بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالطُّورِ

Demi gunung,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالطُّورِwa-th-thuuridemi gunung

Terjemahan per kata (1 kata)

  1. وَالطُّورِwa-th-thuuridemi gunung

Inti bacaan

Sumpah pembukaan At-Tur 'demi gunung', citra geografis pertama dalam rangkaian sumpah yang membangun suasana khidmat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالطُّورِ, wa-th-thuuri) yang berarti "demi gunung". Kata itu menyatu dengan awalan sumpah, sehingga bentuk utuhnya diterjemahkan "demi gunung" dan tidak "dan gunung". Ayat ini membuka surah, jadi tidak ada kalimat sebelumnya yang bisa disambung dengan kata "dan". Awalan yang sama membuka (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa) di 53:1 yang berarti "demi bintang ketika jatuh", dan (وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا, wa-dz-dzaariyaati dzarwan) di 51:1 yang berarti "demi angin yang menerbangkan dengan sekuat-kuatnya".

Kata (الطُّورِ, th-thuuri) dipakai di sepuluh ayat dalam seluruh korpus, yaitu 2:63, 2:93, 4:154, 19:52, 20:80, 23:20, 28:29, 28:46, 52:1, dan 95:2. Di 2:63, 2:93, dan 4:154 gunung itu diangkat di atas sekelompok orang, seperti (وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ, wa-rafa'naa fawqahumu th-thuura) di 4:154 yang berarti "dan Kami angkat gunung itu di atas mereka". Di 19:52, 20:80, 28:29, dan 28:46 gunung itu menjadi tempat sesuatu terjadi, seperti (جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ, jaanibi th-thuuri l-aymani) di 19:52 yang berarti "sisi kanan gunung Tur". Di 23:20 kata ini berpasangan dengan nama, yaitu (طُورِ سَيْنَاءَ, thuuri saynaa'a). Hanya dua ayat yang memakainya untuk bersumpah, yaitu 52:1 dan 95:2, (وَطُورِ سِينِينَ, wa-thuuri siiniina) yang berarti "dan demi gunung Sinai". Delapan dari sepuluh ayat itu memakai kata ini dengan kata sandang, yaitu 2:63, 2:93, 4:154, 19:52, 20:80, 28:29, 28:46, dan 52:1. Dua lainnya, 23:20 dan 95:2, memakainya tanpa kata sandang dan langsung disusul nama, sehingga terjemahan di dua tempat itu memuat namanya.

Terjemahan "gunung" tanpa kata "itu" mengikuti cara sumpah dalam korpus. Di 2:63 dan 4:154 kata "itu" dipakai karena gunung itu menjadi bagian dari kisah yang sedang diceritakan. Di ayat pembuka surah tidak ada pembicaraan sebelumnya, dan 51:1 serta 53:1 juga menyebut hal yang disumpahkan tanpa kata penunjuk. Nama diri tidak ditambahkan di sini, karena ayat ini tidak memuat kata sesudah (الطُّورِ, th-thuuri) yang menyebut nama itu, berbeda dengan 95:2 yang memuatnya.

Gunung yang disumpahkan di sini memakai kata yang berbeda dari gunung yang bergerak di 52:10, (وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا, wa-tasiiru l-jibaalu sayran) yang berarti "dan gunung-gunung bergerak dengan dahsyat". Kata (الْجِبَالُ, l-jibaalu) di ayat itu berbeda dari (الطُّورِ, th-thuuri), dan ayat ini tidak menyatakan bahwa keduanya menunjuk gunung yang sama. Surah At-Tur dibuka dengan rangkaian sumpah tanpa huruf muqatta'aat, konsisten dengan pola Surah 51 sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi gunung, sebagai pembuka rangkaian sumpah menuju penegasan kepastian azab. Rangkaian itu berjalan enam ayat. Gunung disebut di 52:1, kitab yang ditulis di 52:2, lembaran yang terbuka di 52:3, Rumah yang diramaikan di 52:4, atap yang ditinggikan di 52:5, dan laut yang dipenuhi di 52:6. Pernyataan yang dijawab oleh enam sumpah itu baru datang di 52:7, (إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ, inna 'adzaaba rabbika la-waaqi'un) yang berarti "sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi". Karena itu 52:1 tidak berdiri sendiri, dan baru terbaca penuh bersama ayat yang menutup rangkaiannya.

Letak ayat ini di awal surah memberi gunung kedudukan yang berbeda dari kelima sumpah sesudahnya. Gunung disebut tanpa keterangan apa pun, sedangkan kitab, lembaran, Rumah, dan atap masing-masing diikuti kata yang menerangkan keadaannya. Ayat-ayat berikutnya menambahkan keterangan keadaan pada benda yang disebut sesudahnya, sedangkan gunung disebut polos.

