يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ
Di dalamnya mereka saling mengulurkan gelas, yang tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya dan tidak ada dosa.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًاyatanaaza'uuna fiihaa ka'sanmereka saling mengulurkan gelas di dalamnya
- لَا لَغْوٌ فِيهَاlaa laghwun fiihaatidak ada perkataan sia-sia di dalamnya
- وَلَا تَأْثِيمٌwa-laa ta'tsiimundan tidak ada dosa
Terjemahan per kata (8 kata)
- يَتَنَازَعُونَyatanaaza'uunamereka saling berebut
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- كَأْسًاka'sangelas
- لَاlaatidak
- لَغْوٌlaghwunperkataan sia-sia
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تَأْثِيمٌta'tsiimunperbuatan dosa
Inti bacaan
Kenikmatan tanpa efek samping 'gelas yang tidak menimbulkan perkataan sia-sia dan tidak pula perbuatan dosa', kontras dengan kesenangan duniawi yang sering disertai konsekuensi merugikan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ, yatanaaza'uuna fiihaa ka'san laa laghwun fiihaa wa-laa ta'tsiimun) yang berarti "di dalamnya mereka saling mengulurkan gelas, yang tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya dan tidak ada dosa". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "mereka saling mengulurkan gelas di dalamnya", "tidak ada perkataan sia-sia di dalamnya", dan "dan tidak ada dosa". Tambahan "(menimbulkan)" dan "(pula)" tidak dipakai: teks Arab menyatakan ketiadaan perkataan sia-sia dan dosa secara langsung, tanpa kata kerja penyebab tambahan.
Kata kerja (يَتَنَازَعُونَ, yatanaaza'uuna) berakar ن-ز-ع dan ditandai korpus sebagai bentuk keenam. Bentuk itu dipakai di tujuh ayat: 3:152, 4:59, 8:43, 8:46, 18:21, 20:62, dan 52:23. Di enam ayat lain terjemahannya "berselisih", dan objeknya adalah urusan, seperti (فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُمْ, fa-tanaaza'uu amrahum) "maka mereka berselisih tentang urusan mereka" di 20:62. Di 52:23 objeknya (كَأْسًا, ka'san) "gelas", sehingga terjemahannya mengikuti benda itu, yaitu gelas yang saling diulurkan dan tidak diperselisihkan. Pilihan itu sengaja berbeda dari enam ayat lain karena objeknya berbeda.
Kata (كَأْسًا, ka'san) diterjemahkan "gelas". Akar ك-أ-س dipakai di enam ayat: 37:45, 52:23, 56:18, 76:5, 76:17, dan 78:34. Bentuk bertanwin dengan akhiran yang sama seperti di ayat ini, (كَأْسًا, ka'san), ada di tiga ayat: 52:23, 76:17, dan 78:34. Di 76:17 gelas itu disebut bersama campurannya, dan di 78:34 bersama sifatnya yang penuh, sedangkan di 52:23 gelas itu disebut bersama dua hal yang tidak ada di dalamnya.
Kata (لَغْوٌ, laghwun) diterjemahkan "perkataan sia-sia". Akar ل-غ-و dipakai di sebelas ayat: 2:225, 5:89, 19:62, 23:3, 25:72, 28:55, 41:26, 52:23, 56:25, 78:35, dan 88:11. Bentuk bertanwin nominatif ini ada di 52:23 saja. Di 19:62, 56:25, dan 78:35 kata itu berbentuk (لَغْوًا, laghwan) dan didahului kata kerja (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا, laa yasma'uuna fiihaa) "mereka tidak mendengar di dalamnya", sedangkan di 52:23 tidak ada kata kerja mendengar dan ketiadaan itu ditempatkan langsung pada gelasnya.
Kata (تَأْثِيمٌ, ta'tsiimun) diterjemahkan "dosa", dan akar ا-ث-م dalam bentuk kedua dengan kata ini muncul di dua ayat: 52:23 dan 56:25. Di 56:25 bunyinya (وَلَا تَأْثِيمًا, wa-laa ta'tsiiman) "dan tidak percakapan yang menimbulkan dosa", dan di 52:23 bunyinya (وَلَا تَأْثِيمٌ, wa-laa ta'tsiimun). Pasangan kedua hal itu, perkataan sia-sia dan dosa, ada di dua ayat saja.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kenikmatan taman yang murni, bahkan minuman yang disuguhkan tidak membawa dampak buruk seperti di dunia. Sesudah makanan di 52:22, ayat ini menyebut minuman, dan penyebutannya diikuti dua ketiadaan: tidak ada perkataan sia-sia dan tidak ada dosa. Ketiadaan itu terpasang pada gelasnya, sehingga suasana di sekitar minuman itu yang dinyatakan bersih.
