بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ

Demi bintang ketika jatuh,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰwa-n-najmi idzaa hawaademi bintang ketika jatuh

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالنَّجْمِwa-n-najmidemi bintang
  2. إِذَاidzaaketika
  3. هَوَىٰhawaajatuh

Inti bacaan

Ketika sebuah pegangan lama runtuh, entah atasan yang dikagumi atau rencana yang dibangun bertahun-tahun, menuliskan apa yang masih bisa dipegang, lalu menyerahkan sisanya kepada Allah dalam doa pendek sebelum tidur.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ, wa-n-najmi idzaa hawaa) yang berarti "demi bintang ketika jatuh". Susunannya terdiri atas tiga kata, yaitu huruf sumpah yang melekat pada kata bintang, kata penunjuk waktu (إِذَا, idzaa) yang berarti "ketika", dan sebuah kata kerja lampau. Surah 53 dibuka dengan sumpah ini tanpa huruf-huruf terpisah, sama seperti 51:1 dan 52:1 yang juga dibuka dengan sumpah.

Kata (وَالنَّجْمِ, wa-n-najmi) berakar ن-ج-م, dan akar ini dipakai di 13 ayat. Bentuk tunggalnya ada di 4 ayat (16:16, 53:1, 55:6, 86:3), sedangkan bentuk jamaknya ada di 9 ayat (6:97, 7:54, 16:12, 22:18, 37:88, 52:49, 56:75, 77:8, 81:2). Dua di antaranya menyebut bintang sebagai penunjuk arah. Di 6:97 Allah menjadikan bintang-bintang (لِتَهْتَدُوا بِهَا, li-tahtaduu bihaa) yang berarti "agar kalian mendapat petunjuk dengannya" dalam kegelapan darat dan laut, dan 16:16 menyebut (وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ, wa-bi-n-najmi hum yahtaduuna) yang berarti "dan dengan bintang mereka mendapat petunjuk". Di 86:3 bintang disifati sebagai (النَّجْمُ الثَّاقِبُ, an-najmu ts-tsaaqibu) yang berarti "bintang yang menembus". Ayat ini tidak menamai bintangnya, sehingga terjemahan cukup memakai kata "bintang" tanpa keterangan tambahan.

Kata kerja (هَوَىٰ, hawaa) berakar ه-و-ي dan berbentuk lampau. Al-Qur'an memakai kata kerja ini di 8 ayat (2:87, 5:70, 14:37, 20:81, 22:31, 53:1, 53:23, 53:53) untuk dua gerak. Gerak pertama berupa jatuh atau terhempas. Di 20:81 ancaman bagi orang yang ditimpa kemurkaan Allah ditutup dengan (فَقَدْ هَوَىٰ, fa-qad hawaa) yang berarti "maka sungguh dia jatuh binasa", 22:31 menggambarkan orang yang menyekutukan Allah seperti jatuh dari langit lalu dibawa angin ke tempat yang jauh, dan 53:53 menyebut negeri yang dijungkirbalikkan dengan kata (أَهْوَىٰ, ahwaa) yang berarti "Dia jatuhkan". Gerak kedua berupa condong kepada yang diingini. Di 2:87 dan 5:70 rasul-rasul membawa apa yang tidak diingini jiwa kaumnya, doa di 14:37 memohon agar hati sebagian manusia condong kepada keluarga yang ditempatkan di lembah tandus, dan 53:23 menyebut orang-orang yang mengikuti (وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ, wa-maa tahwaa l-anfusu) yang berarti "dan apa yang diinginkan hawa nafsu".

Terjemahan memakai "jatuh" untuk hawaa, sejalan dengan kata per kata 20:81. Kata "terbenam" sudah dipakai untuk akar غ-ر-ب, misalnya di 18:86 dan dalam "dua tempat terbenam" di 55:17, dan juga untuk (وَإِدْبَارَ النُّجُومِ, wa-idbaara n-nujuumi) di 52:49 yang berarti "dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang". Memakai satu kata Indonesia untuk tiga kata Arab yang berlainan akan menghapus bedanya. Ayat ini juga tidak menerangkan apakah jatuhnya bintang berarti tenggelam di cakrawala atau gerak lain yang lebih cepat, dan kata "jatuh" membiarkan kemungkinan itu tetap terbuka.

Sumpah berpola "demi X ketika Y" ada di 12 ayat, yaitu 53:1, 74:34, 81:17, 81:18, 84:18, 89:4, 91:2, 91:3, 91:4, 92:1, 92:2, dan 93:2. Lima di antaranya bersumpah demi malam (81:17, 89:4, 91:4, 92:1, 93:2), dua demi subuh (74:34, 81:18), dua demi bulan (84:18, 91:2), dan dua demi siang (91:3, 92:2). Contohnya (وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ, wa-l-qamari idzaa ttasaqa) di 84:18 yang berarti "dan demi bulan apabila purnama". Pada kedua belas ayat itu, sumpah jatuh pada benda atau waktu tepat ketika keadaannya berubah, seperti malam yang berlalu atau bulan yang menjadi penuh. Bintang muncul dalam pola ini sekali, di 53:1, dan perubahan yang dipilih untuknya berupa jatuh.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sumpah, dan isi sumpahnya datang di 53:2, yaitu bahwa kawan mereka tidak sesat. Al-Qur'an menyebut bintang sebagai sarana untuk mendapat petunjuk arah (6:97, 16:16), sedangkan 53:2 menyangkal kesesatan, keadaan orang yang kehilangan petunjuk. Sumpah dan isinya bertemu pada soal arah. Benda yang biasa dipakai untuk menemukan jalan disebut pada saat jatuh, lalu Allah menegaskan bahwa kawan mereka tidak kehilangan jalan. Bacaan ini bertumpu pada susunan kedua ayat, sebab alasan pemilihan bintang dibiarkan terbuka oleh teksnya.

