Ayat 52:35

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

Ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu, ataukah mereka yang menciptakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍam khuliquu min ghayri syay'inataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu
  2. أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَam humu l-khaaliquunaataukah mereka yang menciptakan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. خُلِقُواkhuliquumereka diciptakan
  3. مِنْmindari
  4. غَيْرِghayriselain
  5. شَيْءٍsyay'insesuatu
  6. أَمْamataukah
  7. هُمُhumumerekalah
  8. الْخَالِقُونَl-khaaliquunayang menciptakan

Inti bacaan

Pertanyaan filosofis mendasar 'apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu, ataukah mereka sendiri yang menciptakan?', pembongkaran logis terhadap kemungkinan eksistensi tanpa sebab yang jelas.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ, am khuliquu min ghayri syay'in am humu l-khaaliquuna) yang berarti "ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu, ataukah mereka yang menciptakan?". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu" dan "ataukah mereka yang menciptakan".

Tambahan "(yang menciptakan)" dan "(sendiri)" tidak dipakai: kedua frasa Arab sudah lengkap tanpa kata tambahan tersebut. Kata kerja (خُلِقُوا, khuliquu) berakar خ-ل-ق dan hanya ada di 52:35 dalam bentuk persis ini. Kata kerja itu menyatakan bahwa mereka dikenai penciptaan, sehingga pelaku yang menciptakan tidak disebut di dalamnya; susunan ayat inilah yang membuat pelakunya menjadi pertanyaan. Ayat berikutnya memakai akar yang sama dengan mereka sebagai pelaku, (خَلَقُوا, khalaquu) di 52:36, "ataukah mereka menciptakan langit dan bumi?".

Frasa (مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ, min ghayri syay'in) hanya ada di 52:35. Pemetaan kata per kata memberinya "dari / selain / sesuatu", sedangkan terjemahan ayat menulis "tanpa sesuatu". Rumusan itu mengandung dua kemungkinan yang tidak dipilih oleh ayat sendiri: mereka tercipta tanpa bahan apa pun, atau tercipta tanpa pencipta. Terjemahan "tanpa sesuatu" menjaga kedua kemungkinan itu terbuka, dan tafsiran di bawah memakainya sebagai dua pilihan yang sama-sama tidak dapat dipertahankan. Kata (شَيْءٍ, syay'in) "sesuatu" di ayat ini berdiri sebagai kata yang paling umum, sehingga rumusannya mencakup apa saja.

Kata (الْخَالِقُونَ, l-khaaliquuna) "yang menciptakan" ada di dua ayat: 52:35 dan 56:59. Di 56:59 susunannya hampir sama, (أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ, a-antum takhluquunahu am nahnu l-khaaliquuna) "apakah kalian yang menciptakannya atau Kami yang menciptakan?". Perbedaannya ada pada pembicara: di 52:35 kata ganti pelakunya (هُمُ, humu) "mereka", dan di 56:59 (نَحْنُ, nahnu) "Kami". Kedua ayat memakai kata ataukah (أَمْ, am) untuk menghadapkan pelaku manusia dengan Pencipta. Susunan (أَمْ هُمُ, am humu) "ataukah mereka yang" ada di dua ayat: 52:35 dan 52:37. Di 52:37 bunyinya (أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ, am humu l-mushaythiruuna) "ataukah mereka yang berkuasa", sehingga dua pertanyaan berurutan itu sama-sama menanyakan apakah merekalah pelakunya, pencipta di 52:35 dan penguasa di 52:37.

Kata ataukah membuka tiap ayat dari 52:35 sampai 52:43. Rangkaian sembilan ayat itu berisi pertanyaan yang berurutan, dan tiap ayat menyodorkan kemungkinan baru yang harus dijawab pembaca.

Tafsiran

Ayat ini mempersempit logika para penuduh menjadi dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin dipertahankan. Pilihan pertama: mereka tercipta tanpa sesuatu, artinya tanpa asal dan tanpa pencipta. Pilihan kedua: mereka sendiri yang menciptakan, artinya mereka menjadi sebab atas keberadaan mereka. Ayat ini tidak menyebut pilihan ketiga di tempat itu, yakni bahwa Pencipta adalah Allah, karena yang diminta adalah agar pembaca sendiri sampai pada pilihan yang tersisa.

Dengan begitu pertanyaan ini bergerak dari tuduhan ke asal usul. Ayat-ayat sebelumnya membahas apa yang dikatakan para penuduh tentang sang penyampai dan tentang wahyu, sedangkan ayat ini bertanya dari mana mereka sendiri berasal. Pergeseran itu membuat pembicaraan turun ke dasar: bila seseorang menolak sebuah kabar tentang Pencipta, apakah dirinya sudah menjawab pertanyaan tentang asal dirinya? Ayat ini tidak menjawabnya dan hanya menaruh dua kemungkinan.

Ayat 52:36 melanjutkan dengan akar kata kerja yang sama, kini dengan mereka sebagai pelaku, dari menyebut mereka diciptakan menjadi bertanya apakah mereka menciptakan langit dan bumi. Urutan itu bergerak dari diri sendiri ke alam sekitar. Kedua pertanyaan memakai cara yang sama: kemungkinan disodorkan, lalu harus ditolak satu per satu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyempitkan pilihan menjadi dua dan membuat keduanya rapuh. Seorang pemeriksa yang menutup semua jalan keluar selain satu sering tidak perlu menyodorkan jawaban, karena jawaban muncul dari ruang yang tersisa. Allah memakai cara itu dalam ayat ini. Pembaca bisa bertanya apakah keberadaannya sendiri pernah ditimbang dari dua kemungkinan yang disebut di sini, dan pilihan apa yang tersisa bila keduanya tidak dapat dipegang.
  • Pertanyaan tentang asal diri sendiri jarang diajukan di tengah kesibukan sehari-hari. Seorang pegawai yang sudah dua puluh tahun bekerja di satu kantor bisa hafal seluruh prosedurnya tanpa pernah bertanya siapa yang pertama kali mendirikan kantor itu. Ayat ini membawa pertanyaan serupa kepada diri manusia dan menyebut Allah sebagai Pencipta pada saat pembaca sampai pada pilihan yang tersisa. Apakah pembaca pernah duduk diam dan bertanya dari mana dirinya berasal, sebelum bertanya hendak ke mana?
  • Rumusan tanpa sesuatu mencakup dua kemungkinan sekaligus, tanpa bahan dan tanpa pencipta. Seorang tukang kayu tahu bahwa sebuah meja tidak muncul dari udara kosong dan juga tidak muncul tanpa tukang, dan dua kenyataan itu tidak bisa dipisahkan. Allah memakai kata yang paling umum supaya tidak ada celah yang ditinggalkan. Pembaca bisa menimbang apakah ada hal dalam hidupnya yang dianggapnya terjadi dengan sendirinya, padahal sebenarnya berasal dari Allah.
  • Pilihan kedua, bahwa mereka sendiri yang menciptakan, tampak mustahil begitu diucapkan. Orang yang pernah mencoba membayangkan dirinya memutuskan kapan lahir dan siapa orang tuanya biasanya cepat sadar bahwa pertanyaan itu menabrak dirinya sendiri. Allah menaruh kemustahilan itu di depan para penuduh tanpa komentar tambahan. Pembaca bisa bertanya hal apa lagi dalam hidupnya yang sudah dianggap hasil kerja sendiri sepenuhnya, padahal sebagian besar syaratnya datang dari Allah dan tidak dipilihnya.
  • Kata ataukah membuka tiap ayat dari 52:35 sampai 52:43, seperti ketukan yang diulang. Dalam sebuah kuis panjang, pengulangan bentuk pertanyaan yang sama membuat peserta mengenali pola dan mulai menjawab dengan lebih jernih. Allah menyusun deret pertanyaan itu dengan irama yang sama dan pembaca ikut terbawa. Apakah pembaca bisa merasakan bahwa deret ini pelan-pelan menyingkirkan jawaban yang mudah, satu per satu?
  • Setelah pertanyaan tentang diri sendiri, ayat berikutnya bertanya tentang langit dan bumi. Orang yang baru melihat denah rumah sendiri lalu melihat peta kotanya merasakan pergeseran dari yang dekat ke yang jauh. Allah membawa pembaca dari asal dirinya ke asal alam sekitarnya dengan satu kata kerja yang sama, diciptakan lalu menciptakan. Pembaca bisa menimbang apakah dirinya lebih mudah mengakui Allah sebagai Pencipta ketika menatap dirinya sendiri atau ketika menatap langit, dan mengapa.

