أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَam 'indahum khazaa'inu rabbikaataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu
  2. أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَam humu l-mushaythiruunaataukah mereka yang berkuasa

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. عِنْدَهُمْ'indahumdi sisi mereka
  3. خَزَائِنُkhazaa'inuperbendaharaan
  4. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  5. أَمْamataukah
  6. هُمُhumumerekalah
  7. الْمُصَيْطِرُونَl-mushaythiruunaorang-orang yang berkuasa

Inti bacaan

Pertanyaan ketiga 'ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa?', menantang klaim tersembunyi tentang otoritas atau kontrol yang sebenarnya tidak mereka miliki.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ, am 'indahum khazaa'inu rabbika am humu l-mushaythiruuna) yang berarti "ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu, ataukah mereka yang berkuasa?" Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu" dan "ataukah mereka yang berkuasa".

Susunan (أَمْ عِنْدَهُمْ, am 'indahum) "ataukah di sisi mereka" ada di dua ayat: 38:9 dan 52:37. Bentuk (أَمْ عِنْدَهُمُ, am 'indahumu), yang bersambung dengan kata sandang sesudahnya, ada di 52:41 dan 68:47. Terjemahan keempat ayat itu memakai "di sisi mereka". Di 38:9 objeknya (خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ, khazaa'inu rahmati rabbika) "perbendaharaan rahmat Tuhanmu", sedangkan di 52:37 objeknya (خَزَائِنُ رَبِّكَ, khazaa'inu rabbika) "perbendaharaan Tuhanmu", frasa yang hanya ada di 52:37.

Kata (خَزَائِنُ, khazaa'inu) berakar خ-ز-ن dan bentuk persis ini ada di lima ayat: 6:50, 11:31, 38:9, 52:37, dan 63:7. Pemetaan kata per kata memberinya "perbendaharaan", dan terjemahan kelimanya memakai "perbendaharaan". Dua bentuk lain dari kata itu, (خَزَائِنِ, khazaa'ini) di 12:55 dan (خَزَائِنَ, khazaa'ina) di 17:100, diterjemahkan sama. Di 63:7 perbendaharaan itu disebut milik Allah dalam kalimat (وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi khazaa'inu s-samaawaati wa-l-ardhi) "padahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi". Di 6:50 dan 11:31 perbendaharaan Allah muncul dalam ucapan seorang rasul yang menyangkal memilikinya, sedangkan di 52:37 pertanyaan itu diajukan kepada para penuduh.

Kata ganti (رَبِّكَ, rabbika) "Tuhanmu" ada di empat ayat dalam surah ini: 52:7, 52:29, 52:37, dan 52:48. Di 52:7 ia menyertai azab, di 52:29 nikmat, di 52:37 perbendaharaan, dan di 52:48 putusan. Keempatnya menyapa sang penyampai, dan hubungan kepemilikan pada perbendaharaan itu dinyatakan lewat sapaan yang sama.

Kata (الْمُصَيْطِرُونَ, l-mushaythiruuna) hanya ada di 52:37, dan pemetaan kata per kata memberinya "orang-orang yang berkuasa". Bentuk tunggalnya (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaythirin) ada di 88:22 saja, dengan terjemahan "penguasa", dalam kalimat "engkau bukanlah penguasa atas mereka". Kedua ayat memakai kata yang sama tentang kewenangan atas orang lain: di 88:22 kewenangan itu disangkal dari sang penyampai, dan di 52:37 kewenangan itu ditanyakan kepada para penuduh. Susunan (أَمْ هُمُ, am humu) "ataukah mereka yang" ada di dua ayat: 52:35 dan 52:37, sehingga pertanyaan tentang pencipta di 52:35 dan tentang penguasa di 52:37 memakai kerangka yang sama.

Tafsiran

Tafsiran ini membaca kedua pertanyaan ayat sebagai penyebutan dua dasar yang lazim dipakai orang untuk menentukan arah suatu urusan: memiliki sumbernya atau memegang kewenangannya. Pertanyaan pertama menyangkut perbendaharaan Tuhanmu, yakni segala yang tersimpan pada Allah. Menurut tafsiran ini, pihak yang hendak menetapkan apa yang pantas diterima dari Allah semestinya memegang sumber atau kewenangan atas urusan itu. Pertanyaan kedua menyangkut kewenangan: ataukah mereka yang berkuasa, sehingga merekalah yang menentukan apa yang diterima dan apa yang ditolak.

