أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَٰذَا ۚ أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Ataukah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka dengan ini, ataukah mereka kaum yang melampaui batas?

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْam ta'muruhum ahlaamuhumataukah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka
  2. بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
  3. أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَam hum qawmun thaaghuunaataukah mereka kaum yang melampaui batas

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. تَأْمُرُهُمْta'muruhummenyuruh mereka
  3. أَحْلَامُهُمْahlaamuhummimpi-mimpi mereka
  4. بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
  5. أَمْamataukah
  6. هُمْhummereka
  7. قَوْمٌqawmunkaum
  8. طَاغُونَthaaghuunaorang-orang yang melampaui batas

Inti bacaan

Pertanyaan tajam tentang akar penolakan 'ataukah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka, ataukah mereka kaum yang melampaui batas?', dua arah jawaban yang sengaja tidak ditutup oleh ayat. Susunan ayat memuat tawaran sederhana: kedua jalur diperlihatkan lebih dulu, tuduhan ditahan, dan ajakan kejujuran terarah ke batin masing-masing.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَامُهُمْ بِهَٰذَا أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ, am ta'muruhum ahlaamuhum bi-haadzaa am hum qawmun thaaghuuna) yang berarti "ataukah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka dengan ini, ataukah mereka kaum yang melampaui batas?". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "ataukah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka", "dengan ini", dan "ataukah mereka kaum yang melampaui batas".

Tambahan "(tuduhan-tuduhan)" tidak dipakai. "Haadzaa" (dekat) benar diterjemahkan "ini", dikonfirmasi morfologi sebagai kata tunjuk. Rangkaian (بِهَٰذَا, bi-haadzaa) ada di lima belas ayat: 2:26, 6:144, 10:68, 18:6, 23:24, 24:16, 28:36, 34:31, 38:7, 52:32, 56:81, 68:44, 74:31, 90:1, dan 90:2. Di 52:32 kata itu menunjuk kepada rangkaian tuduhan yang baru disebut di ayat-ayat sebelumnya, dan ayat ini tidak menyebut sendiri apa yang ditunjuk.

Kata kerja (تَأْمُرُهُمْ, ta'muruhum) berakar أ-م-ر dan hanya ada di 52:32 dalam bentuk persis ini. Pelakunya benda, bukan orang: (أَحْلَامُهُمْ, ahlaamuhum) "pikiran-pikiran mereka". Susunan serupa ada di 11:87, (أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ, a-shalaatuka ta'muruka) "apakah salatmu yang menyuruhmu", dengan kata kerja yang sama dan pelaku yang juga bukan orang. Terjemahan 11:87 memakai bentuk aktif, "yang menyuruhmu", sedangkan terjemahan ayat ini memakai bentuk pasif, "diperintah oleh pikiran-pikiran mereka", dan keduanya menaruh sesuatu yang tak bernyawa sebagai pemberi perintah.

Kata (أَحْلَامُهُمْ, ahlaamuhum) berakar ح-ل-م dan hanya ada di 52:32 dalam bentuk persis ini. Pemetaan kata per kata memberinya "mimpi-mimpi mereka", sedangkan terjemahan ayat menulis "pikiran-pikiran mereka". Bentuk tak berpemilik (أَحْلَامٍ, ahlaamin) ada di dua ayat, 12:44 dan 21:5, dan di keduanya diterjemahkan "mimpi". Akar yang sama dipakai untuk sifat orang di 11:75 dan 37:101, dan terjemahan kedua ayat itu "penahan murka" dan "santun", yaitu kemampuan menimbang sebelum bertindak. Karena di 52:32 kata itu menjadi pelaku yang memerintah orang awam, pilihan "pikiran-pikiran" memakai arti pertimbangan, bukan gambaran dalam tidur; kata per kata tetap menyimpan arti pertama sebagai pembanding.

Frasa (قَوْمٌ طَاغُونَ, qawmun thaaghuuna) "kaum yang melampaui batas" ada di dua ayat: 51:53 dan 52:32. Di 51:53 pertanyaannya "apakah mereka saling mewariskannya?" dan jawabannya memakai frasa yang sama, (بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ, bal hum qawmun thaaghuuna) "bahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas". Bentuk (طَاغُونَ, thaaghuuna) hanya ada di dua ayat itu, dan terjemahan "melampaui batas" konsisten di keduanya. Kata ataukah (أَمْ, am) membuka 52:30, 52:32, 52:33, dan setiap ayat dari 52:35 sampai 52:43.

Tafsiran

Ayat ini mempertanyakan sumber tuduhan mereka dengan dua pilihan. Pilihan pertama menyebut pikiran sendiri sebagai pemberi perintah: apakah tuduhan-tuduhan itu keluar dari akal mereka, sehingga mereka hanya mengikuti pertimbangan mereka sendiri. Pilihan kedua menyebut watak: ataukah mereka kaum yang terbiasa melampaui batas, sehingga penolakan itu berasal dari kebiasaan dan bukan dari penalaran. Ayat ini tidak memilihkan salah satunya untuk mereka, dan pembaca dibiarkan menimbang.

