Ayat 52:11
فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ
Maka, celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَوَيْلٌfa-waylunmaka, celakalah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- لِلْمُكَذِّبِينَli-l-mukadzdzibiinabagi orang-orang yang mendustakan
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- لِلْمُكَذِّبِينَli-l-mukadzdzibiinabagi para pendusta
Inti bacaan
Konsekuensi khusus 'celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan', sasaran spesifik dari seluruh kekacauan kosmis yang digambarkan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ, fa-waylun yawma'idzin li-l-mukadzdzibiina) yang berarti "maka, celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "maka, celakalah", "pada hari itu", dan "bagi orang-orang yang mendustakan". Ayat ini tidak memuat kata kerja. Isinya hanya satu kata benda, satu keterangan waktu, dan satu sasaran, sehingga kata "celakalah" dalam terjemahan dibaca sebagai seruan yang berdiri sendiri.
Kata (وَيْلٌ, waylun) dipakai di 24 ayat pada 14 surah dalam bentuk yang sama, yaitu bertanwin dan tanpa kata sandang: 2:79, 14:2, 19:37, 38:27, 39:22, 41:6, 43:65, 45:7, 51:60, 52:11, 77:15, 77:19, 77:24, 77:28, 77:34, 77:37, 77:40, 77:45, 77:47, 77:49, 83:1, 83:10, 104:1, dan 107:4. Di delapan ayat di antaranya kata itu didahului awalan (فَ, fa), yaitu 2:79, 19:37, 38:27, 39:22, 43:65, 51:60, 52:11, dan 107:4. Di 107:4 sasarannya langsung mengikuti kata itu, (فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ, fa-waylun li-l-mushalliina), dan terjemahannya "celakalah orang-orang yang bersalat". Di 52:11 ada keterangan waktu yang menyela di antara kata celaka dan sasarannya.
Awalan fa diterjemahkan "maka" karena ayat ini bersambung dengan 52:9-10, tempat hari itu digambarkan lewat langit yang berguncang dan gunung-gunung yang bergerak. Bunyi (وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ, waylun yawma'idzin li-l-mukadzdzibiina) muncul di 12 ayat pada tiga surah: 52:11, sepuluh ayat di surah 77 (77:15, 77:19, 77:24, 77:28, 77:34, 77:37, 77:40, 77:45, 77:47, 77:49), dan 83:10. Dari dua belas ayat itu hanya 52:11 yang memakai awalan fa, sedangkan sebelas lainnya dibuka langsung dengan kata celaka. Terjemahan ayat ini ditulis "maka, celakalah" dengan tanda koma supaya sambungan ke ayat sebelumnya tetap terlihat.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yawma'idzin) diterjemahkan "pada hari itu", sesuai padanan yang dipakai proyek ini untuk kata yang sama di tempat lain. Dalam ejaan persis ini kata tersebut muncul di 67 ayat pada 36 surah, antara lain di 14:49, 16:87, 18:99, 18:100, dan 20:102. Korpus mencatatnya sebagai satu kata keterangan waktu, dan bagian depannya sama dengan kata "hari" yang dipakai di 52:9, sehingga "pada hari itu" menunjuk hari yang baru saja disebut di sana, yaitu (يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا, yawma tamuuru s-samaa'u mawran) "pada hari langit berguncang sekeras-kerasnya".
Kata (لِلْمُكَذِّبِينَ, li-l-mukadzdzibiina) tersusun dari awalan li- yang berarti "bagi", kata sandang, dan bentuk pelaku jamak dari kata kerja akar ك-ذ-ب. Korpus menandai kata kerja dasarnya sebagai bentuk kedua, yang huruf tengahnya digandakan (tampak pada tanda tasydid di ذّ). Proyek ini memakai "mendustakan" untuk bentuk kedua itu, yaitu menolak kebenaran yang datang dari pihak lain, dan memakai "berdusta" untuk bentuk dasarnya. Karena itu pelaku di sini ditulis "orang-orang yang mendustakan". Kata kerja dari akar yang sama muncul tiga ayat kemudian di 52:14 dalam (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuuna) yang diterjemahkan "kalian dustakan", sehingga kata kerja itu tetap terlihat dari 52:11 sampai 52:14.
Bentuk dengan awalan li- hanya ada di dua belas ayat rumus tadi. Bentuk tanpa awalan itu, (الْمُكَذِّبِينَ, l-mukadzdzibiina), muncul di tujuh ayat pada tujuh surah: 3:137, 6:11, 16:36, 43:25, 56:92, 68:8, dan 73:11. Empat dari tujuh ayat itu, yaitu 3:137, 6:11, 16:36, dan 43:25, memuat kalimat yang sama, (كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ, kayfa kaana 'aaqibatu l-mukadzdzibiina), yang menyuruh pembaca memperhatikan bagaimana akhir mereka. Di ayat-ayat itu akhir mereka sudah terjadi dan bisa dilihat di bumi, sedangkan di 52:11 celakanya diikat pada "hari itu", yang masih datang.
Tafsiran
Ayat ini menjatuhkan vonis sesudah dua ayat yang hanya berisi keterangan waktu. Ayat 52:9 dan 52:10 menggambarkan hari itu lewat langit yang berguncang dan gunung-gunung yang bergerak, dan pembaca menunggu apa yang terjadi pada hari itu. Jawabannya datang di 52:11 dalam satu kalimat pendek: celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan. Sebelum gambaran itu, 52:7-8 sudah menyatakan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menolaknya, dan 52:11 menunjuk siapa yang menanggungnya.
Empat ayat berikutnya memperinci kalimat pendek ini. Ayat 52:12 menerangkan siapa golongan itu, yaitu orang-orang yang tenggelam dalam permainan. Ayat 52:13 menerangkan bagaimana mereka dibawa ke api Jahanam, dan 52:14-15 menyampaikan kata-kata yang diarahkan langsung kepada mereka. Dengan susunan itu 52:11 berfungsi sebagai ringkasan yang dibuka lebih dulu, lalu ayat-ayat sesudahnya mengisi isinya satu per satu.
Ayat ini mempersoalkan sikap terhadap kabar dan tidak memuat daftar perbuatan. Isi pendustaan itu terlihat lebih jauh di surah yang sama. Ayat 52:30 mengutip ucapan mereka tentang seorang penyair yang ditunggu kematiannya, 52:33 mengutip ucapan "ia mengarang-ngarangnya", dan 52:44 mengutip ucapan mereka tentang gumpalan dari langit yang jatuh, "awan yang bertumpuk". Tiga kutipan itu memperlihatkan bagaimana kabar dan tanda diterima di surah ini: keduanya dijawab dengan nama lain.
Teks juga tidak menyebut apa bentuk celaka itu di ayat ini. Ayat 52:11 menyebut keadaan dan sasaran, lalu menyerahkan bentuknya kepada 52:13, yang menyebut api Jahanam. Di surah ini rumus celaka hanya muncul sekali dan tidak berulang seperti di surah 77, sehingga seluruh bobotnya jatuh pada satu tempat dan pada kata sambung di awalnya. Ayat 52:12 kemudian melanjutkan dengan kata penghubung "orang-orang yang", yang membuat 52:11 dan 52:12 terbaca sebagai satu kalimat panjang.
Renungan dan Hikmah
- Dalam ayat ini Allah meletakkan putusan lebih dulu dan keterangannya sesudahnya. Orang yang pernah menerima surat yang dibuka dengan kalimat bahwa permohonannya ditolak tahu bagaimana sisa surat itu dibaca: setiap kalimat berikutnya dicari untuk menemukan sebabnya, dan tak ada kalimat yang dibaca sekadar lewat. Dalam surah ini keadaannya sama. Sesudah 52:11, pembaca membaca 52:12 sampai 52:15 dengan satu pertanyaan di kepala, yaitu bagian mana dari rincian itu yang menyangkut dirinya. Dengan susunan seperti ini, rincian itu sulit dibaca sebagai cerita tentang orang lain.
- Golongan yang dicelakakan disebut lewat sikapnya terhadap kabar, yaitu mendustakan, dan tidak lewat satu perbuatan tertentu. Orang yang terbiasa menghitung kesalahannya dalam daftar perbuatan, misalnya apa yang dilakukan dan ditinggalkannya pekan ini, mendapati bahwa ayat ini mengukur hal lain. Ukurannya adalah cara menyambut kabar yang datang: didengar lalu dipikirkan, atau diberi nama lain supaya tak perlu dipikirkan. Bagaimana kabar dari Tuhannya selama ini disambut, dan perlukah menunggu hari yang digambarkan di ayat sebelumnya untuk menjawabnya?
