Ayat 52:9

يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا

Pada hari langit berguncang sekeras-kerasnya,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. يَوْمَyawmapada hari
  2. تَمُورُ السَّمَاءُtamuuru s-samaa'ulangit berguncang
  3. مَوْرًاmawransekeras-kerasnya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. تَمُورُtamuuruberguncang
  3. السَّمَاءُs-samaa'ulangit
  4. مَوْرًاmawransegoncang-goncangnya

Inti bacaan

Ayat ini menggambarkan hari ketika langit yang dikira kukuh bergerak hebat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا, yawma tamuuru s-samaa'u mawran) yang berarti "Pada hari langit berguncang sekeras-kerasnya". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "pada hari", "langit berguncang", dan "sekeras-kerasnya". Kata (يَوْمَ, yawma) diterjemahkan "Pada hari" dan tidak "Hari", karena ayat ini berfungsi sebagai keterangan waktu bagi ayat-ayat di sekitarnya.

Kata (تَمُورُ, tamuuru) berakar م-و-ر. Akar ini dipakai di dua ayat saja, yaitu 52:9 dan 67:16. Di 67:16, (تَمُورُ, tamuuru) diterjemahkan "terguncang" dan pelakunya adalah bumi, dalam kalimat "lalu tiba-tiba ia terguncang". Di 52:9 pelakunya langit. Terjemahan "berguncang" di 52:9 dan "terguncang" di 67:16 menjaga kesamaan arti pada dua ayat yang memakai kata kerja yang sama dengan pelaku yang berbeda. Korpus memiliki akar lain untuk guncangan. Akar ر-ج-ف dipakai di enam ayat untuk guncangan: 7:78, 7:91, 7:155, 29:37, 73:14, dan 79:6, dan di 73:14 bentuk (تَرْجُفُ, tarjufu) diterjemahkan "berguncang" dengan pelaku bumi dan gunung-gunung. Akar ر-ج-ج dipakai di 56:4 saja, dan akar ز-ل-ز-ل dipakai di 2:214, 22:1, 33:11, dan 99:1. Terjemahan memakai "berguncang" untuk dua kata kerja yang berbeda, yaitu (تَمُورُ, tamuuru) di 52:9 dan (تَرْجُفُ, tarjufu) di 73:14, dan korpus tidak memberi bukti untuk membedakan keduanya lebih jauh. Kata (تَمُورُ, tamuuru) dipakai dengan langit sebagai pelakunya, dan terjemahan "berguncang" memakai awalan "ber-" mengikuti kalimat di ayat ini, berbeda dari "diguncang" di 56:4 dan 99:1 yang menyebut bumi dikenai perbuatan.

Kata (مَوْرًا, mawran) adalah kata benda yang seakar dengan kata kerjanya dan hanya dipakai di ayat ini. Keduanya berakar م-و-ر, jadi guncangan disebut dua kali dalam satu ayat pendek, sekali sebagai gerakan dan sekali sebagai penguatnya. Susunan kata kerja yang disusul kata benda seakar muncul juga, antara lain, di 52:10, (وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا, wa-tasiiru l-jibaalu sayran), dan di 56:4, (رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا, rujjati l-ardhu rajjan). Susunan itu berfungsi memperkuat arti kata kerja, dan terjemahan memakai kata penguat yang berbeda untuk tiap ayat: "sekeras-kerasnya" di 52:9, "dengan dahsyat" di 52:10, dan "sedahsyat-dahsyatnya" di 56:4. Perbedaan antara 52:9 dan 52:10 mengikuti kata kerjanya, karena "sekeras-kerasnya" cocok untuk guncangan dan tidak cocok untuk perjalanan; antara 52:9 dan 56:4 korpus tidak menyatakan alasannya.

Kata (السَّمَاءُ, s-samaa'u) diterjemahkan "langit". Pada ayat ini langit disebut dengan namanya dan menjadi pokok kalimat: langit sendiri yang digambarkan berguncang, berbeda dari 52:5 yang menyebut atap. Hubungan atap dan langit di 52:5 adalah pembacaan, sedangkan di 52:9 kata langit tertulis di ayatnya.

Tafsiran

Ayat ini melukiskan kedahsyatan hari itu: langit, yang dalam pengalaman pembaca tampak kukuh, berguncang dahsyat. Ayat ini membuka dengan keterangan waktu, "Pada hari", yang menyambung 52:7-8 dengan gambaran peristiwa, dan 52:11 menyebut akibatnya: (فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ, fa-waylun yawma'idzin li-l-mukadzdzibiina) yang berarti "Maka, celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan". Dua ayat di antaranya, 52:9 dan 52:10, melukiskan hari itu dengan langit dan gunung-gunung.