Ayat 52:36

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

Ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka tidak yakin.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَam khalaquu s-samaawaati wa-l-ardhaataukah mereka menciptakan langit dan bumi
  2. بَلْ لَا يُوقِنُونَbal laa yuuqinuunabahkan, mereka tidak yakin

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. خَلَقُواkhalaquumereka menciptakan
  3. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  4. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  5. بَلْbalbahkan
  6. لَاlaatidak
  7. يُوقِنُونَyuuqinuunayakin

Inti bacaan

Pertanyaan lanjutan 'ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka tidak yakin', rangkaian pertanyaan yang menutup celah argumen otoritas yang mungkin diajukan penentang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ, am khalaquu s-samaawaati wa-l-ardha bal laa yuuqinuuna) yang berarti "ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka tidak yakin." Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah mereka menciptakan langit dan bumi" dan "bahkan, mereka tidak yakin".

Kata kerja (خَلَقُوا, khalaquu) berakar خ-ل-ق dan ada di empat ayat: 13:16, 35:40, 46:4, dan 52:36. Pemetaan kata per kata memberinya "mereka menciptakan" di keempatnya. Di 13:16 pelakunya adalah sekutu-sekutu yang disangka menciptakan seperti ciptaan Allah, dan di 35:40 serta 46:4 pelakunya adalah sembahan selain Allah yang diminta memperlihatkan apa yang telah mereka ciptakan dari bumi. Di 52:36 pelakunya adalah para penuduh sendiri, dan objeknya langit dan bumi sekaligus. Ayat sebelumnya, 52:35, memakai akar yang sama dalam bentuk pasif, (خُلِقُوا, khuliquu) "diciptakan", sehingga dua ayat berurutan itu menanyakan lebih dulu apakah mereka dikenai penciptaan, lalu apakah mereka yang melakukan penciptaan.

Kata (يُوقِنُونَ, yuuqinuuna) berakar ي-ق-ن dan ada di sebelas ayat: 2:4, 2:118, 5:50, 27:3, 27:82, 30:60, 31:4, 32:24, 45:4, 45:20, dan 52:36. Pemetaan kata per kata memberinya "yakin". Terjemahan kesebelas ayat itu memakai "yakin", sehingga pembaca yang membandingkan ayat-ayat itu menemukan satu kata yang sama di setiap tempat. Frasa Arab (لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ, li-qawmin yuuqinuuna) "bagi kaum yang yakin" ada di 2:118, 5:50, 45:4, dan 45:20. Objek yang diyakini disebut di 2:4, 27:3, dan 31:4 sebagai akhirat, dan di 27:82 serta 32:24 sebagai tanda-tanda Allah.

Frasa (بَلْ لَا يُوقِنُونَ, bal laa yuuqinuuna) hanya ada di 52:36. Polanya sejajar dengan (بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ, bal laa yu'minuuna) di 52:33: pertanyaan yang diajukan kepada para penuduh ditutup oleh satu pernyataan tentang keadaan mereka, tidak beriman di 52:33 dan tidak yakin di 52:36. Kata ataukah (أَمْ, am) membuka tiap ayat dari 52:35 sampai 52:43, dan di antara sembilan ayat itu hanya 52:36 yang memuat kata bahkan (بَلْ, bal).

Pertanyaan tentang pencipta langit dan bumi ditanyakan juga di lima ayat lain dengan bunyi (مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, man khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha) "siapa yang menciptakan langit dan bumi": 27:60, 29:61, 31:25, 39:38, dan 43:9. Di 29:61, 31:25, dan 39:38 mereka menjawab "Allah", dan di 43:9 mereka menjawab "Sang Digdaya, Sang Berilmu". Di 52:36 pertanyaannya berbentuk lain: ayat ini menanyakan apakah mereka sendiri pelakunya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian pertanyaan retoris: akar masalah mereka ada pada keengganan untuk yakin, tidak pada kekurangan bukti. Ayat ini memperluas pertanyaan dari asal para penuduh ke asal langit dan bumi. Di 52:35 pilihannya dua kemungkinan tentang diri mereka, dan di sini objeknya seluruh alam: apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Pertanyaan itu tidak dijawab dengan ya atau tidak. Jawabannya dimuat dalam kata bahkan, yang berpindah dari bahan pertanyaan kepada keadaan mereka: mereka tidak yakin.

Pernyataan penutup itu membedakan dua hal yang mudah tertukar, yaitu mengetahui dan yakin. Ayat-ayat lain mencatat bahwa para penolak dapat menjawab bila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, dengan jawaban Allah di 29:61, 31:25, dan 39:38. Dengan latar itu, kata tidak yakin di 52:36 tidak terbaca sebagai ketidaktahuan akan jawabannya. Jawaban lisan sudah ada, sedangkan keyakinan yang mantap belum. Ayat ini meletakkan hambatan pada keadaan batin para penuduh dan tidak pada tersedianya jawaban.

Sejajar dengan 52:33, dua ayat dalam deret ini berakhir dengan pernyataan tentang keadaan mereka: tidak beriman dan tidak yakin. Tafsiran ini membaca keduanya sebagai dua sisi satu keadaan. Kata bahkan juga menjelaskan mengapa pertanyaan di ayat ini tidak menunggu jawaban: ayat ini hendak menyingkapkan keadaan para penanya, sebab jawaban atas pertanyaan itu sudah mereka miliki.