Urutan sumpah demi benda langit yang disusul pernyataan tentang wahyu muncul juga di dua tempat lain. Di 56:75 Allah bersumpah (فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ, fa-laa uqsimu bi-mawaaqi'i n-nujuumi) yang berarti "maka, Aku bersumpah demi tempat-tempat beredarnya bintang-bintang", lalu 56:77 menyatakan (إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ, innahu la-qur'aanun kariimun) yang berarti "sesungguhnya itu benar-benar Al-Qur'an yang mulia". Di 81:15-16 sumpahnya demi yang bersembunyi lalu beredar, dan 81:19 menyatakan bahwa itu perkataan utusan yang mulia. Surah 53 mengikuti urutan yang sama, dengan sumpah di 53:1 lalu pernyataan tentang asal ucapan di 53:2-4.

Sambungan dengan surah sebelumnya juga terlihat pada langit malam. Surah 52 ditutup dengan perintah bertasbih pada sebagian malam dan pada waktu bintang-bintang undur (52:49), sedangkan Surah 53 dibuka dengan bintang yang jatuh. Dua ayat di perbatasan dua surah itu sama-sama memandang bintang yang meninggalkan tempatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menjadikan bintang sebagai penunjuk arah di darat dan di laut (6:97), tetapi ayat ini menyebutnya pada saat jatuh. Orang yang berjalan dengan bintang tahu bahwa patokan itu tidak selalu berada di tempat yang sama, dan ada malam ketika bintang yang diandalkan hilang di balik cakrawala. Sumpah ini membuka pembelaan atas seorang kawan yang tidak kehilangan jalan. Kalau patokan yang dipakai untuk menentukan arah hidup bisa hilang dari pandangan, pegangan apa yang tetap tinggal sesudah bintang itu tidak terlihat lagi?
  • Dua belas sumpah berpola "demi X ketika Y" menunjuk saat ketika sesuatu berubah, seperti malam yang berlalu, subuh yang mulai terang, atau bulan yang menjadi purnama. Allah mengarahkan perhatian pada saat peralihan, dan saat seperti itu mudah terlewat karena berulang setiap hari. Bintang yang jatuh dan malam yang pergi datang tanpa diminta dan berlalu tanpa pamit. Peralihan dalam hidup sendiri, seperti usia yang bertambah atau tugas yang selesai, juga bisa dibaca sebagai tanda yang Dia letakkan di dalam waktu, bila orang mau berhenti sebentar untuk memperhatikannya.
  • Kata kerja yang di ayat ini berarti jatuh dipakai juga di 53:23 untuk apa yang diinginkan hawa nafsu, dan 53:3 memakai kata benda dari akar yang sama untuk hawa nafsu. Al-Qur'an sendiri memakai satu kata kerja untuk dua gerak itu. Keinginan yang terus dituruti bisa terasa seperti tarikan ke bawah, pelan pada awalnya dan sukar ditahan sesudahnya. Surah ini dibuka dengan bintang yang jatuh, lalu dua ayat kemudian Allah menyatakan bahwa ucapan kawan mereka tidak berasal dari hawa nafsu, sehingga kedua arti itu berdiri berdekatan sejak awal surah.
  • Surah sebelumnya ditutup dengan perintah bertasbih kepada Allah pada sebagian malam dan pada waktu bintang-bintang undur (52:49). Orang yang menjalankan perintah itu berjaga di bawah langit malam sampai bintang-bintang pergi, dan surah berikutnya dibuka dengan sumpah demi bintang yang jatuh. Kedua ayat itu mempertemukan tasbih dengan pemandangan langit. Apakah langit malam yang sama pernah dipandang sebagai ajakan untuk bertasbih, atau selama ini dibiarkan menjadi latar gelap bagi kesibukan dan layar yang menyala?
  • Bintang yang mana dan jatuh seperti apa dibiarkan tanpa keterangan di ayat ini. Allah bersumpah dengan sesuatu yang bisa dilihat siapa saja yang menengadah pada malam hari, tanpa perlu keterangan teknis lebih dulu. Keterangan yang ditahan membuat perhatian tertuju pada apa yang memang terlihat, dan ruang kosong itu tidak perlu diisi dengan dugaan. Menerima batas penjelasan sebuah ayat, tanpa menambahinya dengan cerita dari luar, termasuk adab membaca yang diajarkan oleh cara ayat ini berhenti pada tiga kata.
  • Sebelum membela seorang manusia, Allah menyebut sebuah benda di langit. Urutan itu bergerak dari yang jauh ke yang dekat, dari bintang yang jatuh ke kawan yang dikenal oleh orang-orang yang disapa. Tuduhan terhadap kawan itu keluar dari mulut manusia, sedangkan jawabannya dibuka dengan tanda yang dipasang Allah di atas mereka semua. Pembelaan yang dimulai dengan sumpah atas langit menempatkan urusan seorang utusan di bawah saksi yang jauh lebih besar daripada pendapat kaumnya tentang dirinya.