Ayat 52:4
وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ
demi Rumah yang diramaikan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَالْبَيْتِwa-l-baytidemi Rumah
- الْمَعْمُورِal-ma'muuriyang diramaikan
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالْبَيْتِwa-l-baytidan rumah
- الْمَعْمُورِal-ma'muuriyang ramai dikunjungi
Inti bacaan
Sumpah keempat 'demi Rumah yang diramaikan', dimensi spiritual dan komunal dalam rangkaian sumpah yang terus berkembang.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ, wa-l-bayti al-ma'muuri) yang berarti "demi Rumah yang diramaikan". Awalan sumpah menyatu pada kata pertama, sehingga bentuk utuhnya diterjemahkan "demi". Kapitalisasi hanya pada kata benda utama "Rumah" yang dikapitalkan sebagai rujukan tempat khusus, dan kata sifat penyertanya, "diramaikan", menjadi huruf kecil.
Kata benda dengan kata sandang seperti (وَالْبَيْتِ, wa-l-bayti) di ayat ini dipakai di empat belas ayat: 2:125, 2:127, 2:158, 3:97, 5:2, 5:97, 8:35, 11:73, 22:26, 22:29, 22:33, 33:33, 52:4, dan 106:3. Di dua tempat kata ini diberi sifat yang menunjuk kedudukan tempatnya, yaitu (الْبَيْتَ الْحَرَامَ, l-bayta l-haraama) di 5:2 dan 5:97, dan (بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ, bi-l-bayti l-'atiiqi) di 22:29 dan 22:33. Di 106:3, (رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ, rabba haadzaa l-bayti) yang berarti "Tuhan Rumah ini", tempat itu dikaitkan dengan Tuhan, dan di 22:26 tempat itu disebut "Rumah-Ku" dalam ucapan kepada Ibrahim. Kata (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri) tidak dipakai di ayat lain, sehingga keterangan di 52:4 adalah keadaan Rumah itu, yaitu diramaikan.
Kata (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri) berakar ع-م-ر. Akar ini dipakai di sembilan belas ayat: 2:96, 2:158, 2:196, 9:17, 9:18, 9:19, 10:16, 11:61, 15:72, 16:70, 21:44, 22:5, 26:18, 28:45, 30:9, 35:11, 35:37, 36:68, dan 52:4. Terjemahan "diramaikan" mengikuti pemakaian akar ini untuk tempat dan negeri. Di 9:17 dan 9:19 terjemahannya "meramaikan" untuk masjid-masjid dan Masjidilharam, (يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ, ya'muru masaajida llaahi) di 9:18 menyebut orang yang meramaikan masjid-masjid Allah, dan (وَعَمَرُوهَا, wa-'amaruuhaa) di 30:9 menyebut orang-orang terdahulu yang mengolah bumi serta meramaikannya. Di 9:19 meramaikan Masjidilharam disandingkan dengan pemberian minuman kepada orang yang berhaji, lalu ayat itu mempertanyakan apakah keduanya sama dengan beriman kepada Allah dan hari Akhir. Di keempat ayat itu ada pelaku yang meramaikan, sedangkan di 52:4 bentuknya menyebut tempat yang sudah diramaikan tanpa menyebut pelakunya. Akar yang sama dipakai juga untuk umur, misalnya di 35:11 yang menyebut umur yang dipanjangkan atau dikurangi.
Ayat ini tidak menyebut Rumah yang mana. Di 5:97 dan 22:29 Rumah diberi sifat yang menunjuk kedudukannya, dan di 106:3 serta 22:26 Rumah itu dikaitkan dengan Tuhan, sedangkan keterangan di 52:4 adalah keadaan Rumah itu, yaitu diramaikan. Terjemahan menulis "Rumah" dengan huruf besar seperti di ayat-ayat itu dan membiarkan identifikasinya kepada pembaca.
Tafsiran
Ayat ini bersumpah demi Rumah yang diramaikan, dan sebutan itu dapat dibaca sebagai Rumah yang didatangi banyak orang. Sumpah keempat ini berbeda dari tiga sumpah sebelumnya karena benda yang disebut membawa kehadiran orang, walaupun orangnya tidak disebut. Gunung, kitab, dan lembaran adalah benda yang dapat berdiri sendiri, sedangkan Rumah yang diramaikan baru bisa dibayangkan bersama orang-orang yang mengisinya. Karena itu Rumah di ayat ini terbaca sebagai tempat yang hidup oleh kehadiran orang, dan tidak terbaca sebagai bangunan kosong yang dikagumi dari jauh.