Renungan dan Hikmah

  • Langit dan bumi sudah ada sebelum penanya lahir. Seorang warga kota yang menyebut jalan di depan rumahnya "jalanku" lupa bahwa jalan itu sudah ada sebelum dia pindah dan akan tetap ada sesudah dia pergi. Ayat ini menanyakan hal serupa dalam ukuran terbesar, dan Allah menaruh pertanyaannya tanpa menuliskan jawabannya. Pembaca bisa bertanya bagian mana dari hidupnya yang benar-benar dibuatnya sendiri, dan bagian mana yang sudah tersedia sebelum dia memulai.
  • Mengetahui sebuah jawaban dan yakin akan jawaban itu adalah dua keadaan yang berbeda. Seorang pegawai bisa hafal peringatan di papan tentang lantai licin dan tetap berlari melewatinya. Di 29:61, 31:25, dan 39:38 para penolak menjawab Allah ketika ditanya siapa pencipta langit dan bumi, dan di 52:36 keadaan batin mereka disebut tidak meyakini. Pembaca bisa memeriksa hal apa yang sudah diketahuinya dengan baik tetapi belum dijalankannya, dan apa yang menahan jarak antara keduanya.
  • Kata yang sama dengan penutup ayat ini dipakai di 45:4 untuk menyebut penciptaan manusia dan makhluk bergerak sebagai tanda bagi kaum yang yakin. Seorang montir yang yakin pada mesinnya membaca bunyi aneh sebagai petunjuk, sedangkan yang ragu menganggapnya gangguan biasa. Allah menaruh keyakinan sebagai pintu masuk untuk membaca tanda, dan ayat ini menunjuk pintu itu tertutup pada para penuduh. Pembaca bisa bertanya apakah dirinya membaca tanda-tanda di sekelilingnya dengan keyakinan atau dengan sikap menunggu bukti yang lebih besar.
  • Menunda keputusan sambil menunggu bukti tambahan kadang menjadi cara menghindari kesimpulan yang sudah jelas. Seorang pasien yang meminta pemeriksaan ulang berkali-kali padahal hasilnya selalu sama mungkin sedang menunda penerimaan. Ayat ini menyebut penyebab penolakan para penuduh pada keyakinan yang tidak ada, sementara jalan menuju jawaban sudah terbuka lewat pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Pembaca bisa menimbang keputusan mana dalam hidupnya yang sudah lama ditunda dengan alasan menunggu data, padahal datanya sudah cukup.
  • Pertanyaan ini diajukan tanpa jawaban tertulis. Guru yang bertanya di depan kelas, "Siapa yang membuat papan tulis ini?", lalu membiarkan murid melihat sekeliling, sedang mengajak kelas sampai pada jawaban dari pengamatan sendiri. Allah memakai cara itu: pertanyaan dilempar, dan jawabannya disimpan sebagai pekerjaan pembaca. Apakah pembaca pernah berhenti sejenak sesudah sebuah pertanyaan Al-Qur'an dan menjawabnya sendiri sebelum membaca ayat berikutnya?
  • Mengakui bahwa langit dan bumi tidak dibuat oleh kita adalah titik awal yang sederhana. Seorang pendaki yang sampai di puncak dan memandang lembah di bawahnya sering menjadi lebih pelan bicaranya, karena ukuran dirinya terasa. Ayat ini menaruh pembaca pada titik itu lewat satu pertanyaan, dan Allah tidak menambahkan penjelasan. Pembaca bisa bertanya kapan terakhir kali dirinya memandang langit lama-lama dan membiarkan ukuran dirinya terasa.

Ayat 52:37

أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَam 'indahum khazaa'inu rabbikaataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu
  2. أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَam humu l-mushaythiruunaataukah mereka yang berkuasa

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. عِنْدَهُمْ'indahumdi sisi mereka
  3. خَزَائِنُkhazaa'inuperbendaharaan
  4. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  5. أَمْamataukah
  6. هُمُhumumerekalah
  7. الْمُصَيْطِرُونَl-mushaythiruunaorang-orang yang berkuasa

Inti bacaan

Pertanyaan ketiga 'ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa?', menantang klaim tersembunyi tentang otoritas atau kontrol yang sebenarnya tidak mereka miliki.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ, am 'indahum khazaa'inu rabbika am humu l-mushaythiruuna) yang berarti "ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa?" Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu" dan "ataukah mereka yang berkuasa".

Susunan (أَمْ عِنْدَهُمْ, am 'indahum) "ataukah di sisi mereka" ada di dua ayat: 38:9 dan 52:37. Bentuk (أَمْ عِنْدَهُمُ, am 'indahumu), yang bersambung dengan kata sandang sesudahnya, ada di 52:41 dan 68:47. Terjemahan keempat ayat itu memakai "di sisi mereka". Di 38:9 objeknya (خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ, khazaa'inu rahmati rabbika) "perbendaharaan rahmat Tuhanmu", sedangkan di 52:37 objeknya (خَزَائِنُ رَبِّكَ, khazaa'inu rabbika) "perbendaharaan Tuhanmu", frasa yang hanya ada di 52:37.

Kata (خَزَائِنُ, khazaa'inu) berakar خ-ز-ن dan bentuk persis ini ada di lima ayat: 6:50, 11:31, 38:9, 52:37, dan 63:7. Pemetaan kata per kata memberinya "perbendaharaan", dan terjemahan kelimanya memakai "perbendaharaan". Dua bentuk lain dari kata itu, (خَزَائِنِ, khazaa'ini) di 12:55 dan (خَزَائِنَ, khazaa'ina) di 17:100, diterjemahkan sama. Di 63:7 perbendaharaan itu disebut milik Allah dalam kalimat (وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi khazaa'inu s-samaawaati wa-l-ardhi) "padahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi". Di 6:50 dan 11:31 perbendaharaan Allah muncul dalam ucapan seorang rasul yang menyangkal memilikinya, sedangkan di 52:37 pertanyaan itu diajukan kepada para penuduh.

Kata ganti (رَبِّكَ, rabbika) "Tuhanmu" ada di empat ayat dalam surah ini: 52:7, 52:29, 52:37, dan 52:48. Di 52:7 ia menyertai azab, di 52:29 nikmat, di 52:37 perbendaharaan, dan di 52:48 putusan. Keempatnya menyapa sang penyampai, dan hubungan kepemilikan pada perbendaharaan itu dinyatakan lewat sapaan yang sama.

