فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ
Maka, celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَوَيْلٌfa-waylunmaka, celakalah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- لِلْمُكَذِّبِينَli-l-mukadzdzibiinabagi orang-orang yang mendustakan
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- لِلْمُكَذِّبِينَli-l-mukadzdzibiinabagi para pendusta
Inti bacaan
Konsekuensi khusus 'celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan', sasaran spesifik dari seluruh kekacauan kosmis yang digambarkan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ, fa-waylun yawma'idzin li-l-mukadzdzibiina) yang berarti "maka, celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "maka, celakalah", "pada hari itu", dan "bagi orang-orang yang mendustakan". Ayat ini tidak memuat kata kerja. Isinya hanya satu kata benda, satu keterangan waktu, dan satu sasaran, sehingga kata "celakalah" dalam terjemahan dibaca sebagai seruan yang berdiri sendiri.
Kata (وَيْلٌ, waylun) dipakai di 24 ayat pada 14 surah dalam bentuk yang sama, yaitu bertanwin dan tanpa kata sandang: 2:79, 14:2, 19:37, 38:27, 39:22, 41:6, 43:65, 45:7, 51:60, 52:11, 77:15, 77:19, 77:24, 77:28, 77:34, 77:37, 77:40, 77:45, 77:47, 77:49, 83:1, 83:10, 104:1, dan 107:4. Di delapan ayat di antaranya kata itu didahului awalan (فَ, fa), yaitu 2:79, 19:37, 38:27, 39:22, 43:65, 51:60, 52:11, dan 107:4. Di 107:4 sasarannya langsung mengikuti kata itu, (فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ, fa-waylun li-l-mushalliina), dan terjemahannya "celakalah orang-orang yang bersalat". Di 52:11 ada keterangan waktu yang menyela di antara kata celaka dan sasarannya.
Awalan fa diterjemahkan "maka" karena ayat ini bersambung dengan 52:9-10, tempat hari itu digambarkan lewat langit yang berguncang dan gunung-gunung yang bergerak. Bunyi (وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ, waylun yawma'idzin li-l-mukadzdzibiina) muncul di 12 ayat pada tiga surah: 52:11, sepuluh ayat di surah 77 (77:15, 77:19, 77:24, 77:28, 77:34, 77:37, 77:40, 77:45, 77:47, 77:49), dan 83:10. Dari dua belas ayat itu hanya 52:11 yang memakai awalan fa, sedangkan sebelas lainnya dibuka langsung dengan kata celaka. Terjemahan ayat ini ditulis "maka, celakalah" dengan tanda koma supaya sambungan ke ayat sebelumnya tetap terlihat.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yawma'idzin) diterjemahkan "pada hari itu", sesuai padanan yang dipakai proyek ini untuk kata yang sama di tempat lain. Dalam ejaan persis ini kata tersebut muncul di 67 ayat pada 36 surah, antara lain di 14:49, 16:87, 18:99, 18:100, dan 20:102. Korpus mencatatnya sebagai satu kata keterangan waktu, dan bagian depannya sama dengan kata "hari" yang dipakai di 52:9, sehingga "pada hari itu" menunjuk hari yang baru saja disebut di sana, yaitu (يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا, yawma tamuuru s-samaa'u mawran) "pada hari langit berguncang sekeras-kerasnya".
Kata (لِلْمُكَذِّبِينَ, li-l-mukadzdzibiina) tersusun dari awalan li- yang berarti "bagi", kata sandang, dan bentuk pelaku jamak dari kata kerja akar ك-ذ-ب. Korpus menandai kata kerja dasarnya sebagai bentuk kedua, yang huruf tengahnya digandakan (tampak pada tanda tasydid di ذّ). Proyek ini memakai "mendustakan" untuk bentuk kedua itu, yaitu menolak kebenaran yang datang dari pihak lain, dan memakai "berdusta" untuk bentuk dasarnya. Karena itu pelaku di sini ditulis "orang-orang yang mendustakan". Kata kerja dari akar yang sama muncul tiga ayat kemudian di 52:14 dalam (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuuna) yang diterjemahkan "kalian dustakan", sehingga kata kerja itu tetap terlihat dari 52:11 sampai 52:14.
Bentuk dengan awalan li- hanya ada di dua belas ayat rumus tadi. Bentuk tanpa awalan itu, (الْمُكَذِّبِينَ, l-mukadzdzibiina), muncul di tujuh ayat pada tujuh surah: 3:137, 6:11, 16:36, 43:25, 56:92, 68:8, dan 73:11. Empat dari tujuh ayat itu, yaitu 3:137, 6:11, 16:36, dan 43:25, memuat kalimat yang sama, (كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ, kayfa kaana 'aaqibatu l-mukadzdzibiina), yang menyuruh pembaca memperhatikan bagaimana akhir mereka. Di ayat-ayat itu akhir mereka sudah terjadi dan bisa dilihat di bumi, sedangkan di 52:11 celakanya diikat pada "hari itu", yang masih datang.
Tafsiran
Ayat ini menjatuhkan vonis sesudah dua ayat yang hanya berisi keterangan waktu. Ayat 52:9 dan 52:10 menggambarkan hari itu lewat langit yang berguncang dan gunung-gunung yang bergerak, dan pembaca menunggu apa yang terjadi pada hari itu. Jawabannya datang di 52:11 dalam satu kalimat pendek: celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan. Sebelum gambaran itu, 52:7-8 sudah menyatakan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menolaknya, dan 52:11 menunjuk siapa yang menanggungnya.