Ayat ini berpasangan dengan ayat sesudahnya sebagai rumah dan atap. Kata (وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ, wa-s-saqfi al-marfuu'i) di 52:5 menyebut bagian bangunan yang menaungi, sehingga dua ayat itu bersama menggambarkan tempat yang berpenghuni dan beratap. Keduanya memakai kata keadaan yang menyebut perbuatan yang sudah dikenakan pada benda, yaitu diramaikan dan ditinggikan.
Di 106:3 Rumah disebut dalam perintah untuk menyembah Tuhan Rumah ini. Ayat 52:4 menyebut Rumah dalam sumpah yang dijawab dengan pernyataan tentang azab Tuhanmu di 52:7. Dua ayat itu memakai Rumah dalam dua susunan yang berbeda, dan hubungan Rumah yang disumpahkan dengan Rumah di ayat lain dibiarkan terbuka.
Renungan dan Hikmah
- Rumah yang diramaikan tidak bisa dibayangkan tanpa orang yang datang dan tinggal di dalamnya. Tempat yang sepi sering dikira masih utuh karena dindingnya masih berdiri, padahal ramainya sudah hilang. Orang yang pernah pulang ke rumah masa kecil yang kini kosong tahu bedanya antara bangunan dan tempat yang hidup. Ayat ini menaruh keramaian sebagai keadaan yang disumpahkan. Tempat mana dalam hidup pembaca yang masih berdinding tetapi sudah kehilangan penghuni?
- Di 9:18 yang meramaikan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, menegakkan salat, memberikan zakat, serta tidak takut selain Allah. Ayat 52:4 menyebut tempat yang sudah diramaikan tanpa menyebut siapa pelakunya, sehingga pembaca yang membawa gambaran 9:18 ke sini bertanya apa yang membuat sebuah tempat disebut ramai. Orang yang aktif di banyak tempat ibadah, rapat, atau kelompok dapat memeriksa apakah kehadirannya ikut meramaikan atau hanya mengisi kursi.
- Di 106:3 Rumah disebut dalam perintah untuk menyembah Tuhan Rumah ini, sehingga bangunan dan Tuhan berada dalam satu kalimat. Pembaca yang mengenal ayat itu mendengar nama Tuhan di belakang kata Rumah di 52:4, walaupun nama itu tidak tertulis di ayat ini. Orang yang rajin mengunjungi tempat suci dapat menimbang apakah perhatiannya berhenti pada bangunan atau sampai pada Tuhan yang disebut bersamanya. Kehadiran di tempat yang ramai mudah dikira sudah cukup, padahal perintah di 106:3 ditujukan kepada Tuhan yang disebut di ujung kalimatnya.
- Siapa yang meramaikan Rumah itu tidak tertulis. Setiap tempat yang tetap hidup bergantung pada orang-orang yang jarang disebut: yang membuka pintunya pagi hari, yang menyapu halamannya, yang menyalakan lampunya. Pembaca bisa mengingat tempat yang selama ini dinikmatinya, misalnya kampung, musala, atau kantor, lalu bertanya siapa yang membuatnya ramai tanpa pernah mendapat ucapan terima kasih. Terima kasih yang tidak sempat diucapkan itu tetap bagian dari ramainya tempat tersebut.
- Sesudah dua sumpah tentang tulisan, sumpah di ayat ini berpindah ke tempat. Orang yang sudah membaca banyak hal sering berhenti di bacaan, dan sumpah ini mengingatkan bahwa bacaan menemukan tempatnya di rumah yang dihuni. Pembaca bisa bertanya tempat mana dalam hidupnya yang menjadi lokasi bacaannya diuji, misalnya dapur, ruang tamu, atau meja kerja, karena kitab yang dibaca di kamar sendirian belum tentu sama bobotnya dengan kitab yang dibaca di depan orang-orang serumah.
- Deretan sumpah di 52:1-6 dijawab di 52:7 dengan pernyataan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi. Rumah yang diramaikan berada di tengah rangkaian itu, dan keramaiannya tidak mengubah pernyataan di ujungnya. Orang yang terbiasa menenangkan diri dengan kesibukan, seperti jadwal yang penuh dan rumah yang ramai, dapat menimbang apakah keramaian itu menggantikan pertanyaan yang diajukan sumpah-sumpah ini. Keramaian yang menyenangkan tetap bisa menjadi tempat berlindung dari pertanyaan yang belum dijawab.