Kata (الْمُصَيْطِرُونَ, l-mushaythiruuna) hanya ada di 52:37, dan pemetaan kata per kata memberinya "orang-orang yang berkuasa". Bentuk tunggalnya (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaythirin) ada di 88:22 saja, dengan terjemahan "penguasa", dalam kalimat "engkau bukanlah penguasa atas mereka". Kedua ayat memakai kata yang sama tentang kewenangan atas orang lain: di 88:22 kewenangan itu disangkal dari sang penyampai, dan di 52:37 kewenangan itu ditanyakan kepada para penuduh. Susunan (أَمْ هُمُ, am humu) "ataukah mereka yang" ada di dua ayat: 52:35 dan 52:37, sehingga pertanyaan tentang pencipta di 52:35 dan tentang penguasa di 52:37 memakai kerangka yang sama.

Tafsiran

Tafsiran ini membaca kedua pertanyaan ayat sebagai penyebutan dua dasar yang lazim dipakai orang untuk menentukan arah suatu urusan: memiliki sumbernya atau memegang kewenangannya. Pertanyaan pertama menyangkut perbendaharaan Tuhanmu, yakni segala yang tersimpan pada Allah. Menurut tafsiran ini, pihak yang hendak menetapkan apa yang pantas diterima dari Allah semestinya memegang sumber atau kewenangan atas urusan itu. Pertanyaan kedua menyangkut kewenangan: ataukah mereka yang berkuasa, sehingga merekalah yang menentukan apa yang diterima dan apa yang ditolak.

Ayat lain sudah menyatakan siapa pemilik perbendaharaan itu. Di 63:7 perbendaharaan langit dan bumi disebut milik Allah, dan di 6:50 serta 11:31 rasul yang menyampaikan wahyu menyangkal memilikinya. Dengan latar itu pertanyaan di 52:37 terbaca sebagai bantahan tersirat. Ayat-ayat tadi menaruh kepemilikan pada Allah dan penyangkalan pada rasul, sehingga klaim para penuduh memerlukan dasar tersendiri.

Kedua pertanyaan diikat oleh satu kata ataukah tanpa jawaban tertulis. Pembaca dibiarkan melihat bahwa penolakan para penuduh tidak bertumpu pada kepemilikan maupun kewenangan, dua dasar yang menurut tafsiran ini dibutuhkan oleh penolakan yang sah. Urutan 52:35 sampai 52:37 bergerak dari diri mereka, ke langit dan bumi, lalu ke perbendaharaan dan kekuasaan. Setiap pertanyaan memperbesar lingkup yang diklaim, dan setiap pertanyaan ditutup tanpa pembuktian.

Renungan dan Hikmah

  • Menolak sesuatu tanpa memegang sumbernya adalah posisi yang rapuh. Seorang pembeli yang menawar harga tanpa mengetahui ongkos produksinya sedang menebak. Ayat ini menanyakan apakah para penuduh memegang sumber yang membuat penolakan mereka bermakna. Pembaca bisa bertanya dalam urusan apa dirinya menolak sesuatu dengan keyakinan penuh, padahal belum pernah memeriksa dasar penolakannya. Penolakan yang sah semestinya sebanding dengan dasarnya, dan pertanyaan ayat ini menguji kesebandingan itu.
  • Memiliki sesuatu dan berwenang atas sesuatu adalah dua hal yang dapat dipisahkan. Pemilik gedung bisa menyerahkan pengelolaan kepada orang lain, dan pengelola gedung bisa memutuskan banyak hal tanpa memilikinya. Ayat ini menanyakan keduanya berurutan, perbendaharaan lalu kekuasaan, sehingga tidak ada klaim yang tertinggal. Pembaca bisa memeriksa bagian hidupnya mana yang diakuinya sebagai milik sendiri dan mana yang sebenarnya dipercayakan kepadanya.
  • Di 6:50 dan 11:31 perbendaharaan Allah muncul dalam ucapan rasul yang menyangkal memilikinya. Seorang kasir bank memegang uang nasabah setiap hari tanpa pernah menjadi pemiliknya, dan kasir yang lupa hal itu mulai memperlakukan uang itu sebagai uangnya. Ayat ini mengajukan pertanyaan yang sama kepada para penuduh, dan 63:7 menyebut perbendaharaan itu milik Allah. Apakah pembaca pernah memperlakukan sesuatu yang dititipkan kepadanya, seperti rezeki, waktu, atau pengetahuan, sebagai miliknya sendiri?
  • Orang yang menyatakan dirinya berwenang biasanya diminta menunjukkan surat penugasannya. Petugas yang datang ke rumah warga tanpa surat tugas pantas ditanya dasar wewenangnya. Allah mengajukan pertanyaan itu dalam bentuk ataukah mereka yang berkuasa, dan ayat ini tidak mengisi jawabannya. Pembaca bisa memeriksa dasar kewenangan apa yang selama ini dipakainya saat menilai, menegur, atau menolak orang lain. Apakah dasar penolakan yang kita pegang sudah pernah diperlihatkan kepada orang lain tanpa rasa gentar?
  • Seorang penyuluh kesehatan menyampaikan informasi dan tidak berwenang memaksa warga mengikutinya. Di 88:22 sang penyampai dinyatakan tidak berkuasa atas mereka, dan di 52:37 pertanyaan yang sama dibalik kepada para penuduh: apakah merekalah yang berkuasa. Dua ayat itu memakai kata yang sama untuk berkuasa. Pembaca bisa menimbang apakah dirinya pernah menuntut kepatuhan dari orang yang hanya diberi informasi, padahal peran yang dipegangnya sebatas menyampaikan.
  • Dalam sebuah pemeriksaan keuangan, pemeriksa memulai dari pertanyaan yang paling dekat, lalu naik ke pertanyaan yang lebih besar sampai semua celah klaim tertutup. Urutan 52:35 sampai 52:37 bergerak dengan irama yang sama: asal diri, asal langit dan bumi, lalu perbendaharaan dan kekuasaan. Allah menyusun pertanyaan dengan lingkup yang membesar. Pembaca bisa melihat apakah penolakan yang dipegangnya akan bertahan bila diperiksa dengan urutan seperti itu.

Ayat 52:38

أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ ۖ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Ataukah mereka mempunyai tangga untuk mendengarkan dengannya? Maka, hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka datang membawa keterangan yang nyata.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌam lahum sullamunataukah mereka mempunyai tangga
  2. يَسْتَمِعُونَ فِيهِyastami'uuna fiihiuntuk mendengarkan dengannya
  3. فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْfa-l-ya'ti mustami'uhummaka, hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka datang
  4. بِسُلْطَانٍ مُبِينٍbi-sulthaanin mubiininmembawa keterangan yang nyata

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. لَهُمْlahumbagi mereka
  3. سُلَّمٌsullamuntangga
  4. يَسْتَمِعُونَyastami'uunamereka mendengarkan
  5. فِيهِfiihidi dalamnya
  6. فَلْيَأْتِfa-l-ya'timaka hendaklah ia mendatangkan
  7. مُسْتَمِعُهُمْmustami'uhumorang yang mendengarkan mereka
  8. بِسُلْطَانٍbi-sulthaanindengan keterangan
  9. مُبِينٍmubiininyang nyata

Inti bacaan

Tantangan tentang klaim pengetahuan yang didengar lewat tangga: 'ataukah mereka mempunyai tangga untuk mendengarkan dengannya? Maka, hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka datang membawa keterangan yang nyata', permintaan bukti konkret bagi klaim akses terhadap pengetahuan yang mereka sebut telah didengar.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ, am lahum sullamun yastami'uuna fiihi fa-l-ya'ti mustami'uhum bi-sulthaanin mubiinin) yang berarti "ataukah mereka mempunyai tangga untuk mendengarkan dengannya? Maka, hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka datang membawa keterangan yang nyata." Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi empat jeda: "ataukah mereka mempunyai tangga", "untuk mendengarkan dengannya", "maka, hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka datang", dan "membawa keterangan yang nyata".

