أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ

Ataukah mereka hendak melakukan siasat? Maka, orang-orang yang kufur, merekalah yang terkena siasat.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًاam yuriiduuna kaydanataukah mereka hendak melakukan siasat
  2. فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَfa-lladziina kafaruu humu l-makiiduunamaka, orang-orang yang kufur, merekalah yang terkena siasat

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. يُرِيدُونَyuriiduunamereka menghendaki
  3. كَيْدًاkaydansiasat
  4. فَالَّذِينَfa-lladziinamaka orang-orang yang
  5. كَفَرُواkafaruukufur
  6. هُمُhumumerekalah
  7. الْمَكِيدُونَl-makiiduunaorang-orang yang ditipu

Inti bacaan

Pertanyaan kedelapan dari deret ataukah, 'ataukah mereka hendak melakukan siasat?' dijawab tegas 'orang-orang yang kufur, merekalah yang terkena siasat', rencana jahat yang berbalik menjerat perencananya sendiri. Akar yang sama pada niat dan akibat memperlihatkan keadilan timbal balik yang berlaku bagi perencana kejahatan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ, am yuriiduuna kaydan fa-lladziina kafaruu humu l-makiiduuna) yang berarti "ataukah mereka hendak melakukan siasat? Maka, orang-orang yang kufur, merekalah yang terkena siasat." Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi dua jeda: "ataukah mereka hendak melakukan siasat" dan "maka, orang-orang yang kufur, merekalah yang terkena siasat".

Kata penegas pada 'humu' adalah kata ganti pemisah (fasl) untuk penegasan, bukan kata tunjuk dzaalika/haadzaa: diterjemahkan konsisten dengan luas pola 'humu X' menjadi 'merekalah yang X' di seluruh proyek (mis. 3:117, 5:56, 11:101, 16:33, 37:172). Di ayat ini subjeknya frasa yang panjang, (فَالَّذِينَ كَفَرُوا, fa-lladziina kafaruu) "maka, orang-orang yang kufur", sehingga penegas itu diletakkan sesudah frasa itu.

Kata kerja (يُرِيدُونَ, yuriiduuna) berakar ر-و-د dan ada di tiga belas ayat: 4:60, 4:91, 5:37, 6:52, 9:32, 18:28, 28:79, 28:83, 30:38, 33:13, 48:15, 52:42, dan 61:8. Pemetaan kata per kata memberinya "mereka menghendaki". Terjemahan memakai "hendak" bila ayat menyebut tindakan yang dirancang terhadap pihak lain atau terhadap kebenaran, seperti di 4:60, 9:32, 33:13, 48:15, 52:42, dan 61:8, dan memakai kata lain bila ayat menyebut keadaan atau wajah Allah, seperti "ingin" di 4:91 dan 5:37, "mengharapkan" di 6:52 dan 18:28, serta "menginginkan" atau "menghendaki" di 28:79 dan 30:38.

Kata (كَيْدًا, kaydan) berakar ك-ي-د dan ada di enam ayat: 12:5, 21:70, 37:98, 52:42, 86:15, dan 86:16. Pemetaan kata per kata memberinya "siasat", dan terjemahan keenam ayat itu memakai "siasat". Di 21:70 dan 37:98 kata itu ada dalam kalimat (وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا, wa-araaduu bihi kaydan) "dan mereka hendak melakukan siasat terhadapnya", yang disusul (فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ, fa-ja'alnaahumu l-akhsariina) "tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi" di 21:70 dan (فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ, fa-ja'alnaahumu l-asfaliina) "tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling hina" di 37:98. Di 86:15 dan 86:16 kata yang sama dipakai untuk pihak yang merencanakan dan untuk Allah.

Kata (الْمَكِيدُونَ, l-makiiduuna) hanya ada di 52:42. Pemetaan kata per kata memberinya "orang-orang yang ditipu", dan terjemahan ayat menulis "yang terkena siasat". Kata "ditipu" menyiratkan pihak lain yang menipu, sedangkan bentuk Arabnya adalah pelaku pasif dari akar yang sama dengan (كَيْدًا, kaydan) di bagian pertama ayat. Terjemahan "terkena siasat" menjaga agar kata yang sama tampak di dua bagian ayat itu, yaitu "siasat" pada pertanyaan dan "siasat" pada jawaban.

Ayat ini menempati urutan kedelapan dari sembilan pertanyaan berawalan ataukah (أَمْ, am) di 52:35 sampai 52:43. Ayat ini menjawab pertanyaannya sendiri di bagian kedua, dengan (فَ, fa-) "maka" yang menandai akibat.

