أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ

Ataukah mereka berkata, “Seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kematiannya?”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَمْ يَقُولُونَam yaquuluunaataukah mereka berkata
  2. شَاعِرٌsyaa'irunseorang penyair
  3. نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِnatarabbashu bihi rayba l-manuuniyang kami tunggu-tunggu kematiannya

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
  3. شَاعِرٌsyaa'irunpenyair
  4. نَتَرَبَّصُnatarabbashukami menunggu
  5. بِهِbihipadanya
  6. رَيْبَraybakeraguan
  7. الْمَنُونِl-manuunikematian

Inti bacaan

Tuduhan 'penyair yang kami tunggu-tunggu kematiannya', harapan jahat yang diungkapkan terang-terangan terhadap seseorang yang hanya menyampaikan kebenaran.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ, am yaquuluuna syaa'irun natarabbashu bihi rayba l-manuuni) yang berarti "ataukah mereka berkata, 'seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kematiannya?'". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "ataukah mereka berkata", "seorang penyair", dan "yang kami tunggu-tunggu kematiannya".

Tambahan "(dia)" tidak dipakai: ucapan elips syaa'irun dibiarkan tanpa subjek eksplisit sesuai struktur Arab, konsisten pola identik di 51:39 dan 51:52. Kutipan dibuka oleh yaquuluuna dan ditutup dalam ayat ini sendiri. Kata (شَاعِرٌ, syaa'irun) bentuk persis ini ada di dua ayat: 21:5 dan 52:30. Di 21:5 kata itu muncul dalam rangkaian tuduhan, (بَلْ هُوَ شَاعِرٌ, bal huwa syaa'irun) "lebih dari itu, dia seorang penyair", dan di 52:30 kata itu berdiri sendiri tanpa kata ganti.

Kata kerja (نَتَرَبَّصُ, natarabbashu) berakar ر-ب-ص dan diterjemahkan "kami tunggu-tunggu". Bentuk persis ini ada di dua ayat: 9:52 dan 52:30. Di 9:52 bunyinya (وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ, wa-nahnu natarabbashu bikum) "dan kami menunggu kalian", sehingga kata kerja yang sama dipakai dalam dua suasana: menunggu azab di 9:52 dan menunggu kematian seseorang di 52:30. Kata (بِهِ, bihi) "padanya" menunjuk kepada penyair itu, dan terjemahan "kematiannya" mengikuti kata ganti itu.

Frasa (رَيْبَ الْمَنُونِ, rayba l-manuuni) tersusun dari (رَيْبَ, rayba) dan (الْمَنُونِ, al-manuuni). Kata (رَيْبَ, rayba) ada di 15 ayat dalam bentuk persis, yaitu 2:2, 3:9, 3:25, 4:87, 6:12, 10:37, 17:99, 18:21, 22:7, 32:2, 40:59, 42:7, 45:26, 45:32, dan 52:30, dan terjemahannya biasanya "keraguan". Di sini pemetaan kata per kata memberinya "keraguan", sedangkan terjemahan ayat menulis "kematiannya", karena (الْمَنُونِ, al-manuuni) bersama (رَيْبَ, rayba) menamai peristiwa yang ditunggu. Bentuk (الْمَنُونِ, al-manuuni) hanya ada di 52:30.

Akar م-ن-ن pada (الْمَنُونِ, al-manuuni) berkerabat dengan (مَمْنُونٍ, mamnuunin) yang ada di empat ayat: 41:8, 68:3, 84:25, dan 95:6. Di keempatnya kata itu mengikuti (غَيْرُ, ghayru) atau (غَيْرَ, ghayra) "tidak" dan menyifati pahala, misalnya (لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ, la-ajran ghayra mamnuunin) "benar-benar pahala yang tidak putus-putus" di 68:3. Terjemahan proyek untuk kata itu "putus-putus", dan untuk (الْمَنُونِ, al-manuuni) di 52:30 "kematian", sehingga akar yang sama menghasilkan dua arti yang tampak berjauhan, yaitu terputus dan peristiwa yang memutus. Bentuk (الْمَنُونِ, al-manuuni) hanya ada di 52:30.

Tafsiran

Ayat ini mengutip tuduhan lain dari para pengingkar: menunggu kematiannya dengan harapan wahyu akan terhenti bersamanya. Tuduhan ketiga ini disusul pertanyaan, dan kata ataukah di awalnya membuka deretan pertanyaan yang berlangsung sampai 52:43. Dua tuduhan di 52:29 diberikan sebagai pernyataan yang dibantah, sedangkan tuduhan di 52:30 diberikan dalam bentuk pertanyaan, sehingga cara surah menanggapi tuduhan berubah di titik ini.