Tambahan '(ke langit)' dan '(hal-hal yang gaib)' tidak dipakai. Kata 'itu' setelah 'di antara mereka' juga tidak dipakai: tidak ada kata tunjuk pada 'mustami'uhum', hanya akhiran ganti kepemilikan. 'Sultaanin mubiinin' tetap 'keterangan yang nyata', konsisten dengan 14:10, 44:19, dan 51:38.

Kata (سُلَّمٌ, sullamun) "tangga" ada di dua ayat dalam bentuk kata dasar ini: 6:35, dengan bentuk (سُلَّمًا, sullaman), dan 52:38. Di 6:35 tangga disebut dalam pengandaian usaha sang penyampai bila keberpalingan mereka terasa berat: "mencari lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu engkau mendatangkan tanda kepada mereka". Di 52:38 tangga ditanyakan kepada para penuduh sebagai sarana mendengarkan.

Kata kerja (يَسْتَمِعُونَ, yastami'uuna) berakar س-م-ع dan ada di lima ayat: 10:42, 17:47 (dua kali), 39:18, 46:29, dan 52:38. Terjemahan kelimanya memakai "mendengarkan". Kata (فِيهِ, fiihi) dalam pemetaan kata per kata bermakna "di dalamnya", dan terjemahan ayat menulis "dengannya" karena tangga dipahami sebagai sarana.

Kata (مُسْتَمِعُهُمْ, mustami'uhum) hanya ada di 52:38. Pemetaan kata per kata memberinya "orang yang mendengarkan mereka", yang dapat terbaca sebagai pendengar dengan mereka sebagai objek. Akhiran (هُمْ, hum) di sini menandai kepemilikan: pendengar milik mereka, yakni orang yang mendengarkan di antara mereka. Terjemahan ayat menulis "orang yang mendengarkan di antara mereka" untuk menjaga arti itu.

Kata kerja perintah (فَلْيَأْتِ, fa-l-ya'ti) berakar أ-ت-ي dan hanya ada di 52:38 dalam bentuk persis ini, bentuk tunggal dari perintah (فَلْيَأْتُوا, fa-l-ya'tuu) di 52:34 dan 68:41. Ayat 52:34 meminta para penuduh mendatangkan tuturan yang serupa, 68:41 meminta mereka mendatangkan sekutu-sekutu mereka, dan 52:38 meminta pendengar di antara mereka mendatangkan keterangan.

Kata (سُلْطَانٍ, sulthaanin) dengan awalan bi- ada di delapan ayat: 14:10, 14:11, 18:15, 27:21, 44:19, 51:38, 52:38, dan 55:33. Terjemahan "keterangan" dipakai di enam ayat: 14:10, 14:11, 18:15, 44:19, 51:38, dan 52:38. Di 27:21 terjemahannya "alasan", karena dari makhluk yang tidak hadir itu diminta pembenaran atas ketidakhadirannya, dan di 55:33 terjemahannya "kuasa", karena ayat itu berbicara tentang kemampuan menembus penjuru langit dan bumi. Frasa (بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ, bi-sulthaanin mubiinin) ada di lima ayat: 14:10, 27:21, 44:19, 51:38, dan 52:38, dan terjemahannya "keterangan yang nyata" kecuali di 27:21, "alasan yang jelas".

Tafsiran

Ayat ini menyindir klaim akses mereka terhadap pengetahuan yang hendak didengar lewat tangga itu, dan pokok yang gaib baru disebut di 52:41. Jika klaim itu benar, mereka seharusnya mampu membuktikannya secara nyata. Gambaran tangga mengingatkan pada 6:35, ketika tangga disebut sebagai jalan ke langit, dan menempatkan klaim itu sebagai sesuatu yang dapat diperiksa: bila mereka sungguh mendengar dari sumber itu, harus ada jalan menuju sana. Pertanyaan itu langsung disusul perintah, sehingga ayat ini berpindah dari menanyakan ke menuntut.

Tuntutannya jelas dalam sasaran dan syaratnya. Orang yang diminta datang ialah pendengar di antara mereka, yakni pihak yang mengaku mendengar, dan keterangan yang nyata harus dibawanya sendiri. Pengakuan saja tidak memenuhi syarat itu. Ayat ini juga tidak menyebut apa yang akan terjadi bila keterangan itu tidak datang. Isinya sebatas syarat bagi pendengaran yang sah.

Bentuknya sama dengan 52:34, ketika perintah mendatangkan diletakkan di antara pertanyaan. Di 52:34 diminta tuturan yang serupa, dan di 52:38 diminta keterangan bagi klaim mendengar. Dua ayat perintah itu menjadi tempat deret pertanyaan berhenti sejenak dan meminta bukti.

Pilihan kata keterangan juga menjelaskan arah tuntutan. Keterangan dapat dibawa, diperlihatkan, dan diperiksa orang lain. Ayat ini menuntut hal itu dari klaim mendengar. Ayat ini membiarkan klaim itu diuji dengan cara yang tersedia bagi siapa pun, tanpa memerlukan kesaksian dari pihak yang mengaku.

