قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, di tengah keluarga kami, adalah orang-orang yang cemas,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. إِنَّا كُنَّا قَبْلُinnaa kunnaa qablusesungguhnya kami dahulu
  3. فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَfii ahlinaa musyfiqiinadi tengah keluarga kami adalah orang-orang yang cemas

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  3. كُنَّاkunnaakami adalah
  4. قَبْلُqablusebelumnya
  5. فِيfiidalam
  6. أَهْلِنَاahlinaakeluarga kami
  7. مُشْفِقِينَmusyfiqiinaorang-orang yang takut

Inti bacaan

Kenangan jujur 'kami dahulu, ketika berada di tengah keluarga kami, adalah orang-orang yang cemas', kontras antara kecemasan masa lalu dan ketenangan sekarang yang memperkuat rasa syukur.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ, qaaluu innaa kunnaa qablu fii ahlinaa musyfiqiina) yang berarti "mereka berkata, 'sesungguhnya kami dahulu, di tengah keluarga kami, adalah orang-orang yang cemas'". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "mereka berkata", "sesungguhnya kami dahulu", dan "di tengah keluarga kami adalah orang-orang yang cemas". Kutipan dibuka di sini oleh qaaluu (percakapan penghuni taman mengenang kehidupan dunia), dan tetap terbuka, menyambung ke 52:27-28.

Kata (مُشْفِقِينَ, musyfiqiina) berakar ش-ف-ق dan diterjemahkan "orang-orang yang cemas". Bentuk ini ada di tiga ayat: 18:49, 42:22, dan 52:26. Di 18:49 dan 42:22 kata itu dikenakan kepada orang-orang yang berdosa dan orang-orang zalim, yaitu (فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ, fa-taraa l-mujrimiina musyfiqiina mimmaa fiihi) "engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa takut terhadap apa yang ada di dalamnya" di 18:49. Di 52:26 pemakainya penghuni taman, dan kecemasan itu ditaruh di masa lalu mereka. Bentuk jamak bernominatif, (مُشْفِقُونَ, musyfiqquna), ada di lima ayat: 21:28, 21:49, 23:57, 42:18, dan 70:27, dan di sana kata itu dikenakan kepada para malaikat dan orang-orang yang beriman.

Kata (قَبْلُ, qablu) berarti "dahulu", dan rangkaian (إِنَّا كُنَّا قَبْلُ, innaa kunnaa qablu) "sesungguhnya kami dahulu" hanya ada di ayat ini. Bunyi (فِي أَهْلِنَا, fii ahlinaa) "di tengah keluarga kami" juga hanya ada di 52:26. Awalan (فِي, fii) diterjemahkan "di tengah" karena kata itu menyebut lingkungan, yaitu orang-orang yang tinggal bersama penutur, dan tidak sekadar tempat. Kata ganti (نَا, naa) "kami" dipakai tiga kali di ayat ini, di (إِنَّا, innaa), (كُنَّا, kunnaa), dan (أَهْلِنَا, ahlinaa), sehingga seluruh ayat berbicara dari sudut orang pertama jamak.

Kata kerja (قَالُوا, qaaluu) "mereka berkata" menaruh ucapan ini pada penghuni taman yang disebut sejak 52:17 dan yang di 52:25 saling bertanya. Ayat 52:26 adalah jawaban pertama atas pertanyaan itu.

Ungkapan kecemasan yang mirip ada di 76:10, (إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا, innaa nakhaafu min rabbinaa) "sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami", yang diucapkan oleh orang-orang yang memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan di 76:8-9. Kedua ayat dibuka dengan (إِنَّا, innaa) "sesungguhnya kami" dan menyebut rasa takut sebagai alasan yang mereka kenang. Perbedaannya terletak pada kata yang dipakai: 76:10 memakai kata kerja untuk takut dan menyebut Tuhan sebagai sumbernya, sedangkan 52:26 memakai kata keadaan (مُشْفِقِينَ, musyfiqiina) dan menyebut keluarga sebagai tempatnya. Bentuk (إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا, innaa nakhaafu min rabbinaa) hanya ada di 76:10.

Tafsiran

Ayat ini mengutip pengakuan mereka: kecemasan yang dahulu mereka rasakan di tengah keluarga. Sesudah 52:25 menyebut penghuni taman saling bertanya, 52:26 memberi jawaban pertama, dan jawabannya mengarah ke masa sebelum taman. Gambaran taman di 52:17-24 digambarkan dari luar, sedangkan dari 52:26 gambaran itu berpindah ke tutur penghuninya sendiri.