Tiga ayat yang sejajar dengan ayat ini menaruh ketiadaan itu di tempat yang lain. Di 19:62, 56:25, dan 78:35 penghuni taman disebut tidak mendengar perkataan sia-sia, dan telinga mereka yang ditekankan di sana. Di 52:23 yang dijaga ialah gelas yang berpindah dari tangan ke tangan, sehingga ketiadaan itu terletak pada pertukaran antarpenghuni. Susunan itu menunjukkan bahwa kebersihan taman terlihat dari cara orang saling memberi.
Ayat ini juga sejajar dengan 52:21, yang menyebut keluarga dipertemukan. Pertukaran gelas menjadi gambaran dari pertemuan itu: penghuni taman berada dalam satu majelis yang saling mengulurkan sesuatu. Ayat berikutnya, 52:24, menambahkan pelayan, dan 52:25 menyebut percakapan, sehingga gambaran majelis ini bergerak dari tindakan ke suasana, lalu ke ucapan. Siapa yang menuangkan minuman itu baru terjawab di ayat berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Gelas di ayat ini disebut bersih dari perkataan sia-sia dan dosa, dan kebersihan itu menyebutkan apa yang biasa mengikuti minuman dalam pergaulan. Orang yang pernah pulang dari pertemuan dengan rasa menyesal atas apa yang dikatakannya mengenal ekor semacam itu, yaitu kenikmatan yang diikuti penyesalan. Allah menyebut kenikmatan yang tidak punya ekor itu sebagai gambaran taman. Kenikmatan mana dalam hidupnya yang selama ini selalu diikuti penyesalan, dan sudahkah menjauhkan diri dari ekor itu, atau dari kenikmatannya saja?
- Penghuni taman digambarkan saling mengulurkan gelas, tidak memegang gelasnya masing-masing. Orang yang pernah duduk di meja makan sambil bergantian menyodorkan piring mengenal rasa kebersamaan yang timbul dari gerakan sederhana itu. Ayat ini menaruh gerakan itu di tengah gambaran taman, dan pembaca bisa melihat bahwa kenikmatan di sana melibatkan orang lain dan tidak terbatas pada diri sendiri. Pembaca bisa menimbang apakah kenikmatan yang selama ini dikejarnya lebih sering dinikmati sendirian atau dibagi, dan bagaimana Allah menyebut cara membaginya.
- Kata kerja yang di enam ayat lain berarti berselisih di sini berarti saling mengulurkan, dan perbedaan itu datang dari benda yang disebut sesudahnya. Orang yang pernah mendengar satu kata dipakai dengan arti yang jauh berbeda di dua keluarga tahu bahwa arti kata sering ditentukan oleh sekitarnya. Ayat ini memperlihatkan hal itu: kata yang sama bisa menjadi pertengkaran atau persahabatan tergantung apa yang diperebutkan. Pembaca bisa bertanya apa yang sedang diperebutkannya dengan orang-orang di sekitarnya, dan apakah itu sesuatu yang sepantasnya diperebutkan atau diulurkan.
- Dua ketiadaan, perkataan sia-sia dan dosa, disebut pada gelas yang sama. Orang yang pernah menghadiri majelis tempat tidak seorang pun berbicara hal yang sia-sia mengenal betapa jarangnya suasana semacam itu. Ayat ini menggambarkan suasana itu sebagai bagian dari balasan, dan Allah menyebutnya dengan dua kata yang ringkas. Pembaca bisa menimbang suasana di sekitarnya hari ini: apakah ada tempat yang bersih dari perkataan sia-sia, dan siapa yang menjaga kebersihan itu.
- Ayat ini menyatakan ketiadaan secara langsung tanpa kata kerja, tidak seperti tiga ayat sejajarnya yang memakai kata mendengar. Orang yang pernah membaca pengumuman yang berbunyi singkat, misalnya bahwa sebuah tempat bebas asap, tahu bahwa kalimat tanpa kata kerja terasa seperti keadaan yang sudah ditetapkan, tidak seperti hal yang masih diusahakan. Ayat ini memakai susunan itu untuk taman, sehingga ketiadaan itu terbaca sebagai sifat tempatnya. Pembaca bisa bertanya sifat apa yang ingin ditetapkannya pada rumah dan pekerjaannya, dan apakah Allah disebut dalam penetapan itu.
- Urutan ayat ini bergerak dari makanan di 52:22 ke minuman, lalu ke suasana bersih dari ucapan sia-sia. Orang yang pernah menyadari bahwa hidangan terbaik terasa hambar di tengah pertengkaran mengenal urutan itu dari arah sebaliknya. Ayat ini menaruh suasana setelah hidangan, sebagai sesuatu yang membuat hidangan itu pantas dinikmati. Pembaca bisa menimbang apakah lebih sering memikirkan apa yang akan dihidangkan atau suasana di tempat hidangan itu disantap, dan apakah suasana itu pernah dimintanya dari Allah.