إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu; sesungguhnya hanya Dialah Sang Baik lagi Sang Pengasih.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُinnaa kunnaa min qablu nad'uuhusesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu
  2. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُinnahu huwa l-barru r-rahiimusesungguhnya hanya Dialah Sang Baik lagi Sang Pengasih

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  2. كُنَّاkunnaakami adalah
  3. مِنْmindari
  4. قَبْلُqablusebelumnya
  5. نَدْعُوهُnad'uuhukami menyeru-Nya
  6. إِنَّهُinnahusesungguhnya
  7. هُوَhuwaDialah
  8. الْبَرُّl-barruMaha Baik
  9. الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih

Inti bacaan

Penutup pengakuan 'kami menyembah-Nya sejak dahulu', konsistensi ibadah yang telah dijalani sebelumnya menjadi dasar kelegaan yang dirasakan sekarang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ, innaa kunnaa min qablu nad'uuhu innahu huwa l-barru r-rahiimu) yang berarti "sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu; sesungguhnya hanya Dialah Sang Baik lagi Sang Pengasih". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu" dan "sesungguhnya hanya Dialah Sang Baik lagi Sang Pengasih". Kutipan ditutup di akhir ayat ini.

Kata kerja (نَدْعُوهُ, nad'uuhu) berakar د-ع-و, dan pemetaan kata per kata memberinya "kami menyeru-Nya", sedangkan terjemahan ayat memakai "menyembah-Nya", karena seruan penghuni taman kepada Allah sejak dahulu itu berupa doa dan ibadah. Bentuk (نَدْعُوهُ, nad'uuhu) hanya ada di ayat ini. Rangkaian (إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ, innaa kunnaa min qablu) "sesungguhnya kami sejak dahulu" juga hanya di sini, dan susunannya mirip dengan (إِنَّا كُنَّا قَبْلُ, innaa kunnaa qablu) di 52:26 yang berbeda oleh satu kata, (مِنْ, min) "dari". Bersama kata itu, "dahulu" menandai awal sebuah kebiasaan yang terus berlangsung; tanpa kata itu, "dahulu" hanya menandai keadaan di masa lampau.

Kata (إِنَّهُ هُوَ, innahu huwa) "sesungguhnya hanya Dialah" menaruh dua penegas berurutan, (إِنَّ, inna) dan (هُوَ, huwa), dan rangkaian itu yang menjadi alasan terjemahan "hanya Dialah". Kata (الْبَرُّ, al-barru) dengan bentuk persis ini hanya ada di 52:28. Bentuk yang tampak serupa dengan akhiran lain, (الْبَرِّ, al-barri), dipakai untuk daratan di 10:22 dan 17:67 serta sepuluh ayat lain, sehingga arti "Sang Baik" di sini ditentukan oleh pasangannya, (الرَّحِيمُ, ar-rahiimu), dan oleh kata (هُوَ, huwa) yang mendahuluinya. Terjemahan menulisnya "Sang Baik" dengan kata sandang karena kata itu dipakai sebagai nama sifat.

Kata (الرَّحِيمُ, ar-rahiimu) muncul di banyak ayat dalam bentuk ini. Pasangan (الْبَرُّ الرَّحِيمُ, al-barru r-rahiimu) hanya ada di ayat ini. Terjemahan "Sang Pengasih" dipakai untuk (الرَّحِيمُ, ar-rahiimu) bersandang, sedangkan bentuk tak bersandang diterjemahkan lain.

Sifat kedua yang disebut di ujung ayat berpasangan dengan sifat lain di tempat lain. Bunyi (إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ, innahu huwa t-tawwaabu r-rahiimu) "sesungguhnya Dialah Sang Penyambut Tobat lagi Sang Pengasih" ada di dua ayat: 2:37 dan 2:54. Struktur kalimatnya sama dengan 52:28, yaitu penegas (إِنَّهُ, innahu), kata ganti (هُوَ, huwa), lalu dua sifat, dan yang berbeda hanya sifat pertama: (التَّوَّابُ, at-tawwaabu) di 2:37 dan 2:54, (الْبَرُّ, al-barru) di 52:28. Dengan demikian ayat ini memakai kerangka kalimat yang sudah dikenal dari surah 2 dan mengisinya dengan sifat yang cocok bagi penghuni taman yang baru selamat.

Tafsiran

Ayat ini menutup pengakuan penghuni taman: keselamatan mereka berpangkal pada kebaikan dan kasih sayang Allah. Pengakuan itu dibuka dengan kecemasan di 52:26, dilanjutkan dengan karunia di 52:27, dan kini ditutup dengan seruan serta dua sifat. Urutan itu membuat ayat ini berfungsi sebagai alasan: keselamatan yang disebut di ayat sebelumnya dijelaskan dari sisi siapa yang menyelamatkan.