Ayat lain sudah menyatakan siapa pemilik perbendaharaan itu. Di 63:7 perbendaharaan langit dan bumi disebut milik Allah, dan di 6:50 serta 11:31 rasul yang menyampaikan wahyu menyangkal memilikinya. Dengan latar itu pertanyaan di 52:37 terbaca sebagai bantahan tersirat. Ayat-ayat tadi menaruh kepemilikan pada Allah dan penyangkalan pada rasul, sehingga klaim para penuduh memerlukan dasar tersendiri.

Kedua pertanyaan diikat oleh satu kata ataukah tanpa jawaban tertulis. Pembaca dibiarkan melihat bahwa penolakan para penuduh tidak bertumpu pada kepemilikan maupun kewenangan, dua dasar yang menurut tafsiran ini dibutuhkan oleh penolakan yang sah. Urutan 52:35 sampai 52:37 bergerak dari diri mereka, ke langit dan bumi, lalu ke perbendaharaan dan kekuasaan. Setiap pertanyaan memperbesar lingkup yang diklaim, dan setiap pertanyaan ditutup tanpa pembuktian.

Renungan dan Hikmah

  • Menolak sesuatu tanpa memegang sumbernya adalah posisi yang rapuh. Seorang pembeli yang menawar harga tanpa mengetahui ongkos produksinya sedang menebak. Ayat ini menanyakan apakah para penuduh memegang sumber yang membuat penolakan mereka bermakna. Pembaca bisa bertanya dalam urusan apa dirinya menolak sesuatu dengan keyakinan penuh, padahal belum pernah memeriksa dasar penolakannya. Penolakan yang sah semestinya sebanding dengan dasarnya, dan pertanyaan ayat ini menguji kesebandingan itu.
  • Memiliki sesuatu dan berwenang atas sesuatu adalah dua hal yang dapat dipisahkan. Pemilik gedung bisa menyerahkan pengelolaan kepada orang lain, dan pengelola gedung bisa memutuskan banyak hal tanpa memilikinya. Ayat ini menanyakan keduanya berurutan, perbendaharaan lalu kekuasaan, sehingga tidak ada klaim yang tertinggal. Pembaca bisa memeriksa bagian hidupnya mana yang diakuinya sebagai milik sendiri dan mana yang sebenarnya dipercayakan kepadanya.
  • Di 6:50 dan 11:31 perbendaharaan Allah muncul dalam ucapan rasul yang menyangkal memilikinya. Seorang kasir bank memegang uang nasabah setiap hari tanpa pernah menjadi pemiliknya, dan kasir yang lupa hal itu mulai memperlakukan uang itu sebagai uangnya. Ayat ini mengajukan pertanyaan yang sama kepada para penuduh, dan 63:7 menyebut perbendaharaan itu milik Allah. Apakah pembaca pernah memperlakukan sesuatu yang dititipkan kepadanya, seperti rezeki, waktu, atau pengetahuan, sebagai miliknya sendiri?
  • Orang yang menyatakan dirinya berwenang biasanya diminta menunjukkan surat penugasannya. Petugas yang datang ke rumah warga tanpa surat tugas pantas ditanya dasar wewenangnya. Allah mengajukan pertanyaan itu dalam bentuk ataukah mereka yang berkuasa, dan ayat ini tidak mengisi jawabannya. Pembaca bisa memeriksa dasar kewenangan apa yang selama ini dipakainya saat menilai, menegur, atau menolak orang lain. Apakah dasar penolakan yang kita pegang sudah pernah diperlihatkan kepada orang lain tanpa rasa gentar?
  • Seorang penyuluh kesehatan menyampaikan informasi dan tidak berwenang memaksa warga mengikutinya. Di 88:22 sang penyampai dinyatakan tidak berkuasa atas mereka, dan di 52:37 pertanyaan yang sama dibalik kepada para penuduh: apakah merekalah yang berkuasa. Dua ayat itu memakai kata yang sama untuk berkuasa. Pembaca bisa menimbang apakah dirinya pernah menuntut kepatuhan dari orang yang hanya diberi informasi, padahal peran yang dipegangnya sebatas menyampaikan.
  • Dalam sebuah pemeriksaan keuangan, pemeriksa memulai dari pertanyaan yang paling dekat, lalu naik ke pertanyaan yang lebih besar sampai semua celah klaim tertutup. Urutan 52:35 sampai 52:37 bergerak dengan irama yang sama: asal diri, asal langit dan bumi, lalu perbendaharaan dan kekuasaan. Allah menyusun pertanyaan dengan lingkup yang membesar. Pembaca bisa melihat apakah penolakan yang dipegangnya akan bertahan bila diperiksa dengan urutan seperti itu.