يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا

pada hari mereka dicampakkan ke api Jahanam dengan sekuat-kuatnya.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. يَوْمَyawmapada hari
  2. يُدَعُّونَyuda'uunamereka dicampakkan
  3. إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَilaa naari jahannamake api Jahanam
  4. دَعًّاda'andengan sekuat-kuatnya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. يُدَعُّونَyuda'uunamereka dicampakkan
  3. إِلَىٰilaakepada
  4. نَارِnaariapi
  5. جَهَنَّمَjahannamaJahanam
  6. دَعًّاda'andengan sekuat-kuatnya

Inti bacaan

Konsekuensi keras 'dicampakkan ke api Jahanam dengan sekuat-kuatnya', proses yang berat, mencerminkan keseriusan konsekuensi yang dihadapi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا, yawma yuda'uuna ilaa naari jahannama da'an) yang berarti "pada hari mereka dicampakkan ke api Jahanam dengan sekuat-kuatnya". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi empat jeda: "pada hari", "mereka dicampakkan", "ke api Jahanam", dan "dengan sekuat-kuatnya". Dua kata di dalamnya seakar, yaitu kata kerja (يُدَعُّونَ, yuda'uuna) dan kata benda (دَعًّا, da'an), dan kedua kata itu menjadi alasan utama pilihan kata dalam terjemahan.

Akar د-ع-ع hanya dipakai di dua ayat, yaitu 52:13 dan 107:2. Di 52:13 akar itu muncul dua kali, sebagai (يُدَعُّونَ, yuda'uuna) dan (دَعًّا, da'an), dan kedua bentuk itu tidak ada di ayat lain. Di 107:2 akar itu muncul sebagai (يَدُعُّ, yadu'u) dalam (يَدُعُّ الْيَتِيمَ, yadu'u l-yatiima) yang diterjemahkan "menghardik anak yatim". Di 107:2 kata kerjanya mengenai seorang anak yatim dan tidak diikuti tempat tujuan. Di 52:13 kata kerja yang sama diikuti tujuan, (إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ, ilaa naari jahannama) "ke api Jahanam", sehingga terjemahannya memakai kata gerak, dan "dicampakkan" dipilih karena memuat dorongan sekaligus lemparan, selaras dengan kata benda seakar di ujung ayat yang menguatkannya.

Kata kerja (يُدَعُّونَ, yuda'uuna) berpelaku jamak dan menempatkan "mereka" sebagai pihak yang dikenai perbuatan. Terjemahan "dicampakkan" tanpa pelaku mengikuti kata kerja Arabnya. Kata kerja di ayat sebelumnya, (يَلْعَبُونَ, yal'abuuna) di 52:12, menempatkan mereka sebagai pelaku, sehingga golongan yang sama berpindah dari pelaku permainan menjadi pihak yang dicampakkan dalam dua ayat berurutan.

Kata (دَعًّا, da'an) adalah kata benda yang seakar dengan kata kerjanya dan berdiri di ujung ayat. Susunan serupa ada di 52:9, (مَوْرًا, mawran), dan di 52:10, (سَيْرًا, sayran). Ketiganya diterjemahkan dengan kata penguat yang berbeda: "sekeras-kerasnya" untuk guncangan langit, "dengan dahsyat" untuk gerak gunung-gunung, dan "dengan sekuat-kuatnya" untuk dorongan terhadap manusia. Perbedaan pilihan kata itu mengikuti benda yang bergerak di tiap ayat, dan kata "sekuat-kuatnya" dipakai di sini karena tenaga dikerahkan untuk mendorong.

Rangkaian (نَارِ جَهَنَّمَ, naari jahannama) muncul di empat ayat: 9:35, 9:109, 52:13, dan 98:6. Di tiga ayat lainnya rangkaian itu didahului (فِي, fii) "dalam", yaitu (فِي نَارِ جَهَنَّمَ, fii naari jahannama), sedangkan di 52:13 didahului (إِلَىٰ, ilaa) "ke", dan bentuk dengan "ke" itu hanya ada di ayat ini. Kata (نَارِ, naari) diterjemahkan "api" sesuai pilihan proyek ini untuk kata yang sama, dan (جَهَنَّمَ, jahannama) ditulis "Jahanam" karena korpus mencatatnya sebagai nama.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan wujud konkret hari kecelakaan itu: pencampakan paksa ke dalam Jahanam. Ayat ini juga menerangkan bagaimana golongan yang disebut di 52:11-12 dibawa pada hari itu. Sesudah vonis di 52:11 dan keadaan mereka di 52:12, ayat 52:13 memperlihatkan peristiwanya: mereka dicampakkan ke api Jahanam, dan cara mencampakkannya disebut dengan kata penguat di ujung ayat. Dengan begitu rangkaian 52:11 sampai 52:13 berisi tiga hal yang berurutan, yaitu putusan, keadaan, dan peristiwa.

Ayat ini membuka dengan kata "hari" seperti 52:9, sehingga hari yang digambarkan di 52:9-10 disebut lagi sesudah 52:11-12 menerangkan golongannya. Di 52:9-10 langit dan gunung-gunung bergerak, dan keduanya digambarkan bergerak sendiri: langit berguncang, gunung-gunung berjalan. Di 52:13 manusia bergerak, tetapi mereka digerakkan oleh pihak yang tidak disebut. Urutan itu bergeser dari benda-benda terbesar yang bergerak sendiri ke manusia yang dikenai gerak, dan ketiga ayat itu sama-sama diakhiri kata benda yang mengulang akar kata kerjanya.