Langit di ayat ini dapat dihubungkan dengan sumpah di 52:5. Bila atap yang ditinggikan di 52:5 dibaca sebagai langit, sumpah dan peristiwa saling berhadapan: langit disumpahkan sebagai benda yang ditinggikan, lalu digambarkan berguncang pada hari yang dapat dibaca sebagai waktu terjadinya azab di 52:7. Surah ini menyebut langit lagi di 52:36, (أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, am khalaquu s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "Ataukah mereka menciptakan langit dan bumi?", sehingga langit disebut dengan namanya antara lain di 52:9 dan 52:36, dan, bila atap dibaca sebagai langit, sebagai atap di 52:5.

Di 67:16 kata kerja yang sama dipakai untuk bumi yang terguncang sesudah pertanyaan apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit. Dengan itu kata guncang di korpus berpasangan dengan langit di 52:9 dan dengan bumi di 67:16, dan kalimat di 67:16 menyangkut rasa aman manusia dari Dia yang di langit.

Renungan dan Hikmah

  • Langit adalah latar yang jarang diperhitungkan dalam keseharian karena selalu ada di atas kepala. Orang yang menjadikan sesuatu sebagai latar permanen hidupnya, entah pekerjaan, rumah, atau nama baik, jarang membayangkan latar itu berguncang. Ayat ini menaruh langit dalam keadaan bergerak, dan pembaca dapat bertanya latar mana dalam hidupnya yang selama ini dianggap tidak mungkin bergeser? Latar semacam itu baru terasa ketika bergeser. Langit di ayat ini disebut dengan namanya sebagai pokok kalimat, dan langit itu sendiri yang digambarkan berguncang.
  • Di 52:9 kata guncang dipakai untuk langit, dan di 67:16 untuk bumi sesudah pertanyaan apakah kalian merasa aman dari Dia yang di langit. Di 67:16 rasa aman itu dipertanyakan, dan 52:9 berbagi kata guncang dengannya. Orang yang pernah mengalami gempa mengenal saat tubuh sadar bahwa tanah yang dipijak tidak bisa dipercaya. Pembaca dapat bertanya apa yang masih dipercayainya sepenuhnya.
  • Ayat ini dibuka dengan keterangan waktu. Pembaca mendengar "Pada hari" lalu menunggu apa yang akan disebut sesudahnya. Orang yang pernah menunggu lanjutan sebuah pengumuman penting mengenal ketegangan itu, karena makna kalimat belum utuh dan perhatian menajam. Pernyataan tentang azab Tuhanmu di 52:7 sudah lewat, dan keterangan waktu ini mengisi bagian yang belum terjawab, yaitu kapan, dan jawabannya pada hari ketika langit berguncang sekeras-kerasnya.
  • Terjemahan memakai kata penguat yang berbeda di tiga ayat yang dibandingkan di sini, yaitu sekeras-kerasnya, dengan dahsyat, dan sedahsyat-dahsyatnya. Pembaca yang mendengar penguat ini mendapati bahwa tiap ayat memakai kata sendiri untuk guncangannya. Orang yang pernah menceritakan sebuah gempa kepada orang lain tahu bahwa kata yang dipilihnya untuk "keras" mengubah apa yang dibayangkan pendengar, dan tiga ayat ini menaruh tiga kata yang berbeda pada tiga kejadian.
  • Di 52:5 tertulis atap, dan bila atap itu dibaca sebagai langit, 52:9 menyebutnya dengan namanya sendiri. Sesuatu yang disebut dengan nama langsung terasa lebih dekat daripada sesuatu yang diberi sebutan lain. Orang yang pernah berbicara tentang orang lain dengan julukan, lalu suatu hari menyebut nama aslinya, mengenal perubahan jarak itu, dan pembacaan itu menyingkat jarak antara benda yang disumpahkan dan peristiwa yang digambarkan. Bila pembacaan itu dipakai, perubahan dari sebutan ke nama terjadi dalam satu surah, hanya empat ayat sesudah sumpah tentang atap.
  • Di 67:16 pertanyaan tentang rasa aman menyangkut Dia yang di langit, bahwa Dia akan membenamkan kalian ke dalam bumi. Ayat 52:9 tidak memuat pertanyaan itu, tetapi pembaca yang mengenal 67:16 mendengar bunyi yang sama pada kata guncang. Orang yang membangun rumah di tempat yang rawan gempa mengenal pertanyaan tentang dasar rasa aman, dan 67:16 mengajukan pertanyaan semacam itu kepada pembacanya.

