أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ
Ataukah mereka berkata, “Ia mengarang-ngarangnya”? Bahkan, mereka tidak beriman.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- أَمْ يَقُولُونَam yaquuluunaataukah mereka berkata
- تَقَوَّلَهُtaqawwalahuia mengarang-ngarangnya
- بَلْ لَا يُؤْمِنُونَbal laa yu'minuunabahkan, mereka tidak beriman
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَمْamataukah
- يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
- تَقَوَّلَهُtaqawwalahuia mengarang-ngarangnya
- بَلْbalbahkan
- لَاlaatidak
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
Inti bacaan
Kelanjutan diagnosis: 'mereka mengarang-ngarangnya? Bahkan mereka tidak beriman', penegasan bahwa mereka tidak beriman.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ, am yaquuluuna taqawwalahu bal laa yu'minuuna) yang berarti "ataukah mereka berkata, 'dia mengarang-ngarangnya'? Bahkan, mereka tidak beriman." Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "ataukah mereka berkata", "ia mengarang-ngarangnya", dan "bahkan, mereka tidak beriman".
Kata 'Ia' berasal dari sufiks pelaku pada verba 'taqawwala', bukan tambahan. Kutipan dibuka oleh 'yaquuluuna' dan ditutup dalam ayat ini sendiri. Kata kerja (تَقَوَّلَهُ, taqawwalahu) berakar ق-و-ل dan hanya ada di 52:33 dalam bentuk persis ini. Di 69:44 kata kerja yang sama muncul tanpa akhiran, (تَقَوَّلَ, taqawwala), dalam kalimat (وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ, wa-law taqawwala 'alaynaa ba'dha l-aqaawiila) "dan sekiranya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami". Bentuk (تَقَوَّلَ, taqawwala) hanya ada di 69:44.
Tuduhan karangan juga memakai kata kerja lain. Bentuk (افْتَرَاهُ, iftaraahu) ada di tujuh ayat: 10:38, 11:13, 11:35, 21:5, 25:4, 32:3, dan 46:8, dan di ketujuhnya pemetaan kata per kata memberinya "ia mengada-adakannya". Karena kedua kata kerja itu berbeda di Arab, terjemahan memakai "mengarang-ngarang" untuk (تَقَوَّلَهُ, taqawwalahu) di 52:33 dan untuk (تَقَوَّلَ, taqawwala) di 69:44, dan "mengada-adakan" untuk (افْتَرَاهُ, iftaraahu), sehingga pembaca Indonesia dapat melihat bahwa 52:33 dan 69:44 memakai kata kerja yang sama dan berbeda dari 10:38 atau 11:13. Hubungan antara bentuk kata kerja ini dan kesan bersusah payah menyusun ucapan tidak dapat dipastikan dari korpus saja, dan pemeriksaannya perlu kamus Arab klasik.
Frasa (بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ, bal laa yu'minuuna) "bahkan, mereka tidak beriman" hanya ada di 52:33. Kata (بَلْ, bal) "bahkan" membalik arah kalimat dari pertanyaan menjadi pernyataan. Kalimat yang berpola sama ada di ayat berikutnya yang bertanya, 52:36, (أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ, am khalaqu s-samaawaati wa-l-ardha bal laa yuuqinuuna) "ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka tidak meyakini". Bentuk (يُوقِنُونَ, yuuqinuuna) ada di sebelas ayat: 2:4, 2:118, 5:50, 27:3, 27:82, 30:60, 31:4, 32:24, 45:4, 45:20, dan 52:36. Kedua ayat 52:33 dan 52:36 memakai kata yang sama sesudah "bahkan": tidak beriman di yang pertama, tidak meyakini di yang kedua.
Kata (يَقُولُونَ, yaquuluuna) "mereka berkata" membuka kutipan, dan ayat ini menaruh isi ucapan mereka dalam satu kata kerja berakhiran -hu, yaitu "dia mengarang-ngarangnya", dengan akhiran -hu yang menunjuk kepada apa yang dikarang, yaitu kabar yang sedang mereka tuduh.
Tafsiran
Ayat ini menyanggah tuduhan bahwa wahyu itu karangan sendiri. Sanggahannya tidak dimulai dengan bukti, tetapi dengan kata bahkan, yang membalik arah pembicaraan dari isi tuduhan kepada keadaan para penuduhnya: mereka tidak beriman. Pertanyaan tentang siapa yang mengarang tidak dijawab di ayat ini, sedangkan keadaan batin para penuduh disebut dengan terang. Ayat ini juga tidak menyebut apa yang akan meyakinkan mereka, dan hanya menyatakan bahwa kesediaan percaya belum ada pada mereka.