- Dua ayat sebelumnya memberi gambaran langit dan gunung yang luas, dan pembaca bisa menikmatinya seperti orang menonton pemandangan dari tempat yang aman. Ayat 52:11 memindahkan sorotan dari langit dan gunung ke manusia, dan penonton itu ikut disebut dalam gambaran. Orang yang membaca gambaran hari besar sebagai tontonan akan merasakan pergeseran ini sebagai pertanyaan tentang tempat duduknya: di sisi mana pembaca duduk, di sisi mereka yang mendengar peringatan Allah atau di sisi mereka yang dikenai kalimat ini.
- Ayat ini tidak memuat kata kerja dan tidak menyebut siapa yang mencelakakan. Ayat hanya memuat kata celaka, waktunya, dan golongan yang menanggungnya. Pembaca yang menanti kalimat tentang apa yang akan dilakukan kepada golongan itu menemukan bahwa teks berhenti pada keadaan. Orang yang pernah mendengar diagnosis dokter yang diucapkan datar tanpa penjelasan mengenal bobot semacam ini, karena kalimat yang tidak dihias membuat pendengar mengisi sendiri jarak antara kata dan akibatnya. Ayat ini menyerahkan pengisian itu kepada 52:13.
- Ayat ini merujuk ke 52:9-10 lewat kata "pada hari itu", sehingga tidak bisa dibaca terpisah dari gambaran langit dan gunung. Pembaca yang mengutip satu ayat saja dari rangkaian ini, misalnya hanya kalimat celakanya, kehilangan keterangan bahwa celaka itu terjadi pada hari ketika yang tampak kokoh ikut bergerak. Kebiasaan mengambil satu kalimat dari rangkaian panjang dan memakainya sendirian mengubah nada kalimat itu, dan ayat ini menunjukkan contohnya: awalan "maka" di depannya mengikat kalimat ini kepada apa yang mendahuluinya.
- Di 52:11 golongan ini dibicarakan dalam bentuk orang ketiga, orang-orang yang mendustakan. Tiga ayat kemudian, di 52:14, kata kerja yang sama dipakai dalam kalimat yang ditujukan langsung kepada mereka dengan kata "kalian". Perpindahan dari dibicarakan ke diajak bicara sering dialami orang di dunia sehari-hari, misalnya ketika kabar tentang seseorang yang terdengar di ruang sebelah tiba-tiba diarahkan kepadanya. Pembaca yang mendengar kata "orang-orang yang mendustakan" bisa menimbang bagaimana kalimat itu akan terdengar bila suatu hari tidak lagi berbunyi "mereka" tetapi "kalian".
Ayat 52:12
الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ
orang-orang yang tenggelam dalam permainan,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- الَّذِينَ هُمْalladziina humorang-orang yang
- فِي خَوْضٍfii khawdhindalam ketenggelaman
- يَلْعَبُونَyal'abuunabermain-main
Terjemahan per kata (5 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- فِيfiidalam
- خَوْضٍkhawdhinketenggelaman
- يَلْعَبُونَyal'abuunamereka bermain
Inti bacaan
Identifikasi kelompok 'orang-orang yang tenggelam dalam permainan', karakterisasi mereka yang menyia-nyiakan waktu hidup dalam permainan tanpa isi yang disebut.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ, alladziina hum fii khawdhin yal'abuuna) yang berarti "orang-orang yang tenggelam dalam permainan". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "orang-orang yang", "dalam ketenggelaman", dan "bermain-main". Terjemahan utuhnya memadatkan dua kata Arab menjadi satu rangkaian: (خَوْضٍ, khawdhin) menjadi "tenggelam", dan (يَلْعَبُونَ, yal'abuuna) menjadi "permainan". Kata ganti (هُمْ, hum), yang berarti "mereka", menunjuk kembali ke golongan yang disebut di 52:11, dan dalam bahasa Indonesia maknanya terserap ke dalam "yang tenggelam".
Akar خ-و-ض dipakai di sembilan ayat: 4:140, 6:68, 6:91, 9:65, 9:69, 43:83, 52:12, 70:42, dan 74:45. Di tujuh ayat di antaranya akar itu berupa kata kerja, dan kata benda yang menyebut keadaannya hanya ada dua kali, yaitu di 6:91 dan di ayat ini. Bunyi kedua kata benda itu hampir sama: (فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ, fii khawdhihim yal'abuuna) di 6:91 dan (فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ, fii khawdhin yal'abuuna) di 52:12, dan bentuk yang kedua itu hanya muncul sekali di seluruh korpus. Di 4:140 dan 6:68 kata kerjanya diikuti keterangan tentang apa yang dimasuki, yaitu (يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ, yakhuudhuu fii hadiitsin ghayrihi) "memasuki pembicaraan yang lain", dan di 6:68 juga (يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا, yakhuudhuuna fii aayaatinaa) "memperolok-olokkan tanda-tanda Kami". Ayat 52:12 tidak menyebut apa yang dimasuki.
Karena itu padanan "pembicaraan batil" tidak dipakai di terjemahan ayat ini. Pembicaraan disebut di ayat yang memuatnya, sedangkan 52:12 menyebut keadaan (فِي, fii) "dalam" sesuatu tanpa isinya. Padanan "tenggelam" dipakai karena kata itu yang diberikan proyek ini untuk kata kerja dari akar yang sama di 43:83 dan 70:42, dua ayat yang paling dekat sebagai kata kerja, sedangkan 74:45 memakai "larut" untuk (نَخُوضُ, nakhuudhu) dan (الْخَائِضِينَ, l-khaa'idhiina). Kata "tenggelam" menyatakan keadaan yang ditempati dan tidak memuat isi pembicaraan, sehingga cocok dengan ayat yang tidak menyebut isinya.
Akar خ-و-ض dan ل-ع-ب bertemu di lima ayat: 6:91, 9:65, 43:83, 52:12, dan 70:42. Di kelimanya kata dari akar خ-و-ض lebih dulu, lalu kata dari akar ل-ع-ب. Di 9:65 pasangan itu keluar dari mulut para pelakunya sendiri, (نَخُوضُ وَنَلْعَبُ, nakhuudhu wa-nal'abu) "kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja". Di 43:83 dan 70:42 pasangan itu berbentuk (يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا, yakhuudhuu wa-yal'abuu) "tenggelam dan bermain-main", dan keduanya disusul keterangan bahwa mereka akan menemui hari yang dijanjikan.
Kata (يَلْعَبُونَ, yal'abuuna) adalah kata kerja bentuk sedang berlangsung yang menunjuk orang ketiga jamak, dan bunyi itu ada di lima ayat: 6:91, 7:98, 21:2, 44:9, dan 52:12. Di 7:98 pelakunya bermain pada waktu duha ketika azab datang, di 21:2 mereka mendengarkan peringatan sambil bermain-main, dan di 44:9 mereka berada dalam keraguan sambil bermain-main. Terjemahan "permainan" di 52:12 mengubah kata kerja itu menjadi kata benda karena kata yang mendahuluinya, "tenggelam", sudah memuat keadaan berlangsung, dan rangkaian "tenggelam dalam permainan" lebih alami dalam bahasa Indonesia daripada "dalam ketenggelaman bermain-main".
Tafsiran
Ayat ini menerangkan siapa yang dimaksud oleh 52:11. Ayat ini menggambarkan sikap orang-orang yang mendustakan: larut dalam kesia-siaan dan permainan, mengabaikan kabar yang telah disampaikan. Dengan kata penghubung di awalnya, "orang-orang yang", ayat ini bersambung ke ayat sebelumnya sehingga keduanya terbaca sebagai satu kalimat: celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan, orang-orang yang tenggelam dalam permainan. Golongan yang dicelakakan itu tidak digambarkan lewat pertentangan atau permusuhan. Ayat ini menyebut mereka sibuk, dan kesibukan itu disebut permainan.
