tempat mana dalam hidup pembaca yang masih berdinding tetapi sudah kehilangan penghuni?
- Di 9:18 yang meramaikan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, menegakkan salat, memberikan zakat, serta tidak takut selain Allah. Ayat 52:4 menyebut tempat yang sudah diramaikan tanpa menyebut siapa pelakunya, sehingga pembaca yang membawa gambaran 9:18 ke sini bertanya apa yang membuat sebuah tempat disebut ramai. Orang yang aktif di banyak tempat ibadah, rapat, atau kelompok dapat memeriksa apakah kehadirannya ikut meramaikan atau hanya mengisi kursi.
- Di 106:3 Rumah disebut dalam perintah untuk menyembah Tuhan Rumah ini, sehingga bangunan dan Tuhan berada dalam satu kalimat. Pembaca yang mengenal ayat itu mendengar nama Tuhan di belakang kata Rumah di 52:4, walaupun nama itu tidak tertulis di ayat ini. Orang yang rajin mengunjungi tempat suci dapat menimbang apakah perhatiannya berhenti pada bangunan atau sampai pada Tuhan yang disebut bersamanya. Kehadiran di tempat yang ramai mudah dikira sudah cukup, padahal perintah di 106:3 ditujukan kepada Tuhan yang disebut di ujung kalimatnya.
- Siapa yang meramaikan Rumah itu tidak tertulis. Setiap tempat yang tetap hidup bergantung pada orang-orang yang jarang disebut: yang membuka pintunya pagi hari, yang menyapu halamannya, yang menyalakan lampunya. Pembaca bisa mengingat tempat yang selama ini dinikmatinya, misalnya kampung, musala, atau kantor, lalu bertanya siapa yang membuatnya ramai tanpa pernah mendapat ucapan terima kasih. Terima kasih yang tidak sempat diucapkan itu tetap bagian dari ramainya tempat tersebut.
- Sesudah dua sumpah tentang tulisan, sumpah di ayat ini berpindah ke tempat. Orang yang sudah membaca banyak hal sering berhenti di bacaan, dan sumpah ini mengingatkan bahwa bacaan menemukan tempatnya di rumah yang dihuni. Pembaca bisa bertanya tempat mana dalam hidupnya yang menjadi lokasi bacaannya diuji, misalnya dapur, ruang tamu, atau meja kerja, karena kitab yang dibaca di kamar sendirian belum tentu sama bobotnya dengan kitab yang dibaca di depan orang-orang serumah.
- Deretan sumpah di 52:1-6 dijawab di 52:7 dengan pernyataan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi. Rumah yang diramaikan berada di tengah rangkaian itu, dan keramaiannya tidak mengubah pernyataan di ujungnya. Orang yang terbiasa menenangkan diri dengan kesibukan, seperti jadwal yang penuh dan rumah yang ramai, dapat menimbang apakah keramaian itu menggantikan pertanyaan yang diajukan sumpah-sumpah ini. Keramaian yang menyenangkan tetap bisa menjadi tempat berlindung dari pertanyaan yang belum dijawab.
Ayat 52:5
وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ
dan demi atap yang ditinggikan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَالسَّقْفِwa-s-saqfidan demi atap
- الْمَرْفُوعِal-marfuu'iyang ditinggikan
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالسَّقْفِwa-s-saqfidan atap
- الْمَرْفُوعِal-marfuu'iyang ditinggikan
Inti bacaan
Sumpah kelima 'atap yang ditinggikan', skala kosmis yang menambah bobot dramatis menuju penegasan inti.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ, wa-s-saqfi al-marfuu'i) yang berarti "dan demi atap yang ditinggikan". Awalan sumpah menyatu pada kata pertama, dan terjemahan "dan demi" menunjukkan sumpah ini menyambung sumpah sebelumnya.
