أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

Ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu, ataukah mereka yang menciptakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍam khuliquu min ghayri syay'inataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu
  2. أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَam humu l-khaaliquunaataukah mereka yang menciptakan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. خُلِقُواkhuliquumereka diciptakan
  3. مِنْmindari
  4. غَيْرِghayriselain
  5. شَيْءٍsyay'insesuatu
  6. أَمْamataukah
  7. هُمُhumumerekalah
  8. الْخَالِقُونَl-khaaliquunayang menciptakan

Inti bacaan

Pertanyaan filosofis mendasar 'apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu, ataukah mereka sendiri yang menciptakan?', pembongkaran logis terhadap kemungkinan eksistensi tanpa sebab yang jelas.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ, am khuliquu min ghayri syay'in am humu l-khaaliquuna) yang berarti "ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu, ataukah mereka yang menciptakan?". Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah mereka diciptakan tanpa sesuatu" dan "ataukah mereka yang menciptakan".

Tambahan "(yang menciptakan)" dan "(sendiri)" tidak dipakai: kedua frasa Arab sudah lengkap tanpa kata tambahan tersebut. Kata kerja (خُلِقُوا, khuliquu) berakar خ-ل-ق dan hanya ada di 52:35 dalam bentuk persis ini. Kata kerja itu menyatakan bahwa mereka dikenai penciptaan, sehingga pelaku yang menciptakan tidak disebut di dalamnya; susunan ayat inilah yang membuat pelakunya menjadi pertanyaan. Ayat berikutnya memakai akar yang sama dengan mereka sebagai pelaku, (خَلَقُوا, khalaquu) di 52:36, "ataukah mereka menciptakan langit dan bumi?".

Frasa (مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ, min ghayri syay'in) hanya ada di 52:35. Pemetaan kata per kata memberinya "dari / selain / sesuatu", sedangkan terjemahan ayat menulis "tanpa sesuatu". Rumusan itu mengandung dua kemungkinan yang tidak dipilih oleh ayat sendiri: mereka tercipta tanpa bahan apa pun, atau tercipta tanpa pencipta. Terjemahan "tanpa sesuatu" menjaga kedua kemungkinan itu terbuka, dan tafsiran di bawah memakainya sebagai dua pilihan yang sama-sama tidak dapat dipertahankan. Kata (شَيْءٍ, syay'in) "sesuatu" di ayat ini berdiri sebagai kata yang paling umum, sehingga rumusannya mencakup apa saja.

Kata (الْخَالِقُونَ, l-khaaliquuna) "yang menciptakan" ada di dua ayat: 52:35 dan 56:59. Di 56:59 susunannya hampir sama, (أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ, a-antum takhluquunahu am nahnu l-khaaliquuna) "apakah kalian yang menciptakannya atau Kami yang menciptakan?". Perbedaannya ada pada pembicara: di 52:35 kata ganti pelakunya (هُمُ, humu) "mereka", dan di 56:59 (نَحْنُ, nahnu) "Kami". Kedua ayat memakai kata ataukah (أَمْ, am) untuk menghadapkan pelaku manusia dengan Pencipta. Susunan (أَمْ هُمُ, am humu) "ataukah mereka yang" ada di dua ayat: 52:35 dan 52:37. Di 52:37 bunyinya (أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ, am humu l-mushaythiruuna) "ataukah mereka yang berkuasa", sehingga dua pertanyaan berurutan itu sama-sama menanyakan apakah merekalah pelakunya, pencipta di 52:35 dan penguasa di 52:37.

Kata ataukah membuka tiap ayat dari 52:35 sampai 52:43. Rangkaian sembilan ayat itu berisi pertanyaan yang berurutan, dan tiap ayat menyodorkan kemungkinan baru yang harus dijawab pembaca.

Tafsiran

Ayat ini mempersempit logika para penuduh menjadi dua pilihan yang sama-sama tidak mungkin dipertahankan. Pilihan pertama: mereka tercipta tanpa sesuatu, artinya tanpa asal dan tanpa pencipta. Pilihan kedua: mereka sendiri yang menciptakan, artinya mereka menjadi sebab atas keberadaan mereka. Ayat ini tidak menyebut pilihan ketiga di tempat itu, yakni bahwa Pencipta adalah Allah, karena yang diminta adalah agar pembaca sendiri sampai pada pilihan yang tersisa.