Gambaran itu bertolak belakang dengan isi 52:9-10. Di dua ayat itu langit berguncang dan gunung-gunung bergerak, sedangkan di 52:12 sekelompok orang tenggelam dalam permainan. Dalam susunan itu dua keadaan berdampingan tanpa kata penghubung yang menjelaskan hubungannya, dan pembaca sendiri yang melihat jaraknya. Ayat 52:12 juga tidak menyebut apa yang mereka bicarakan atau mainkan, sehingga yang tampak hanya keadaan tenggelamnya.
Rangkaian ini punya padanan di dalam surah yang sama. Ayat 52:45 berbunyi (فَذَرْهُمْ حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ, fa-dzarhum hattaa yulaaquu yawmahumu) "maka, biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari mereka", dan di 43:83 serta 70:42 kalimat yang hampir sama dipakai sesudah pasangan tenggelam dan bermain. Urutannya sama di 52:11-13: golongan itu disebut, keadaan mereka diterangkan, lalu 52:13 menyebut hari ketika mereka dicampakkan. Ayat 52:12 menjadi bagian tengah dari urutan itu, tempat keadaan mereka diperlihatkan sebelum hari itu tiba.
Ayat ini juga menghubungkan pendustaan dengan permainan. Ayat 52:11 menyebut pendustaan dan 52:12 menyebut permainan, dan teks tidak menyatakan sebab atau akibat di antara keduanya. Pembaca diberi dua sebutan untuk satu golongan, dan hubungan keduanya dibiarkan terlihat dari kedekatan kedua ayat itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 52:11 menyebut golongan ini orang-orang yang mendustakan, dan 52:12 melukiskan keadaan mereka: tenggelam dalam permainan. Pembaca yang membayangkan pendusta sebagai lawan yang berteriak mendapati gambaran yang lebih sehari-hari, yaitu orang yang sibuk dengan sesuatu. Kabar yang datang kepada orang seperti itu tidak mendapat tempat untuk ditimbang, dan Allah menyebut keadaan itu bersama pendustaan dalam satu kalimat yang berujung celaka.
- Kata untuk tenggelam dan kata untuk bermain bertemu di lima ayat, dan di 9:65 pasangan itu dipakai para pelakunya sendiri sebagai dalih, bahwa mereka hanya bersenda gurau. Pembaca yang menimbang pasangan itu mungkin teringat bahwa kesibukan bisa tampak sangat serius dari luar, dengan jadwal padat dan banyak urusan, sementara isinya tidak pernah dipertemukan dengan pertanyaan penting. Dalih bahwa sesuatu cuma main-main juga lazim di antara orang yang tidak ingin ditanyai lebih jauh. Ayat ini meletakkan kesibukan dan permainan dalam satu rangkaian dan membiarkan pembaca memeriksa sendiri mana di antara keduanya yang sedang mengisi harinya.
- Di 21:2 peringatan yang baru dari Tuhan mereka didengarkan sambil bermain-main, sehingga peringatannya sampai ke telinga dan tidak ke pertimbangan. Gambaran itu dekat dengan pengalaman orang yang menerima kabar penting lewat telepon sambil tangannya masih memegang pekerjaan lain, sehingga kabar itu terekam tetapi tidak dipikirkan. Ayat 52:12 memakai kata kerja yang sama untuk golongan ini, dan pembaca bisa bertanya: bagaimana peringatan dari Tuhan yang sampai kepadanya didengar, dengan perhatian penuh atau dengan sebagian dirinya saja? Pertanyaan itu bisa dijawab tanpa harus menunggu hari yang digambarkan.
- Di 43:83 dan 70:42 permainan itu berjalan hingga mereka menemui hari mereka, dan 52:45 memakai kalimat serupa tentang hari mereka. Permainan itu berhenti ketika hari itu tiba, tanpa menunggu keputusan pemainnya. Anak yang bermain sampai dipanggil pulang mengenal urutan ini: permainan terasa tak berujung sampai suara dari luar menghentikannya. Ayat 52:12 berada di tengah urutan yang sama dan 52:13 menyebut hari itu. Orang yang membaca urutan ini bisa menimbang bahwa kapan sebuah kesibukan berakhir tidak selalu berada di tangan orang yang menjalaninya.
- Ayat ini tidak menyebut apa yang mengisi permainan itu, berbeda dari 4:140 dan 6:68 yang menyebut pembicaraan atau tanda-tanda. Karena tak ada isi yang disebut, pembaca tidak punya daftar kegiatan untuk dicentang, dan tidak bisa menenangkan diri dengan mengatakan bahwa kegiatannya bukan jenis yang dimaksud. Pemeriksaan yang tersisa menyangkut keadaan tenggelam dan bermain itu sendiri: sedang tenggelam atau masih bisa melihat permukaan.
- Golongan yang disebut celaka di 52:11 diperkenalkan dalam rangkaian pendek: orang-orang yang tenggelam dalam permainan. Pembaca bisa membayangkan bagaimana seorang pengamat akan meringkas pekannya sendiri dalam beberapa kata, tanpa pembelaan dan tanpa keterangan tambahan. Ringkasan sependek itu menyisakan apa yang paling tampak dari luar, yaitu ke mana waktu dihabiskan. Allah memakai ukuran yang sama untuk golongan yang dicelakakan: tak ada daftar panjang, cukup satu sebutan yang menggambarkan bagaimana mereka mengisi hari-hari sebelum hari itu.
Ayat 52:13
يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا
pada hari mereka dicampakkan ke api Jahanam dengan sekuat-kuatnya.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَوْمَyawmapada hari
- يُدَعُّونَyuda'uunamereka dicampakkan
- إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَilaa naari jahannamake api Jahanam
- دَعًّاda'andengan sekuat-kuatnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- يَوْمَyawmahari
- يُدَعُّونَyuda'uunamereka dicampakkan
- إِلَىٰilaakepada
- نَارِnaariapi
- جَهَنَّمَjahannamaJahanam
- دَعًّاda'andengan sekuat-kuatnya
Inti bacaan
Konsekuensi keras 'dicampakkan ke api Jahanam dengan sekuat-kuatnya', proses yang berat, mencerminkan keseriusan konsekuensi yang dihadapi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا, yawma yuda'uuna ilaa naari jahannama da'an) yang berarti "pada hari mereka dicampakkan ke api Jahanam dengan sekuat-kuatnya". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi empat jeda: "pada hari", "mereka dicampakkan", "ke api Jahanam", dan "dengan sekuat-kuatnya". Dua kata di dalamnya seakar, yaitu kata kerja (يُدَعُّونَ, yuda'uuna) dan kata benda (دَعًّا, da'an), dan kedua kata itu menjadi alasan utama pilihan kata dalam terjemahan.
Akar د-ع-ع hanya dipakai di dua ayat, yaitu 52:13 dan 107:2. Di 52:13 akar itu muncul dua kali, sebagai (يُدَعُّونَ, yuda'uuna) dan (دَعًّا, da'an), dan kedua bentuk itu tidak ada di ayat lain. Di 107:2 akar itu muncul sebagai (يَدُعُّ, yadu'u) dalam (يَدُعُّ الْيَتِيمَ, yadu'u l-yatiima) yang diterjemahkan "menghardik anak yatim". Di 107:2 kata kerjanya mengenai seorang anak yatim dan tidak diikuti tempat tujuan. Di 52:13 kata kerja yang sama diikuti tujuan, (إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ, ilaa naari jahannama) "ke api Jahanam", sehingga terjemahannya memakai kata gerak, dan "dicampakkan" dipilih karena memuat dorongan sekaligus lemparan, selaras dengan kata benda seakar di ujung ayat yang menguatkannya.
Kata kerja (يُدَعُّونَ, yuda'uuna) berpelaku jamak dan menempatkan "mereka" sebagai pihak yang dikenai perbuatan. Terjemahan "dicampakkan" tanpa pelaku mengikuti kata kerja Arabnya. Kata kerja di ayat sebelumnya, (يَلْعَبُونَ, yal'abuuna) di 52:12, menempatkan mereka sebagai pelaku, sehingga golongan yang sama berpindah dari pelaku permainan menjadi pihak yang dicampakkan dalam dua ayat berurutan.