Tafsiran

Ayat ini membalikkan tuduhan: siasat yang mereka rencanakan akan menjerat diri mereka sendiri. Pertanyaan pertama menanyakan niat siasat mereka. Bagian kedua menyebut siapa yang akhirnya terkena, tanpa membantah niat itu. Orang-orang yang kufur disebut sebagai pihak yang terkena siasat, dan penyebutan itu memakai akar kata yang sama dengan siasat yang hendak mereka lakukan.

Pola ini sudah terlihat di dua ayat lain. Di 21:70 dan 37:98 kaum yang hendak melakukan siasat terhadap seorang rasul dijadikan orang-orang yang paling rugi dan paling hina. Dengan latar itu, 52:42 membaca niat siasat sebagai jalan menuju kerugian bagi perancangnya. Ayat ini tidak menyebut siapa yang membalikkan siasat itu, dan susunannya berhenti pada keadaan mereka sendiri.

Hubungan dengan ayat-ayat sebelumnya patut dicatat. Di 52:30 mereka disebut menunggu kematian sang penyampai, dan di 52:31 sang penyampai diminta menunggu bersama mereka. Siasat yang ditanyakan di 52:42 menambah satu kemungkinan lagi di antara pertanyaan tentang asal, kuasa, pengetahuan gaib, dan imbalan, dan jawabannya menutup kemungkinan itu dengan hasil yang berbalik. Kata siasat yang muncul dua kali dalam satu ayat memperlihatkan hubungan sebab dan akibat dengan jelas, karena akibatnya dinamai dengan kata yang sama dengan niatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata siasat dipakai dua kali dalam satu ayat, untuk pihak yang merancang dan untuk pihak yang terkena. Sopir yang memotong jalan dengan sengaja lalu menabrak pembatas jalan sedang mengalami hal itu: gerakan yang ditujukan kepada orang lain berakhir pada dirinya. Allah memakai akar yang sama pada pertanyaan dan jawabannya sehingga pembalikan itu terdengar. Pembaca bisa memperhatikan rencana apa yang pernah disiapkannya untuk orang lain dan kembali mengenai dirinya sendiri.
  • Jawaban datang sebelum rencananya berjalan. Seorang peserta lomba yang menaruh paku di jalur lawan lalu terlebih dahulu terjatuh di jalur itu tidak sempat menikmati rencananya. Ayat ini menyebut hasil sebelum ada kejadian, dan Allah menaruh hasil itu pada pihak yang merencanakan. Apakah pembaca pernah menyiapkan sesuatu untuk menjatuhkan orang lain dan kemudian mendapati bahwa rencana itu lebih dulu menyulitkan dirinya sendiri? Dalam permainan papan, pemain yang menjebak lawan sering lebih dulu terjebak oleh langkahnya sendiri.
  • Ayat ini menyebut akibat dan membiarkan niat tanpa bantahan. Seorang hakim yang mendengar terdakwa berkata hendak menipu tidak harus berdebat tentang niat itu, cukup menyebut apa yang akan terjadi sesudahnya. Allah memakai cara itu kepada para penuduh. Pembaca bisa menimbang apakah dalam perselisihan sehari-hari dirinya lebih sering membantah niat orang lain atau menyebutkan akibat yang akan mengenai mereka dengan tenang.
  • Di 21:70 dan 37:98 kaum yang hendak melakukan siasat terhadap seorang rasul dijadikan orang-orang yang paling rugi dan paling hina. Tiga ayat dengan pola yang sama menunjukkan bahwa Allah memakai pola pembalikan ini berulang kali. Pengajar yang mengulang contoh dalam beberapa pertemuan sedang menekankan pelajaran yang sama. Apakah pembaca mengenali pola semacam ini dalam perjalanan hidupnya, ketika usaha menjatuhkan orang lain berbalik kepada pelakunya?
  • Kalimatnya berhenti pada keadaan mereka, tanpa menyebut siapa yang membalas. Rumah yang digerogoti rayap dari dalam runtuh tanpa ada orang yang mendorongnya. Ayat ini memberi gambaran yang sama: pihak yang merancang siasat terkena siasat itu sendiri. Allah tidak menyebut tangan lain di antara perancang dan akibatnya, dan hubungan itu dibiarkan langsung. Pembaca bisa bertanya hal apa dalam kebiasaannya yang pelan-pelan merugikan dirinya sendiri tanpa pernah ada orang lain yang memintanya.
  • Pertanyaan ini menempati urutan kedelapan dari sembilan pertanyaan, dan jawabannya dimuat di dalam ayatnya sendiri. Dalam wawancara yang panjang, pewawancara yang sesekali menjawab sendiri pertanyaannya memberi tahu bahwa sebagian pertanyaan memang tidak menunggu jawaban. Allah menyisipkan jawaban di tengah deret tanya. Pembaca bisa memperhatikan saat sebuah pertanyaan dalam hidupnya sebenarnya sudah mengandung jawaban, dan apakah dirinya mau menerima jawaban itu.