Pergeseran dari 52:12 ke 52:13 juga terlihat pada kata kerjanya. Golongan itu semula pelaku, karena mereka yang tenggelam dan bermain, lalu mereka menjadi yang dikenai, karena mereka dicampakkan. Ayat 52:14 sesudahnya menyampaikan kata-kata yang ditujukan kepada mereka, dan 52:16 menyebut perintah untuk masuk. Dengan demikian dari 52:12 sampai 52:16 golongan ini berpindah dari yang berbuat, ke yang dipindahkan, ke yang diajak bicara, dan ke yang diperintah.

Letak ayat ini di dalam surah juga memperlihatkan pasangannya. Ayat 52:17 menyebut orang-orang yang bertakwa "di dalam taman-taman dan kenikmatan", dan keadaan mereka digambarkan sebagai tempat. Di 52:13 golongan yang dicelakakan digambarkan sedang bergerak menuju sebuah tempat, dengan kata (إِلَىٰ, ilaa) "ke". Perbedaan itu tampak dari kata depan yang dipakai di dua ayat tersebut. Teks tidak menyebut siapa yang mendorong mereka, dan alasannya baru disebut di 52:14 dan 52:16.

Renungan dan Hikmah

  • Di 52:12 golongan ini adalah pelaku yang mengatur kesibukannya sendiri, dan di 52:13 mereka berubah menjadi yang dikenai gerak. Orang yang terbiasa menentukan sendiri ke mana waktunya pergi, kapan berhenti, dan kapan lanjut, bisa menimbang apa artinya suatu hari ketika gerak itu tidak lagi berada di tangannya. Penumpang kereta yang terdorong arus di peron mengenal sedikit gambaran itu: langkahnya diatur oleh orang-orang di sekelilingnya, dan langkahnya mengikuti. Allah menaruh perubahan peran semacam itu dalam dua ayat berurutan, tanpa kata penghubung yang menenangkan.
  • Dorongan itu disebut dengan kata kerja dan diulang oleh kata benda seakar di ujung ayat, sehingga ayat ini memakai dua kata dari akar yang sama untuk menyatakan satu gerak. Orang yang biasa melunakkan peringatan dengan kalimat seperti "mungkin tidak separah itu" menemukan bahwa ayat ini tidak menyediakan ruang untuk kalimat itu. Pengulangan akar kata di awal dan di ujung ayat menutup gerak itu dari dua sisi, sehingga tak ada celah untuk membacanya sebagai gerak yang pelan. Bila kabar buruk dari Allah cenderung dikecilkan, adakah ruang untuk itu di ayat ini?
  • Akar kata yang dipakai untuk mencampakkan golongan ini muncul di satu ayat lain, yaitu 107:2, untuk orang yang menghardik anak yatim. Ayat 52:13 tidak menyatakan hubungan di antara keduanya, sehingga yang bisa dicatat adalah kenyataan bahasanya: kata untuk menghardik anak yatim dan kata untuk dicampakkan ke api berasal dari akar yang sama dan tidak dipakai di tempat lain. Pembaca yang memperhatikan kenyataan itu bisa bertanya kepada dirinya sendiri, sambil mengingat bahwa Allah menyebut kedua perbuatan itu dengan akar yang sama, bagaimana ia sendiri memperlakukan orang yang tak berdaya di hadapannya.
  • Tiga ayat berurutan, 52:9, 52:10, dan 52:13, masing-masing menyebut sesuatu yang bergerak: langit, gunung-gunung, dan manusia. Dua yang pertama bergerak sendiri dan yang ketiga digerakkan. Orang yang menaruh rasa aman pada hal-hal yang tampak tidak akan berubah, seperti jabatan, tabungan, atau tempat tinggal, menemukan di sini urutan yang menyempit: bahkan langit dan gunung ikut bergerak, dan manusia tidak berada di luar gerak itu. Susunan ini memberi pembaca satu cara untuk menimbang apa yang selama ini dianggapnya kokoh.
  • Golongan yang dicelakakan digambarkan sedang menuju tempat, dengan kata "ke", sedangkan orang-orang yang bertakwa di 52:17 digambarkan berada di tempat, dengan kata "di dalam". Pembaca yang pernah membandingkan orang yang masih berjalan dengan orang yang sudah sampai tahu bedanya: yang pertama masih dalam perjalanan dan belum tahu apakah arah itu akan diterima, sedangkan yang kedua sudah berada di dalam keadaan yang ditetapkan. Perbedaan dua kata depan itu memberi pembaca satu ukuran untuk menanyakan apakah hidupnya sedang bergerak menuju sesuatu atau sudah menempatinya.
  • Allah menyebut api Jahanam sebagai tujuan, dan 52:14 menyebut api itu sebagai yang dahulu didustakan. Sesuatu yang ditolak lewat kata-kata ternyata tidak menghilang karena ditolak, dan malah menjadi tempat yang dituju. Orang yang menunda membuka surat tagihan dengan harapan persoalannya mereda mengenal pola ini: surat itu tetap ada, dan semakin lama dibiarkan semakin menentukan arah kegiatan berikutnya. Ayat ini memberi pembaca satu pertanyaan tentang kabar apa yang selama ini disimpan di laci tanpa dibuka.