Ayat 52:10

وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا

dan gunung-gunung bergerak dengan dahsyat.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَتَسِيرُ الْجِبَالُwa-tasiiru l-jibaaludan gunung-gunung bergerak
  2. سَيْرًاsayrandengan dahsyat

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَتَسِيرُwa-tasiirudan berjalan
  2. الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
  3. سَيْرًاsayranperjalanan

Inti bacaan

Kelanjutan gambaran 'gunung-gunung bergerak dengan dahsyat': objek yang tampak kokoh bergerak dengan hebat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا, wa-tasiiru l-jibaalu sayran) yang berarti "dan gunung-gunung bergerak dengan dahsyat". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda, "dan gunung-gunung bergerak" dan "dengan dahsyat". Kata (الْجِبَالُ, l-jibaalu) berbeda dari kata gunung yang disumpahkan di 52:1, (وَالطُّورِ, wa-th-thuuri), dan kata yang berbeda itu dipertahankan dalam terjemahan.

Kata kerja (تَسِيرُ, tasiiru) berakar س-ي-ر. Gunung-gunung dan akar ini bertemu di lima ayat: 13:31, 18:47, 52:10, 78:20, dan 81:3. Di empat ayat lain gunung-gunung itu dikenai perbuatan: "digerakkan" di 13:31, "Kami perjalankan" di 18:47 dalam (نُسَيِّرُ الْجِبَالَ, nusayyiru l-jibaala), "dijalankan" di 78:20 dalam (وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ, wa-suyyirati l-jibaalu), dan "dijalankan" di 81:3 dalam (سُيِّرَتْ, suyyirat). Di 52:10 gunung-gunung itu sendiri yang berjalan, dengan kata kerja yang tidak memuat pelaku lain. Terjemahan "bergerak" menjaga perbedaan itu. Gunung-gunung di kelima ayat itu disebut dengan kata (الْجِبَالُ, l-jibaalu) berbentuk jamak dengan kata sandang, sehingga terjemahannya "gunung-gunung" dan tidak "gunung". Kata tunggal dari akar lain yang disumpahkan di 52:1 diterjemahkan "gunung". Bedanya terlihat jelas di dua ayat yang berjauhan itu: 52:1 menyebut satu gunung yang dikenal, sedangkan 52:10 menyebut gunung-gunung sebagai kelompok yang bergerak bersama.

Kata (سَيْرًا, sayran) adalah kata benda yang seakar dengan kata kerjanya, seperti (مَوْرًا, mawran) di ayat sebelumnya. Terjemahan "dengan dahsyat" dipakai karena gerak gunung-gunung tidak cocok dengan "sekeras-kerasnya" yang dipakai untuk guncangan di 52:9. Dua ayat itu berhubungan lewat susunan yang sama dan lewat kata "dan" di awal ayat ini, sehingga gerak gunung-gunung terbaca sebagai lanjutan dari guncangan langit.

Di 20:105 gunung-gunung disebut dalam jawaban untuk pertanyaan tentang gunung, "Tuhanku akan menghancurkannya sehancur-hancurnya". Kata kerja dan pelaku di sana berbeda dari 52:10, yang menyebut gerak tanpa menyebut siapa yang menggerakkan. Korpus memiliki akar lain untuk gunung yang bergerak, yaitu م-ر-ر di 27:88, (تَمُرُّ, tamurru), yang menyebut gunung-gunung berjalan seperti berjalannya awan. Nasib gunung-gunung disebut dengan banyak kata kerja yang berbeda: berjalan di 52:10 dan empat ayat tadi, melintas di 27:88, dihancurkan sehancur-hancurnya di 56:5, dan menjadi onggokan pasir yang tercurah di 73:14. Terjemahan "bergerak" di 52:10 memilih kata yang paling dekat dengan kata kerja gerak itu sendiri dan tidak meminjam gambaran dari ayat-ayat lain.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi gambaran kehancuran kosmis: gunung yang selama ini menjadi lambang kekukuhan bergerak dan berjalan. Bersama 52:9 ayat ini mengisi keterangan "pada hari" dengan dua gambaran, langit lebih dulu, lalu gunung-gunung. Ayat 52:11 menyebut akibatnya bagi orang-orang yang mendustakan: celakalah pada hari itu. Ayat 52:9 memakai kata guncang untuk langit dan ayat ini memakai kata gerak untuk gunung-gunung, sehingga dua ayat itu memakai dua kata kerja yang berbeda untuk dua benda yang berbeda. Di surah lain gunung-gunung berakhir pada nasib yang berbeda, yaitu dihancurkan di 56:5 dan menjadi onggokan pasir di 73:14. Ayat 52:10 berhenti pada gerak dan tidak menyebut kesudahannya, sehingga gambaran itu dibiarkan terbuka sampai ayat berikutnya.