Surah ini menyebut gunung dalam dua keadaan. Di 52:1 gunung disumpahkan tanpa keterangan gerak, dan di 52:9-10 langit berguncang sekeras-kerasnya sementara gunung-gunung bergerak dengan dahsyat. Pembaca yang menaruh kedua ayat itu berdampingan melihat dua keadaan gunung dalam satu surah, dan keduanya dipisahkan oleh pernyataan di 52:7-8 tentang azab Tuhanmu yang pasti terjadi dan tidak dapat ditolak oleh sesuatu pun. Ayat ini tidak menjelaskan hubungan gunung yang disumpahkan dengan gunung-gunung yang bergerak itu.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini dibuka dengan satu benda yang tidak diberi keterangan apa pun, dan pembaca dibiarkan berdiri di depannya sebelum diberi alasan untuk ikut. Orang yang terbiasa meminta penjelasan dulu baru mau mendengar sering melewatkan hal yang hanya bisa dirasakan dengan berdiri diam beberapa saat. Gunung yang disebut sendirian di awal surah memberi contoh tentang cara menerima sebuah kabar, yaitu dengan memberi ruang bagi kabar itu untuk menjadi besar lebih dulu. Pembaca yang pernah berdiri di kaki gunung tahu bahwa rasa kecil muncul sebelum ada satu kalimat pun yang menerangkannya. Apa yang terjadi pada sebuah kabar jika pendengarnya diberi waktu sebentar untuk merasa kecil sebelum mendengar isinya?
  • Gunung disumpahkan di 52:1 sebagai sesuatu yang tampak tidak berubah, lalu di 52:10 gunung-gunung bergerak dengan dahsyat pada hari ketika azab Tuhanmu terjadi seperti dinyatakan 52:7. Orang yang menaruh seluruh rasa amannya pada sesuatu yang terlihat kokoh, seperti jabatan, tabungan, atau nama keluarga, bisa menimbang ayat ini sebagai pengingat bahwa benda yang paling kokoh pun tercatat bergerak pada hari yang dijanjikan. Dua ayat yang berjauhan itu menggeser pertanyaan dari "apa yang masih tegak" menjadi "kepada apa pembaca menyandarkan diri ketika yang tegak pun bergerak".
  • Enam sumpah beruntun menahan pembaca dengan satu pertanyaan yang belum dijawab, yaitu demi benda-benda itu apa yang akan dinyatakan. Jawabannya baru muncul di 52:7 dan menyebut Tuhanmu. Pembaca yang sabar menunggu enam ayat sampai pernyataan itu tiba mengalami sendiri bagaimana sebuah kabar disusun supaya tidak terdengar seperti kabar biasa. Orang yang mudah gelisah menunggu pesan penting, misalnya hasil pemeriksaan atau keputusan yang menentukan, mengenal jeda semacam ini dari pengalamannya sendiri.
  • Kata gunung yang sama dipakai di 2:63, 2:93, dan 4:154 untuk gunung yang diangkat di atas sekelompok orang, dan di 19:52 serta 20:80 untuk sisi tempat sesuatu disampaikan. Gunung di 52:1 tidak membawa salah satu dari kedua kisah itu secara tertulis, tetapi pembaca yang mengenal ayat-ayat tadi mendengar gema keduanya. Orang yang membaca ulang sebuah ayat bertahun-tahun kemudian sering menemukan bahwa kata yang dulu terasa kosong ternyata sudah terisi oleh ayat lain yang dibacanya di antara waktu itu.
  • Urutan sumpah memperlihatkan apa yang diletakkan pertama. Gunung berada di depan kitab, lembaran, Rumah, atap, dan laut. Pembaca bisa bertanya apa yang selalu diletakkannya pertama dalam daftar hal yang dianggapnya pasti, dan apakah urutan itu pernah diperiksanya. Orang yang menyusun hidupnya di sekitar sebuah urusan besar, misalnya pekerjaan atau pencapaian, kadang baru menyadari urutan itu ketika hal tersebut berubah.
  • Seluruh rangkaian sumpah berujung pada 52:7 yang menyebut Tuhanmu, dan sasaran sapaan itu tunggal, yaitu engkau. Pembaca yang mendengar enam benda disebut berurutan, lalu disapa langsung pada ujungnya, mengalami perpindahan dari pemandangan yang luas ke pembaca sendiri. Pengalaman itu mirip berjalan di antara deretan gunung dan tiba-tiba mendengar namanya dipanggil dari jauh, sehingga perhatiannya yang tadi menyebar menjadi satu.