Renungan dan Hikmah

  • Klaim tentang sumber pengetahuan bisa diuji dengan menanyakan jalan menuju sumber itu. Orang yang mengaku mendengar langsung dari pimpinan tertinggi perusahaan akan ditanya bagaimana dia bisa masuk ke ruang rapatnya. Ayat ini memakai gambaran tangga untuk pertanyaan semacam itu, dan Allah tidak memberi jawaban tambahan. Pembaca bisa bertanya klaim apa dalam pembicaraannya sehari-hari yang diajukan dengan yakin tetapi tidak pernah disertai jalan menuju sumbernya.
  • Perintah dalam ayat ini meminta pendengar membawa keterangan yang nyata. Pengacara yang menerima klien dengan cerita besar akan meminta dokumen sebelum menyusun pembelaan. Allah meminta hal yang sama dari pihak yang mengaku mendengar: bawa dulu keterangannya. Apakah pembaca terbiasa meminta dasar dari klaim yang didengarnya, termasuk klaim yang datang dari orang yang dihormatinya? Dokumen itu tidak harus panjang, tetapi harus dapat diperiksa oleh orang yang tidak ikut mendengar.
  • Mengaku mendengar tidak sama dengan memiliki keterangan. Calon pegawai yang mengaku mengenal direktur tetap diminta menunjukkan surat rekomendasi. Ayat ini membedakan dua hal itu dengan sederhana, dan Allah menaruh syaratnya pada keterangan yang dapat diperlihatkan. Pembaca bisa menimbang kebiasaan menerima kabar karena kedekatan dengan pembawanya, sementara isi keterangan yang dibawanya belum diperiksa sama sekali.
  • Gambaran tangga muncul juga di 6:35, ketika sang penyampai diandaikan mencari lubang di bumi atau tangga ke langit bila keberpalingan mereka terasa berat. Di sana tangga menjadi pengandaian usaha sang penyampai sendiri, dan di 52:38 tangga menjadi klaim yang ditanyakan kepada para penuduh. Kontraktor yang diminta membangun jalan ke puncak bukit akan bertanya dulu tentang izin dan jalurnya. Pembaca bisa memperhatikan apakah dirinya lebih sering menuntut jalan menuju sumber sebuah klaim, atau menerima klaim yang terdengar meyakinkan.
  • Kata sulthaan diterjemahkan keterangan di enam ayat, alasan di 27:21, dan kuasa di 55:33, tiga arti yang terkait: dasar yang memberi hak untuk berkata atau bertindak. Petugas pajak berhak bertindak karena memegang surat tugas, yaitu dasar yang dapat diperlihatkan. Allah memakai kata itu untuk dasar semacam itu dalam ayat ini. Pembaca bisa bertanya dasar apa yang dapat diperlihatkannya ketika menyatakan sebuah keyakinan kepada orang lain.
  • Ayat ini meminta satu orang yang mendengarkan di antara mereka untuk maju membawa keterangan. Juru bicara kelompok yang mengklaim sesuatu atas nama semua anggota diminta membawa buktinya sendiri. Klaim sebuah kelompok tidak otomatis sah karena banyak orang yang mengulangnya. Pembaca bisa menimbang apakah dirinya pernah menerima suatu pandangan karena banyak orang di sekitarnya mengulangnya. Dalam kelompok yang kompak, sering ada satu orang yang paling banyak bercerita, dan cerita itu perlu ditimbang dengan keterangan yang sama.

Ayat 52:39

أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ

Ataukah bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan bagi kalian anak-anak lelaki?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ لَهُ الْبَنَاتُam lahu l-banaatuataukah bagi-Nya anak-anak perempuan
  2. وَلَكُمُ الْبَنُونَwa-lakumu l-banuunasedangkan bagi kalian anak-anak lelaki

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. لَهُlahubaginya
  3. الْبَنَاتُl-banaatuanak-anak perempuan
  4. وَلَكُمُwa-lakumudan bagi kalian
  5. الْبَنُونَl-banuunaanak-anak lelaki

Inti bacaan

Pertanyaan kelima dengan kontradiksi nilai 'bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan bagi kalian anak-anak lelaki?', pengulangan kritik terhadap inkonsistensi nilai budaya yang merendahkan anak perempuan namun menisbahkannya kepada Tuhan. Rumusan sejajar itu memperlihatkan bahwa kecurangan pembagian dapat dikenali dari susunan kalimatnya sendiri tanpa dalil tambahan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ, am lahu l-banaatu wa-lakumu l-banuuna) yang berarti "ataukah bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan bagi kalian anak-anak lelaki?" Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah bagi-Nya anak-anak perempuan" dan "sedangkan bagi kalian anak-anak lelaki".

Kata (الْبَنَاتُ, l-banaatu) "anak-anak perempuan" dan (الْبَنُونَ, l-banuuna) "anak-anak lelaki" muncul berpasangan di dua ayat: 37:149 dan 52:39. Pertentangan antara anak-anak perempuan yang dinisbahkan kepada Allah dan anak-anak lelaki bagi para penuduh muncul di lima ayat: 16:57, 37:149, 37:153, 43:16, dan 52:39. Dua bentuk jamak itu berbeda susunannya dalam bahasa Arab, tetapi terjemahan memakai pola yang sama, "anak-anak perempuan" dan "anak-anak lelaki", sehingga kesejajaran dua kelompok itu terbaca di Indonesia seperti di Arab.

Di 37:149 pertanyaan yang sejajar didahului perintah bertanya, (فَاسْتَفْتِهِمْ, fa-staftihim) "maka, tanyakanlah kepada mereka", dan 37:153 mengulangnya dengan kata kerja memilih: "apakah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak lelaki?" Ayat 52:39 mengajukan pertanyaan itu langsung, tanpa perintah bertanya di depannya.

Pasangan yang sama disebut dengan kata lain di 53:21, (أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, a-lakumu dz-dzakaru wa-lahu l-untsaa) "apakah bagi kalian yang lelaki, sedangkan bagi-Nya yang perempuan?", dengan urutan terbalik: kalian disebut lebih dulu, Dia kemudian. Ayat berikutnya, 53:22, memuat (تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ, tilka idzan qismatun dhiizaa) "kalau begitu, itu suatu pembagian yang tidak adil", dan menamai susunan itu. Di 17:40 dan 43:19 anak-anak perempuan dikaitkan dengan malaikat, dan di 16:58 serta 43:17 diceritakan wajah seseorang menghitam ketika diberi kabar tentang anak perempuan.

Huruf (لِ, li-) pada (لَهُ, lahu) dan (لَكُمُ, lakumu) diterjemahkan "bagi" di kedua bagian ayat, sehingga kesejajaran "bagi-Nya" dan "bagi kalian" terlihat. Terjemahan 37:149 yang sejajar memakai "bagi" juga, dan 53:21 memakai "bagi kalian" dan "bagi-Nya". Kata ganti berpindah dari orang ketiga "-Nya" kepada orang kedua "kalian" di tengah ayat, dan terjemahan mengikuti perpindahan itu karena teks Arab sendiri berpindah dari (لَهُ, lahu) ke (لَكُمُ, lakumu).

Awalan (أَمْ, am) "ataukah" membuka ayat ini, seperti sembilan ayat dari 52:35 sampai 52:43. Ayat 52:39 tidak memuat kata kerja sama sekali: kedua bagiannya terdiri atas keterangan kepemilikan (لَهُ, lahu) dan (لَكُمُ, lakumu) yang disusul oleh benda yang dimiliki, sehingga seluruh kalimat berbentuk pembagian dan tidak berbentuk perbuatan.

Tafsiran

Ayat ini menunjukkan ketimpangan dalam cara para penuduh menilai. Mereka menisbahkan kepada Allah anak-anak perempuan, bagian yang mereka sendiri terima dengan berat hati bila mengenai diri mereka, sedangkan bagi diri sendiri mereka menyediakan anak-anak lelaki. Ayat ini menaruh kedua bagian itu berdampingan dalam satu kalimat dan membiarkan kontrasnya terbaca.

