وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ
Dan jika mereka melihat kepingan dari langit jatuh, mereka berkata, “Awan yang bertumpuk.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًاwa-in yaraw kisfan mina s-samaa'i saaqithandan jika mereka melihat kepingan dari langit jatuh
- يَقُولُواyaquuluumereka berkata
- سَحَابٌ مَرْكُومٌsahaabun markuumunawan yang bertumpuk
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَإِنْwa-indan jika
- يَرَوْاyarawmereka melihat
- كِسْفًاkisfangumpalan
- مِنَminadari
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- سَاقِطًاsaaqithanyang jatuh
- يَقُولُواyaquuluumereka berkata
- سَحَابٌsahaabunawan
- مَرْكُومٌmarkuumunbertindih-tindih
Inti bacaan
Kekerasan hati ekstrem: 'dan jika mereka melihat kepingan dari langit jatuh, mereka berkata, awan yang bertumpuk', penolakan yang begitu mendalam hingga bukti visual paling dramatis pun tetap dicari alasan alternatif yang masuk akal secara duniawi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ, wa-in yaraw kisfan mina s-samaa'i saaqithan yaquuluu sahaabun markuumun) yang berarti "dan jika mereka melihat kepingan dari langit jatuh, mereka berkata, 'Awan yang bertumpuk.'" Terjemahan bertahapnya membagi ayat ini menjadi tiga jeda: "dan jika mereka melihat kepingan dari langit jatuh", "mereka berkata", dan "awan yang bertumpuk".
Kutipan dibuka oleh 'yaquuluu' dan ditutup dalam ayat ini sendiri. Susunan (وَإِنْ يَرَوْا, wa-in yaraw) "dan jika mereka melihat" ada di empat ayat: 6:25, 7:146, 52:44, dan 54:2. Di 54:2 susunan itu disusul perbuatan berpaling dan ucapan (سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ, sihrun mustamirrun) "sihir yang terus-menerus", dan di 6:25 disusul penolakan beriman terhadap setiap tanda. Di 52:44 dan 54:2 reaksi yang disebut sama-sama berupa ucapan yang diawali (يَقُولُوا, yaquuluu) "mereka berkata".
Kata (كِسْفًا, kisfan) hanya ada di 52:44 dalam bentuk persis ini. Pemetaan kata per kata memberinya "gumpalan", sedangkan terjemahan ayat menulis "kepingan". Bentuk lain dari kata itu, (كِسَفًا, kisafan), ada di empat ayat: 17:92, 26:187, 30:48, dan 34:9. Terjemahan "kepingan" atau "berkeping-keping" dipakai di 17:92, 26:187, dan 34:9, yang semuanya membicarakan sesuatu yang dijatuhkan dari langit, dan terjemahan 52:44 mengikuti pilihan yang sama. Di 30:48 kata itu menyifati awan yang dibentangkan Allah dan diterjemahkan "bergumpal-gumpal", karena ayat itu menggambarkan awan yang bergumpal, tanpa benda yang jatuh.
Kata (سَاقِطًا, saaqithan) "yang jatuh" hanya ada di 52:44. Kata kerja dari akar yang sama, "menjatuhkan", ada pada tiga ayat tadi: (تُسْقِطَ, tusqitha) di 17:92, (فَأَسْقِطْ, fa-asqith) di 26:187, dan (نُسْقِطْ, nusqith) di 34:9. Di 17:92 dan 26:187 kepingan dari langit adalah permintaan para penantang, dan di 34:9 kepingan itu adalah ancaman. Di 52:44 kepingan itu muncul sebagai sesuatu yang mereka lihat jatuh.
Kata (سَحَابٌ, sahaabun) "awan" ada di dua ayat dalam bentuk persis ini: 24:40 dan 52:44. Kata (مَرْكُومٌ, markuumun) hanya ada di 52:44, dan pemetaan kata per kata memberinya "bertindih-tindih". Akar ر-ك-م ada di tiga ayat: 8:37, 24:43, dan 52:44. Di 24:43 bentuknya (رُكَامًا, rukaaman) dalam kalimat tentang Allah yang mengarahkan awan, menyatukannya, lalu menjadikannya "bertumpuk-tumpuk", sehingga hujan keluar dari celah-celahnya. Terjemahan 52:44, "awan yang bertumpuk", memakai kata yang sama dengan 24:43. Ayat ini terdiri atas sembilan kata dalam pemetaan kata per kata, dan tiga di antaranya hanya ada di sini: (كِسْفًا, kisfan), (سَاقِطًا, saaqithan), dan (مَرْكُومٌ, markuumun).