Tuduhan penyair di sini disertai harapan, yaitu menunggu kematian. Kalimat itu menyatakan bahwa para penuduh memberi nama kepada sang pembawa kabar dan menanti berakhirnya. Harapan itu dijawab satu ayat sesudahnya dengan perintah untuk menunggu juga, sehingga penantian mereka dibalas dengan penantian yang sama, dan pembaca melihat pertukaran itu. Dengan demikian ayat ini menjadi pangkal dari pertukaran antara dua pihak yang masing-masing menunggu.

Ayat ini juga melanjutkan urutan tiga sebutan untuk sang pembawa kabar. Di 52:29 dua sebutan pertama disebut dan dibantah, dan di 52:30 sebutan ketiga disebut dengan akibatnya. Tiga sebutan itu, tukang tenung, gila, dan penyair, memperlihatkan bahwa penolakan terhadap kabar dilakukan dengan memberi nama lain kepada pembawanya.

Renungan dan Hikmah

  • Para penuduh menunggu kematian sang pembawa kabar dengan harapan kabarnya ikut berhenti. Orang yang pernah menunggu seseorang yang tidak disukainya pergi dari sebuah jabatan tahu bahwa harapan semacam itu menghabiskan banyak perhatian. Ayat ini menaruh harapan itu di mulut para penuduh dan membiarkan pembaca melihat betapa kecilnya, sementara Allah yang memberi kabar tidak ikut menunggu. Apa yang sedang ditunggunya dari orang lain, dan apakah penantian itu layak?
  • Tiga sebutan yang dipasang pada pembawa kabar, tukang tenung, gila, dan penyair, bekerja sebagai cara menolak kabarnya tanpa memeriksa isinya. Orang yang pernah menolak sebuah usul dengan menyebut pengusulnya aneh tahu betapa mudah cara itu dipakai. Ayat ini memperlihatkan cara itu dalam bentuk paling terbuka. Pembaca bisa menimbang apakah pernah menolak sesuatu dengan menamai pembawanya, dan apakah ada cara lain untuk menolak. Cara yang masuk akal ialah memeriksa isi kabar lebih dulu sebelum menilai pembawanya; ayat ini tidak merinci cara itu, dan ini renungan penulis.
  • Sesudah pembelaan di ayat sebelumnya, surah berpindah ke bentuk pertanyaan. Orang yang pernah dibela lalu dibiarkan menyaksikan lawannya ditanyai mengenal rasa lega yang tenang. Ayat ini memakai kata ataukah untuk mengalihkan beban dari sang pembawa kabar ke para penuduh. Pembaca bisa bertanya beban apa yang selama ini dipikulnya sendiri padahal sebenarnya bisa dikembalikan kepada penuduhnya lewat pertanyaan jujur. Pertanyaan itu mengembalikan tanggung jawab kepada yang menuduh.
  • Kata menunggu dipakai di 9:52 untuk menanti azab dan di 52:30 untuk menanti kematian seseorang, dan suasana kedua ayat itu berbeda jauh. Orang yang pernah menunggu dengan dua hati yang berbeda, takut dan berharap buruk, tahu bahwa kata menunggu tidak membawa suasananya sendiri. Allah menyebut dua penantian itu, dan pembaca bisa menimbang jenis menunggu apa yang sedang dilakukannya hari ini. Hati yang menunggu menentukan rasa dari penantian itu.
  • Tuduhan penyair disebut tanpa kata ganti, seolah dilontarkan ke udara. Orang yang pernah mendengar kabar buruk tentang dirinya tanpa tahu siapa yang mengucapkannya mengenal betapa sulit menjawab tuduhan tanpa nama. Ayat ini menaruh tuduhan itu di tengah pertanyaan dan menyerahkan jawabannya kepada Allah. Pembaca bisa bertanya apakah sering menerima tuduhan tanpa nama dan menganggapnya benar. Jawaban yang tepat mungkin berupa keteguhan pada tugas sendiri, tanpa bantahan.
  • Penantian para penuduh dibalas dengan penantian yang sama, dan pertukaran itu menutup ruang bagi harapan sepihak. Orang yang pernah mengatakan tunggu saja kepada seseorang yang menunggu kegagalannya tahu bahwa kalimat itu mengubah arah tekanan. Allah menempatkan kalimat semacam itu di ayat sesudah ayat ini. Pembaca bisa menimbang apakah siap menunggu bersama orang yang menunggunya, dengan hati yang tenang karena sudah berserah kepada Allah. Ketenangan itu tidak bergantung pada hasil penantian orang lain.