وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ

demi Rumah yang diramaikan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالْبَيْتِwa-l-baytidemi Rumah
  2. الْمَعْمُورِal-ma'muuriyang diramaikan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَالْبَيْتِwa-l-baytidan rumah
  2. الْمَعْمُورِal-ma'muuriyang ramai dikunjungi

Inti bacaan

Sumpah keempat 'demi Rumah yang diramaikan', dimensi spiritual dan komunal dalam rangkaian sumpah yang terus berkembang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ, wa-l-bayti al-ma'muuri) yang berarti "demi Rumah yang diramaikan". Awalan sumpah menyatu pada kata pertama, sehingga bentuk utuhnya diterjemahkan "demi". Kapitalisasi hanya pada kata benda utama "Rumah" yang dikapitalkan sebagai rujukan tempat khusus, dan kata sifat penyertanya, "diramaikan", menjadi huruf kecil.

Kata benda dengan kata sandang seperti (وَالْبَيْتِ, wa-l-bayti) di ayat ini dipakai di empat belas ayat: 2:125, 2:127, 2:158, 3:97, 5:2, 5:97, 8:35, 11:73, 22:26, 22:29, 22:33, 33:33, 52:4, dan 106:3. Di dua tempat kata ini diberi sifat yang menunjuk kedudukan tempatnya, yaitu (الْبَيْتَ الْحَرَامَ, l-bayta l-haraama) di 5:2 dan 5:97, dan (بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ, bi-l-bayti l-'atiiqi) di 22:29 dan 22:33. Di 106:3, (رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ, rabba haadzaa l-bayti) yang berarti "Tuhan Rumah ini", tempat itu dikaitkan dengan Tuhan, dan di 22:26 tempat itu disebut "Rumah-Ku" dalam ucapan kepada Ibrahim. Kata (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri) tidak dipakai di ayat lain, sehingga keterangan di 52:4 adalah keadaan Rumah itu, yaitu diramaikan.

Kata (الْمَعْمُورِ, al-ma'muuri) berakar ع-م-ر. Akar ini dipakai di sembilan belas ayat: 2:96, 2:158, 2:196, 9:17, 9:18, 9:19, 10:16, 11:61, 15:72, 16:70, 21:44, 22:5, 26:18, 28:45, 30:9, 35:11, 35:37, 36:68, dan 52:4. Terjemahan "diramaikan" mengikuti pemakaian akar ini untuk tempat dan negeri. Di 9:17 dan 9:19 terjemahannya "meramaikan" untuk masjid-masjid dan Masjidilharam, (يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ, ya'muru masaajida llaahi) di 9:18 menyebut orang yang meramaikan masjid-masjid Allah, dan (وَعَمَرُوهَا, wa-'amaruuhaa) di 30:9 menyebut orang-orang terdahulu yang mengolah bumi serta meramaikannya. Di 9:19 meramaikan Masjidilharam disandingkan dengan pemberian minuman kepada orang yang berhaji, lalu ayat itu mempertanyakan apakah keduanya sama dengan beriman kepada Allah dan hari Akhir. Di keempat ayat itu ada pelaku yang meramaikan, sedangkan di 52:4 bentuknya menyebut tempat yang sudah diramaikan tanpa menyebut pelakunya. Akar yang sama dipakai juga untuk umur, misalnya di 35:11 yang menyebut umur yang dipanjangkan atau dikurangi.

Ayat ini tidak menyebut Rumah yang mana. Di 5:97 dan 22:29 Rumah diberi sifat yang menunjuk kedudukannya, dan di 106:3 serta 22:26 Rumah itu dikaitkan dengan Tuhan, sedangkan keterangan di 52:4 adalah keadaan Rumah itu, yaitu diramaikan. Terjemahan menulis "Rumah" dengan huruf besar seperti di ayat-ayat itu dan membiarkan identifikasinya kepada pembaca.

Tafsiran

Ayat ini bersumpah demi Rumah yang diramaikan, dan sebutan itu dapat dibaca sebagai Rumah yang didatangi banyak orang. Sumpah keempat ini berbeda dari tiga sumpah sebelumnya karena benda yang disebut membawa kehadiran orang, walaupun orangnya tidak disebut. Gunung, kitab, dan lembaran adalah benda yang dapat berdiri sendiri, sedangkan Rumah yang diramaikan baru bisa dibayangkan bersama orang-orang yang mengisinya. Karena itu Rumah di ayat ini terbaca sebagai tempat yang hidup oleh kehadiran orang, dan tidak terbaca sebagai bangunan kosong yang dikagumi dari jauh.