Dasar penilaian ketimpangan itu tersedia dalam ayat-ayat lain. Di 16:58 wajah seseorang menghitam ketika diberi kabar tentang anak perempuan, dan di 16:59 orang itu bersembunyi dari orang banyak karena buruknya kabar tersebut. Dengan latar itu susunan argumennya terbaca jelas. Mereka menganggap anak perempuan kabar yang buruk bagi diri sendiri, tetapi menyodorkan anak perempuan sebagai bagian untuk Allah. Pembagian itu mereka lakukan sendiri, dan 53:22 menamainya pembagian yang tidak adil.

Ayat ini tidak membahas nilai perempuan. Sasarannya adalah cara menilai yang memberi bagian yang dianggap lebih rendah kepada pihak yang paling tinggi dan menyimpan bagian yang dianggap lebih baik untuk diri sendiri. Kalimat yang sama bisa disusun untuk barang apa pun: bila seseorang menyisihkan yang jelek bagi atasannya dan menyimpan yang bagus untuk dirinya, ketimpangannya terlihat dari susunan pembagiannya.

Ayat ini berdiri sesudah pertanyaan tentang perbendaharaan, kekuasaan, dan sarana mendengar (52:37, 52:38), dan sebelum pertanyaan tentang imbalan (52:40). Isinya berpindah dari klaim kemampuan ke klaim tentang Allah, dan ketimpangan nilainya terbaca dari bentuk kalimat itu sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Dua ukuran untuk perkara yang sama mudah terlihat dari luar dan sulit terlihat dari dalam. Atasan yang menuntut ketepatan waktu dari bawahan tetapi sering datang terlambat jarang menyadari ketimpangan itu. Ayat ini menaruh dua ukuran para penuduh dalam satu kalimat supaya terlihat. Ukuran ganda apa yang selama ini dipakainya, satu untuk dirinya dan satu untuk orang lain? Dua ukuran itu baru terasa ketika keduanya diletakkan berdampingan di atas satu meja.
  • Sasaran ayat ini adalah cara menilai yang timpang. Ayat ini menyebut anak perempuan dan anak lelaki untuk menunjukkan pembagian yang mereka sendiri anggap merugikan bila menimpa diri mereka, dan tidak membahas nilai seorang perempuan. Pembagi warisan yang menyisihkan bagian terburuk untuk orang lain dan bagian terbaik untuk dirinya akan terbaca kecurangannya tanpa perlu penjelasan. Pembaca bisa menimbang apakah ada pembagian dalam kehidupannya yang menempatkan bagian terbaik di pihaknya dan bagian terburuk di pihak lain.
  • Orang yang menyumbangkan barang rusak ke panti sambil menyimpan barang bagus untuk dirinya sedang membagi dengan timbangan yang timpang. Ayat ini menyebut pola yang sama dalam urusan terhadap Allah: yang tidak diinginkan bagi diri sendiri diberikan kepada-Nya. Allah menaruh pembagian itu dalam bentuk pertanyaan. Pembaca bisa bertanya apakah dalam ibadah atau pemberian, dirinya pernah menyisihkan sisa dan menyimpan yang terbaik untuk diri sendiri.
  • Kata ganti berpindah dari -Nya kepada kalian di tengah ayat, dan perpindahan itu menaruh para penuduh di hadapan pertanyaan secara langsung. Dalam rapat, pimpinan yang beralih dari menyebut pihak ketiga menjadi menyapa Anda membuat peserta sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Pembaca bisa memperhatikan saat sebuah teks beralih menyapanya, dan bertanya apakah sapaan itu dibiarkannya lewat.
  • Pertentangan anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki ini muncul di lima ayat: 16:57, 37:149, 37:153, 43:16, dan 52:39, ditambah 53:21 dengan kata lain. Pengulangan di beberapa surah menandai pokok ini sebagai sesuatu yang berkali-kali diangkat. Pengajar yang mengulang contoh yang sama di beberapa pertemuan sedang menyasar kebiasaan yang melekat. Pembaca bisa memeriksa kebiasaan apa dalam komunitasnya yang sudah lama dikritik berulang kali tetapi belum berubah.
  • Pembagian yang timpang diberi nama di 53:22: pembagian yang tidak adil. Ahli waris yang menerima bagian terbaik lalu diminta menerima nama itu untuk susunan pembagiannya biasanya baru menyadari ketimpangannya ketika orang lain menyebutnya terang-terangan. Allah menamai pembagian para penuduh tanpa menyebut siapa pun, dan ayat ini mengajukan pertanyaan yang sama dalam bentuk lebih ringan. Pembaca bisa bertanya apakah ada pembagian dalam lingkungannya yang sudah lama dijalankan tanpa pernah diberi nama oleh siapa pun.

Ayat 52:40

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

Ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani utang?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًاam tas'aluhum ajranataukah engkau meminta imbalan kepada mereka
  2. فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَfa-hum min maghramin mutsqaluunasehingga mereka dibebani utang

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. تَسْأَلُهُمْtas'aluhumengkau meminta kepada mereka
  3. أَجْرًاajranupah
  4. فَهُمْfa-hummaka mereka
  5. مِنْmindari
  6. مَغْرَمٍmaghramindenda
  7. مُثْقَلُونَmutsqaluunaorang-orang yang terbebani

Inti bacaan

Pertanyaan keenam dari deret ataukah: 'ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani utang?', menutup kemungkinan bahwa penolakan berasal dari beban biaya yang dipikulkan penyampai pesan. Penegasan ini membebaskan ajakan dari tuduhan bermotif pamrih dan menyisakan sebab penolakan yang lebih mendasar. Rumusannya juga memperlihatkan hubungan sebab dan akibat antara pungutan dan tanggungan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ, am tas'aluhum ajran fa-hum min maghramin mutsqaluuna) yang berarti "ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani utang?" Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka" dan "sehingga mereka dibebani utang".

Kata kerja (تَسْأَلُهُمْ, tas'aluhum) berakar س-أ-ل dan ada di empat ayat: 12:104, 23:72, 52:40, dan 68:46. Pemetaan kata per kata memberinya "engkau meminta kepada mereka". Ayat 68:46 sama dengan 52:40 kata demi kata, dan 68:47 sama dengan 52:41 yang mengikutinya. Ini kali pertama dalam deret ataukah sejak 52:35 kata kerja ayat berpelaku "engkau", yakni sang penyampai.

Di 12:104 kata kerja yang sama dipakai untuk meniadakan permintaan, (وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ, wa-maa tas'aluhum 'alayhi min ajrin) "dan engkau tidak meminta kepada mereka atasnya suatu imbalan", dengan lanjutan (إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ, in huwa illaa dzikrun li-l-'aalamiina) "ia tidak lain kecuali peringatan bagi seisi alam". Ayat 52:40 mengubah penegasan itu menjadi pertanyaan yang diarahkan kepada sang penyampai.

