Ayat 53:2
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ
kawan kalian tidak sesat dan tidak keliru,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْmaa dhalla shaahibukumkawan kalian tidak sesat
- وَمَا غَوَىٰwa-maa ghawaadan tidak keliru
Terjemahan per kata (5 kata)
- مَاmaatidaklah
- ضَلَّdhallasesat
- صَاحِبُكُمْshaahibukumkawan kalian
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- غَوَىٰghawaakeliru
Inti bacaan
Sebelum ikut meneruskan kabar miring tentang rekan kerja atau tetangga, menimbang dulu rekam jejak orang itu selama bertahun-tahun, lalu menahan pesan yang belum terbukti agar tidak beredar dari ponsel sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ, maa dhalla shaahibukum wa-maa ghawaa) yang berarti "kawan kalian tidak sesat dan tidak keliru". Isinya menjawab sumpah di 53:1. Dua kata kerjanya berbentuk lampau, dan masing-masing didahului kata penyangkal (مَا, maa) yang berarti "tidak". Akhiran -kum pada shaahibukum menyapa orang banyak, dan sapaan kepada mereka berlanjut dalam surah ini, misalnya di 53:19-23 tentang nama-nama yang mereka dan nenek moyang mereka buat sendiri.
Kata (ضَلَّ, dhalla) berakar ض-ل-ل dan berarti sesat, kehilangan jalan. Lawannya dalam Al-Qur'an berupa petunjuk. Di 2:16 orang-orang disebut (اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ, sytaraw dh-dhalaalata bi-l-hudaa) yang berarti "membeli kesesatan dengan petunjuk". Kata yang sama dipakai dalam tuduhan terhadap utusan sebelum kawan ini. Di 7:60 para pemuka kaum Nuh berkata (إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, innaa la-naraaka fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "sesungguhnya kami benar-benar melihatmu dalam kesesatan yang nyata", dan di 7:61 Nuh menjawab bahwa tidak ada kesesatan padanya. Di 83:32 orang-orang yang berdosa menyebut orang beriman (لَضَالُّونَ, la-dhaalluuna) yang berarti "benar-benar orang-orang yang sesat".
Kata (غَوَىٰ, ghawaa) berakar غ-و-ي, dan akar ini dipakai di 18 ayat (2:256, 7:16, 7:146, 7:175, 7:202, 11:34, 15:39, 15:42, 19:59, 20:121, 26:91, 26:94, 26:224, 28:18, 28:63, 37:32, 38:82, 53:2). Lawannya dalam Al-Qur'an berasal dari akar ر-ش-د. Di 2:256 tertulis (قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ, qad tabayyana r-rusydu mina l-ghayyi) yang berarti "sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat", dan 7:146 menggambarkan orang yang melihat jalan yang benar lalu tidak menempuhnya, kemudian melihat jalan yang sesat lalu menjadikannya jalan. Dengan dua pasangan lawan itu, dua kata kerja di ayat ini menyangkal dua keadaan yang berbeda. Kata dhalla menyangkal hilangnya petunjuk, sedangkan ghawaa menyangkal pilihan atas jalan yang salah ketika jalan yang benar terlihat. Terjemahan memakai "sesat" untuk dhalla dan "keliru" untuk ghawaa supaya keduanya tidak jatuh pada satu kata Indonesia. Kata kerja yang sama diterjemahkan "khilaf" di 20:121 dan "sesat" di 28:63, karena di kedua ayat itu tidak ada dhalla yang perlu dibedakan darinya.
Kata (صَاحِبُكُمْ, shaahibukum) berakar ص-ح-ب dan berarti "kawan kalian", orang yang menyertai mereka. Dalam menyangkal tuduhan terhadap seorang utusan, Al-Qur'an memakai sebutan ini di 4 ayat. Di 7:184 dan 34:46 sebutan itu datang bersama penyangkalan kegilaan, begitu pula di 81:22 (وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ, wa-maa shaahibukum bi-majnuunin) yang berarti "dan kawan kalian bukanlah orang gila", sedangkan di 53:2 sebutan itu datang bersama penyangkalan kesesatan. Keempatnya menyebut orang yang dituduh sebagai kawan dari orang-orang yang menuduh, sehingga tuduhan itu terarah kepada seseorang yang sudah lama mereka kenal.