Yang diingat penghuni taman adalah keadaan batin dan tidak daftar amal. Mereka tidak memulai dengan apa yang mereka kerjakan, tetapi dengan apa yang mereka rasakan di tengah keluarga, yaitu cemas. Kata keluarga menaruh kecemasan itu di tempat yang paling dekat, rumah yang diisi orang-orang yang dicintai, sehingga cemas itu tidak muncul di tempat asing. Ayat 52:21 sudah menyebut keluarga yang dipertemukan, dan 52:26 menyebut keluarga yang sama sebagai tempat kecemasan lama itu.

Perbandingan dengan 18:49 dan 42:22 memperlihatkan dua arah kecemasan. Orang-orang berdosa cemas karena kitab yang dibentangkan di hadapan mereka, dan penghuni taman mengenang kecemasan mereka dari masa sebelum taman. Satu kata yang sama dipakai untuk dua keadaan dengan waktu yang berlawanan: yang satu cemas di depan hasil, yang lain cemas dan sudah selamat. Ayat berikutnya menjelaskan sebab keselamatan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Kecemasan penghuni taman ditaruh di dalam lingkaran keluarga mereka, tempat yang biasanya dianggap paling aman. Orang yang pernah terjaga malam hari memikirkan anak-anaknya tahu bahwa kecemasan terdalam sering tumbuh di rumah sendiri. Ayat ini menyebut kecemasan semacam itu sebagai bagian dari ingatan orang-orang yang kelak selamat, dan Allah tidak menyebutnya sebagai kelemahan. Apa yang selama ini menimbulkan cemas di rumah sendiri, dan sudahkah kecemasan itu dibawa kepada Allah sebagai cara berjaga?
  • Pengakuan itu dimulai dengan kata dahulu, yaitu sebuah ingatan yang terus terang tentang keadaan sebelum taman. Orang yang pernah menceritakan hari-hari sulitnya kepada orang lain sesudah semuanya lewat mengenal lega yang muncul ketika kesulitan itu dapat disebut apa adanya. Ayat ini menaruh keterusterangan semacam itu di mulut penghuni taman, sehingga kecemasan lama tidak disembunyikan di tempat yang paling nyaman. Pembaca bisa menimbang apakah kecemasannya sendiri mau disebutnya hari ini, selagi waktunya masih berjalan dan belum menjadi bagian dari yang kelak disebut dahulu.
  • Kata untuk cemas di sini dipakai juga untuk orang-orang berdosa di 18:49 dan orang-orang zalim di 42:22, dan perbedaan mereka terletak pada saat dan sebabnya. Orang yang pernah cemas menunggu hasil pemeriksaan tahu bahwa cemas bisa menjadi tanda peduli dan bisa menjadi tanda kebingungan. Ayat ini menaruh cemas penghuni taman di belakang mereka, sebagai bagian dari jalan menuju keselamatan. Pembaca bisa menimbang cemasnya sendiri: apakah cemas itu mendorongnya berjaga di hadapan Allah, atau hanya membuatnya gelisah.
  • Ayat ini menjawab pertanyaan yang dibuka di 52:25, dan jawaban pertama itu menyebut kecemasan. Orang yang pernah duduk bersama kawan lama dan mendengar ingatan pertama yang diceritakan tahu bahwa pilihan ingatan itu menunjukkan apa yang paling melekat. Allah menyebut cemas sebagai ingatan pertama penghuni taman, bukan prestasi. Pembaca bisa bertanya ingatan apa yang kelak disebutnya lebih dulu, dan apakah ingatan itu sedang dibentuknya hari ini.
  • Seluruh ayat memakai kata kami: kami dahulu, keluarga kami. Orang yang pernah bercerita atas nama sebuah kelompok, tanpa mengatasnamakan dirinya sendiri, mengenal bahwa ingatan bersama terasa lebih ringan. Ayat ini menaruh kecemasan itu pada banyak orang sekaligus, dan Allah menyebutnya sebagai pengalaman yang dibagi. Pembaca bisa menimbang siapa yang menemaninya cemas hari ini, dan apakah kecemasan itu pernah dibicarakan bersama.
  • Keluarga disebut dua kali dalam rentang lima ayat, sekali sebagai orang-orang yang dipertemukan dan sekali sebagai tempat cemas. Orang yang pernah mengantar anak ke sekolah pertama kalinya dengan hati berat mengenal bahwa mengasihi dan cemas sering datang berpasangan. Ayat ini memperlihatkan bahwa kedua perasaan itu tinggal di rumah yang sama, dan Allah mempertemukan keluarga itu kemudian. Pembaca bisa bertanya apakah kecemasannya terhadap keluarga sudah berubah menjadi doa, dan doa itu sudah sampai kepada Allah.