Ayat 52:5
وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ
dan demi atap yang ditinggikan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَالسَّقْفِwa-s-saqfidan demi atap
- الْمَرْفُوعِal-marfuu'iyang ditinggikan
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالسَّقْفِwa-s-saqfidan atap
- الْمَرْفُوعِal-marfuu'iyang ditinggikan
Inti bacaan
Sumpah kelima 'atap yang ditinggikan', skala kosmis yang menambah bobot dramatis menuju penegasan inti.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ, wa-s-saqfi al-marfuu'i) yang berarti "dan demi atap yang ditinggikan". Awalan sumpah menyatu pada kata pertama, dan terjemahan "dan demi" menunjukkan sumpah ini menyambung sumpah sebelumnya.
Kata (وَالسَّقْفِ, wa-s-saqfi) berakar س-ق-ف, dan akar ini dipakai di empat ayat: 16:26, 21:32, 43:33, dan 52:5. Di 16:26, (فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ, fa-kharra 'alayhimu s-saqfu) yang berarti "lalu atap runtuh menimpa mereka", kata ini menyebut atap bangunan. Di 43:33, (سُقُفًا, suqufan) dalam bentuk jamak diterjemahkan "loteng-loteng" untuk rumah-rumah. Di 21:32, (السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا, s-samaa'a saqfan mahfuuzhan) yang berarti "langit sebagai atap yang terpelihara", kata ini menyebut langit. Dengan begitu kata ini dipakai untuk bangunan di dua ayat, yaitu 16:26 dan 43:33, dan untuk langit di satu ayat, yaitu 21:32. Pasangan rumah dan atap di 52:4-5 sejalan dengan pemakaian untuk bangunan, dan pembacaan atap sebagai langit sejalan dengan 21:32. Ayat 52:5 sendiri tidak memilih salah satunya, sehingga terjemahan "atap" memuat kedua kemungkinan itu tanpa menambahkan kata yang tidak ada di ayatnya.
Kata (الْمَرْفُوعِ, al-marfuu'i) berakar ر-ف-ع. Bentuk laki-laki ini dipakai di 52:5 saja, sedangkan bentuk perempuannya, (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'atin), dipakai di tiga ayat: 56:34 yang berarti "kasur-kasur yang ditinggikan", 80:14 yang berarti "Yang ditinggikan lagi disucikan", dan 88:13 yang berarti "dipan-dipan yang ditinggikan". Terjemahan "yang ditinggikan" sama di keempat ayat itu. Kata kerja dari akar yang sama dipakai untuk langit di 13:2, (رَفَعَ السَّمَاوَاتِ, rafa'a as-samaawaati) yang berarti "meninggikan langit", dan di 55:7, (وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا, wa-s-samaa'a rafa'ahaa) yang berarti "dan langit Dia tinggikan". Di 88:18, (وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ, wa-ilaa s-samaa'i kayfa rufi'at), kata kerjanya muncul sebagai pertanyaan tentang langit, yaitu bagaimana langit itu ditinggikan. Di tiga ayat itu kata kerja dari akar ini berpasangan dengan langit, sedangkan di 52:5 bentuk yang dipakai adalah kata keadaan.
Bentuk (الْمَرْفُوعِ, al-marfuu'i) menyebut sesuatu yang sudah ditinggikan, sehingga terjemahannya "yang ditinggikan" dan tidak "yang tinggi". Kata "tinggi" menyebut ukuran, sedangkan "ditinggikan" menyebut perbuatan yang sudah dikenakan pada benda itu. Di 13:2 dan 55:7 perbuatan meninggikan itu punya pelaku yang disebut dengan jelas, dan di 52:5 pelakunya tidak disebut. Pilihan "ditinggikan" menjaga perbedaan itu tetap terlihat.
Ayat ini tidak menyebut langit. Terjemahan menulis "atap" dan tidak menambahkan kata "langit", karena kata itu tidak ada di ayat ini. Pembacaan atap sebagai langit didukung oleh 21:32 yang menyebut langit sebagai atap, dan oleh 13:2 serta 55:7 yang menyebut langit sebagai yang ditinggikan, tetapi dukungan itu datang dari ayat lain.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sumpah demi atap yang ditinggikan, dan atap itu dapat dibaca sebagai langit di atas bumi. Bersama 52:4, ayat ini membentuk pasangan rumah dan atap: tempat yang berpenghuni, lalu bagian yang menaunginya. Rangkaian sumpah itu naik dari bangunan ke atap di ayat ini, lalu turun ke laut di 52:6, (وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ, wa-l-bahri al-masjuuri) yang berarti "dan demi laut yang dipenuhi".
