فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

Maka, berilah peringatan, karena dengan nikmat Tuhanmu, engkau bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَذَكِّرْfa-dzakkirmaka, berilah peringatan
  2. فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَfa-maa anta bi-ni'mati rabbikakarena dengan nikmat Tuhanmu, engkau bukanlah
  3. بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍbi-kaahinin wa-laa majnuuninseorang tukang tenung dan bukan pula orang gila

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. فَذَكِّرْfa-dzakkirmaka berilah peringatan
  2. فَمَاfa-maamaka tidaklah
  3. أَنْتَantaengkau
  4. بِنِعْمَتِbi-ni'matidengan nikmat
  5. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  6. بِكَاهِنٍbi-kaahinintukang tenung
  7. وَلَاwa-laadan tidak pula
  8. مَجْنُونٍmajnuuninorang gila

Inti bacaan

Ayat ini membela karakter Nabi: 'engkau bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila', bantahan tegas terhadap dua tuduhan berbeda arah yang disebut bersamaan di ayat ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ, fa-dzakkir fa-maa anta bi-ni'mati rabbika bi-kaahinin wa-laa majnuunin) yang berarti "maka, berilah peringatan, karena dengan nikmat Tuhanmu, engkau bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "maka, berilah peringatan", "karena dengan nikmat Tuhanmu, engkau bukanlah", dan "seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila".

Kata kerja (فَذَكِّرْ, fa-dzakkir) berakar ذ-ك-ر dalam bentuk perintah, diterjemahkan "maka, berilah peringatan". Bentuk persis ini ada di empat ayat: 50:45, 52:29, 87:9, dan 88:21. Di 50:45 perintah itu disusul (بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ, bi-l-qur'aani man yakhaafu wa'iidi) "dengan Al-Qur'an kepada siapa pun yang takut pada ancaman-Ku", di 87:9 disusul syarat (إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ, in nafa'ati dz-dzikraa) "jika peringatan itu bermanfaat", dan di 88:21 disusul penegasan tugas. Di 52:29 perintah itu disusul bantahan atas dua tuduhan, sehingga perintah memberi peringatan terikat pada pembelaan.

Rangkaian (بِنِعْمَتِ رَبِّكَ, bi-ni'mati rabbika) "dengan nikmat Tuhanmu" ada di ayat ini, dan bunyi yang hampir sama, (بِنِعْمَةِ رَبِّكَ, bi-ni'mati rabbika), ada di 68:2 dalam (مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ, maa anta bi-ni'mati rabbika bi-majnuunin) "engkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila". Perbedaannya terletak pada akhiran kata nikmat dan pada dua tuduhan di 52:29 sedangkan 68:2 menyebut satu.

Kata (كَاهِنٍ, kaahinin) "tukang tenung" ada di dua ayat: 52:29 dan 69:42, dan di 69:42 bunyinya (وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ, wa-laa bi-qawli kaahinin) "dan bukan perkataan tukang tenung". Kata (مَجْنُونٍ, majnuunin) "orang gila" ada di empat ayat: 37:36, 52:29, 68:2, dan 81:22. Di 37:36 kata itu dipakai dalam ucapan pengingkar tentang penyair gila, dan di 81:22 untuk kawan yang dibantah gila.

Dua sebutan lain untuk pembawa kabar dibantah di 69:41-42 dengan bunyi (وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ, wa-maa huwa bi-qawli syaa'irin) "dan itu bukanlah perkataan seorang penyair" dan (وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ, wa-laa bi-qawli kaahinin) "dan bukan perkataan tukang tenung", yang membantah sifat kabarnya, sedangkan di 52:29 bantahan itu ditujukan kepada orangnya, (فَمَا أَنْتَ, fa-maa anta) "maka engkau bukanlah". Di 81:22 bantahan serupa ditujukan kepada orang dengan (وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ, wa-maa shaahibukum bi-majnuunin) "dan kawan kalian bukanlah orang gila". Di tiga tempat itu huruf depan (بِ, bi) mengikuti kata tidak dan menyatakan penolakan.

Tafsiran

Ayat ini kembali menegaskan kepada sang penyampai peringatan bahwa tuduhan tukang tenung dan gila terhadapnya tidak berdasar. Sesudah gambaran panjang tentang dua golongan di 52:11-28, ayat ini berpindah dari tutur penghuni taman ke perintah kepada penyampai kabar. Perintah itu datang lebih dulu, memberi peringatan, lalu pembelaan menyusul sebagai alasannya.

