هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ
“Inilah api yang dahulu kalian dustakan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هَٰذِهِ النَّارُhaadzihi n-naaruinilah api
- الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَallatii kuntum bihaa tukadzdzibuunayang dahulu kalian dustakan
Terjemahan per kata (6 kata)
- هَٰذِهِhaadzihiini
- النَّارُn-naaruapi
- الَّتِيallatiiyang
- كُنْتُمْkuntumkalian dahulu
- بِهَاbihaapadanya
- تُكَذِّبُونَtukadzdzibuunakalian mendustakan
Inti bacaan
Konfrontasi langsung dengan api yang dahulu kalian dustakan, momen ketika penyangkalan yang lama dipertahankan akhirnya berhadapan langsung dengan api itu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (هَٰذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, haadzihi n-naaru llatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna) yang berarti "inilah api yang dahulu kalian dustakan". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "inilah api" dan "yang dahulu kalian dustakan". Kutipan dibuka di sini, perkataan yang disampaikan kepada orang-orang yang mendustakan saat dicampakkan ke api Jahanam, dan tetap terbuka, menyambung ke 52:15.
Kata (هَٰذِهِ, haadzihi) dekat dan feminin, benar diterjemahkan dengan kata penunjuk dekat, merujuk (النَّارُ, n-naaru) "api" yang juga feminin, dan korpus mencatatnya demikian. Kata penunjuk dekat itu dipakai di tiga ayat untuk menunjuk api yang sedang dihadapi: (هَٰذِهِ النَّارُ, haadzihi n-naaru) di 52:14, lalu (هَٰذِهِ جَهَنَّمُ, haadzihi jahannamu) di 36:63 dan 55:43. Bunyi (هَٰذِهِ النَّارُ, haadzihi n-naaru) hanya ada di 52:14. Padanan itu dipilih untuk mempertahankan jarak dekat.
Bagian (الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, allatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna) diterjemahkan "yang dahulu kalian dustakan". Bentuk yang sama, dengan kata (النَّارِ, n-naari) di depannya, ada di 34:42 dalam (ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, dzuuquu 'adzaaba n-naari llatii kuntum bihaa tukadzdzibuuna). Dari kata api sampai kata kerja, kedua ayat itu berbunyi sama dengan satu perbedaan pada akhiran kata api: (النَّارُ, n-naaru) di 52:14 dan (النَّارِ, n-naari) di 34:42. Rangkaian (كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ, kuntum bihaa tukadzdzibuuna) muncul di tiga ayat: 23:105, 34:42, dan 52:14. Variannya yang berakhir (بِهِ, bihi) "padanya", yaitu (كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ, kuntum bihi tukadzdzibuuna), muncul di empat ayat lain: 32:20, 37:21, 77:29, dan 83:17.
Perbedaan antara (بِهَا, bihaa) dan (بِهِ, bihi) terlihat di dua ayat yang kalimat sebelumnya serupa, yaitu (ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ, dzuuquu 'adzaaba n-naari) "rasakanlah azab api". Di 32:20 korpus mencatat kata penghubung dan kata gantinya berbentuk laki-laki, (الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ, alladzii kuntum bihi), sedangkan di 34:42 keduanya berbentuk perempuan, (الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا, allatii kuntum bihaa). Di 52:14 keduanya berbentuk perempuan, sama dengan kata api yang berbentuk perempuan, sehingga "api yang dahulu kalian dustakan" menjaga arah rujukan itu.
Kata "dahulu" di terjemahan datang dari (كُنْتُمْ, kuntum) yang berarti "kalian dahulu ada", disambung dengan kata kerja (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuuna). Rangkaian itu diterjemahkan "dahulu kalian dustakan" di 32:20, 34:42, 37:21, 77:29, 83:17, dan 52:14, sedangkan 23:105 memakai "kalian selalu mendustakannya". Kata kerja (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuuna) berakar ك-ذ-ب dan dipakai proyek ini sebagai "mendustakan", sama dengan kata pelaku (لِلْمُكَذِّبِينَ, li-l-mukadzdzibiina) di 52:11.
Tafsiran
Ayat ini membuat kata "mendustakan" di 52:11 menemukan objeknya. Ayat 52:11 menyebut orang-orang yang mendustakan tanpa menyebut apa yang mereka dustakan, dan 52:14 menyebutnya: api yang kini ada di hadapan mereka. Dengan begitu satu kata kerja menghubungkan awal dan akhir rangkaian ini, dari pelaku yang disebut di 52:11 ke sasaran yang ditunjuk di 52:14.
Bentuk ayat ini juga berubah dibandingkan ayat-ayat sebelumnya. Di 52:11 sampai 52:13 golongan itu dibicarakan dengan kata "mereka", sedangkan di 52:14 mereka diajak bicara dengan kata "kalian". Perubahan itu ditandai pembukaan kutipan dan kata "kalian" di dalamnya. Kata penunjuk dekat di awal ayat menunjuk api tanpa menerangkannya, sehingga tak ada lagi yang perlu diperdebatkan tentang ada tidaknya. Ayat 52:7-8 menyatakan bahwa azab Tuhanmu pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menolaknya, dan 52:14 memperlihatkan wujud yang sebelumnya hanya dinyatakan lewat kalimat.