Empat ayat berikutnya memperinci kalimat pendek ini. Ayat 52:12 menerangkan siapa golongan itu, yaitu orang-orang yang tenggelam dalam permainan. Ayat 52:13 menerangkan bagaimana mereka dibawa ke api Jahanam, dan 52:14-15 menyampaikan kata-kata yang diarahkan langsung kepada mereka. Dengan susunan itu 52:11 berfungsi sebagai ringkasan yang dibuka lebih dulu, lalu ayat-ayat sesudahnya mengisi isinya satu per satu.
Ayat ini mempersoalkan sikap terhadap kabar dan tidak memuat daftar perbuatan. Isi pendustaan itu terlihat lebih jauh di surah yang sama. Ayat 52:30 mengutip ucapan mereka tentang seorang penyair yang ditunggu kematiannya, 52:33 mengutip ucapan "ia mengarang-ngarangnya", dan 52:44 mengutip ucapan mereka tentang gumpalan dari langit yang jatuh, "awan yang bertumpuk". Tiga kutipan itu memperlihatkan bagaimana kabar dan tanda diterima di surah ini: keduanya dijawab dengan nama lain.
Teks juga tidak menyebut apa bentuk celaka itu di ayat ini. Ayat 52:11 menyebut keadaan dan sasaran, lalu menyerahkan bentuknya kepada 52:13, yang menyebut api Jahanam. Di surah ini rumus celaka hanya muncul sekali dan tidak berulang seperti di surah 77, sehingga seluruh bobotnya jatuh pada satu tempat dan pada kata sambung di awalnya. Ayat 52:12 kemudian melanjutkan dengan kata penghubung "orang-orang yang", yang membuat 52:11 dan 52:12 terbaca sebagai satu kalimat panjang.
Renungan dan Hikmah
- Dalam ayat ini Allah meletakkan putusan lebih dulu dan keterangannya sesudahnya. Orang yang pernah menerima surat yang dibuka dengan kalimat bahwa permohonannya ditolak tahu bagaimana sisa surat itu dibaca: setiap kalimat berikutnya dicari untuk menemukan sebabnya, dan tak ada kalimat yang dibaca sekadar lewat. Dalam surah ini keadaannya sama. Sesudah 52:11, pembaca membaca 52:12 sampai 52:15 dengan satu pertanyaan di kepala, yaitu bagian mana dari rincian itu yang menyangkut dirinya. Dengan susunan seperti ini, rincian itu sulit dibaca sebagai cerita tentang orang lain.
- Golongan yang dicelakakan disebut lewat sikapnya terhadap kabar, yaitu mendustakan, dan tidak lewat satu perbuatan tertentu. Orang yang terbiasa menghitung kesalahannya dalam daftar perbuatan, misalnya apa yang dilakukan dan ditinggalkannya pekan ini, mendapati bahwa ayat ini mengukur hal lain. Ukurannya adalah cara menyambut kabar yang datang: didengar lalu dipikirkan, atau diberi nama lain supaya tak perlu dipikirkan. Bagaimana kabar dari Tuhannya selama ini disambut, dan perlukah menunggu hari yang digambarkan di ayat sebelumnya untuk menjawabnya?
- Dua ayat sebelumnya memberi gambaran langit dan gunung yang luas, dan pembaca bisa menikmatinya seperti orang menonton pemandangan dari tempat yang aman. Ayat 52:11 memindahkan sorotan dari langit dan gunung ke manusia, dan penonton itu ikut disebut dalam gambaran. Orang yang membaca gambaran hari besar sebagai tontonan akan merasakan pergeseran ini sebagai pertanyaan tentang tempat duduknya: di sisi mana pembaca duduk, di sisi mereka yang mendengar peringatan Allah atau di sisi mereka yang dikenai kalimat ini.
- Ayat ini tidak memuat kata kerja dan tidak menyebut siapa yang mencelakakan. Ayat hanya memuat kata celaka, waktunya, dan golongan yang menanggungnya. Pembaca yang menanti kalimat tentang apa yang akan dilakukan kepada golongan itu menemukan bahwa teks berhenti pada keadaan. Orang yang pernah mendengar diagnosis dokter yang diucapkan datar tanpa penjelasan mengenal bobot semacam ini, karena kalimat yang tidak dihias membuat pendengar mengisi sendiri jarak antara kata dan akibatnya. Ayat ini menyerahkan pengisian itu kepada 52:13.
- Ayat ini merujuk ke 52:9-10 lewat kata "pada hari itu", sehingga tidak bisa dibaca terpisah dari gambaran langit dan gunung. Pembaca yang mengutip satu ayat saja dari rangkaian ini, misalnya hanya kalimat celakanya, kehilangan keterangan bahwa celaka itu terjadi pada hari ketika yang tampak kokoh ikut bergerak. Kebiasaan mengambil satu kalimat dari rangkaian panjang dan memakainya sendirian mengubah nada kalimat itu, dan ayat ini menunjukkan contohnya: awalan "maka" di depannya mengikat kalimat ini kepada apa yang mendahuluinya.
- Di 52:11 golongan ini dibicarakan dalam bentuk orang ketiga, orang-orang yang mendustakan. Tiga ayat kemudian, di 52:14, kata kerja yang sama dipakai dalam kalimat yang ditujukan langsung kepada mereka dengan kata "kalian". Perpindahan dari dibicarakan ke diajak bicara sering dialami orang di dunia sehari-hari, misalnya ketika kabar tentang seseorang yang terdengar di ruang sebelah tiba-tiba diarahkan kepadanya. Pembaca yang mendengar kata "orang-orang yang mendustakan" bisa menimbang bagaimana kalimat itu akan terdengar bila suatu hari tidak lagi berbunyi "mereka" tetapi "kalian".