Gunung-gunung yang bergerak di sini berhadapan dengan gunung yang disumpahkan di awal surah. Ayat 52:1 menyebut gunung tanpa keterangan, dan 52:10 menyebut gunung-gunung dengan kata kerja yang menunjukkan gerak. Kata yang dipakai di dua tempat itu berbeda, sehingga hubungan keduanya adalah hubungan tema, sedangkan kata yang dipakai berbeda.

Di antara lima ayat yang memasangkan gunung dan akar س-ي-ر, 52:10 memakai kata kerja tanpa pelaku lain, dan keempat ayat lainnya menunjukkan gunung dikenai perbuatan. Dengan itu 52:10 menaruh gerak pada gunung sendiri, tanpa menyebut siapa yang menggerakkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Gunung adalah benda yang dipakai orang sebagai patokan arah, dan karena patokan jarang bergerak, orang terbiasa memercayainya tanpa berpikir. Ayat ini menyebut gunung-gunung berjalan, dan pembaca dapat bertanya patokan mana dalam hidupnya yang selama ini dianggap tidak akan berpindah. Pelaut yang kehilangan titik acuan di cakrawala mengenal kecemasan semacam itu, dan ayat ini menaruh kecemasan itu pada patokan terbesar yang bisa dibayangkan.
  • Di 18:47 Kami memperjalankan gunung-gunung, di 78:20 dan 81:3 gunung-gunung dijalankan, dan di 52:10 gunung-gunung itu sendiri yang bergerak. Di 13:31 gunung-gunung digerakkan oleh suatu bacaan dalam pengandaian, lalu ayat itu menegaskan bahwa milik Allah segala urusan. Kata kerja tanpa pelaku lain di 52:10 membuat gerak itu terbaca seperti peristiwa yang berlangsung begitu saja. Pembaca yang membaca ayat ini di antara lima ayat sejenis menyadari bahwa cara sebuah peristiwa diceritakan mengubah rasa terhadap peristiwa itu, dan bahwa pelaku yang tidak disebut belum berarti tidak ada.
  • Di 20:105 orang bertanya tentang gunung-gunung, dan jawabannya adalah bahwa Tuhanku akan menghancurkannya sehancur-hancurnya. Ayat itu memberi nama pada pelakunya, dan 52:10 membiarkan gerak itu berdiri sendiri. Orang yang mengagumi gunung dari kejauhan dan menyimpannya sebagai tempat berlibur dapat menimbang bahwa gunung yang sama disebut dalam ayat-ayat tentang hari yang dijanjikan, dan pandangan itu mengubah cara memandang bentang alam yang sama.
  • Sejak 52:9 pembaca menerima keterangan waktu, dan ayat ini menambah isinya. Akibat bagi para pendusta baru disebut di 52:11. Orang yang mendengarkan kisah panjang dengan tokoh yang belum diperkenalkan mengenal rasa ini, karena setiap rincian menambah ketegangan tanpa memberi jawaban. Susunan itu menahan pembaca di depan gambaran yang luas, sehingga ketika akibatnya disebut, tidak ada lagi ruang untuk pura-pura tidak mendengar. Bagian mana dari hidup pembaca yang selama ini hanya didengar setengah?
  • Terjemahan ayat ini memilih kata penguat yang lain daripada kata keras di 52:9. Dua kata penguat itu, sekeras-kerasnya di 52:9 dan satu lagi di 52:10, ditempatkan di ujung dua ayat yang berdampingan, sehingga pendengar menerima tekanan yang sama dua kali dengan kata yang berbeda. Ayat ini membiarkan pembaca membayangkan gerak gunung-gunung tanpa menyebut siapa yang menggerakkannya, dan pembayangan itu tak bisa digantikan oleh penjelasan apa pun.
  • Gambaran langit dan gunung di 52:9-10 bergantung pada pernyataan di 52:7 tentang azab Tuhanmu yang pasti terjadi. Rangkaian itu bergerak dari kata pasti, ke ketiadaan penolak, lalu ke isi hari yang dijanjikan. Pembaca yang menempuhnya berurutan melihat bahwa kepastian tidak diberikan sebagai angka atau tanggal tetapi sebagai gambaran yang bisa dibayangkan. Orang yang lebih mudah percaya pada gambaran daripada pada pernyataan umum mengenal cara kerja ini.