Dengan begitu pertanyaan ini bergerak dari tuduhan ke asal usul. Ayat-ayat sebelumnya membahas apa yang dikatakan para penuduh tentang sang penyampai dan tentang wahyu, sedangkan ayat ini bertanya dari mana mereka sendiri berasal. Pergeseran itu membuat pembicaraan turun ke dasar: bila seseorang menolak sebuah kabar tentang Pencipta, apakah dirinya sudah menjawab pertanyaan tentang asal dirinya? Ayat ini tidak menjawabnya dan hanya menaruh dua kemungkinan.

Ayat 52:36 melanjutkan dengan akar kata kerja yang sama, kini dengan mereka sebagai pelaku, dari menyebut mereka diciptakan menjadi bertanya apakah mereka menciptakan langit dan bumi. Urutan itu bergerak dari diri sendiri ke alam sekitar. Kedua pertanyaan memakai cara yang sama: kemungkinan disodorkan, lalu harus ditolak satu per satu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyempitkan pilihan menjadi dua dan membuat keduanya rapuh. Seorang pemeriksa yang menutup semua jalan keluar selain satu sering tidak perlu menyodorkan jawaban, karena jawaban muncul dari ruang yang tersisa. Allah memakai cara itu dalam ayat ini. Pembaca bisa bertanya apakah keberadaannya sendiri pernah ditimbang dari dua kemungkinan yang disebut di sini, dan pilihan apa yang tersisa bila keduanya tidak dapat dipegang.
  • Pertanyaan tentang asal diri sendiri jarang diajukan di tengah kesibukan sehari-hari. Seorang pegawai yang sudah dua puluh tahun bekerja di satu kantor bisa hafal seluruh prosedurnya tanpa pernah bertanya siapa yang pertama kali mendirikan kantor itu. Ayat ini membawa pertanyaan serupa kepada diri manusia dan menyebut Allah sebagai Pencipta pada saat pembaca sampai pada pilihan yang tersisa. Apakah pembaca pernah duduk diam dan bertanya dari mana dirinya berasal, sebelum bertanya hendak ke mana?
  • Rumusan tanpa sesuatu mencakup dua kemungkinan sekaligus, tanpa bahan dan tanpa pencipta. Seorang tukang kayu tahu bahwa sebuah meja tidak muncul dari udara kosong dan juga tidak muncul tanpa tukang, dan dua kenyataan itu tidak bisa dipisahkan. Allah memakai kata yang paling umum supaya tidak ada celah yang ditinggalkan. Pembaca bisa menimbang apakah ada hal dalam hidupnya yang dianggapnya terjadi dengan sendirinya, padahal sebenarnya berasal dari Allah.
  • Pilihan kedua, bahwa mereka sendiri yang menciptakan, tampak mustahil begitu diucapkan. Orang yang pernah mencoba membayangkan dirinya memutuskan kapan lahir dan siapa orang tuanya biasanya cepat sadar bahwa pertanyaan itu menabrak dirinya sendiri. Allah menaruh kemustahilan itu di depan para penuduh tanpa komentar tambahan. Pembaca bisa bertanya hal apa lagi dalam hidupnya yang sudah dianggap hasil kerja sendiri sepenuhnya, padahal sebagian besar syaratnya datang dari Allah dan tidak dipilihnya.
  • Kata ataukah membuka tiap ayat dari 52:35 sampai 52:43, seperti ketukan yang diulang. Dalam sebuah kuis panjang, pengulangan bentuk pertanyaan yang sama membuat peserta mengenali pola dan mulai menjawab dengan lebih jernih. Allah menyusun deret pertanyaan itu dengan irama yang sama dan pembaca ikut terbawa. Apakah pembaca bisa merasakan bahwa deret ini pelan-pelan menyingkirkan jawaban yang mudah, satu per satu?
  • Setelah pertanyaan tentang diri sendiri, ayat berikutnya bertanya tentang langit dan bumi. Orang yang baru melihat denah rumah sendiri lalu melihat peta kotanya merasakan pergeseran dari yang dekat ke yang jauh. Allah membawa pembaca dari asal dirinya ke asal alam sekitarnya dengan satu kata kerja yang sama, diciptakan lalu menciptakan. Pembaca bisa menimbang apakah dirinya lebih mudah mengakui Allah sebagai Pencipta ketika menatap dirinya sendiri atau ketika menatap langit, dan mengapa.