أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

Ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani utang?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًاam tas'aluhum ajranataukah engkau meminta imbalan kepada mereka
  2. فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَfa-hum min maghramin mutsqaluunasehingga mereka dibebani utang

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. تَسْأَلُهُمْtas'aluhumengkau meminta kepada mereka
  3. أَجْرًاajranupah
  4. فَهُمْfa-hummaka mereka
  5. مِنْmindari
  6. مَغْرَمٍmaghramindenda
  7. مُثْقَلُونَmutsqaluunaorang-orang yang terbebani

Inti bacaan

Pertanyaan keenam dari deret ataukah: 'ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani utang?', menutup kemungkinan bahwa penolakan berasal dari beban biaya yang dipikulkan penyampai pesan. Penegasan ini membebaskan ajakan dari tuduhan bermotif pamrih dan menyisakan sebab penolakan yang lebih mendasar. Rumusannya juga memperlihatkan hubungan sebab dan akibat antara pungutan dan tanggungan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ, am tas'aluhum ajran fa-hum min maghramin mutsqaluuna) yang berarti "ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani utang?" Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah engkau meminta imbalan kepada mereka" dan "sehingga mereka dibebani utang".

Kata kerja (تَسْأَلُهُمْ, tas'aluhum) berakar س-أ-ل dan ada di empat ayat: 12:104, 23:72, 52:40, dan 68:46. Pemetaan kata per kata memberinya "engkau meminta kepada mereka". Ayat 68:46 sama dengan 52:40 kata demi kata, dan 68:47 sama dengan 52:41 yang mengikutinya. Ini kali pertama dalam deret ataukah sejak 52:35 kata kerja ayat berpelaku "engkau", yakni sang penyampai.

Di 12:104 kata kerja yang sama dipakai untuk meniadakan permintaan, (وَمَا تَسْأَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ, wa-maa tas'aluhum 'alayhi min ajrin) "dan engkau tidak meminta kepada mereka atasnya suatu imbalan", dengan lanjutan (إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ, in huwa illaa dzikrun li-l-'aalamiina) "ia tidak lain kecuali peringatan bagi seisi alam". Ayat 52:40 mengubah penegasan itu menjadi pertanyaan yang diarahkan kepada sang penyampai.

Kata (أَجْرًا, ajran) berakar أ-ج-ر. Pemetaan kata per kata memberinya "upah", sedangkan terjemahan ayat menulis "imbalan". Terjemahan "imbalan" dipakai untuk tuntutan yang disangkal oleh para penyampai di 6:90, 10:72, 11:51, 12:104, 25:57, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, 34:47, 36:21, 38:86, 42:23, 52:40, dan 68:46, sehingga 52:40 mengikuti pilihan yang sama. Di 23:72 pertanyaan yang sama memakai kata lain, (خَرْجًا, kharjan), dan terjemahannya juga "imbalan", dengan lanjutan (فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ, fa-kharaaju rabbika khayrun) "maka imbalan Tuhanmu lebih baik".

Kata (مَغْرَمٍ, maghramin) berakar غ-ر-م dan ada di dua ayat: 52:40 dan 68:46, dalam frasa yang sama (مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ, min maghramin mutsqaluuna). Pemetaan kata per kata memberinya "denda", sedangkan terjemahan ayat menulis "utang": orang yang diminta imbalan memikul kewajiban membayar, dan kata dibebani menggandeng kata utang. Bentuk lain dari akar غ-ر-م ada di 9:60, 9:98, 25:65, dan 56:66, dengan terjemahan "berutang" di 9:60, "kerugian" di 9:98, "melekat terus" di 25:65, dan "merugi" di 56:66, karena konteks tiap ayat berbeda: penerima zakat, infak yang dirasakan sebagai beban, azab, dan ucapan penyesalan.

Kata (مُثْقَلُونَ, mutsqaluuna) berakar ث-ق-ل dan ada di dua ayat: 52:40 dan 68:46. Pemetaan kata per kata memberinya "orang-orang yang terbebani", dan terjemahan ayat menulis "mereka dibebani". Awalan (فَ, fa-) pada (فَهُمْ, fa-hum) menyatakan akibat, sehingga terjemahan menulis "sehingga mereka".

Tafsiran

Ayat ini menanyakan apakah penolakan para penuduh berasal dari beban biaya yang dipikulkan sang penyampai kepada mereka. Pertanyaan ditujukan kepada sang penyampai sebagai pelaku, dan jawabannya sudah diketahui dari ayat lain: sang penyampai tidak meminta imbalan, sebagaimana dikatakan di 12:104 dan 38:86.