Surah ini menyebut langit dengan namanya di dua tempat sesudah rangkaian sumpah. Di 52:9 langit berguncang sekeras-kerasnya, dan di 52:36, (أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, am khalaquu s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "Ataukah mereka menciptakan langit dan bumi?", penciptaannya ditanyakan. Pembaca yang membaca atap di 52:5 sebagai langit melihat benda yang disumpahkan di awal surah muncul kembali sebagai benda yang berguncang dan sebagai benda yang penciptaannya dipertanyakan.
Kata yang menutup ayat ini berasal dari perbuatan yang sudah dikenakan pada benda, yaitu ditinggikan, dan siapa yang meninggikannya tidak tertulis di ayat ini. Pelaku itu disebut di tempat lain, yaitu 13:2 dan 55:7 yang tadi dikutip. Rangkaian sumpah ini dengan begitu menaruh perbuatan meninggikan di ayat kelima dan pelakunya di ayat-ayat lain.
Renungan dan Hikmah
- Atap adalah bagian rumah yang paling jarang diingat selama tidak bocor. Orang bisa tinggal bertahun-tahun di bawahnya tanpa sekali pun memikirkannya, lalu baru menyadarinya ketika hujan menetes ke lantai. Perhatian biasanya datang pada saat sesuatu rusak, dan jarang pada saat sesuatu bekerja baik-baik saja. Ayat ini menyebut atap sebagai sesuatu yang disumpahkan. Benda apa dalam hidup pembaca yang bekerja setiap hari tanpa pernah disebut, misalnya orang yang menjaga keamanan kampung atau tangan yang menyiapkan makan?
- Di 13:2 Allah disebut yang meninggikan langit tanpa tiang yang kalian lihat. Kalimat itu menaruh perhatian pada penopang yang tidak tampak, dan ayat 52:5 menyebut atap yang ditinggikan tanpa menyebut penopangnya. Orang yang mengagumi bangunan yang tinggi biasanya mencari tiangnya lebih dulu, dan tiang yang tidak ketemu mengubah rasa kagum menjadi pertanyaan. Orang yang bertahun-tahun bergantung pada orang di balik layar, misalnya pengurus rumah atau rekan kerja yang diam, jarang menghitung seberapa banyak yang ditopangnya.
- Di 55:7 langit Dia tinggikan, lalu ayat itu langsung menyebut bahwa Dia meletakkan timbangan. Dua perbuatan itu berurutan dalam satu napas: sesuatu ditinggikan, kemudian sesuatu diletakkan sebagai ukuran. Pembaca yang membayangkan atap yang ditinggikan di 52:5 bersama ayat tadi bisa bertanya ukuran apa yang sedang dipakainya untuk menimbang hal-hal yang dianggapnya tinggi. Menimbang tanpa ukuran yang jelas sering berakhir pada rasa saja, dan rasa mudah berubah mengikuti suasana hati.
- Kata yang ditinggikan dipakai juga untuk kasur-kasur di 56:34, dipan-dipan di 88:13, dan lembaran yang disucikan di 80:14. Benda-benda itu berbeda sifatnya, dan kesamaannya adalah bahwa semuanya diletakkan lebih tinggi dari tempat biasa. Orang yang menaruh sesuatu di tempat tinggi di rumahnya, misalnya kitab di rak teratas, tahu bahwa meninggikan benda adalah cara memberinya kedudukan, dan pembaca bisa menengok benda apa yang selama ini dimuliakannya di rak tanpa pernah dibuka. Rak yang tinggi sering menjadi tempat benda dihormati dari jauh dan jarang disentuh.
- Di 16:26 Allah mendatangi bangunan orang-orang yang membuat makar dari fondasinya, lalu atap runtuh menimpa mereka dari atas. Urutan ayat itu menaruh fondasi lebih dulu dan atap kemudian. Orang yang sibuk memperindah atap rumahnya, entah gelar, nama, atau jabatan, dapat menimbang kapan terakhir kali memeriksa fondasi di bawahnya. Atap yang paling mahal pun bergantung pada tanah tempat fondasinya berdiri.
- Rangkaian sumpah naik dari bangunan ke atap di 52:5, lalu turun ke laut di 52:6, dan berakhir pada pernyataan di 52:7 tentang azab Tuhanmu. Pembaca yang mengikuti gerak naik dan turun itu pelan-pelan sadar bahwa pandangannya dituntun dari yang jauh ke yang dekat sebelum dipertemukan dengan pernyataan yang menyapa pembaca. Pengalaman itu mirip memandang langit malam yang luas lalu tiba-tiba dipanggil namanya dari belakang, sehingga seluruh perhatian berbalik arah.