Kata (دَعًّا, da'an) adalah kata benda yang seakar dengan kata kerjanya dan berdiri di ujung ayat. Susunan serupa ada di 52:9, (مَوْرًا, mawran), dan di 52:10, (سَيْرًا, sayran). Ketiganya diterjemahkan dengan kata penguat yang berbeda: "sekeras-kerasnya" untuk guncangan langit, "dengan dahsyat" untuk gerak gunung-gunung, dan "dengan sekuat-kuatnya" untuk dorongan terhadap manusia. Perbedaan pilihan kata itu mengikuti benda yang bergerak di tiap ayat, dan kata "sekuat-kuatnya" dipakai di sini karena tenaga dikerahkan untuk mendorong.
Rangkaian (نَارِ جَهَنَّمَ, naari jahannama) muncul di empat ayat: 9:35, 9:109, 52:13, dan 98:6. Di tiga ayat lainnya rangkaian itu didahului (فِي, fii) "dalam", yaitu (فِي نَارِ جَهَنَّمَ, fii naari jahannama), sedangkan di 52:13 didahului (إِلَىٰ, ilaa) "ke", dan bentuk dengan "ke" itu hanya ada di ayat ini. Kata (نَارِ, naari) diterjemahkan "api" sesuai pilihan proyek ini untuk kata yang sama, dan (جَهَنَّمَ, jahannama) ditulis "Jahanam" karena korpus mencatatnya sebagai nama.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan wujud konkret hari kecelakaan itu: pencampakan paksa ke dalam Jahanam. Ayat ini juga menerangkan bagaimana golongan yang disebut di 52:11-12 dibawa pada hari itu. Sesudah vonis di 52:11 dan keadaan mereka di 52:12, ayat 52:13 memperlihatkan peristiwanya: mereka dicampakkan ke api Jahanam, dan cara mencampakkannya disebut dengan kata penguat di ujung ayat. Dengan begitu rangkaian 52:11 sampai 52:13 berisi tiga hal yang berurutan, yaitu putusan, keadaan, dan peristiwa.
Ayat ini membuka dengan kata "hari" seperti 52:9, sehingga hari yang digambarkan di 52:9-10 disebut lagi sesudah 52:11-12 menerangkan golongannya. Di 52:9-10 langit dan gunung-gunung bergerak, dan keduanya digambarkan bergerak sendiri: langit berguncang, gunung-gunung berjalan. Di 52:13 manusia bergerak, tetapi mereka digerakkan oleh pihak yang tidak disebut. Urutan itu bergeser dari benda-benda terbesar yang bergerak sendiri ke manusia yang dikenai gerak, dan ketiga ayat itu sama-sama diakhiri kata benda yang mengulang akar kata kerjanya.
Pergeseran dari 52:12 ke 52:13 juga terlihat pada kata kerjanya. Golongan itu semula pelaku, karena mereka yang tenggelam dan bermain, lalu mereka menjadi yang dikenai, karena mereka dicampakkan. Ayat 52:14 sesudahnya menyampaikan kata-kata yang ditujukan kepada mereka, dan 52:16 menyebut perintah untuk masuk. Dengan demikian dari 52:12 sampai 52:16 golongan ini berpindah dari yang berbuat, ke yang dipindahkan, ke yang diajak bicara, dan ke yang diperintah.
Letak ayat ini di dalam surah juga memperlihatkan pasangannya. Ayat 52:17 menyebut orang-orang yang bertakwa "di dalam taman-taman dan kenikmatan", dan keadaan mereka digambarkan sebagai tempat. Di 52:13 golongan yang dicelakakan digambarkan sedang bergerak menuju sebuah tempat, dengan kata (إِلَىٰ, ilaa) "ke". Perbedaan itu tampak dari kata depan yang dipakai di dua ayat tersebut. Teks tidak menyebut siapa yang mendorong mereka, dan alasannya baru disebut di 52:14 dan 52:16.
Renungan dan Hikmah
- Di 52:12 golongan ini adalah pelaku yang mengatur kesibukannya sendiri, dan di 52:13 mereka berubah menjadi yang dikenai gerak. Orang yang terbiasa menentukan sendiri ke mana waktunya pergi, kapan berhenti, dan kapan lanjut, bisa menimbang apa artinya suatu hari ketika gerak itu tidak lagi berada di tangannya. Penumpang kereta yang terdorong arus di peron mengenal sedikit gambaran itu: langkahnya diatur oleh orang-orang di sekelilingnya, dan langkahnya mengikuti. Allah menaruh perubahan peran semacam itu dalam dua ayat berurutan, tanpa kata penghubung yang menenangkan.
- Dorongan itu disebut dengan kata kerja dan diulang oleh kata benda seakar di ujung ayat, sehingga ayat ini memakai dua kata dari akar yang sama untuk menyatakan satu gerak. Orang yang biasa melunakkan peringatan dengan kalimat seperti "mungkin tidak separah itu" menemukan bahwa ayat ini tidak menyediakan ruang untuk kalimat itu. Pengulangan akar kata di awal dan di ujung ayat menutup gerak itu dari dua sisi, sehingga tak ada celah untuk membacanya sebagai gerak yang pelan. Bila kabar buruk dari Allah cenderung dikecilkan, adakah ruang untuk itu di ayat ini?
- Akar kata yang dipakai untuk mencampakkan golongan ini muncul di satu ayat lain, yaitu 107:2, untuk orang yang menghardik anak yatim. Ayat 52:13 tidak menyatakan hubungan di antara keduanya, sehingga yang bisa dicatat adalah kenyataan bahasanya: kata untuk menghardik anak yatim dan kata untuk dicampakkan ke api berasal dari akar yang sama dan tidak dipakai di tempat lain. Pembaca yang memperhatikan kenyataan itu bisa bertanya kepada dirinya sendiri, sambil mengingat bahwa Allah menyebut kedua perbuatan itu dengan akar yang sama, bagaimana ia sendiri memperlakukan orang yang tak berdaya di hadapannya.
- Tiga ayat berurutan, 52:9, 52:10, dan 52:13, masing-masing menyebut sesuatu yang bergerak: langit, gunung-gunung, dan manusia. Dua yang pertama bergerak sendiri dan yang ketiga digerakkan. Orang yang menaruh rasa aman pada hal-hal yang tampak tidak akan berubah, seperti jabatan, tabungan, atau tempat tinggal, menemukan di sini urutan yang menyempit: bahkan langit dan gunung ikut bergerak, dan manusia tidak berada di luar gerak itu. Susunan ini memberi pembaca satu cara untuk menimbang apa yang selama ini dianggapnya kokoh.
- Golongan yang dicelakakan digambarkan sedang menuju tempat, dengan kata "ke", sedangkan orang-orang yang bertakwa di 52:17 digambarkan berada di tempat, dengan kata "di dalam". Pembaca yang pernah membandingkan orang yang masih berjalan dengan orang yang sudah sampai tahu bedanya: yang pertama masih dalam perjalanan dan belum tahu apakah arah itu akan diterima, sedangkan yang kedua sudah berada di dalam keadaan yang ditetapkan. Perbedaan dua kata depan itu memberi pembaca satu ukuran untuk menanyakan apakah hidupnya sedang bergerak menuju sesuatu atau sudah menempatinya.
- Allah menyebut api Jahanam sebagai tujuan, dan 52:14 menyebut api itu sebagai yang dahulu didustakan. Sesuatu yang ditolak lewat kata-kata ternyata tidak menghilang karena ditolak, dan malah menjadi tempat yang dituju. Orang yang menunda membuka surat tagihan dengan harapan persoalannya mereda mengenal pola ini: surat itu tetap ada, dan semakin lama dibiarkan semakin menentukan arah kegiatan berikutnya. Ayat ini memberi pembaca satu pertanyaan tentang kabar apa yang selama ini disimpan di laci tanpa dibuka.
Ayat 52:14
هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ
“Inilah api yang dahulu kalian dustakan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هَٰذِهِ النَّارُhaadzihi n-naaruinilah api
- الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَallatii kuntum bihaa tukadzdzibuunayang dahulu kalian dustakan
Terjemahan per kata (6 kata)
- هَٰذِهِhaadzihiini
- النَّارُn-naaruapi
- الَّتِيallatiiyang
- كُنْتُمْkuntumkalian dahulu
- بِهَاbihaapadanya
- تُكَذِّبُونَtukadzdzibuunakalian mendustakan
Inti bacaan
Konfrontasi langsung dengan api yang dahulu kalian dustakan, momen ketika penyangkalan yang lama dipertahankan akhirnya berhadapan langsung dengan api itu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, haadzihi n-naaru llatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna) yang berarti "inilah api yang dahulu kalian dustakan". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "inilah api" dan "yang dahulu kalian dustakan". Kutipan dibuka di sini, perkataan yang disampaikan kepada orang-orang yang mendustakan saat dicampakkan ke api Jahanam, dan tetap terbuka, menyambung ke 52:15.
