قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ
Katakanlah, “Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kalian.”
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- قُلْqulkatakanlah
- تَرَبَّصُواtarabbashuutunggulah
- فَإِنِّي مَعَكُمْfa-innii ma'akummaka, sesungguhnya aku bersama kalian
- مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَmina l-mutarabbishiinatermasuk orang-orang yang menunggu
Terjemahan per kata (6 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- تَرَبَّصُواtarabbashuutunggulah kalian
- فَإِنِّيfa-inniimaka sesungguhnya aku
- مَعَكُمْma'akumbersama kalian
- مِنَminadari
- الْمُتَرَبِّصِينَl-mutarabbishiinaorang-orang yang menunggu
Inti bacaan
Respons tenang 'tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kalian', sikap tenang yang tidak terpancing provokasi dan menunggu bersama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ, qul tarabbashuu fa-innii ma'akum mina l-mutarabbishiina) yang berarti "katakanlah, 'tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kalian'". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi empat jeda: "katakanlah", "tunggulah", "maka, sesungguhnya aku bersama kalian", dan "termasuk orang-orang yang menunggu".
Kutipan dibuka oleh 'qul' dan ditutup dalam ayat ini sendiri. Perintah (قُلْ, qul) "katakanlah" menyuruh sang penyampai mengucapkan satu kalimat jawaban, dan isi kalimat itu sebuah tawaran untuk sama-sama menunggu.
Kata kerja perintah (تَرَبَّصُوا, tarabbashuu) berakar ر-ب-ص dan diterjemahkan "tunggulah". Bentuk persis ini hanya ada di 52:31. Dengan awalan fa-, bentuk (فَتَرَبَّصُوا, fa-tarabbashuu) ada di empat ayat: 9:24, 9:52, 20:135, dan 23:25; terjemahan 9:24, 9:52, dan 23:25 memakai "tunggulah", dan terjemahan ayat ini mengikutinya. Akar ر-ب-ص ada di dua belas ayat: 2:226, 2:228, 2:234, 4:141, 9:24, 9:52, 9:98, 20:135, 23:25, 52:30, 52:31, dan 57:14. Dua di antaranya bertetangga, yaitu 52:30 dan 52:31, dan kata kerja yang dipakai para penuduh di 52:30, (نَتَرَبَّصُ, natarabbashu) "kami tunggu-tunggu", diulang sebagai perintah di sini.
Rangkaian (فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ, fa-innii ma'akum mina l-mutarabbishiina) memuat (الْمُتَرَبِّصِينَ, al-mutarabbishiina) "orang-orang yang menunggu", bentuk yang hanya ada di 52:31. Kalimat yang hampir sama dipakai dengan akar lain, ن-ظ-ر: (فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ, fa-ntazhiruu innii ma'akum mina l-muntazhiriina), dengan (الْمُنْتَظِرِينَ, al-muntazhiriina) yang ada di tiga ayat: 7:71, 10:20, dan 10:102. Terjemahan proyek memakai "menunggu" untuk kedua akar itu, sehingga perbedaan akar hanya tampak di teks Arab, dan rangkaian ayat ini memakai akar yang sama dengan tuduhan di 52:30. Di 9:52 pola serupa berbunyi (فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ, fa-tarabbashuu innaa ma'akum mutarabbishuuna) "maka tunggulah, sesungguhnya kami bersama kalian menunggu", dengan "kami" sebagai pembicara, sedangkan 52:31 memakai "aku" yang tunggal.
Kata (مِنَ, mina) pada (مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ, mina l-mutarabbishiina) diterjemahkan "termasuk" dan memasukkan sang penyampai ke dalam golongan para penunggu. Kata (مَعَكُمْ, ma'akum) "bersama kalian" menaruhnya di tempat yang sama dengan mereka, dan kata (فَإِنِّي, fa-innii) "maka sesungguhnya aku" menyambungkan tawaran itu dengan perintah menunggu, sehingga menunggu hadir sebagai perintah sekaligus sebagai keadaan yang diakui bersama.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan sang penyampai peringatan untuk menjawab tuduhan dengan ketenangan. Di 52:30 para penuduh menunggu kematiannya, dan di 52:31 jawaban yang diperintahkan kepadanya memakai kata kerja yang sama: kalian menunggu, dan aku pun menunggu bersama kalian. Kata kerja yang dipakai penuduh dikembalikan kepada mereka tanpa diubah, hanya dengan menambahkan kehadiran sang penyampai di dalam penantian itu.