Tafsiran
Ayat ini menjawab tuduhan yang daftarnya ada di akhir surah sebelumnya. Di 52:29 kawan itu dinyatakan bukan tukang tenung dan bukan orang gila, 52:30 memuat tuduhan bahwa dia penyair, dan 52:33 memuat tuduhan (تَقَوَّلَهُ, taqawwalahu) yang berarti "dia mengarang-ngarangnya". Surah 53 membalas dengan jawaban bertingkat. Di 53:2 kesesatan dan kekeliruan disangkal, di 53:3 hawa nafsu disangkal sebagai sumber ucapannya, dan di 53:4 asal ucapan itu dinyatakan.
Tuduhan kesesatan pernah pula dijawab oleh utusan yang dituduh. Di 7:61 Nuh menjawab sendiri bahwa tidak ada kesesatan padanya dan bahwa dia rasul dari Tuhan seisi alam. Di 53:2 kawan yang dituduh tidak bersuara, dan penyangkalannya datang dari Allah dengan sumpah. Akhiran -kum menempatkan para penuduh sebagai pihak yang diajak bicara langsung, sehingga mereka mendengar jawaban itu tentang orang yang mereka temui setiap hari.
Ayat ini tidak merinci perbuatan atau ucapan mana yang dianggap sesat oleh para penuduh. Rinciannya ada pada tuduhan-tuduhan di 52:29-33, dan 53:3-4 menjawab tuduhan yang terakhir di antaranya, yaitu tuduhan mengarang. Kata kerja dhalla muncul lagi di 53:30, ketika Allah menyatakan bahwa Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk. Penilaian tentang kesesatan yang dimulai para penuduh dengan tuduhan dikembalikan surah ini kepada pengetahuan-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Di 7:61 Nuh menjawab sendiri tuduhan kesesatan yang dialamatkan kepadanya. Di 53:2 kawan yang dituduh tidak berbicara, dan Allah sendiri yang bersumpah atas keadaannya. Orang yang dituduh sering merasa harus menjawab setiap tuduhan dengan tenaganya sendiri, sampai habis waktunya untuk membantah. Ayat ini memperlihatkan pembelaan yang datang dari atas selama kawan itu tetap berjalan di jalannya. Kesaksian Allah atas seseorang tidak menunggu orang itu menang berdebat, dan kesabaran untuk tidak membalas setiap tuduhan bisa menjadi bagian dari keteguhan itu.
- Sebutan "kawan kalian" mengingatkan para penuduh bahwa orang yang mereka tuduh sudah lama hidup di tengah mereka. Tuduhan terhadap orang asing masih bisa beralasan tidak tahu, sedangkan tuduhan terhadap kawan sendiri berhadapan dengan ingatan tentang tahun-tahun yang dilalui bersama. Allah memakai sebutan ini di empat ayat pembelaan. Penilaian terhadap orang dekat sering dibentuk oleh kabar yang baru terdengar, sementara pengalaman panjang bersamanya terlupa pada saat keputusan diambil.
- Al-Qur'an membedakan dua kesalahan arah. Orang bisa kehilangan petunjuk sehingga tidak tahu jalan, dan orang bisa melihat jalan yang benar lalu memilih jalan lain, seperti digambarkan 7:146. Allah menyangkal keduanya pada diri kawan itu. Bagi diri sendiri, pertanyaan yang lebih jujur diajukan terbalik. Dari dua kesalahan itu, mana yang lebih sering terjadi selama ini, tidak tahu jalan, atau sudah tahu lalu enggan menempuhnya karena jalan itu terasa berat?
- Di 83:32 orang-orang yang berdosa menyebut orang beriman sebagai orang-orang yang sesat. Label yang sama dilemparkan ke dua arah, oleh orang yang benar dan oleh orang yang salah. Karena itu, ukuran sesat atau tidaknya seseorang tidak bisa diambil dari ramainya sebutan. Ayat ini memberi ukuran lain, yaitu pernyataan Allah tentang keadaan kawan itu. Julukan yang ramai diucapkan orang tentang diri sendiri atau tentang orang lain perlu ditimbang ulang di hadapan ukuran-Nya sebelum ikut diulang.