Kata (هَٰذِهِ, haadzihi) dekat dan feminin, benar diterjemahkan dengan kata penunjuk dekat, merujuk (النَّارُ, n-naaru) "api" yang juga feminin, dan korpus mencatatnya demikian. Kata penunjuk dekat itu dipakai di tiga ayat untuk menunjuk api yang sedang dihadapi: (هَٰذِهِ النَّارُ, haadzihi n-naaru) di 52:14, lalu (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ, haadzihi jahannamu) di 36:63 dan 55:43. Bunyi (هَٰذِهِ النَّارُ, haadzihi n-naaru) hanya ada di 52:14. Padanan itu dipilih untuk mempertahankan jarak dekat.
Bagian (الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, allatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna) diterjemahkan "yang dahulu kalian dustakan". Bentuk yang sama, dengan kata (النَّارِ, n-naari) di depannya, ada di 34:42 dalam (ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, dzuuquu 'adzaaba n-naari llatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna). Dari kata api sampai kata kerja, kedua ayat itu berbunyi sama dengan satu perbedaan pada akhiran kata api: (النَّارُ, n-naaru) di 52:14 dan (النَّارِ, n-naari) di 34:42. Rangkaian (كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, kuntum bihaa tukadzdzibuuna) muncul di tiga ayat: 23:105, 34:42, dan 52:14. Variannya yang berakhir (بِهِ, bihi) "padanya", yaitu (كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ, kuntum bihi tukadzdzibuuna), muncul di empat ayat lain: 32:20, 37:21, 77:29, dan 83:17.
Perbedaan antara (بِهَا, bihaa) dan (بِهِ, bihi) terlihat di dua ayat yang kalimat sebelumnya serupa, yaitu (ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ, dzuuquu 'adzaaba n-naari) "rasakanlah azab api". Di 32:20 korpus mencatat kata penghubung dan kata gantinya berbentuk laki-laki, (الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ, alladzii kuntum bihi), sedangkan di 34:42 keduanya berbentuk perempuan, (الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا, allatii kuntum bihaa). Di 52:14 keduanya berbentuk perempuan, sama dengan kata api yang berbentuk perempuan, sehingga "api yang dahulu kalian dustakan" menjaga arah rujukan itu.
Kata "dahulu" di terjemahan datang dari (كُنْتُمْ, kuntum) yang berarti "kalian dahulu ada", disambung dengan kata kerja (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuuna). Rangkaian itu diterjemahkan "dahulu kalian dustakan" di 32:20, 34:42, 37:21, 77:29, 83:17, dan 52:14, sedangkan 23:105 memakai "kalian selalu mendustakannya". Kata kerja (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuuna) berakar ك-ذ-ب dan dipakai proyek ini sebagai "mendustakan", sama dengan kata pelaku (لِلْمُكَذِّبِينَ, li-l-mukadzdzibiina) di 52:11.
Tafsiran
Ayat ini membuat kata "mendustakan" di 52:11 menemukan objeknya. Ayat 52:11 menyebut orang-orang yang mendustakan tanpa menyebut apa yang mereka dustakan, dan 52:14 menyebutnya: api yang kini ada di hadapan mereka. Dengan begitu satu kata kerja menghubungkan awal dan akhir rangkaian ini, dari pelaku yang disebut di 52:11 ke sasaran yang ditunjuk di 52:14.
Bentuk ayat ini juga berubah dibandingkan ayat-ayat sebelumnya. Di 52:11 sampai 52:13 golongan itu dibicarakan dengan kata "mereka", sedangkan di 52:14 mereka diajak bicara dengan kata "kalian". Perubahan itu ditandai pembukaan kutipan dan kata "kalian" di dalamnya. Kata penunjuk dekat di awal ayat menunjuk api tanpa menerangkannya, sehingga tak ada lagi yang perlu diperdebatkan tentang ada tidaknya. Ayat 52:7-8 menyatakan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menolaknya, dan 52:14 memperlihatkan wujud yang sebelumnya hanya dinyatakan lewat kalimat.
Ayat ini mengutip ucapan pahit: api yang dahulu didustakan kini nyata di hadapan mereka. Kata "dahulu" mengacu pada masa yang sudah lewat dari sudut pandang ucapan ini, dan kata penunjuk dekat itu mengacu pada saat sekarang. Dua penanda waktu itu bertemu dalam satu kalimat pendek, sehingga yang tadinya dibantah pada masa lalu kini berdiri di depan mata. Kalimat yang sama dengan sasaran yang berbeda dipakai di tempat lain: untuk azab di 32:20, untuk hari keputusan di 37:21, dan untuk apa yang menjadi tujuan perjalanan di 77:29. Kalimatnya tetap dan benda yang didustakan berganti dari ayat ke ayat.
Ayat ini juga membuka ucapan yang berlanjut. Ayat 52:15 memuat pertanyaan dalam ucapan yang sama, dan 52:16 melanjutkannya dengan perintah masuk, sehingga 52:14 berfungsi sebagai pembuka bagi tiga ayat kata-kata yang diarahkan kepada golongan itu.
Renungan dan Hikmah
- Kata penunjuk dekat di awal ayat dipakai untuk sesuatu yang dekat, sedangkan kata "dahulu" untuk masa ketika sesuatu itu masih terasa jauh. Pembaca yang pernah mendengar kabar tentang banjir di kota lain dan menganggapnya urusan orang lain mengenal jarak itu, dan tahu bagaimana jarak itu hilang ketika air mulai masuk ke rumahnya sendiri. Ayat ini mempertemukan dua jarak dalam satu kalimat dan membiarkan pembaca menimbang kabar apa yang selama ini diperlakukan sebagai urusan jauh. Dengan penunjuk dekat itu, kabar dari Allah yang dahulu terasa jauh berada tepat di depan pihak yang diajak bicara.
- Kalimat ini tidak menambahkan tuduhan baru kepada golongan yang diajak bicara. Kalimat itu mengulang apa yang dahulu mereka lakukan, yaitu mendustakan. Orang yang pernah membaca notulen rapat dan menemukan ucapannya sendiri tercatat apa adanya tahu bahwa catatan semacam itu sulit dibantah, karena isinya bukan tafsiran orang lain. Ayat ini bekerja dengan cara yang sama, karena perbuatan mereka sendiri yang diingatkan kepada mereka. Bagaimana bila yang ditanyakan kepada pembaca adalah sikapnya sendiri terhadap kabar dari Tuhannya?
- Ucapan ini tidak memuat penjelasan tentang api, dan sesudah penunjukan tak ada argumen yang tersisa untuk dibantah. Orang yang pernah berdebat tentang apakah sebuah masalah ada, lalu tiba pada saat masalah itu tampak jelas di depan mata semua orang, mengenal keheningan sesudah penunjukan semacam itu. Debat tentang ada atau tidak berakhir ketika hal yang diperdebatkan hadir, tanpa ada pihak yang menang bicara. Ayat ini memperlihatkan titik itu dan membiarkan pembaca menimbang apakah ada perdebatan yang sedang dipertahankannya dan akan selesai dengan cara yang sama.
- Tanda kutip yang dibiarkan terbuka menunjukkan bahwa ucapan ini belum berhenti. Sesudah pernyataan, datang pertanyaan di 52:15, lalu perintah di 52:16. Orang yang pernah menerima teguran yang dimulai dengan kalimat pendek dan ternyata disusul beberapa kalimat lagi mengenal perasaan ini: kalimat pertama menyentakkan, dan kalimat-kalimat sesudahnya menutup jalan keluar satu per satu. Ayat ini memperlihatkan bahwa satu kalimat belum cukup untuk disimpulkan, karena kalimat berikutnya sudah menunggu dan isinya memperluas yang pertama.
