أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

Ataukah di sisi mereka ada yang gaib, lalu mereka menuliskannya?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُam 'indahumu l-ghaybuataukah di sisi mereka ada yang gaib
  2. فَهُمْ يَكْتُبُونَfa-hum yaktubuunalalu, mereka menuliskannya

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. عِنْدَهُمُ'indahumudi sisi mereka
  3. الْغَيْبُl-ghaybuyang gaib
  4. فَهُمْfa-hummaka mereka
  5. يَكْتُبُونَyaktubuunamenulis

Inti bacaan

Pertanyaan ketujuh dari deret ataukah, 'ataukah di sisi mereka ada yang gaib, lalu mereka menuliskannya?', menantang klaim tentang akses pada yang gaib yang sebenarnya tidak mereka miliki. Susunan dua tahap itu membedakan memiliki yang gaib dari menuliskannya, dan pembedaan itu memperlihatkan bahwa klaim yang tertulis tetap memerlukan akses yang dapat ditunjukkan. Dalam keseharian, kabar yang disebar tanpa sumber jelas sering tampak meyakinkan karena rapi, panjang, dan berbentuk catatan resmi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ, am 'indahumu l-ghaybu fa-hum yaktubuuna) yang berarti "ataukah di sisi mereka ada yang gaib, lalu mereka menuliskannya?" Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah di sisi mereka ada yang gaib" dan "lalu, mereka menuliskannya".

Tambahan '(pengetahuan)' tidak dipakai: 'al-ghayb' berdiri sendiri sebagai kata benda (yang gaib/tersembunyi). Kata ganti '-nya' pada 'menuliskannya' mewakili 'yang gaib' dari bagian pertama ayat, karena kata kerja menulis dalam bahasa Indonesia memerlukan objek, sedangkan teks Arab tidak memuat kata ganti objek pada (يَكْتُبُونَ, yaktubuuna). Awalan (فَ, fa-) pada (فَهُمْ, fa-hum) menyatakan akibat, sehingga terjemahan menulis "lalu, mereka".

Susunan (أَمْ عِنْدَهُمُ, am 'indahumu) "ataukah di sisi mereka" ada di dua ayat: 52:41 dan 68:47, dan kedua ayat itu sama kata demi kata. Ayat 68:47 mengikuti 68:46 seperti 52:41 mengikuti 52:40, dan 68:46 sama dengan 52:40, sehingga dua pasang pertanyaan itu muncul dua kali dengan urutan yang sama. Terjemahan keduanya sama, "ataukah di sisi mereka ada yang gaib, lalu mereka menuliskannya?".

Kata (الْغَيْبُ, l-ghaybu) "yang gaib" ada di tiga ayat dalam bentuk persis ini: 10:20, 52:41, dan 68:47. Di 10:20 kata itu muncul dalam jawaban kepada orang yang menuntut tanda: (إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ, innamaa l-ghaybu li-llaahi) "sungguh, yang gaib hanya milik Allah", disusul perintah menunggu (فَانْتَظِرُوا, fa-ntazhiruu) dan pernyataan bahwa sang penyampai termasuk orang-orang yang menunggu bersama mereka. Di 52:41 yang gaib ditanyakan sebagai sesuatu yang mungkin berada di sisi para penuduh.

Kata kerja (يَكْتُبُونَ, yaktubuuna) berakar ك-ت-ب dan ada di lima ayat: 2:79, 10:21, 43:80, 52:41, dan 68:47. Pemetaan kata per kata memberinya "menulis". Terjemahan memakai "menulis" di 2:79, tempat pelakunya manusia yang menyusun Kitab dengan tangan mereka, dan "menuliskan" di 52:41 dan 68:47, tempat pelakunya manusia yang menuliskan apa yang mereka klaim sebagai yang gaib. Di 10:21 dan 43:80 terjemahannya "mencatat", karena pelakunya utusan-utusan Allah yang mencatat makar serta rahasia dan bisikan manusia, dalam kalimat (إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ, inna rusulanaa yaktubuuna) di 10:21 dan (وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ, wa-rusulunaa ladayhim yaktubuuna) di 43:80.

Ayat ini menempati urutan ketujuh dari sembilan pertanyaan berawalan ataukah (أَمْ, am) di 52:35 sampai 52:43. Ayat 52:38 menanyakan sarana untuk mendengar, dan ayat ini menanyakan apakah yang gaib ada pada mereka dan apakah mereka menuliskannya, sehingga dua ayat itu menyoal dua tahap yang berurutan: akses dan pencatatan.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian pertanyaan retoris: mempertanyakan klaim mereka atas pengetahuan yang tersembunyi bagi manusia dan hanya ada di sisi Allah. Pertanyaan ini terdiri atas dua tahap. Tahap pertama menanyakan kepemilikan yang gaib, dan tahap kedua menanyakan apa yang mereka lakukan dengannya: mereka menuliskannya, sehingga klaim itu berubah menjadi catatan yang dapat dibaca orang lain.