Dua pilihan itu tidak sama-sama menguntungkan para penuduh. Bila pikiran mereka yang memerintah, tuduhan itu hasil pertimbangan manusia biasa yang bisa keliru. Bila wataklah yang memerintah, tuduhan itu mengikuti kebiasaan dan bukan bukti. Kedua jawaban menggeser perhatian dari sang penyampai kepada para penuduh sendiri, dan itu melanjutkan arah yang dimulai di 52:30 ketika pertanyaan mulai diajukan kepada mereka.

Kata pikiran-pikiran dalam bentuk jamak memberi gambaran banyak pertimbangan yang saling bercampur, sedangkan kata kaum menyebut mereka sebagai kelompok yang bersama-sama melampaui batas. Urutan ayat ini pun patut dicatat: sesudah satu ayat perintah menunggu di 52:31, pertanyaan kembali di 52:32 dan terus berlanjut di ayat-ayat sesudahnya, sehingga ayat ini membuka deret pertanyaan yang pertama tentang sumber tuduhan, sebelum pertanyaan tentang karangan di 52:33 dan tentang penciptaan di 52:35.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini membayangkan pikiran sebagai sesuatu yang bisa memerintah, dan manusia sebagai pihak yang menurut. Rekan kerja yang selalu mengikuti kecurigaannya sendiri terhadap atasan, tanpa pernah memeriksa kecurigaan itu pada fakta, tampak seperti orang yang patuh kepada sebuah suara di kepalanya. Allah menyebut kemungkinan itu terang-terangan. Pembaca bisa bertanya perintah apa saja dari pikirannya sendiri yang selama ini dijalankan tanpa diperiksa, dan apakah sudah pernah dibawanya kepada Allah untuk ditimbang.
  • Kedua pilihan di ayat ini tidak menyanjung para penuduh. Pilihan pertama menyebut pikiran yang mungkin keliru, dan pilihan kedua menyebut watak yang melampaui batas. Wasit yang ditanya apakah sebuah keputusan lahir dari salah lihat atau dari berat sebelah mengajukan dua kemungkinan yang sama-sama tidak enak didengar. Allah memakai bentuk pertanyaan itu supaya pembaca sendiri yang memilih. Apakah penilaian jujur terhadap diri sendiri bisa dimulai dengan pertanyaan yang tidak menjamin pujian?
  • Kata kaum yang melampaui batas menyebut kebiasaan bersama, bukan kekhilafan sekali. Dalam sebuah kelompok yang terbiasa mengabaikan aturan kecil, pelanggaran besar terasa wajar karena tidak ada lagi yang kaget. Ayat ini menempatkan kebiasaan itu sebagai salah satu penjelasan bagi penolakan, tanpa Allah menuduh siapa pun di ayat ini secara pasti. Pembaca bisa menimbang batas kecil apa yang sudah sering dilampauinya dan apakah kebiasaan itu mulai menentukan cara menilai hal lain, termasuk firman Allah.
  • Allah mengajukan dua kemungkinan dan tidak menyebut mana yang benar. Guru yang menaruh dua pilihan di papan lalu diam sering lebih menggugah daripada guru yang langsung menjelaskan, karena murid dipaksa melihat ke dalam dirinya. Ayat ini memakai cara itu kepada para penuduh. Pembaca bisa bertanya mana dari kedua pilihan itu yang paling dekat dengan keadaan dirinya sendiri ketika menolak sesuatu yang belum benar-benar dipertimbangkannya.
  • Pikiran-pikiran disebut dalam bentuk jamak, seperti banyak suara yang bercampur di kepala dan masing-masing mengaku masuk akal. Orang yang menimbang sebuah keputusan besar sambil mendengar nasihat dari lima kerabat sering mendapati bahwa tiap nasihat tampak benar pada saat disebutkan. Ayat ini menaruh keadaan itu sebagai bahan renungan, dan bukan sebagai pujian atas akal. Apakah banyaknya pertimbangan dalam kepala sendiri sudah pernah diperiksa dengan satu patokan yang lebih tetap, yaitu apa yang Allah kehendaki?
  • Sesudah satu ayat yang menenangkan, ayat ini membuka deret pertanyaan yang akan terus diajukan sampai beberapa ayat ke depan. Dalam sidang yang panjang, jeda tenang sebelum rentetan pertanyaan berikutnya membuat pihak yang ditanya lebih sadar bahwa jawabannya akan ditimbang. Allah menempatkan pertanyaan ini sesudah jeda itu. Pembaca bisa bertanya apakah dirinya siap menjawab pertanyaan sejernih ini bila ditujukan kepadanya, dan jawaban macam apa yang akan diberikannya kepada Allah.