Dua sifat yang disebut di ujung ayat menjawab dua hal yang dilukiskan sebelumnya. Kebaikan menjawab karunia di 52:27, dan kasih sayang menjawab kecemasan di 52:26. Sifat-sifat itu disebut oleh penghuni taman sendiri, bukan oleh pengisah, sehingga ayat ini berbunyi sebagai kesaksian dari orang yang mengalaminya. Ayat 52:28 juga menyebut kebiasaan lama, yaitu menyeru-Nya sejak dahulu, dan ini menaruh seruan di antara kecemasan dan keselamatan.

Ayat ini menutup satu bagian surah. Dari 52:17 sampai 52:28 gambaran taman bergerak dari tempat, hidangan, dan keluarga menuju tutur batin penghuninya, dan ayat ini mengakhiri tutur itu. Ayat 52:29 sesudahnya kembali kepada pemberi peringatan, sehingga surah berpindah dari kesaksian penghuni taman ke perintah kepada pembawa kabar, dan tutur penghuni taman itu berhenti pada pengakuan tentang Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Penghuni taman menyebut bahwa mereka menyeru Allah sejak dahulu, yaitu sebuah kebiasaan yang berlangsung lama. Orang yang pernah menjaga sebuah kebiasaan baik bertahun-tahun, misalnya berdoa setiap pagi, tahu bahwa kebiasaan semacam itu terasa kecil pada hari-hari biasa dan besar bila dilihat dari jauh. Ayat ini menaruh kebiasaan itu sebagai dasar pengakuan mereka. Kebiasaan apa yang sedang dibangunnya sekarang yang kelak akan disebut dengan kata sejak dahulu, dan siapa yang akan menyaksikannya? Kebiasaan itu tidak harus besar, cukup konsisten.
  • Alasan keselamatan disebut oleh penghuni taman sendiri, bukan oleh orang lain. Orang yang pernah ditanya sebab keselamatannya dari sebuah musibah dan menjawab dengan menyebut orang lain yang menolongnya mengenal rendah hati yang tumbuh dari jawaban semacam itu. Ayat ini memperlihatkan rendah hati itu pada tingkat tertinggi, dengan menyebut Allah sebagai sebab. Pembaca bisa menimbang jawabannya sendiri bila ditanya mengapa berada di tempat yang baik sekarang.
  • Ayat ini ditutup dengan dua sifat, baik dan pengasih, yang disebut berurutan tanpa uraian. Orang yang pernah menulis kartu ucapan singkat untuk orang yang sangat dihormatinya mengenal bahwa kalimat paling pendek sering paling jujur. Ayat ini memakai dua kata untuk menutup tutur panjang tentang cemas dan karunia, dan Allah yang disebut dengan dua kata itu. Pembaca bisa bertanya sifat Allah mana yang paling sering teringat olehnya dalam keadaan cemas.
  • Dua penegas dipakai berurutan sebelum dua sifat disebut, sehingga pernyataan itu terdengar sebagai pengakuan yang tidak membuka ruang bagi pihak lain. Orang yang pernah mengucapkan terima kasih kepada satu orang tertentu dengan sungguh-sungguh mengenal bahwa pengakuan semacam itu mengarahkan seluruh syukur ke satu alamat. Ayat ini mengarahkan syukur penghuni taman kepada Allah. Pembaca bisa menimbang ke alamat mana syukurnya paling sering diarahkan.
  • Tiga ayat itu bergerak dari cemas ke karunia ke pujian, dan perpindahan itu terjadi dalam satu napas. Orang yang pernah melewati masa sulit dan kemudian memuji tanpa menyembunyikan masa sulitnya mengenal bahwa pujian yang lahir dari kenangan semacam itu lebih jujur. Ayat ini menjaga kenangan cemas di dalam pujian. Pembaca bisa bertanya apakah masa sulitnya berani disebut dalam rasa syukurnya kepada Allah.
  • Bagian tentang penghuni taman berakhir di ayat ini, dan ayat berikutnya mengembalikan pembaca kepada pembawa peringatan. Orang yang pernah menutup satu bab hidup dan membuka bab lain mengenal rasa menutup yang tenang, disusul tugas yang menunggu. Ayat ini memperlihatkan bahwa kesaksian penghuni taman tidak berhenti di taman, tetapi membawa pembaca kembali kepada tugasnya sendiri. Pembaca bisa menimbang tugas apa yang menunggu sesudah gambaran ini dibaca, dan apakah tugas itu sudah dikerjakan demi Allah. Pertanyaan itu layak diajukan sebelum membaca ayat berikutnya.