مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ
tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا لَهُmaa lahutidak ada baginya
- مِنْ دَافِعٍmin daafi'inpenolak apa pun
Terjemahan per kata (4 kata)
- مَاmaatidaklah
- لَهُlahubaginya
- مِنْmindari
- دَافِعٍdaafi'inyang menolaknya
Inti bacaan
Penegasan lanjutan 'tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya', jaminan tanpa celah bagi kemungkinan menghindar dari konsekuensi yang telah ditetapkan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ, maa lahu min daafi'in) yang berarti "tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda, "tidak ada baginya" dan "penolak apa pun". Kata (مِنْ, min) di depan kata tanpa kata sandang memperluas penyangkalan menjadi "apa pun", dan karena itu terjemahannya memuat "sesuatu pun". Di 70:2, (لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ, laysa lahu daafi'un) yang berarti "yang tidak ada penolaknya", kata itu tidak ada dan terjemahannya tidak memuat "pun". Rangkaian pembuka (مَا لَهُ مِنْ, maa lahu min) dipakai di tiga belas ayat: 13:33, 22:18, 24:40, 34:22, 38:54, 39:23, 39:36, 39:37, 40:33, 42:44, 42:46, 52:8, dan 86:10. Di semuanya rangkaian itu membuka penyangkalan atas sesuatu yang tidak dimiliki pihak yang dibicarakan, dan di 52:8 pihak itu tidak memiliki penolak. Akhiran dalam (لَهُ, lahu) kembali ke azab di 52:7, sehingga terjemahannya "menolaknya". Penyangkalan di 52:8 memakai (مَا, maa), sedangkan di 70:2 memakai (لَيْسَ, laysa), dan terjemahan keduanya sama-sama memuat "tidak ada". Terjemahan "penghalang" tidak dipakai, karena akar ini di korpus dipakai untuk menolak sesuatu yang datang (2:251, 22:40, 23:96, 41:34), sedangkan "penghalang" membayangkan sesuatu yang berdiri di jalan sebelum sesuatu itu datang. Kata "penolak" menjaga gambaran sesuatu yang datang lalu ditolak. Bentuk (دَافِعٍ, daafi'in) berfungsi sebagai sebutan bagi pelaku, sehingga ayat ini tidak mengatakan bahwa azab itu tidak bisa ditolak oleh cara tertentu, tetapi bahwa tidak ada pelaku yang menolaknya.
Kata (دَافِعٍ, daafi'in) hanya dipakai di dua ayat, yaitu 52:8 dan 70:2. Kedua ayat itu berdekatan dengan azab yang pasti terjadi, 52:7 dan 70:1, sehingga susunan "azab pasti terjadi, lalu tidak ada penolaknya" muncul dua kali dalam korpus.
Akar د-ف-ع dipakai di sembilan ayat: 2:251, 3:167, 4:6, 22:38, 22:40, 23:96, 41:34, 52:8, dan 70:2. Arti yang paling dekat dengan 52:8 muncul di 2:251 dan 22:40, ketika (دَفْعُ, daf'u) disebut dalam terjemahan "menolak": Allah menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain. Di 22:38, (يُدَافِعُ, yudaafi'u) diterjemahkan "membela". Di 23:96 dan 41:34, (ادْفَعْ, idfa') diterjemahkan "Tolaklah" dan memerintahkan manusia menolak keburukan dengan yang lebih baik. Di 3:167 bentuk lain dari akar ini diterjemahkan "bertahanlah", dan di 4:6 diterjemahkan "serahkanlah".
Terjemahan "menolaknya" dipilih karena arti "menolak" muncul juga di 2:251, 22:40, 23:96, dan 41:34, dan cocok dengan ayat ini yang menyatakan tak ada pihak yang dapat menghalangi. Terjemahan "membela" atau "menyerahkan" tidak dipakai, karena ayat ini tidak memuat pembela maupun penyerahan.
Tafsiran
Ayat ini menutup penegasan: begitu azab itu terjadi, tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menghalanginya. Bersama 52:7 ayat ini membentuk satu pernyataan dalam dua napas. Ayat pertama menyatakan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi, dan ayat kedua menutup arah yang biasa dicari orang ketika berhadapan dengan sesuatu yang berat, yaitu mencari penolak.