- Kata kerja ghawaa yang disangkal di ayat ini dipakai di 20:121 untuk Adam, dan ayat sesudahnya, 20:122, menyebut bahwa Tuhannya kemudian memilihnya, menerima tobatnya, dan memberinya petunjuk. Kekeliruan yang disangkal pada kawan ini pernah dialami manusia pertama, dan Allah tidak menjadikannya akhir cerita. Orang yang pernah keliru jalan membaca dua ayat itu berdampingan, lalu melihat bahwa pintu kembali tetap terbuka bagi yang mau berbalik kepada-Nya.
- Sapaan "kalian" di ayat ini mengarah kepada para penuduh, dan 34:46 memberi mereka jalan untuk menguji tuduhan itu. Mereka diminta berdiri karena Allah, berdua-dua atau sendiri-sendiri, lalu berpikir tentang kawan mereka. Tuduhan yang lahir dari keramaian diuji dalam kesendirian atau dalam percakapan dua orang yang jujur. Ajakan itu tetap berlaku ketika penilaian tentang seseorang terbentuk di tengah ramainya pembicaraan, sebelum sempat dipikirkan dengan tenang.
Ayat 53:3
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
dan ia tidak berbicara dari hawa nafsu.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰwa-maa yanthiqu 'ani l-hawaadan ia tidak berbicara dari hawa nafsu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- يَنْطِقُyanthiquberbicara
- عَنِ'anidari
- الْهَوَىٰl-hawaahawa nafsu
Inti bacaan
Menunda membalas pesan yang memancing marah sampai esok pagi, lalu membaca ulang draf balasan dan menghapus kalimat yang lahir dari dorongan ingin menang, menyisakan yang bersandar pada pengetahuan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-maa yanthiqu 'ani l-hawaa) yang berarti "dan dia tidak berbicara dari hawa nafsu". Kata kerja (يَنْطِقُ, yanthiqu) berbentuk sedang berlangsung, berbeda dari dua kata kerja lampau di 53:2. Penyangkalan di 53:2 menyangkut perjalanan kawan itu sampai saat ayat itu disampaikan, sedangkan 53:3 menyangkut kebiasaannya ketika berbicara.
Akar ن-ط-ق dipakai di 11 ayat (21:63, 21:65, 23:62, 27:16, 27:85, 37:92, 41:21, 45:29, 51:23, 53:3, 77:35). Tiga di antaranya menyangkut berhala yang tidak dapat berbicara (21:63, 21:65, 37:92), dan di 37:92 berhala-berhala itu ditanya (مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ, maa lakum laa tanthiquuna) yang berarti "mengapa kalian tidak berbicara". Dua ayat menyangkut hari ketika orang-orang tidak berbicara (27:85, 77:35), dan di 41:21 kulit manusia menyatakan bahwa Allah membuat mereka dapat berbicara. Dua ayat memakai kata kerja ini untuk kitab. Di 23:62 disebut (كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ, kitaabun yanthiqu bi-l-haqqi) yang berarti "kitab yang berbicara dengan benar", dan 45:29 menyebut kitab yang berbicara terhadap kalian dengan kebenaran.
Di kedua ayat kitab itu, yanthiqu diikuti huruf bi- yang berarti "dengan". Di 53:3 kata kerja yang sama diikuti (عَنِ, 'ani) yang berarti "dari", sehingga penyangkalannya menyangkut asal ucapan. Susunan (عَنِ الْهَوَىٰ, 'ani l-hawaa) muncul di 2 ayat, 53:3 dan 79:40. Di 79:40 orang yang takut akan kedudukan Tuhannya disebut (وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-nahaa n-nafsa 'ani l-hawaa) yang berarti "dan menahan diri dari hawa nafsu". Di sana susunan itu menandai sesuatu yang dijauhi, dan di sini menandai sumber yang disangkal.
