أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

Ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka tidak yakin.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَam khalaquu s-samaawaati wa-l-ardhaataukah mereka menciptakan langit dan bumi
  2. بَلْ لَا يُوقِنُونَbal laa yuuqinuunabahkan, mereka tidak yakin

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. خَلَقُواkhalaquumereka menciptakan
  3. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  4. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  5. بَلْbalbahkan
  6. لَاlaatidak
  7. يُوقِنُونَyuuqinuunayakin

Inti bacaan

Pertanyaan lanjutan 'ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka tidak yakin', rangkaian pertanyaan yang menutup celah argumen otoritas yang mungkin diajukan penentang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ, am khalaquu s-samaawaati wa-l-ardha bal laa yuuqinuuna) yang berarti "ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka tidak yakin." Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah mereka menciptakan langit dan bumi" dan "bahkan, mereka tidak yakin".

Kata kerja (خَلَقُوا, khalaquu) berakar خ-ل-ق dan ada di empat ayat: 13:16, 35:40, 46:4, dan 52:36. Pemetaan kata per kata memberinya "mereka menciptakan" di keempatnya. Di 13:16 pelakunya adalah sekutu-sekutu yang disangka menciptakan seperti ciptaan Allah, dan di 35:40 serta 46:4 pelakunya adalah sembahan selain Allah yang diminta memperlihatkan apa yang telah mereka ciptakan dari bumi. Di 52:36 pelakunya adalah para penuduh sendiri, dan objeknya langit dan bumi sekaligus. Ayat sebelumnya, 52:35, memakai akar yang sama dalam bentuk pasif, (خُلِقُوا, khuliquu) "diciptakan", sehingga dua ayat berurutan itu menanyakan lebih dulu apakah mereka dikenai penciptaan, lalu apakah mereka yang melakukan penciptaan.

Kata (يُوقِنُونَ, yuuqinuuna) berakar ي-ق-ن dan ada di sebelas ayat: 2:4, 2:118, 5:50, 27:3, 27:82, 30:60, 31:4, 32:24, 45:4, 45:20, dan 52:36. Pemetaan kata per kata memberinya "yakin". Terjemahan kesebelas ayat itu memakai "yakin", sehingga pembaca yang membandingkan ayat-ayat itu menemukan satu kata yang sama di setiap tempat. Frasa Arab (لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ, li-qawmin yuuqinuuna) "bagi kaum yang yakin" ada di 2:118, 5:50, 45:4, dan 45:20. Objek yang diyakini disebut di 2:4, 27:3, dan 31:4 sebagai akhirat, dan di 27:82 serta 32:24 sebagai tanda-tanda Allah.

Frasa (بَلْ لَا يُوقِنُونَ, bal laa yuuqinuuna) hanya ada di 52:36. Polanya sejajar dengan (بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ, bal laa yu'minuuna) di 52:33: pertanyaan yang diajukan kepada para penuduh ditutup oleh satu pernyataan tentang keadaan mereka, tidak beriman di 52:33 dan tidak yakin di 52:36. Kata ataukah (أَمْ, am) membuka tiap ayat dari 52:35 sampai 52:43, dan di antara sembilan ayat itu hanya 52:36 yang memuat kata bahkan (بَلْ, bal).

Pertanyaan tentang pencipta langit dan bumi ditanyakan juga di lima ayat lain dengan bunyi (مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, man khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha) "siapa yang menciptakan langit dan bumi": 27:60, 29:61, 31:25, 39:38, dan 43:9. Di 29:61, 31:25, dan 39:38 mereka menjawab "Allah", dan di 43:9 mereka menjawab "Sang Digdaya, Sang Berilmu". Di 52:36 pertanyaannya berbentuk lain: ayat ini menanyakan apakah mereka sendiri pelakunya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian pertanyaan retoris: akar masalah mereka ada pada keengganan untuk yakin, tidak pada kekurangan bukti. Ayat ini memperluas pertanyaan dari asal para penuduh ke asal langit dan bumi. Di 52:35 pilihannya dua kemungkinan tentang diri mereka, dan di sini objeknya seluruh alam: apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Pertanyaan itu tidak dijawab dengan ya atau tidak. Jawabannya dimuat dalam kata bahkan, yang berpindah dari bahan pertanyaan kepada keadaan mereka: mereka tidak yakin.

