وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ

dan demi Kitab yang ditulis,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَكِتَابٍwa-kitaabindan demi Kitab
  2. مَسْطُورٍmasthuurinyang ditulis

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَكِتَابٍwa-kitaabindan kitab
  2. مَسْطُورٍmasthuurinyang tertulis

Inti bacaan

Sumpah kedua 'demi Kitab yang ditulis', dimensi tekstual yang menambah bobot pada rangkaian sumpah pembukaan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ, wa-kitaabin masthuurin) yang berarti "dan demi Kitab yang ditulis". Awalan (وَ, wa) pada kata pertama di sini tetap berarti "demi", karena ayat ini melanjutkan sumpah dari 52:1. Kata (كِتَابٍ, kitaabin) tidak memakai kata sandang, sehingga bentuknya juga bisa dibaca "sebuah kitab". Surah ini belum menyebut kitab mana pun sebelum ayat ini, jadi kata itu tidak menunjuk kembali ke sesuatu yang sudah dikenal dari ayat sebelumnya. Huruf besar pada "Kitab" dalam terjemahan mengikuti pilihan yang dipakai di tempat lain untuk kitab sebagai catatan tertulis, yaitu 20:52 "di dalam sebuah Kitab", 22:70 "ada dalam sebuah Kitab", dan 35:11 "kecuali dalam Kitab".

Kata (مَسْطُورٍ, masthuurin) berakar س-ط-ر. Akar ini dipakai di enam belas ayat: 6:25, 8:31, 16:24, 17:58, 23:83, 25:5, 27:68, 33:6, 46:17, 52:2, 52:37, 54:53, 68:1, 68:15, 83:13, dan 88:22. Bentuk yang berarti "tertulis" ada di 17:58, 33:6, dan 52:2. Di 17:58 dan 33:6 bentuknya sama persis dan berpasangan dengan kitab, (فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا, fii l-kitaabi masthuuran) yang berarti "di dalam Kitab tertulis". Di 54:53 bentuk (مُسْتَطَرٌ, mustatharun) menyatakan hal yang sama untuk segala yang kecil dan yang besar, dan di 68:1 (وَمَا يَسْطُرُونَ, wa-maa yasthuruuna) menyebut apa yang mereka tuliskan, dengan pelaku yang disebut, yaitu mereka. Di 52:2 pelaku perbuatan menulis tidak disebut.

Dari enam belas ayat itu, sembilan memakai bentuk yang berarti "dongeng-dongeng", yaitu 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Contohnya (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliina) di 16:24 yang berarti "dongeng-dongeng orang-orang terdahulu", yang diucapkan untuk menjawab pertanyaan apa yang diturunkan Tuhan. Dua ayat lain memakai bentuk yang berarti "penguasa", yaitu (الْمُصَيْطِرُونَ, l-mushaythiruuna) di 52:37 dan (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaythirin) di 88:22. Akar ini dengan begitu menampung tiga arti di korpus, yaitu tulisan yang disumpahkan di 52:2, tulisan yang ditolak sebagai dongeng, dan kekuasaan. Arti itu ditentukan oleh bentuk kata dan susunannya, sehingga terjemahan "yang ditulis" di ayat ini tidak membawa arti dongeng.

Bentuk (مَسْطُورٍ, masthuurin) menyebut sesuatu yang sudah dikenai perbuatan menulis, sehingga terjemahannya "yang ditulis" dan tidak "yang menulis". Di 17:58 bentuk yang sama diterjemahkan "tertulis", dan itu juga benar. Di sini "yang ditulis" dipilih karena kata ini menerangkan "Kitab" secara langsung dalam deretan sumpah yang semuanya menyebut keadaan benda, yaitu "yang terbuka" di 52:3, "yang diramaikan" di 52:4, dan "yang ditinggikan" di 52:5.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sumpah demi catatan tertulis, yang dapat dibaca merujuk pada ketetapan yang telah dituliskan, walaupun ayat tidak menyebut isinya. Sumpah kedua ini berbeda dari yang pertama karena benda yang disumpahkan sudah memuat isi. Gunung di 52:1 adalah benda yang bisa dilihat, sedangkan kitab di 52:2 adalah benda yang bisa dibaca. Perpindahan dari yang dilihat ke yang dibaca terjadi di antara dua ayat yang bersebelahan.

Ayat ini dan ayat sesudahnya membentuk satu gambaran. Ayat 52:3 dibuka dengan (فِي رَقٍّ, fii raqqin) dan tidak memakai awalan sumpah, sedangkan 52:1, 52:2, 52:4, 52:5, dan 52:6 masing-masing dibuka dengan awalan itu. Karena itu (فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ, fii raqqin mansyuurin) terbaca sebagai keterangan tempat bagi kitab di ayat ini, dan dua ayat itu bersama berbunyi "Kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka". Rangkaian enam ayat itu dengan begitu berisi lima sumpah, yaitu gunung, kitab, Rumah, atap, dan laut.