- Kalimat tentang yang dahulu kalian dustakan dipakai di enam ayat dengan benda yang berbeda: api di 34:42 dan 52:14, azab di 32:20, hari keputusan di 37:21, apa yang menjadi tujuan perjalanan di 77:29, dan "ini" di 83:17. Kalimat itu seperti formulir dengan satu kolom kosong, dan isi kolomnya berbeda dari ayat ke ayat. Pembaca yang menemukan pola itu bisa bertanya kabar apa dari Allah yang pernah datang kepadanya dan dijawabnya dengan nama lain, karena jawaban itu yang akan mengisi kolom tersebut bagi dirinya.
- Kata "dahulu" di ayat ini berasal dari sudut pandang hari itu, ketika masa mendustakan sudah lewat. Bagi pembaca hari ini masa itu belum menjadi dahulu: masa itu masih berlangsung dan bisa dijalani dengan cara lain. Orang yang pernah menyesali tenggat yang terlewat mengenal kata "dahulu" yang diucapkan terlalu terlambat, ketika tak ada lagi yang bisa diubah. Ayat ini memperdengarkan kata itu dari sisi hari yang sudah datang, sehingga pembaca yang masih berada di masa sebelumnya mendengar bagaimana kata itu akan terdengar nanti.
Ayat 52:15
أَفَسِحْرٌ هَٰذَا أَمْ أَنْتُمْ لَا تُبْصِرُونَ
Apakah ini sihir? Ataukah kalian tidak melihat?
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- أَفَسِحْرٌa-fa-sihrunapakah, maka, sihir
- هَٰذَاhaadzaaini
- أَمْ أَنْتُمْam antumataukah kalian
- لَا تُبْصِرُونَlaa tubshiruunatidak melihat
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَفَسِحْرٌa-fa-sihrunapakah sihir
- هَٰذَاhaadzaaini
- أَمْamataukah
- أَنْتُمْantumkalian
- لَاlaatidak
- تُبْصِرُونَtubshiruunakalian memperhatikan
Inti bacaan
Pertanyaan retoris penutup 'apakah ini sihir? Ataukah kalian tidak melihat?', konfrontasi tajam antara penolakan verbal dan bukti visual yang sudah nyata di hadapan mata.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (أَفَسِحْرٌ هَٰذَا أَمْ أَنْتُمْ لَا تُبْصِرُونَ, a-fa-sihrun haadzaa am antum laa tubshiruuna) yang berarti "apakah ini sihir? Ataukah kalian tidak melihat?". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi empat jeda: "apakah, maka, sihir", "ini", "ataukah kalian", dan "tidak melihat". Ayat ini terdiri dari dua pertanyaan yang dihubungkan oleh kata pilihan, dan kedua pertanyaan itu bersama-sama membentuk satu ucapan yang menyambung 52:14.
Kata (أَفَسِحْرٌ, a-fa-sihrun) tersusun dari awalan tanya, awalan penyambung (فَ, fa) "maka", dan kata (سِحْرٌ, sihrun) "sihir". Terjemahan menulis pertanyaannya sebagai "apakah" dan membiarkan penyambung "maka" terbaca dari urutan ayat, karena kalimat tanya ini memang datang sesudah 52:14. Kata (سِحْرٌ, sihrun) dalam bentuk ini dipakai di 15 ayat: 5:110, 6:7, 10:76, 10:77, 11:7, 27:13, 28:36, 34:43, 37:15, 43:30, 46:7, 52:15, 54:2, 61:6, dan 74:24. Di empat belas ayat di antaranya kata itu ada pada ucapan orang-orang yang menolak. Tiga belas ayat memuatnya sebagai pernyataan, misalnya (هَٰذَا سِحْرٌ, haadzaa sihrun) "ini sihir" di 27:13, 43:30, 46:7, dan 61:6, serta pernyataan bahwa ini tidak lain sihir di 6:7, 37:15, dan 74:24. Ayat ke-14 adalah 10:77, yang mengutip kata itu dari mereka dalam bentuk pertanyaan, dan ayat ke-15 adalah 52:15. Di antara lima belas ayat itu, pertanyaan ada di 10:77 dan 52:15 saja.
Bunyi pertanyaan di 10:77 adalah (أَسِحْرٌ هَٰذَا, a-sihrun haadzaa) "sihirkah ini?", yang di ayat itu dikutip Musa dari ucapan orang-orang yang menyebut kebenaran sebagai sihir. Bunyi di 52:15 hampir sama, (أَفَسِحْرٌ هَٰذَا, a-fa-sihrun haadzaa), dengan tambahan penyambung "maka", dan pertanyaan semacam itu tidak ada di ayat lain. Arahnya berbeda: di 10:77 pertanyaan itu berasal dari pihak yang menolak, sedangkan di 52:15 pertanyaan yang sama diucapkan kepada golongan yang dicampakkan ke api.
Kata (هَٰذَا, haadzaa) dekat dan maskulin, benar diterjemahkan "ini", dikonfirmasi morfologi sebagai kata tunjuk. Di 52:14 kata penunjuk yang dipakai berbentuk perempuan, (هَٰذِهِ, haadzihi), karena menunjuk api. Pergantian bentuk itu terlihat dari satu ayat ke ayat berikutnya, dan di sini tidak ada kata benda tertulis yang ditunjuk oleh (هَٰذَا, haadzaa), sehingga terjemahannya tetap "ini" tanpa menambahkan sebuah benda.
Kata (أَمْ, am) diterjemahkan "ataukah" karena kata itu menghubungkan dua kemungkinan yang diajukan sebagai pilihan. Di surah ini kata itu dipakai 16 kali di 13 ayat: 52:15, 52:30, 52:32 (dua kali), 52:33, 52:35 (dua kali), 52:36, 52:37 (dua kali), 52:38, 52:39, 52:40, 52:41, 52:42, dan 52:43. Rangkaian (أَمْ أَنْتُمْ, am antum) "ataukah kalian" hanya ada dua kali di seluruh korpus, yaitu di 7:193 dan 52:15. Kata ganti (أَنْتُمْ, antum) "kalian" ditulis tersendiri di sini, sehingga pertanyaan kedua menunjuk langsung ke orang yang diajak bicara.
Kata (تُبْصِرُونَ, tubshiruuna) berakar ب-ص-ر dan dipakai di sembilan ayat: 21:3, 27:54, 28:72, 43:51, 51:21, 52:15, 56:85, 69:38, dan 69:39. Terjemahan ayat ini memakai "melihat", sama dengan 43:51, 56:85, 69:38, dan 69:39, sedangkan 28:72 dan 51:21 memakai "memperhatikan" dan 21:3 memakai "menyaksikan". Bentuk (لَا تُبْصِرُونَ, laa tubshiruuna) "kalian tidak melihat" ada di enam ayat: 28:72, 43:51, 51:21, 52:15, 56:85, dan 69:39. Dua ayat memuat kata sihir dan kata (تُبْصِرُونَ, tubshiruuna) bersama-sama, yaitu 21:3 dan 52:15. Di 21:3 kalimatnya (أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ, a-fa-ta'tuuna s-sihra wa-antum tubshiruuna) "apakah kalian mengikuti sihir itu padahal kalian menyaksikannya", yaitu pertanyaan yang juga memadukan sihir dengan melihat.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan ucapan di 52:14: mempertanyakan apakah mereka masih menganggap kenyataan ini sihir seperti tuduhan mereka dahulu terhadap kebenaran. Ayat ini mengembalikan kata yang dahulu dipakai golongan itu sendiri. Empat belas ayat memuat kata sihir pada ucapan orang-orang yang menolak kabar yang datang, dan di 52:15 arahnya terbalik: kata itu muncul dalam pertanyaan yang diucapkan kepada mereka. Kata yang mereka pakai untuk menyingkirkan kabar kini dipakai untuk menanyai mereka di depan sesuatu yang sudah tampak.
Pertanyaan itu menawarkan dua kemungkinan dan tidak lebih dari dua. Kemungkinan pertama menyangkut benda yang dilihat, yaitu apakah benda itu sihir. Kemungkinan kedua menyangkut yang melihat, yaitu apakah mereka sendiri tidak melihat. Ayat ini memindahkan persoalan dari benda ke mata: kalau api di 52:14 bukan sihir, maka yang tersisa untuk dipersoalkan adalah penglihatan mereka. Teks tidak menuliskan jawabannya, dan 52:16 langsung melanjutkan dengan perintah masuk ke dalam api itu.