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan keras kepala mereka, bahkan tanda kehancuran nyata pun akan mereka sangkal dengan penjelasan biasa. Pengandaiannya menyebut pemandangan paling dramatis: kepingan dari langit jatuh di depan mata mereka. Reaksi yang disebut tidak berupa ketakutan atau pengakuan. Reaksi itu berupa satu nama yang lazim, yaitu awan yang bertumpuk.
Nama itu dipilih karena sifatnya yang biasa. Di 24:43 awan bertumpuk adalah bagian dari peristiwa alam yang berujung hujan, sehingga menamai kepingan yang jatuh dengan gambaran itu mengubah sesuatu yang mengguncang menjadi kejadian sehari-hari. Di 17:92 dan 26:187 para penantang menuntut kepingan dari langit sebagai bukti, dan di 52:44 ayat menyebut bahwa bila tuntutan itu terpenuhi pun, penamaan mereka sudah disiapkan.
Ayat ini berdiri sesudah sembilan pertanyaan yang menutup dasar-dasar penolakan. Bila dasar-dasar itu sudah tertutup dan tanda yang paling jelas pun diberi nama biasa, yang tersisa dari penolakan itu adalah sikap, dan sikap tidak berubah oleh tambahan tanda. Ayat 54:2 menyebut pola yang sejajar: mereka melihat tanda, berpaling, lalu berkata sihir yang terus-menerus. Susunan ini memperlihatkan bahwa jumlah dan kejelasan tanda tidak menentukan penerimaan.
Renungan dan Hikmah
- Penjelasan biasa sudah tersedia sebelum tandanya muncul. Seorang karyawan yang selalu menjawab kebakaran kecil di dapur kantor dengan kata korsleting biasa tidak lagi memeriksa sumber apinya. Ayat ini menyebut ucapan yang disiapkan lebih dulu, dan Allah menaruh ucapan itu di mulut mereka sebelum kejadiannya. Pembaca bisa memeriksa penjelasan biasa apa yang sudah disiapkannya untuk hal-hal yang belum terjadi dalam hidupnya. Alarm yang dimatikan sebelum diperiksa menunda masalah yang sama sampai menjadi lebih besar.
- Yang menakutkan dijinakkan dengan kata. Pasien yang menyebut nyeri dada berhari-hari sebagai masuk angin sedang memakai nama yang menenangkan untuk gejala yang mengganggu. Ayat ini menunjukkan kebiasaan itu dalam skala terbesar: kepingan dari langit dinamai awan. Allah tidak mengomentari kata yang dipilih, dan ketenangan yang ditimbulkannya sudah terbaca dari susunan kalimatnya. Apakah ada gejala dalam hidup pembaca yang selama ini hanya dihadapi lewat nama yang menenangkan?
- Ayat ini berbentuk pengandaian, dan isinya membaca watak. Guru yang berpengalaman tahu bahwa murid tertentu akan berkata kebetulan, meskipun nilai ujiannya sempurna. Allah menyebut apa yang akan mereka katakan sebelum mereka mengatakannya. Dengan begitu, penolakan yang bertumpu pada sikap terbaca dari jauh. Pembaca bisa menimbang apakah ada hal yang sudah diputuskannya untuk tidak dipercaya, apa pun yang nanti diperlihatkan kepadanya.
- Awan yang bertumpuk disebut juga di 24:43 sebagai bagian dari rancangan Allah yang berujung hujan. Petani yang melihat awan bertumpuk dan berkata akan hujan sedang membaca alam dengan benar, dan di 24:43 gambaran itu dipakai untuk menunjuk pekerjaan Allah. Di 52:44 gambaran yang sama dipakai untuk menutupi sesuatu yang lain. Kapan penjelasan yang wajar menjadi tameng, dan kapan penjelasan itu benar-benar menerangkan apa yang dilihat?
- Kepingan dari langit adalah tuntutan di 17:92 dan 26:187. Orang yang menantang lawan bicaranya untuk membuktikan sesuatu lalu menamai bukti itu kebetulan ketika bukti itu datang memperlihatkan bahwa tuntutannya tidak pernah berniat dipenuhi. Ayat ini menggambarkan gerak itu dari ujung ke ujung. Pembaca bisa bertanya tuntutan bukti apa yang pernah diajukannya kepada orang lain, dan apakah dirinya siap menerima bukti itu bila datang. Tuntutan yang tidak pernah ingin dipenuhi sering diajukan ketika jawabannya dianggap mustahil diberikan.
- Pola ini muncul juga di 54:2, ketika mereka melihat tanda lalu berpaling dan berkata sihir yang terus-menerus. Orang yang punya daftar pendek kata penampung untuk setiap kejadian luar biasa, seperti kebetulan, biasa saja, atau terlalu dibesar-besarkan, akan selalu menemukan kata yang cocok. Pembaca bisa mencatat kata penampung apa yang paling sering dipakainya bila sesuatu yang tak terduga terjadi.