Kata penutup tiap ayat dari 52:1 sampai 52:6 berbunyi akhir sama, yaitu -uur. Lima penutup dari 52:2 sampai 52:6, yaitu (مَسْطُورٍ, masthuurin), (مَنْشُورٍ, mansyuurin), (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri), (الْمَرْفُوعِ, al-marfuu'i), dan (الْمَسْجُورِ, al-masjuuri), semuanya menyebut sesuatu yang sudah dikenai perbuatan: ditulis, terbuka, diramaikan, ditinggikan, dan dipenuhi. Gunung di 52:1 disebut tanpa keterangan seperti itu, sehingga rangkaian sumpah ini bergerak dari benda yang disebut polos ke benda-benda yang masing-masing diberi keterangan keadaannya.

Ayat ini tidak menyebut isi tulisannya. Pernyataan yang menjawab rangkaian sumpah baru datang di 52:7, (إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ, inna 'adzaaba rabbika la-waaqi'un) yang berarti "sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi".

Renungan dan Hikmah

  • Sumpah yang menyebut sesuatu yang tertulis menaruh sebuah gambaran di depan pembaca, yaitu halaman yang isinya sudah ada sebelum dibuka. Orang yang membuka surat tagihan, hasil ujian, atau catatan medis tahu bahwa isinya tidak berubah karena pembacanya menunda. Menunda membuka sering tidak disadari sebagai sikap tersendiri terhadap isi yang menunggu itu. Ayat ini mengajak membayangkan kitab dengan cara yang sama, yaitu sebagai sesuatu yang sudah selesai ditulis dan tinggal menunggu orang yang mau membacanya sampai habis. Berapa lama halaman yang sudah selesai ditulis dibiarkan menunggu di meja yang sama?
  • Gunung bisa dipandang dari jauh tanpa membaca apa pun, tetapi kitab baru bermakna ketika dibuka dan dibaca. Perpindahan dari 52:1 ke 52:2 meminta pembaca menukar cara memperhatikan, dari melihat sekilas menjadi membaca perlahan. Orang yang selama ini cukup puas dengan kesan pertama terhadap orang lain atau sebuah berita bisa menimbang apakah sudah pernah membaca sampai ke isinya. Menilai dari sampul dan judul tidak cukup di hadapan benda yang isinya berupa tulisan.
  • Di 20:52 pengetahuan tentang sesuatu disebut ada pada Tuhanku di dalam sebuah Kitab, lalu ayat itu langsung melanjutkan bahwa Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa. Dua kalimat itu berdampingan dalam satu ayat, dan pembaca yang pernah salah mengingat janji atau tanggal membacanya dengan rasa yang berbeda dari orang yang tidak pernah lupa. Kitab yang ditulis di 52:2 dapat dibaca bersama sandingan itu, sehingga kata "ditulis" terdengar sebagai kabar tentang sesuatu yang terjaga.
  • Di 54:53 segala yang kecil dan yang besar tertulis, dan bentuk kata yang dipakai untuk tertulis itu seakar dengan kata di ayat ini. Pembaca yang menyimpan gagasan bahwa perkara kecil tidak pantas dicatat bisa mengingat ayat tadi, ketika hal-hal kecil seperti janji yang diucapkan sambil lalu juga terhitung. Gambaran itu membuat percakapan sehari-hari terasa berarti, sebab kata yang diucapkan memang meninggalkan bekas.
  • Di 22:70 pertanyaan tentang pengetahuan Allah atas apa yang di langit dan di bumi disusul kalimat bahwa hal itu ada dalam sebuah Kitab. Di 35:11 umur yang dipanjangkan atau dikurangi disebut hanya terjadi dalam Kitab, lalu ayat itu ditutup dengan kalimat bahwa yang demikian mudah bagi Allah. Dua ayat itu menaruh Kitab di dekat nama Allah tanpa menjelaskan hubungannya, dan pembaca sumpah di 52:2 bisa bertanya apa yang berubah pada cara memandang umurnya sendiri jika catatan itu benar ada.
  • Deretan sumpah ini berujung pada 52:7, ketika pembaca disapa dengan kata Tuhanmu. Kitab yang ditulis di 52:2 dengan begitu ikut tertarik ke dalam sapaan tersebut, sehingga tulisan itu dibaca sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan pembacanya. Orang yang membaca surat dari orang yang dikenalnya membaca dengan cara berbeda dari orang yang membaca dokumen tak bernama, dan perbedaan itu terasa sampai ke kecepatan membacanya.