Kata (وَالسَّقْفِ, wa-s-saqfi) berakar س-ق-ف, dan akar ini dipakai di empat ayat: 16:26, 21:32, 43:33, dan 52:5. Di 16:26, (فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ, fa-kharra 'alayhimu s-saqfu) yang berarti "lalu atap runtuh menimpa mereka", kata ini menyebut atap bangunan. Di 43:33, (سُقُفًا, suqufan) dalam bentuk jamak diterjemahkan "loteng-loteng" untuk rumah-rumah. Di 21:32, (السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا, s-samaa'a saqfan mahfuuzhan) yang berarti "langit sebagai atap yang terpelihara", kata ini menyebut langit. Dengan begitu kata ini dipakai untuk bangunan di dua ayat, yaitu 16:26 dan 43:33, dan untuk langit di satu ayat, yaitu 21:32. Pasangan rumah dan atap di 52:4-5 sejalan dengan pemakaian untuk bangunan, dan pembacaan atap sebagai langit sejalan dengan 21:32. Ayat 52:5 sendiri tidak memilih salah satunya, sehingga terjemahan "atap" memuat kedua kemungkinan itu tanpa menambahkan kata yang tidak ada di ayatnya.
Kata (الْمَرْفُوعِ, al-marfuu'i) berakar ر-ف-ع. Bentuk laki-laki ini dipakai di 52:5 saja, sedangkan bentuk perempuannya, (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'atin), dipakai di tiga ayat: 56:34 yang berarti "kasur-kasur yang ditinggikan", 80:14 yang berarti "Yang ditinggikan lagi disucikan", dan 88:13 yang berarti "dipan-dipan yang ditinggikan". Terjemahan "yang ditinggikan" sama di keempat ayat itu. Kata kerja dari akar yang sama dipakai untuk langit di 13:2, (رَفَعَ السَّمَاوَاتِ, rafa'a as-samaawaati) yang berarti "meninggikan langit", dan di 55:7, (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا, wa-s-samaa'a rafa'ahaa) yang berarti "dan langit Dia tinggikan". Di 88:18, (وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ, wa-ilaa s-samaa'i kayfa rufi'at), kata kerjanya muncul sebagai pertanyaan tentang langit, yaitu bagaimana langit itu ditinggikan. Di tiga ayat itu kata kerja dari akar ini berpasangan dengan langit, sedangkan di 52:5 bentuk yang dipakai adalah kata keadaan.
Bentuk (الْمَرْفُوعِ, al-marfuu'i) menyebut sesuatu yang sudah ditinggikan, sehingga terjemahannya "yang ditinggikan" dan tidak "yang tinggi". Kata "tinggi" menyebut ukuran, sedangkan "ditinggikan" menyebut perbuatan yang sudah dikenakan pada benda itu. Di 13:2 dan 55:7 perbuatan meninggikan itu punya pelaku yang disebut dengan jelas, dan di 52:5 pelakunya tidak disebut. Pilihan "ditinggikan" menjaga perbedaan itu tetap terlihat.
Ayat ini tidak menyebut langit. Terjemahan menulis "atap" dan tidak menambahkan kata "langit", karena kata itu tidak ada di ayat ini. Pembacaan atap sebagai langit didukung oleh 21:32 yang menyebut langit sebagai atap, dan oleh 13:2 serta 55:7 yang menyebut langit sebagai yang ditinggikan, tetapi dukungan itu datang dari ayat lain.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sumpah demi atap yang ditinggikan, dan atap itu dapat dibaca sebagai langit di atas bumi. Bersama 52:4, ayat ini membentuk pasangan rumah dan atap: tempat yang berpenghuni, lalu bagian yang menaunginya. Rangkaian sumpah itu naik dari bangunan ke atap di ayat ini, lalu turun ke laut di 52:6, (وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ, wa-l-bahri al-masjuuri) yang berarti "dan demi laut yang dipenuhi".
Surah ini menyebut langit dengan namanya di dua tempat sesudah rangkaian sumpah. Di 52:9 langit berguncang sekeras-kerasnya, dan di 52:36, (أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, am khalaquu s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "Ataukah mereka menciptakan langit dan bumi?", penciptaannya ditanyakan. Pembaca yang membaca atap di 52:5 sebagai langit melihat benda yang disumpahkan di awal surah muncul kembali sebagai benda yang berguncang dan sebagai benda yang penciptaannya dipertanyakan.