Pernyataan penutup itu membedakan dua hal yang mudah tertukar, yaitu mengetahui dan yakin. Ayat-ayat lain mencatat bahwa para penolak dapat menjawab bila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, dengan jawaban Allah di 29:61, 31:25, dan 39:38. Dengan latar itu, kata tidak yakin di 52:36 tidak terbaca sebagai ketidaktahuan akan jawabannya. Jawaban lisan sudah ada, sedangkan keyakinan yang mantap belum. Ayat ini meletakkan hambatan pada keadaan batin para penuduh dan tidak pada tersedianya jawaban.

Sejajar dengan 52:33, dua ayat dalam deret ini berakhir dengan pernyataan tentang keadaan mereka: tidak beriman dan tidak yakin. Tafsiran ini membaca keduanya sebagai dua sisi satu keadaan. Kata bahkan juga menjelaskan mengapa pertanyaan di ayat ini tidak menunggu jawaban: ayat ini hendak menyingkapkan keadaan para penanya, sebab jawaban atas pertanyaan itu sudah mereka miliki.

Renungan dan Hikmah

  • Langit dan bumi sudah ada sebelum penanya lahir. Seorang warga kota yang menyebut jalan di depan rumahnya "jalanku" lupa bahwa jalan itu sudah ada sebelum dia pindah dan akan tetap ada sesudah dia pergi. Ayat ini menanyakan hal serupa dalam ukuran terbesar, dan Allah menaruh pertanyaannya tanpa menuliskan jawabannya. Pembaca bisa bertanya bagian mana dari hidupnya yang benar-benar dibuatnya sendiri, dan bagian mana yang sudah tersedia sebelum dia memulai.
  • Mengetahui sebuah jawaban dan yakin akan jawaban itu adalah dua keadaan yang berbeda. Seorang pegawai bisa hafal peringatan di papan tentang lantai licin dan tetap berlari melewatinya. Di 29:61, 31:25, dan 39:38 para penolak menjawab Allah ketika ditanya siapa pencipta langit dan bumi, dan di 52:36 keadaan batin mereka disebut tidak meyakini. Pembaca bisa memeriksa hal apa yang sudah diketahuinya dengan baik tetapi belum dijalankannya, dan apa yang menahan jarak antara keduanya.
  • Kata yang sama dengan penutup ayat ini dipakai di 45:4 untuk menyebut penciptaan manusia dan makhluk bergerak sebagai tanda bagi kaum yang yakin. Seorang montir yang yakin pada mesinnya membaca bunyi aneh sebagai petunjuk, sedangkan yang ragu menganggapnya gangguan biasa. Allah menaruh keyakinan sebagai pintu masuk untuk membaca tanda, dan ayat ini menunjuk pintu itu tertutup pada para penuduh. Pembaca bisa bertanya apakah dirinya membaca tanda-tanda di sekelilingnya dengan keyakinan atau dengan sikap menunggu bukti yang lebih besar.
  • Menunda keputusan sambil menunggu bukti tambahan kadang menjadi cara menghindari kesimpulan yang sudah jelas. Seorang pasien yang meminta pemeriksaan ulang berkali-kali padahal hasilnya selalu sama mungkin sedang menunda penerimaan. Ayat ini menyebut penyebab penolakan para penuduh pada keyakinan yang tidak ada, sementara jalan menuju jawaban sudah terbuka lewat pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Pembaca bisa menimbang keputusan mana dalam hidupnya yang sudah lama ditunda dengan alasan menunggu data, padahal datanya sudah cukup.
  • Pertanyaan ini diajukan tanpa jawaban tertulis. Guru yang bertanya di depan kelas, "Siapa yang membuat papan tulis ini?", lalu membiarkan murid melihat sekeliling, sedang mengajak kelas sampai pada jawaban dari pengamatan sendiri. Allah memakai cara itu: pertanyaan dilempar, dan jawabannya disimpan sebagai pekerjaan pembaca. Apakah pembaca pernah berhenti sejenak sesudah sebuah pertanyaan Al-Qur'an dan menjawabnya sendiri sebelum membaca ayat berikutnya?
  • Mengakui bahwa langit dan bumi tidak dibuat oleh kita adalah titik awal yang sederhana. Seorang pendaki yang sampai di puncak dan memandang lembah di bawahnya sering menjadi lebih pelan bicaranya, karena ukuran dirinya terasa. Ayat ini menaruh pembaca pada titik itu lewat satu pertanyaan, dan Allah tidak menambahkan penjelasan. Pembaca bisa bertanya kapan terakhir kali dirinya memandang langit lama-lama dan membiarkan ukuran dirinya terasa.