Ayat ini berpasangan dengan ayat sesudahnya sebagai rumah dan atap. Kata (وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ, wa-s-saqfi al-marfuu'i) di 52:5 menyebut bagian bangunan yang menaungi, sehingga dua ayat itu bersama menggambarkan tempat yang berpenghuni dan beratap. Keduanya memakai kata keadaan yang menyebut perbuatan yang sudah dikenakan pada benda, yaitu diramaikan dan ditinggikan.

Di 106:3 Rumah disebut dalam perintah untuk menyembah Tuhan Rumah ini. Ayat 52:4 menyebut Rumah dalam sumpah yang dijawab dengan pernyataan tentang azab Tuhanmu di 52:7. Dua ayat itu memakai Rumah dalam dua susunan yang berbeda, dan hubungan Rumah yang disumpahkan dengan Rumah di ayat lain dibiarkan terbuka.

Renungan dan Hikmah

  • Rumah yang diramaikan tidak bisa dibayangkan tanpa orang yang datang dan tinggal di dalamnya. Tempat yang sepi sering dikira masih utuh karena dindingnya masih berdiri, padahal ramainya sudah hilang. Orang yang pernah pulang ke rumah masa kecil yang kini kosong tahu bedanya antara bangunan dan tempat yang hidup. Ayat ini menaruh keramaian sebagai keadaan yang disumpahkan. Tempat mana dalam hidup pembaca yang masih berdinding tetapi sudah kehilangan penghuni?
  • Di 9:18 yang meramaikan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, menegakkan salat, memberikan zakat, serta tidak takut selain Allah. Ayat 52:4 menyebut tempat yang sudah diramaikan tanpa menyebut siapa pelakunya, sehingga pembaca yang membawa gambaran 9:18 ke sini bertanya apa yang membuat sebuah tempat disebut ramai. Orang yang aktif di banyak tempat ibadah, rapat, atau kelompok dapat memeriksa apakah kehadirannya ikut meramaikan atau hanya mengisi kursi.
  • Di 106:3 Rumah disebut dalam perintah untuk menyembah Tuhan Rumah ini, sehingga bangunan dan Tuhan berada dalam satu kalimat. Pembaca yang mengenal ayat itu mendengar nama Tuhan di belakang kata Rumah di 52:4, walaupun nama itu tidak tertulis di ayat ini. Orang yang rajin mengunjungi tempat suci dapat menimbang apakah perhatiannya berhenti pada bangunan atau sampai pada Tuhan yang disebut bersamanya. Kehadiran di tempat yang ramai mudah dikira sudah cukup, padahal perintah di 106:3 ditujukan kepada Tuhan yang disebut di ujung kalimatnya.
  • Siapa yang meramaikan Rumah itu tidak tertulis. Setiap tempat yang tetap hidup bergantung pada orang-orang yang jarang disebut: yang membuka pintunya pagi hari, yang menyapu halamannya, yang menyalakan lampunya. Pembaca bisa mengingat tempat yang selama ini dinikmatinya, misalnya kampung, musala, atau kantor, lalu bertanya siapa yang membuatnya ramai tanpa pernah mendapat ucapan terima kasih. Terima kasih yang tidak sempat diucapkan itu tetap bagian dari ramainya tempat tersebut.
  • Sesudah dua sumpah tentang tulisan, sumpah di ayat ini berpindah ke tempat. Orang yang sudah membaca banyak hal sering berhenti di bacaan, dan sumpah ini mengingatkan bahwa bacaan menemukan tempatnya di rumah yang dihuni. Pembaca bisa bertanya tempat mana dalam hidupnya yang menjadi lokasi bacaannya diuji, misalnya dapur, ruang tamu, atau meja kerja, karena kitab yang dibaca di kamar sendirian belum tentu sama bobotnya dengan kitab yang dibaca di depan orang-orang serumah.
  • Deretan sumpah di 52:1-6 dijawab di 52:7 dengan pernyataan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi. Rumah yang diramaikan berada di tengah rangkaian itu, dan keramaiannya tidak mengubah pernyataan di ujungnya. Orang yang terbiasa menenangkan diri dengan kesibukan, seperti jadwal yang penuh dan rumah yang ramai, dapat menimbang apakah keramaian itu menggantikan pertanyaan yang diajukan sumpah-sumpah ini. Keramaian yang menyenangkan tetap bisa menjadi tempat berlindung dari pertanyaan yang belum dijawab.