Kata yang menutup ayat ini berasal dari perbuatan yang sudah dikenakan pada benda, yaitu ditinggikan, dan siapa yang meninggikannya tidak tertulis di ayat ini. Pelaku itu disebut di tempat lain, yaitu 13:2 dan 55:7 yang tadi dikutip. Rangkaian sumpah ini dengan begitu menaruh perbuatan meninggikan di ayat kelima dan pelakunya di ayat-ayat lain.
Renungan dan Hikmah
- Atap adalah bagian rumah yang paling jarang diingat selama tidak bocor. Orang bisa tinggal bertahun-tahun di bawahnya tanpa sekali pun memikirkannya, lalu baru menyadarinya ketika hujan menetes ke lantai. Perhatian biasanya datang pada saat sesuatu rusak, dan jarang pada saat sesuatu bekerja baik-baik saja. Ayat ini menyebut atap sebagai sesuatu yang disumpahkan. Benda apa dalam hidup pembaca yang bekerja setiap hari tanpa pernah disebut, misalnya orang yang menjaga keamanan kampung atau tangan yang menyiapkan makan?
- Di 13:2 Allah disebut yang meninggikan langit tanpa tiang yang kalian lihat. Kalimat itu menaruh perhatian pada penopang yang tidak tampak, dan ayat 52:5 menyebut atap yang ditinggikan tanpa menyebut penopangnya. Orang yang mengagumi bangunan yang tinggi biasanya mencari tiangnya lebih dulu, dan tiang yang tidak ketemu mengubah rasa kagum menjadi pertanyaan. Orang yang bertahun-tahun bergantung pada orang di balik layar, misalnya pengurus rumah atau rekan kerja yang diam, jarang menghitung seberapa banyak yang ditopangnya.
- Di 55:7 langit Dia tinggikan, lalu ayat itu langsung menyebut bahwa Dia meletakkan timbangan. Dua perbuatan itu berurutan dalam satu napas: sesuatu ditinggikan, kemudian sesuatu diletakkan sebagai ukuran. Pembaca yang membayangkan atap yang ditinggikan di 52:5 bersama ayat tadi bisa bertanya ukuran apa yang sedang dipakainya untuk menimbang hal-hal yang dianggapnya tinggi. Menimbang tanpa ukuran yang jelas sering berakhir pada rasa saja, dan rasa mudah berubah mengikuti suasana hati.
- Kata yang ditinggikan dipakai juga untuk kasur-kasur di 56:34, dipan-dipan di 88:13, dan lembaran yang disucikan di 80:14. Benda-benda itu berbeda sifatnya, dan kesamaannya adalah bahwa semuanya diletakkan lebih tinggi dari tempat biasa. Orang yang menaruh sesuatu di tempat tinggi di rumahnya, misalnya kitab di rak teratas, tahu bahwa meninggikan benda adalah cara memberinya kedudukan, dan pembaca bisa menengok benda apa yang selama ini dimuliakannya di rak tanpa pernah dibuka. Rak yang tinggi sering menjadi tempat benda dihormati dari jauh dan jarang disentuh.
- Di 16:26 Allah mendatangi bangunan orang-orang yang membuat makar dari fondasinya, lalu atap runtuh menimpa mereka dari atas. Urutan ayat itu menaruh fondasi lebih dulu dan atap kemudian. Orang yang sibuk memperindah atap rumahnya, entah gelar, nama, atau jabatan, dapat menimbang kapan terakhir kali memeriksa fondasi di bawahnya. Atap yang paling mahal pun bergantung pada tanah tempat fondasinya berdiri.
- Rangkaian sumpah naik dari bangunan ke atap di 52:5, lalu turun ke laut di 52:6, dan berakhir pada pernyataan di 52:7 tentang azab Tuhanmu. Pembaca yang mengikuti gerak naik dan turun itu pelan-pelan sadar bahwa pandangannya dituntun dari yang jauh ke yang dekat sebelum dipertemukan dengan pernyataan yang menyapa pembaca. Pengalaman itu mirip memandang langit malam yang luas lalu tiba-tiba dipanggil namanya dari belakang, sehingga seluruh perhatian berbalik arah.