Kata (أَجْرًا, ajran) berakar أ-ج-ر. Pemetaan kata per kata memberinya "upah", sedangkan terjemahan ayat menulis "imbalan". Terjemahan "imbalan" dipakai untuk tuntutan yang disangkal oleh para penyampai di 6:90, 10:72, 11:51, 12:104, 25:57, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, 34:47, 36:21, 38:86, 42:23, 52:40, dan 68:46, sehingga 52:40 mengikuti pilihan yang sama. Di 23:72 pertanyaan yang sama memakai kata lain, (خَرْجًا, kharjan), dan terjemahannya juga "imbalan", dengan lanjutan (فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ, fa-kharaaju rabbika khayrun) "maka imbalan Tuhanmu lebih baik".

Kata (مَغْرَمٍ, maghramin) berakar غ-ر-م dan ada di dua ayat: 52:40 dan 68:46, dalam frasa yang sama (مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ, min maghramin mutsqaluuna). Pemetaan kata per kata memberinya "denda", sedangkan terjemahan ayat menulis "utang": orang yang diminta imbalan memikul kewajiban membayar, dan kata dibebani menggandeng kata utang. Bentuk lain dari akar غ-ر-م ada di 9:60, 9:98, 25:65, dan 56:66, dengan terjemahan "berutang" di 9:60, "kerugian" di 9:98, "melekat terus" di 25:65, dan "merugi" di 56:66, karena konteks tiap ayat berbeda: penerima zakat, infak yang dirasakan sebagai beban, azab, dan ucapan penyesalan.

Kata (مُثْقَلُونَ, mutsqaluuna) berakar ث-ق-ل dan ada di dua ayat: 52:40 dan 68:46. Pemetaan kata per kata memberinya "orang-orang yang terbebani", dan terjemahan ayat menulis "mereka dibebani". Awalan (فَ, fa-) pada (فَهُمْ, fa-hum) menyatakan akibat, sehingga terjemahan menulis "sehingga mereka".

Tafsiran

Ayat ini menanyakan apakah penolakan para penuduh berasal dari beban biaya yang dipikulkan sang penyampai kepada mereka. Pertanyaan ditujukan kepada sang penyampai sebagai pelaku, dan jawabannya sudah diketahui dari ayat lain: sang penyampai tidak meminta imbalan, sebagaimana dikatakan di 12:104 dan 38:86.

Dengan cara itu ayat ini menutup satu kemungkinan alasan penolakan, yaitu beratnya tanggungan. Orang cenderung menolak ajakan yang mahal, dan di sini ajakan itu tidak berbiaya. Bila demikian, penolakan mereka tidak dapat dijelaskan oleh biaya, dan kemungkinan lain ditutup oleh ayat-ayat berikutnya.

Rumusan ayat memuat sebab dan akibat: bila imbalan diminta, mereka dibebani utang. Dengan rumusan itu pembaca diajak membayangkan ajakan yang menambah tanggungan lalu memeriksa apakah ajakan yang sedang dibicarakan memang demikian. Jawabannya kembali ke ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa imbalan tidak diminta, termasuk 12:104 yang menyebut isi ajakan itu sebagai peringatan bagi seisi alam, dan di 23:72 pertanyaan yang sama dijawab dengan pernyataan bahwa imbalan Tuhanmu lebih baik.

Deret ataukah berlanjut tiga ayat lagi sesudah ayat ini, sampai 52:43. Pertanyaan tentang imbalan menempati urutan keenam dari sembilan pertanyaan yang dibuka kata ataukah.

Renungan dan Hikmah

  • Ajakan yang tidak disertai biaya menghapus satu alasan penolakan yang paling lazim. Warga yang menolak ikut kerja bakti dengan alasan harus patungan akan kehilangan alasannya bila acara itu gratis. Ayat ini menanyakan apakah sang penyampai meminta sesuatu dari mereka, dan jawabannya sudah diketahui dari 12:104 dan 38:86: tidak ada permintaan imbalan. Pembaca bisa memeriksa apakah penolakan yang sering diucapkannya berhubungan dengan biaya, waktu, atau kenyamanan yang takut hilang.
  • Pertanyaan ini mengarah kepada sang penyampai sendiri. Konsultan yang bekerja tanpa honor lebih mudah dipercaya nasihatnya daripada yang menggantungkan penghasilan pada keputusan kliennya. Orang yang dilayani gratis oleh seorang penasihat sering mulai memperhatikan isi nasihatnya, sebab alasan untuk mencurigai motifnya berkurang. Allah menaruh sang penyampai pada posisi itu. Pembaca bisa bertanya apakah dirinya lebih mudah mempercayai nasihat dari orang yang tidak memperoleh keuntungan dari nasihat tersebut.
  • Kata dibebani utang menggambarkan tekanan keuangan yang membuat orang enggan menerima apa pun yang menambah tanggungan. Karyawan yang cicilannya menumpuk akan curiga pada setiap tawaran yang meminta iuran. Ayat ini menyebut perasaan itu dan menanyakan apakah memang itu penyebabnya. Hal apa yang pernah membuatnya enggan mencari tahu sebuah kebenaran karena takut pada tanggungan yang menyertainya? Di ayat ini beban itu disebut utang, sebuah kewajiban yang terus terasa sampai lunas.
  • Pertanyaan tentang imbalan diajukan juga di 23:72 dan 68:46. Di 23:72 kalimat itu disusul pernyataan bahwa imbalan Tuhanmu lebih baik, dan di 68:46 kalimatnya sama dengan 52:40. Dosen yang mengulang syarat penilaian yang sama di beberapa mata kuliah memberi sinyal bahwa syarat itu tetap. Pembaca bisa memperhatikan pokok apa yang diulang-ulang dalam bacaannya dan bertanya mengapa pokok itu ditekankan.
  • Penyangkalan tuntutan imbalan diucapkan para penyampai di banyak ayat, termasuk lima kali dengan kalimat yang sama di 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, dan 26:180. Relawan yang berulang kali menyatakan tidak menerima honor di berbagai acara membangun reputasi yang dapat diperiksa. Ayat ini memakai catatan itu sebagai dasar pertanyaan. Pembaca bisa memeriksa apakah ajakan yang diterimanya dari orang lain disertai kepentingan yang tidak diucapkan. Pengulangan kalimat yang sama dari banyak penyampai memberi pembaca ukuran untuk membandingkan siapa pun yang datang dengan ajakan.
  • Pertanyaan ini menempati urutan keenam dari sembilan pertanyaan berawalan ataukah di 52:35 sampai 52:43. Pemeriksaan kelayakan proyek yang memeriksa tujuan, biaya, dan kewenangan secara berurutan membuat pelaksana tidak bisa memakai satu alasan untuk menghindar. Allah menyusun deret itu sehingga satu per satu alasan penolakan disingkirkan. Pembaca bisa menuliskan semua alasannya menunda sebuah kebenaran, lalu memeriksa mana yang bertahan.