Ayat ini menjadi pintu bagi deretan pertanyaan yang dimulai di 52:30. Tuduhan tukang tenung dan gila di sini disusul tuduhan penyair di 52:30, dan tuduhan penyair itu disajikan dalam pertanyaan yang diawali kata ataukah. Susunan itu menaruh pembelaan lebih dulu, lalu pertanyaan tentang tuduhan yang berikutnya. Pembelaan di ayat ini ringkas dan bersandar pada nikmat Tuhan, sehingga penolakan tuduhan tidak memakai bukti baru dan memakai penunjuk bahwa nikmat itu ada pada sang penyampai.

Kata perintah dan pembelaan disusun berurutan agar tugas tidak menunggu bantahan. Pembawa kabar tetap diminta memberi peringatan sementara tuduhan terhadapnya masih terdengar, dan ayat ini menaruh keduanya dalam satu kalimat. Pembaca bisa melihat bahwa tugas dan pembelaan berjalan bersama, dan keduanya tidak saling menunggu. Ayat 52:30 meneruskan dengan tuduhan ketiga yang diajukan dalam bentuk pertanyaan.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah memberi peringatan datang sebelum tuduhan dibantah, sehingga tugas berjalan sambil pembelaan menyusul. Orang yang pernah mengerjakan tugas sambil dibicarakan buruk oleh orang di sekitarnya mengenal godaan menunda sampai nama baiknya dipulihkan. Ayat ini menaruh tugas lebih dulu daripada pemulihan nama, dan Allah yang memberi perintah itu. Pembaca bisa bertanya tugas apa yang sedang ditundanya karena menunggu orang lain berhenti menuduh. Allah memberi perintah itu tanpa menunggu nama baik siapa pun pulih lebih dulu, dan itu memberi pembaca ukuran untuk menimbang tundaannya sendiri.
  • Pembelaan disandarkan kepada nikmat Tuhan, tidak kepada bukti yang diajukan sang penyampai sendiri. Orang yang pernah dibela oleh kebaikan yang sudah lama ditanamnya, tanpa berkata sepatah pun, tahu bahwa pembelaan semacam itu lebih tenang. Ayat ini menaruh rasa tenang itu pada Allah, yang nikmat-Nya disebut sebagai penjamin. Nikmat apa dari Allah yang sedang membelanya hari ini tanpa disadarinya?
  • Dua tuduhan yang disebut, tukang tenung dan orang gila, menarik ke arah yang berbeda: yang pertama menganggap tahu banyak dan yang kedua menganggap tidak waras. Orang yang pernah dituduh dengan dua alasan yang berbeda arah tahu bahwa tuduhan semacam itu kehilangan kekuatannya ketika disandingkan. Ayat ini menyandingkannya, dan Allah yang membantah keduanya sekaligus. Pembaca bisa bertanya tuduhan apa yang selama ini diterimanya begitu saja, padahal bila disandingkan dengan tuduhan lain ternyata berbeda arah. Pengamatan itu memberi pembaca satu cara menguji tuduhan yang selama ini diterimanya.
  • Perintah memberi peringatan datang sesudah gambaran panjang tentang taman dan azab, sehingga gambaran itu menjadi bekal bagi tugas. Orang yang pernah menyaksikan sesuatu yang besar lalu diminta menceritakannya mengenal berat tugas itu. Ayat ini mengantar pembaca dari melihat gambaran ke membawanya kepada orang lain. Pembaca bisa menimbang kepada siapa akan disampaikannya apa yang baru dibacanya, dan dengan kata apa. Gambaran itu tidak diberikan agar disimpan sendiri, dan Allah menaruhnya sebagai bahan tugas.
  • Kata Tuhanmu dipakai di tengah ayat, dan sebutan itu menaruh sang penyampai dan Pemelihara-Nya dalam hubungan yang dekat. Orang yang pernah dibela oleh orang tuanya di depan umum mengenal rasa terlindung yang sama. Ayat ini memakai sebutan itu untuk menopang pembawa kabar. Pembaca bisa bertanya apakah sebutan Tuhanku sudah terasa dekat baginya, atau masih jauh. Rasa dekat itu berasal dari sebutan yang dipilih Allah sendiri untuk menyapa pembawa kabar.
  • Tuduhan tukang tenung, gila, dan penyair muncul di beberapa tempat, dan ayat ini menjadi salah satu tempat tuduhan itu dibantah. Orang yang pernah mendengar tuduhan yang sama diulang oleh banyak orang mengenal kecenderungan menganggapnya benar karena sering terdengar. Ayat ini mengingatkan bahwa seringnya sebuah tuduhan disebut tidak menambah isinya. Pembaca bisa menimbang tuduhan mana yang selama ini dipercayainya karena terdengar berulang. Seberapa sering sebuah tuduhan terdengar tidak memberi bobot tambahan bagi isinya, dan Allah menyebut tuduhan itu dalam bentuk yang dapat diperiksa.