Ayat ini menutup bagian jawaban dan mengantar ke bagian waktu. Ayat 52:9 membuka dengan "Pada hari", sehingga pernyataan yang pasti dan tak tertolak itu segera diberi tempat dalam waktu: hari ketika langit berguncang. Susunan tiga ayat, kepastian, ketiadaan penolak, lalu hari, terlihat jelas bila 52:7-9 dibaca berurutan.
Ayat 22:38 menyatakan bahwa Allah membela orang-orang yang beriman, dan akar yang sama dipakai di sana untuk pembelaan. Pasangan kata yang seakar itu menaruh ketiadaan penolak di 52:8 dan keberadaan pembela di 22:38 pada dua sisi yang berhadapan, dan keduanya tidak saling menjelaskan karena ayat-ayat itu berdiri di surah yang berbeda. Pembaca yang sampai di ayat ini sudah menerima kepastian di 52:7 dan penutupan jalan di 52:8, lalu 52:9 mengisi waktunya dan 52:11 menyebut orang-orang yang menanggung akibatnya. Penutupan jalan itu disampaikan dengan susunan yang pendek.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang dihadapkan pada sesuatu yang berat biasanya mencari jalan keluar lebih dulu, dari mengurangi sampai menunda. Ayat ini menutup pencarian itu dengan satu kalimat, bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menolak. Pembaca yang sering menyiapkan alasan sebelum perkaranya datang, misalnya jawaban untuk atasan atau alasan untuk keluarga, dapat menimbang apakah alasan-alasan itu pernah benar-benar dibutuhkan, atau hanya menenangkan perasaan sebentar.
- Di 22:38 Allah membela orang-orang yang beriman, dan akar katanya sama dengan kata penolak di 52:8. Dua ayat itu membuat pembaca bertanya pihak mana yang ia andalkan ketika perkaranya besar. Orang yang pernah berada di ruang tunggu sebuah keputusan penting tahu bahwa saat itu orang paling merindukan satu pihak yang mau berdiri di sampingnya, dan ayat ini mengarahkan perhatian pada apa yang tidak dapat diandalkan. Pertanyaan semacam itu jarang diajukan selama keadaan masih lapang.
- Di 41:34 manusia diperintahkan menolak keburukan dengan yang lebih baik, sehingga orang yang tadinya bermusuhan bisa menjadi seperti teman akrab. Kata menolak di sana dipakai untuk perbuatan manusia, dan di 52:8 kata yang seakar dipakai untuk sesuatu yang tak dapat ditolak. Orang yang terbiasa menangkis dengan jawaban pedas di setiap perselisihan, dari rapat keluarga sampai komentar di layar, dapat menimbang bahwa manusia diberi wilayah untuk menolak keburukan sesamanya, dan wilayah yang lain tidak termasuk di dalamnya.
- Di 22:40 Allah menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, sehingga tempat-tempat ibadah yang di dalamnya banyak disebut nama Allah tidak dirobohkan. Ayat itu menaruh perbuatan menolak di tangan Allah, dan ayat 52:8 menyatakan bahwa tidak ada pihak yang dapat menolak azab Tuhanmu. Pembaca yang mengamati urusan dunia sebagai tarik-menarik kepentingan dapat memperhatikan bahwa pengaturan yang menjaga tempat-tempat ibadah tetap berdiri berasal dari sumber yang sama dengan pernyataan di ayat ini.
- Kalimat ini juga menutup pintu untuk wakil. Orang yang sibuk mengirim perwakilan, dari surat kuasa sampai utusan keluarga, mengenal kenyamanan menyerahkan urusan berat kepada orang lain. Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang tak dapat diwakilkan, sehingga pembaca ditinggalkan bersama satu pertanyaan sederhana: apa yang masih dapat dikerjakan sendiri selagi ada waktu?
- Ayat 52:7 menyatakan kepastian dan ayat 52:8 menyatakan ketiadaan penolak, dan keduanya dipisah oleh satu tanda baca di mushaf. Pembaca yang berhenti di 52:7 membawa pulang rasa gentar, sedangkan pembaca yang terus ke 52:8 membawa pulang rasa tak berdaya. Orang yang menyadari perbedaan itu memahami mengapa sebuah pernyataan penting kadang butuh kalimat kedua, dan kalimat kedua ini mengikat apa yang dinyatakan Tuhanmu pada kenyataan bahwa tak ada jalan memutar.