Pola serupa muncul dari sisi yang berbeda di surah ini dan di surah 54. Ayat 52:44 menyebut mereka melihat gumpalan dari langit yang jatuh lalu berkata "awan yang bertumpuk", dan 54:2 menyebut mereka melihat suatu tanda lalu berpaling dan berkata "sihir yang terus-menerus". Dalam dua ayat itu mereka melihat dan memberi nama lain pada yang mereka lihat. Dalam pertanyaan di 52:15 dua hal itu bertemu di tempat yang tak bisa dihindari lagi: nama lama dibawa ke depan benda yang kini ada di hadapan.
Letak ayat ini juga penting bagi bentuk surah. Ayat 52:15 adalah tempat pertama kata (أَمْ, am) "ataukah" muncul di surah ini, dan kata itu kembali dari 52:30 sampai 52:43 dalam deretan pertanyaan kepada orang-orang yang menolak. Pertanyaan di 52:15 diajukan di hari yang digambarkan, sedangkan pertanyaan di 52:30 dan sesudahnya diajukan pada masa sebelum hari itu. Dengan demikian surah ini menaruh bentuk pertanyaan yang sama di dua waktu, dan pembaca yang membaca deretan pertanyaan di 52:30-43 sudah pernah mendengar nada itu di 52:15.
Renungan dan Hikmah
- Kata sihir adalah kata yang biasa dipakai untuk menyingkirkan kabar yang tak ingin dipikirkan, dan di ayat ini kata itu kembali kepada orang yang memakainya. Orang yang pernah menyebut sesuatu "dilebih-lebihkan" atau "kabar bohong" sebelum memeriksanya mengenal cara kerja kata semacam itu: satu cap menghemat waktu untuk berpikir. Ayat ini memperlihatkan bahwa cap yang gampang dipasang pada masa lapang bisa dikembalikan dalam bentuk pertanyaan pada saat sempit. Cap apa yang selama ini dipakainya untuk kabar yang datang dari Allah, dan pernahkah kabar itu diperiksa sebelum diberi cap?
- Ayat ini hanya menyediakan dua jawaban: ini sihir, atau kalian tidak melihat. Orang yang pernah dihadapkan pada dua kemungkinan yang sama-sama tidak enak, misalnya diminta memilih antara mengaku salah atau mengaku tidak tahu, mengenal bagaimana ruang berkelit menyempit. Pertanyaan semacam itu tidak mencari jawaban, karena kedua pilihannya sudah menunjukkan arah. Pembaca bisa memperhatikan bahwa ayat ini tidak menawarkan pilihan ketiga, dan tidak ada pihak yang diundang untuk menawar.
- Pertanyaan "ataukah kalian tidak melihat" mengandaikan bahwa sesuatu bisa hadir di depan mata tanpa terlihat. Orang yang pernah mencari kacamata ke seluruh rumah padahal kacamata itu ada di atas kepalanya mengenal kejadian ini. Di 56:85 kalimat "tetapi kalian tidak melihat" menyertai pernyataan Allah bahwa Kami lebih dekat kepadanya daripada kalian. Ayat 52:15 membuat pembaca menimbang apakah ada sesuatu yang selama ini ada di dekatnya dan belum pernah dilihatnya, karena perhatiannya sedang diarahkan ke tempat lain.
- Dua pertanyaan di ayat ini menggeser pemeriksaan dari benda ke penglihat. Orang yang berdebat tentang bercak di kaca jendela sering tak memeriksa kacanya sendiri, padahal bercak itu bisa berasal dari sisi yang tak dilihatnya. Ayat ini membawa pembaca ke pertanyaan yang sejenis: bila sesuatu tampak ganjil, apakah ganjilnya berada pada benda itu atau pada cara memandangnya. Pertanyaan itu bisa diajukan kepada diri sendiri sekarang, tanpa harus menunggu hari yang digambarkan di ayat sebelumnya.
- Di 52:44 gumpalan dari langit yang jatuh disebut awan yang bertumpuk, dan di 54:2 sebuah tanda disebut sihir yang terus-menerus. Dalam dua ayat itu mereka sudah melihat, lalu memberi nama lain pada apa yang dilihat. Kebiasaan ini dikenal dalam kehidupan sehari-hari: orang melihat laporan yang tidak disukainya lalu menyebutnya salah hitung, atau melihat gejala di tubuhnya lalu menyebutnya kelelahan biasa. Ayat 52:15 menyebut kebiasaan itu dengan menanyakan apakah mereka tidak melihat, dan pembaca bisa menimbang nama lain apa yang pernah diberikannya pada sesuatu yang sebenarnya sudah tampak.
- Allah membiarkan dua pertanyaan itu tanpa jawaban tertulis, dan ayat berikutnya langsung berpindah ke perintah. Pertanyaan yang dibiarkan tanpa jawaban tertulis tetap menggantung di antara pembicara dan yang diajak bicara. Orang yang pernah ditanya satu pertanyaan tajam oleh orang yang dihormatinya, lalu menyadari bahwa tidak ada jawaban yang sepadan, mengenal diam yang mengikuti pertanyaan semacam itu. Pembaca ayat ini ikut berada dalam diam itu, dan jawabannya harus datang dari dirinya sendiri.
Ayat 52:16
اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Masuklah ke dalamnya; maka, bersabarlah atau tidak bersabar, sama saja bagi kalian; sesungguhnya kalian hanya dibalas atas apa yang kalian kerjakan.”
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- اصْلَوْهَاishlawhaamasuklah ke dalamnya
- فَاصْبِرُواfa-shbiruumaka, bersabarlah
- أَوْ لَا تَصْبِرُواaw laa tashbiruuatau tidak bersabar
- سَوَاءٌ عَلَيْكُمْsawaa'un 'alaykumsama saja bagi kalian
- إِنَّمَا تُجْزَوْنَinnamaa tujzawnasesungguhnya kalian hanya dibalas
- مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَmaa kuntum ta'maluunaatas apa yang kalian kerjakan
Terjemahan per kata (12 kata)
- اصْلَوْهَاishlawhaamasukilah ia
- فَاصْبِرُواfa-shbiruumaka bersabarlah kalian
- أَوْawatau
- لَاlaajanganlah
- تَصْبِرُواtashbiruukalian bersabar
- سَوَاءٌsawaa'unsama saja
- عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
- تُجْزَوْنَtujzawnakalian dibalas
- مَاmaaapa yang
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
Inti bacaan
Konsekuensi tanpa harapan 'bersabarlah atau tidak bersabar, sama saja bagi kalian', momen ketika respons emosional apa pun tidak lagi mengubah hasil, konsekuensi murni proporsional terhadap perbuatan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ, ishlawhaa fa-shbiruu aw laa tashbiruu sawaa'un 'alaykum innamaa tujzawna maa kuntum ta'maluuna) yang berarti "masuklah ke dalamnya; maka, bersabarlah atau tidak bersabar, sama saja bagi kalian; sesungguhnya kalian hanya dibalas atas apa yang kalian kerjakan". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi enam jeda: "masuklah ke dalamnya", "maka, bersabarlah", "atau tidak bersabar", "sama saja bagi kalian", "sesungguhnya kalian hanya dibalas", dan "atas apa yang kalian kerjakan". Kutipan yang dibuka di 52:14 ditutup di akhir ayat ini.
Kata (اصْلَوْهَا, ishlawhaa) berakar ص-ل-ي dan berbentuk perintah untuk "kalian" jamak, dengan akhiran (هَا, haa) yang berarti "nya" dan menunjuk api di 52:14, karena kata api berbentuk perempuan seperti akhiran itu. Akar ص-ل-ي dipakai di 25 ayat, dan bentuk perintah (اصْلَوْهَا, ishlawhaa) ada dua kali: di 36:64, (اصْلَوْهَا الْيَوْمَ, ishlawhaa l-yawma) "masuklah ke dalamnya pada hari ini", dan di ayat ini. Terjemahan "masuklah ke dalamnya" dipakai di kedua ayat itu. Akhiran "nya" tetap ditulis supaya perintah ini terbaca tertuju pada api yang baru ditunjuk di ayat sebelumnya.