Ayat ini mengutip ucapan pahit: api yang dahulu didustakan kini nyata di hadapan mereka. Kata "dahulu" mengacu pada masa yang sudah lewat dari sudut pandang ucapan ini, dan kata penunjuk dekat itu mengacu pada saat sekarang. Dua penanda waktu itu bertemu dalam satu kalimat pendek, sehingga yang tadinya dibantah pada masa lalu kini berdiri di depan mata. Kalimat yang sama dengan sasaran yang berbeda dipakai di tempat lain: untuk azab di 32:20, untuk hari keputusan di 37:21, dan untuk apa yang menjadi tujuan perjalanan di 77:29. Kalimatnya tetap dan benda yang didustakan berganti dari ayat ke ayat.
Ayat ini juga membuka ucapan yang berlanjut. Ayat 52:15 memuat pertanyaan dalam ucapan yang sama, dan 52:16 melanjutkannya dengan perintah masuk, sehingga 52:14 berfungsi sebagai pembuka bagi tiga ayat kata-kata yang diarahkan kepada golongan itu.
Renungan dan Hikmah
- Kata penunjuk dekat di awal ayat dipakai untuk sesuatu yang dekat, sedangkan kata "dahulu" untuk masa ketika sesuatu itu masih terasa jauh. Pembaca yang pernah mendengar kabar tentang banjir di kota lain dan menganggapnya urusan orang lain mengenal jarak itu, dan tahu bagaimana jarak itu hilang ketika air mulai masuk ke rumahnya sendiri. Ayat ini mempertemukan dua jarak dalam satu kalimat dan membiarkan pembaca menimbang kabar apa yang selama ini diperlakukan sebagai urusan jauh. Dengan penunjuk dekat itu, kabar dari Allah yang dahulu terasa jauh berada tepat di depan pihak yang diajak bicara.
- Kalimat ini tidak menambahkan tuduhan baru kepada golongan yang diajak bicara. Kalimat itu mengulang apa yang dahulu mereka lakukan, yaitu mendustakan. Orang yang pernah membaca notulen rapat dan menemukan ucapannya sendiri tercatat apa adanya tahu bahwa catatan semacam itu sulit dibantah, karena isinya bukan tafsiran orang lain. Ayat ini bekerja dengan cara yang sama, karena perbuatan mereka sendiri yang diingatkan kepada mereka. Bagaimana bila yang ditanyakan kepada pembaca adalah sikapnya sendiri terhadap kabar dari Tuhannya?
- Ucapan ini tidak memuat penjelasan tentang api, dan sesudah penunjukan tak ada argumen yang tersisa untuk dibantah. Orang yang pernah berdebat tentang apakah sebuah masalah ada, lalu tiba pada saat masalah itu tampak jelas di depan mata semua orang, mengenal keheningan sesudah penunjukan semacam itu. Debat tentang ada atau tidak berakhir ketika hal yang diperdebatkan hadir, tanpa ada pihak yang menang bicara. Ayat ini memperlihatkan titik itu dan membiarkan pembaca menimbang apakah ada perdebatan yang sedang dipertahankannya dan akan selesai dengan cara yang sama.
- Tanda kutip yang dibiarkan terbuka menunjukkan bahwa ucapan ini belum berhenti. Sesudah pernyataan, datang pertanyaan di 52:15, lalu perintah di 52:16. Orang yang pernah menerima teguran yang dimulai dengan kalimat pendek dan ternyata disusul beberapa kalimat lagi mengenal perasaan ini: kalimat pertama menyentakkan, dan kalimat-kalimat sesudahnya menutup jalan keluar satu per satu. Ayat ini memperlihatkan bahwa satu kalimat belum cukup untuk disimpulkan, karena kalimat berikutnya sudah menunggu dan isinya memperluas yang pertama.
- Kalimat tentang yang dahulu kalian dustakan dipakai di enam ayat dengan benda yang berbeda: api di 34:42 dan 52:14, azab di 32:20, hari keputusan di 37:21, apa yang menjadi tujuan perjalanan di 77:29, dan "ini" di 83:17. Kalimat itu seperti formulir dengan satu kolom kosong, dan isi kolomnya berbeda dari ayat ke ayat. Pembaca yang menemukan pola itu bisa bertanya kabar apa dari Allah yang pernah datang kepadanya dan dijawabnya dengan nama lain, karena jawaban itu yang akan mengisi kolom tersebut bagi dirinya.
- Kata "dahulu" di ayat ini berasal dari sudut pandang hari itu, ketika masa mendustakan sudah lewat. Bagi pembaca hari ini masa itu belum menjadi dahulu: masa itu masih berlangsung dan bisa dijalani dengan cara lain. Orang yang pernah menyesali tenggat yang terlewat mengenal kata "dahulu" yang diucapkan terlalu terlambat, ketika tak ada lagi yang bisa diubah. Ayat ini memperdengarkan kata itu dari sisi hari yang sudah datang, sehingga pembaca yang masih berada di masa sebelumnya mendengar bagaimana kata itu akan terdengar nanti.