Pembacaan ini ditopang oleh tiga ayat lain. Di 10:20 yang gaib dinyatakan milik Allah, dan jawaban atas tuntutan tanda adalah menunggu. Di 10:21 utusan-utusan Allah mencatat makar manusia, dan di 43:80 mereka mencatat rahasia dan bisikan manusia. Dengan latar itu, klaim para penuduh dua kali bertentangan dengan pola ayat-ayat tadi: mereka menempatkan diri sebagai pemilik yang gaib dan sebagai penulisnya, sedangkan ayat-ayat tadi menaruh yang gaib pada Allah dan pencatatan atas manusia pada utusan-Nya.

Ayat ini tidak menjawab pertanyaannya dengan penolakan. Pembaca dibiarkan menimbang bahwa catatan tentang yang gaib memerlukan akses, dan akses itu sudah ditanyakan di 52:38 tanpa jawaban dari pihak yang mengaku. Dengan susunan itu, ayat ini menutup satu jalan pembelaan lagi bagi penolakan mereka. Pertanyaan yang menggabungkan akses dan pencatatan ini menimbang apakah klaim mereka tentang yang gaib bertumpu pada sumber yang dapat diperiksa.

Renungan dan Hikmah

  • Klaim tahu harus punya asal. Seorang pegawai yang menyebarkan isi rapat direksi yang tertutup akan ditanya dari mana dia mengetahuinya, dan jawaban yang kabur membuat klaimnya runtuh. Ayat ini menanyakan akses, tidak menanyakan isi klaim: ada atau tidak yang gaib di sisi mereka. Allah menaruh pertanyaan itu tanpa menambahkan sanggahan. Informasi apa yang pernah kita sebarkan seolah-olah kita tahu, padahal sumbernya tak pernah kita telusuri?
  • Ayat sebelumnya menanyakan tangga untuk mendengar, dan ayat ini menanyakan tulisan. Dua tahap itu mudah dilihat pada notulen rapat yang ditulis oleh orang yang tidak hadir: kalimatnya rapi, formatnya meyakinkan, tetapi akses ke isi rapatnya tak pernah ada. Menuliskan sebuah klaim memberinya penampilan yang kokoh, dan Allah menanyakan penampilan itu bersama pertanyaan tentang aksesnya. Pembaca bisa memeriksa catatan atau kutipan apa yang selama ini dipercayainya hanya karena tampil dalam bentuk tertulis.
  • Di 10:20 yang gaib dinyatakan milik Allah, dan jawaban kepada penuntut tanda adalah menunggu. Peserta ujian yang menunggu pengumuman tidak dapat menuliskan hasilnya sendiri sebelum hasil itu diumumkan, dan tulisannya sebelum waktunya tidak mengubah hasil apa pun. Ayat ini mengembalikan pertanyaan kepada para penuduh: bila yang gaib milik Allah, dari mana mereka menuliskannya? Apakah ada hal dalam hidup pembaca yang selama ini dituliskan hasilnya padahal waktunya belum tiba?
  • Di 10:21 utusan-utusan Allah mencatat makar manusia, dan di 43:80 mereka mencatat rahasia dan bisikan manusia. Auditor independen mencatat apa yang terjadi di sebuah perusahaan, dan pengelola yang membuat laporan sendiri tentang dirinya tidak menggantikan peran itu. Ayat ini menanyakan apakah para penuduh memegang catatan tentang yang gaib. Pembaca bisa bertanya peran apa yang kadang diambilnya sendiri, seperti hakim atas orang lain atau pencatat nasib.
  • Tulisan memberi bobot yang tidak dimiliki ucapan. Kuitansi yang ditulis rapi lebih mudah diterima daripada pengakuan lisan tentang pembayaran, padahal keduanya bisa sama-sama keliru. Ayat ini menyebut tindakan menulis tepat di tempat klaim menjadi tampak resmi. Allah tidak menilai tulisan itu, tetapi menanyakan apa yang melandasinya. Apakah pembaca terbiasa menimbang isi sebuah catatan lebih dulu sebelum mempercayai karena bentuknya tertulis?
  • Pertanyaan ini menempati urutan ketujuh dari sembilan pertanyaan berawalan ataukah. Seorang dokter yang mencoret dugaan penyakit satu per satu tidak perlu menyebut diagnosis akhirnya sejak awal, karena daftar yang menyusut sudah menunjuk ke arahnya. Allah menyusun deret ayat ini dengan cara serupa: asal diri, langit dan bumi, perbendaharaan, tangga, tulisan tentang yang gaib. Pembaca bisa menuliskan daftar alasan yang pernah dipakainya untuk menunda sebuah kebenaran, lalu mencoret satu per satu yang tidak tahan diperiksa.