Bagian (فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا, fa-shbiruu aw laa tashbiruu) berisi dua perintah dari akar ص-ب-ر yang disambung kata (أَوْ, aw) "atau". Bentuk (فَاصْبِرُوا, fa-shbiruu) muncul dua kali, di 7:87 dan di ayat ini. Di 7:87 perintah itu diucapkan kepada segolongan orang yang menunggu sampai Allah menetapkan keputusan di antara dua pihak, sedangkan di 52:16 perintah yang sama dipasangkan dengan lawannya dan disusul kata "sama saja". Bagian kedua memakai (لَا, laa) sebelum kata kerja bentuk jazm, yang oleh korpus ditandai sebagai partikel larangan, tetapi terjemahannya "atau tidak bersabar" dan tidak "janganlah bersabar", karena ayat ini menyajikan dua pilihan yang disamakan oleh kata sesudahnya dan tidak melarang salah satunya.
Kata (سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ, sawaa'un 'alaykum) berarti "sama saja bagi kalian". Rangkaian ini ada di dua ayat: 7:193 dan 52:16. Di 7:193 kata itu disusul dua kemungkinan, apakah kalian menyeru mereka atau kalian diam, dan di 52:16 disusul dua kemungkinan, bersabar atau tidak. Bentuk dengan "bagi mereka", (سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ, sawaa'un 'alayhim), ada di 2:6, 36:10, dan 63:6, dan bentuk dengan "bagi kami", (سَوَاءٌ عَلَيْنَا, sawaa'un 'alaynaa), ada di 14:21 dan 26:136. Di 14:21 pembicaranya orang-orang yang menghadap Allah, dan dua kemungkinan itu, mengeluh atau bersabar, disamakan. Dengan demikian kata ini menyamakan pasangan mengeluh atau bersabar di 14:21 dan pasangan bersabar atau tidak bersabar di 52:16.
Kata (إِنَّمَا تُجْزَوْنَ, innamaa tujzawna) diterjemahkan "sesungguhnya kalian hanya dibalas". Rangkaian ini ada di dua ayat: 52:16 dan 66:7, dan di 66:7 kalimat sesudahnya sama, (مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ, maa kuntum ta'maluuna) "atas apa yang kalian kerjakan". Kata (تُجْزَوْنَ, tujzawna) adalah bentuk yang tidak menyebut siapa yang membalas, dipakai di sembilan ayat: 6:93, 10:52, 27:90, 36:54, 37:39, 45:28, 46:20, 52:16, dan 66:7. Kata "hanya" di terjemahan datang dari (إِنَّمَا, innamaa) yang membatasi pembalasan itu pada satu sebab. Sebab itu disebut dengan (مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ, maa kuntum ta'maluuna), rangkaian yang dipakai di 24 ayat pada 19 surah, di antaranya 5:105, 10:23, 52:19, dan 77:43.
Tafsiran
Ayat ini menutup ucapan dengan penegasan bahwa kesabaran atau ketidaksabaran mereka sama sekali tidak mengubah nasib: semua murni balasan atas perbuatan mereka sendiri. Ucapan yang dibuka di 52:14 sampai di sini dengan tiga bagian yang berurutan: pernyataan tentang api di 52:14, pertanyaan di 52:15, dan perintah di 52:16. Perintah itu memuat dua hal sekaligus, masuk ke dalam api dan sikap yang boleh dipilih sesudahnya, dan pilihan itu langsung dinyatakan tidak berpengaruh.
Pertanyaan di 52:15 meminta mereka memeriksa mata mereka sendiri, dan 52:16 tidak menunggu jawabannya. Perintah masuk datang tanpa jeda, dan pilihan yang tersisa menyangkut sikap: bersabar atau tidak. Di 14:21 orang-orang yang menghadap Allah menyatakan hal yang sama dari sisi mereka, bahwa mengeluh atau bersabar sama saja, jadi dua ayat itu menaruh kalimat yang serupa di mulut dua pihak yang berbeda, ucapan kepada mereka di 52:16 dan ucapan di antara mereka sendiri di 14:21.
Alasan ditaruh di ujung ayat. Sesudah perintah dan sesudah penyamaan dua sikap, ayat ini menyebut sebabnya dalam satu bagian kalimat: kalian dibalas atas apa yang kalian kerjakan. Kalimat yang sama dipakai di 66:7 sebagai jawaban atas orang-orang yang mencari alasan, dan di sini kalimat itu menjadi jawaban atas dua sikap yang bertentangan. Dengan itu ayat ini menutup rangkaian ayat 52:11 sampai 52:16, yang dimulai dengan vonis tanpa alasan dan diakhiri dengan alasan tanpa vonis tambahan.
Ayat sesudahnya, 52:17, membalik gambaran dengan menyebut orang-orang yang bertakwa, dan 52:19 memakai rangkaian yang sama, (مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ, maa kuntum ta'maluuna), untuk makan dan minum. Dengan demikian balasan di 52:16 dan di 52:19 berdasar pada hal yang sama, yaitu apa yang dikerjakan, dan keadaan yang diterima berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Perintah masuk datang tanpa jeda sesudah pertanyaan di ayat sebelumnya, dan pertanyaan itu tidak diberi waktu untuk dijawab. Orang yang pernah menunggu jawaban atas pertanyaan penting mengenal bagaimana jeda memberi rasa bahwa masih ada ruang untuk bicara. Ayat ini meniadakan jeda itu, sehingga pembaca merasakan bahwa hari yang digambarkan tidak menunggu pertimbangan orang yang dikenainya. Pembaca bisa bertanya apa yang sebaiknya sudah dijawabnya dari sekarang.
- Kesabaran biasanya dianggap jalan keluar, dan di ayat ini kesabaran dijajarkan dengan lawannya lalu dinyatakan sama saja. Orang yang pernah bersabar menanti hasil dan akhirnya mendapati tidak ada yang berubah mengenal rasa hampa ini. Di 7:87 perintah bersabar dipakai untuk menunggu keputusan Allah, dan di 52:16 perintah yang sama tidak lagi membawa apa-apa. Perbedaan itu memperlihatkan bahwa di 52:16 kesabaran tidak lagi mengubah hasil.
- Ayat ini menyamakan bersabar dengan tidak bersabar, dan kalimat serupa di 14:21 diucapkan oleh orang-orang yang sudah menghadap Allah. Pembaca mungkin teringat pada orang yang berkata kepada diri sendiri bahwa apa pun yang dilakukannya tidak akan mengubah hasil. Pembaca bisa menimbang apakah kalimat itu pernah diucapkannya tentang hal yang sebenarnya masih bisa diubah. Bagian dari hidup mana yang sekarang dibiarkan karena terasa tak ada gunanya diubah, padahal masih ada waktu untuk mengubahnya, dan apa yang akan berbeda bila Allah dijadikan alasan untuk mencoba sekali lagi?
- Alasan balasan itu disebut di ujung ayat, yaitu apa yang dikerjakan. Orang yang pernah menerima gaji sesuai jam kerja yang tercatat mengenal rasa jelas dari hubungan semacam itu, karena yang diterima dapat ditelusuri ke apa yang dilakukan. Ayat ini memakai ukuran yang sama untuk hari yang digambarkan, sehingga pembaca bisa memeriksa catatan kerjanya sendiri dengan pertanyaan: apa yang selama ini dikerjakannya terhadap kabar yang datang dari Tuhannya?
- Rangkaian "atas apa yang kalian kerjakan" muncul di 52:16 untuk orang yang dimasukkan ke api, dan muncul lagi di 52:19 untuk orang yang disuruh makan dan minum. Dua keadaan yang berlawanan memakai dasar yang sama. Orang yang menganggap hasil hidupnya ditentukan oleh nasib atau keadaan mungkin menemukan bahwa teks ini menolak dua-duanya. Allah menyebut apa yang dikerjakan sebagai dasar di dua ayat itu, dan dasar yang sama membuat setiap pembaca bertanggung jawab atas ayat yang mana yang akan terdengar untuk dirinya.
- Kata kerja dibalas di ayat ini tidak menyebut siapa yang membalas. Nama dan pelaku tidak disebut, sehingga perhatian tertuju pada hubungan antara perbuatan dan balasan. Orang yang pernah mengurus sebuah sengketa tahu bahwa kalimat yang tidak menyebut pelaku sering terasa lebih berat, karena perhatian tertuju pada hubungan antara sebab dan akibat dan tidak lagi pada siapa yang menjatuhkannya. Pembaca ayat ini ikut memperhatikan hubungan itu, dan bisa bertanya perbuatan apa yang sedang membentuk balasan baginya.