Dengan demikian ayat ini menjawab tuduhan itu dari sisi yang berbeda. Para penuduh menyebut sumber wahyu sebagai sesuatu yang dikarang, dan ayat ini menyebut sumber penolakan mereka sebagai ketidakberimanan. Dua sebab yang disebut sebelumnya di 52:32, pikiran sendiri dan watak yang melampaui batas, kini disusul sebab ketiga yang lebih mendasar. Ayat ini tidak menyebutnya dengan kata marah atau menghina, tetapi dengan satu pernyataan pendek.
Pola pertanyaan yang diakhiri kata bahkan ini muncul lagi di 52:36, sehingga dua dari deret pertanyaan di 52:32 sampai 52:43 berakhir dengan pernyataan tentang keadaan penuduh, tidak beriman di 52:33 dan tidak meyakini di 52:36. Pembaca bisa melihat bahwa pertanyaan di bagian ini tidak berdiri sendiri; sebagian ditutup dengan pernyataan tentang keadaan orang yang bertanya.
Renungan dan Hikmah
- Tuduhan karangan tidak dijawab dengan pembelaan isi, melainkan dengan menyebut keadaan penuduhnya. Dalam sebuah sengketa, kadang pernyataan paling tajam datang dari pihak ketiga yang berkata bahwa penuduh sudah memutuskan bahkan sebelum membaca dokumennya. Allah memakai cara itu: kata bahkan menggeser sorotan ke arah mereka yang bertanya. Pembaca bisa menimbang apakah ada penolakannya sendiri yang sebenarnya lahir dari keputusan yang sudah diambil lebih dulu, bukan dari hasil membaca.
- Satu kata kecil di tengah ayat membalik arah kalimat dari pertanyaan kepada pernyataan. Seorang pewawancara yang memotong jawaban panjang dengan satu kalimat pendek tentang sikap narasumber mengubah suasana ruangan seketika. Allah memakai kata itu di tengah ayat, dan pembaca ikut berpindah dari mendengar tuduhan ke mendengar keadaan penuduh. Apakah kalimat pendek yang membalik arah pembicaraan pernah dipakainya, atau selalu dihindarinya demi menjaga suasana?
- Ketidakberimanan disebut sebagai sebab penolakan, lebih dulu daripada bukti yang kurang. Dalam rapat perubahan di kantor, orang yang sudah menolak rencana sebelum mendengar paparan sering mengajukan keberatan teknis yang tampak masuk akal padahal sumbernya sikap awal. Ayat ini menyingkap lapisan itu tanpa Allah menyebut nama siapa pun. Pembaca bisa bertanya, sebelum menilai suatu gagasan, apakah dirinya sudah bersedia mempercayainya seandainya terbukti benar.
- Tuduhan bahwa wahyu itu karangan diucapkan sebagai pertanyaan, dan jawabannya tidak membahas isi wahyu. Penerjemah yang dituduh menambah-nambah isi buku oleh editor yang belum membaca naskahnya sering menjawab dengan menyodorkan naskah itu, bukan dengan berdebat. Allah menjawab dengan cara berbeda di ayat berikutnya, 52:34, dengan sebuah tantangan. Pembaca bisa menimbang apakah dirinya lebih suka berdebat tentang sebuah tuduhan atau menyodorkan bahan yang bisa diperiksa orang lain, termasuk wahyu yang berasal dari Allah.
- Kata mengarang-ngarang dalam terjemahan ini berkesan ucapan yang disusun berulang-ulang tanpa dasar; kesan itu berasal dari pilihan kata Indonesia dan tidak dibuktikan oleh korpus. Bayangkan seseorang yang menyusun alasan panjang untuk menjelaskan keterlambatannya: semakin panjang susunannya, semakin terasa dibuat-buat. Ayat ini menaruh kesan itu di mulut para penuduh sebagai gambaran tentang wahyu, padahal ukurannya bisa diperiksa pada isi wahyu itu sendiri. Pembaca bisa bertanya apakah dirinya sering menilai ucapan orang lain dengan cara yang lebih menggambarkan caranya sendiri bekerja.
- Pola pertanyaan yang diakhiri dengan pernyataan tentang keadaan penuduh muncul lagi beberapa ayat kemudian, tidak beriman di sini dan tidak meyakini di sana. Dosen penguji yang mengajukan beberapa pertanyaan lalu mengakhiri dua di antaranya dengan komentar yang sama tentang sikap mahasiswa memberi tahu bahwa sikap mahasiswa ikut ditimbang bersama jawabannya. Allah menyusun deret pertanyaan ini dengan irama yang bisa dikenali. Apakah pembaca bisa mengenali pola dalam hidupnya sendiri ketika pertanyaan yang berbeda ternyata berujung pada sikap yang sama?