Ayat ini tidak menyebut apa yang ditunggu oleh masing-masing pihak. Para penuduh menunggu kematian seperti disebut di 52:30, tetapi ayat ini membiarkan penantian sang penyampai tanpa menyebut sasarannya, sehingga pembaca menimbang sendiri apa yang kira-kira ditunggunya. Kalimat itu pendek dan tidak berisi bantahan, bukti, ataupun ancaman. Perintah menunggu menggantikan semua itu, dan pilihan itu memperlihatkan cara surah menanggapi tuduhan yang berturut-turut: tuduhan tukang tenung, gila, dan penyair dijawab dengan bantahan di 52:29, lalu dengan penantian bersama di 52:31.
Urutan ayat juga patut dicatat. Tuduhan penyair di 52:30 muncul dalam bentuk pertanyaan, dan jawaban di 52:31 datang sebagai perintah yang diawali kata katakanlah, sehingga kata-kata itu bersumber dari Allah dan bukan dari sang penyampai sendiri. Sesudah 52:31, surah kembali ke bentuk pertanyaan di 52:32, dan satu ayat perintah ini berdiri di antara dua deret pertanyaan.
Renungan dan Hikmah
- Jawaban di ayat ini memakai kata kerja yang sama dengan tuduhan di ayat sebelumnya, hanya arahnya dibalik. Dalam sebuah rapat yang memanas, kalimat balasan yang memakai kata lawan bicara sendiri sering lebih menenangkan daripada bantahan panjang, karena tidak memberi bahan baru untuk diperdebatkan. Allah memerintahkan jawaban semacam itu kepada sang penyampai. Pembaca bisa bertanya kalimat apa dari orang lain yang selama ini ingin dibalasnya dengan bantahan panjang, dan apakah kalimat itu cukup dibalas dengan kata kerja yang sama.
- Sang penyampai diperintahkan mengakui bahwa dirinya ikut menunggu, dan pengakuan itu tidak berarti menyerah pada tuduhan. Dokter yang menyampaikan hasil pemeriksaan sulit kepada keluarga pasien dan ikut menunggu hasil perawatan berdiri di sisi yang sama dengan mereka tanpa meninggalkan pendapatnya. Ayat ini menaruh sang penyampai di sisi yang sama dengan para penuduh dalam hal waktu, sementara urusan kebenaran tetap di tangan Allah. Kapan terakhir kali pembaca bisa menunggu bersama orang yang tidak sependapat tanpa merasa kalah?
- Ayat ini tidak mengajukan bukti baru dan tidak mengulang bantahan dari 52:29. Pimpinan yang dituduh dengan keras lalu menjawab dengan satu kalimat tenang menunjukkan bahwa kepastiannya tidak bergantung pada kemenangan debat hari itu. Allah menyuruh sang penyampai memilih jawaban sependek itu. Pembaca bisa menimbang apakah ada tuduhan yang selama ini dijawabnya dengan banyak kata padahal satu kalimat sudah cukup, dan apakah kalimat itu perlu disandarkan kepada Allah.
- Kata katakanlah di awal ayat menunjukkan bahwa jawaban ini diperintahkan kepada sang penyampai. Seorang juru bicara yang membacakan pernyataan resmi atas nama lembaga tahu bahwa nada pernyataan itu berbeda dari nada pendapat pribadinya. Allah yang memberi kalimat itu, dan sang penyampai tinggal menyampaikannya. Pembaca bisa bertanya kalimat mana dalam hidupnya yang lebih tepat diucapkan sebagai amanah daripada sebagai pendapat pribadi.
- Menunggu disebut sebagai keadaan yang dialami kedua pihak sama-sama. Dua orang yang sama-sama menunggu pengumuman hasil seleksi di lorong yang sama sering sadar bahwa rasa cemas mereka serupa walaupun harapannya berlawanan. Ayat ini mengakui keserupaan itu tanpa menyamakan isi penantiannya, dan Allah tidak menyebut hasil akhirnya di ayat ini. Pembaca bisa menimbang penantian apa yang sedang dijalaninya hari ini dan apakah dirinya menunggu dengan sikap yang pantas di hadapan Allah.
- Ayat perintah ini diapit dua deret pertanyaan, dan jeda itu memberi napas sebelum pertanyaan berikutnya. Percakapan panjang yang berisi rentetan pertanyaan sulit biasanya diselingi satu kalimat pendek yang menenangkan suasana. Allah menempatkan kalimat pendek itu di sini, dan pembaca dipersilakan merasakan perubahan nadanya. Apakah dalam hidupnya ada percakapan berat yang perlu satu kalimat tenang sebelum pertanyaan berikutnya dijawab, dan siapa yang memberinya, selain Allah?