Dengan cara itu ayat ini menutup satu kemungkinan alasan penolakan, yaitu beratnya tanggungan. Orang cenderung menolak ajakan yang mahal, dan di sini ajakan itu tidak berbiaya. Bila demikian, penolakan mereka tidak dapat dijelaskan oleh biaya, dan kemungkinan lain ditutup oleh ayat-ayat berikutnya.

Rumusan ayat memuat sebab dan akibat: bila imbalan diminta, mereka dibebani utang. Dengan rumusan itu pembaca diajak membayangkan ajakan yang menambah tanggungan lalu memeriksa apakah ajakan yang sedang dibicarakan memang demikian. Jawabannya kembali ke ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa imbalan tidak diminta, termasuk 12:104 yang menyebut isi ajakan itu sebagai peringatan bagi seisi alam, dan di 23:72 pertanyaan yang sama dijawab dengan pernyataan bahwa imbalan Tuhanmu lebih baik.

Deret ataukah berlanjut tiga ayat lagi sesudah ayat ini, sampai 52:43. Pertanyaan tentang imbalan menempati urutan keenam dari sembilan pertanyaan yang dibuka kata ataukah.

Renungan dan Hikmah

  • Ajakan yang tidak disertai biaya menghapus satu alasan penolakan yang paling lazim. Warga yang menolak ikut kerja bakti dengan alasan harus patungan akan kehilangan alasannya bila acara itu gratis. Ayat ini menanyakan apakah sang penyampai meminta sesuatu dari mereka, dan jawabannya sudah diketahui dari 12:104 dan 38:86: tidak ada permintaan imbalan. Pembaca bisa memeriksa apakah penolakan yang sering diucapkannya berhubungan dengan biaya, waktu, atau kenyamanan yang takut hilang.
  • Pertanyaan ini mengarah kepada sang penyampai sendiri. Konsultan yang bekerja tanpa honor lebih mudah dipercaya nasihatnya daripada yang menggantungkan penghasilan pada keputusan kliennya. Orang yang dilayani gratis oleh seorang penasihat sering mulai memperhatikan isi nasihatnya, sebab alasan untuk mencurigai motifnya berkurang. Allah menaruh sang penyampai pada posisi itu. Pembaca bisa bertanya apakah dirinya lebih mudah mempercayai nasihat dari orang yang tidak memperoleh keuntungan dari nasihat tersebut.
  • Kata dibebani utang menggambarkan tekanan keuangan yang membuat orang enggan menerima apa pun yang menambah tanggungan. Karyawan yang cicilannya menumpuk akan curiga pada setiap tawaran yang meminta iuran. Ayat ini menyebut perasaan itu dan menanyakan apakah memang itu penyebabnya. Hal apa yang pernah membuatnya enggan mencari tahu sebuah kebenaran karena takut pada tanggungan yang menyertainya? Di ayat ini beban itu disebut utang, sebuah kewajiban yang terus terasa sampai lunas.
  • Pertanyaan tentang imbalan diajukan juga di 23:72 dan 68:46. Di 23:72 kalimat itu disusul pernyataan bahwa imbalan Tuhanmu lebih baik, dan di 68:46 kalimatnya sama dengan 52:40. Dosen yang mengulang syarat penilaian yang sama di beberapa mata kuliah memberi sinyal bahwa syarat itu tetap. Pembaca bisa memperhatikan pokok apa yang diulang-ulang dalam bacaannya dan bertanya mengapa pokok itu ditekankan.
  • Penyangkalan tuntutan imbalan diucapkan para penyampai di banyak ayat, termasuk lima kali dengan kalimat yang sama di 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, dan 26:180. Relawan yang berulang kali menyatakan tidak menerima honor di berbagai acara membangun reputasi yang dapat diperiksa. Ayat ini memakai catatan itu sebagai dasar pertanyaan. Pembaca bisa memeriksa apakah ajakan yang diterimanya dari orang lain disertai kepentingan yang tidak diucapkan. Pengulangan kalimat yang sama dari banyak penyampai memberi pembaca ukuran untuk membandingkan siapa pun yang datang dengan ajakan.
  • Pertanyaan ini menempati urutan keenam dari sembilan pertanyaan berawalan ataukah di 52:35 sampai 52:43. Pemeriksaan kelayakan proyek yang memeriksa tujuan, biaya, dan kewenangan secara berurutan membuat pelaksana tidak bisa memakai satu alasan untuk menghindar. Allah menyusun deret itu sehingga satu per satu alasan penolakan disingkirkan. Pembaca bisa menuliskan semua alasannya menunda sebuah kebenaran, lalu memeriksa mana yang bertahan.