Kata (الْهَوَىٰ, l-hawaa) berakar ه-و-ي. Bentuk tunggal kata benda ini ada di 11 ayat (4:135, 7:176, 14:43, 18:28, 20:16, 25:43, 28:50, 38:26, 45:23, 53:3, 79:40). Di 10 ayat kata itu berarti keinginan diri, sedangkan di 14:43 kata yang sama menggambarkan hati yang kosong. Di 38:26 Daud diperintah (وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ, wa-laa tattabi'i l-hawaa) yang berarti "dan janganlah mengikuti hawa nafsu", dan 25:43 serta 45:23 menyebut (مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ, mani ttakhadza ilaahahu hawaahu) yang berarti "orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya". Bentuk jamaknya ada di 17 ayat (2:120, 2:145, 5:48, 5:49, 5:77, 6:56, 6:119, 6:150, 13:37, 23:71, 28:50, 30:29, 42:15, 45:18, 47:14, 47:16, 54:3), kebanyakan dalam larangan mengikuti keinginan orang-orang yang menolak kebenaran. Di Surah 53 akar ini dipakai di 4 ayat (53:1, 53:3, 53:23, 53:53), dan kata kerja di 53:1 serta kata benda di ayat ini berdiri berselang satu ayat.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pembelaan dari perjalanan kawan itu ke ucapannya. Tuduhan terakhir di 52:33 menyatakan bahwa dia mengarang-ngarang, dan jawaban pertamanya menyangkut sumber, sebab ucapan yang dikarang berasal dari diri pengucapnya. Di 10:15 utusan diperintah menjawab permintaan untuk mengganti Al-Qur'an dengan kalimat bahwa dia tidak berhak mengubahnya atas kemauan sendiri dan bahwa dia mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya. Ayat ini menyatakan hal yang searah dari pihak Allah.
Al-Qur'an sendiri mengukur ucapan utusan dengan keras. Di 69:44-46 Allah menyatakan bahwa sekiranya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama-Nya, Allah akan memegangnya dan memutus urat nadinya. Penyangkalan di 53:3 berdiri bersama ancaman itu, sehingga kejujuran ucapan kawan itu tidak dibiarkan sebagai pujian kosong.
Ayat ini tidak menyatakan bahwa utusan tidak mempunyai keinginan. Daud diperintah untuk tidak mengikuti hawa nafsu (38:26), dan perintah itu mengandaikan keinginan yang perlu ditahan. Pernyataan di 53:3 menyangkut ucapan yang sedang dibela, lalu 53:23 memperlihatkan arah sebaliknya, yaitu para penentang yang mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan hawa nafsu. Nama-nama sesembahan yang mereka buat sendiri di 53:23 memperlihatkan bahwa kebiasaan mengarang ada pada pihak penuduh.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyatakan asal ucapan seorang utusan dengan menyangkal satu sumber, yaitu hawa nafsu. Setiap ucapan mempunyai asal, entah pengetahuan, dugaan, marah, atau keinginan untuk menang. Allah menilai ucapan kawan itu dari sumbernya sebelum dari bunyinya. Sebelum sebuah kalimat keluar, dalam rapat, di rumah, atau di layar ponsel, pertanyaan yang sama bisa diajukan kepada diri sendiri. Dari mana kalimat ini datang, dan apakah asalnya akan tetap terasa pantas bila kelak ditanyakan oleh-Nya?
- Di 45:29 Allah menyebut kitab-Nya yang berbicara terhadap manusia dengan kebenaran, karena Dia mencatat apa yang mereka kerjakan. Kata kerja yang di ayat ini dipakai untuk ucapan utusan dipakai di sana untuk catatan amal. Ucapan yang keluar dari hawa nafsu hari ini akan dibacakan kembali oleh kitab yang tidak berbicara dari hawa. Kesadaran bahwa setiap kata tercatat membuat lidah lebih lambat bergerak, terutama ketika marah sedang mendorong kalimat yang tajam.
- Dua ayat, 25:43 dan 45:23, menyebut orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Gambaran itu terdengar jauh, tetapi bentuk kecilnya hadir dalam keseharian, ketika keputusan diambil karena ingin dan alasan dicari sesudahnya. Allah menyangkal hawa nafsu sebagai sumber ucapan utusan-Nya, sementara banyak orang memberinya tempat sebagai sumber pertimbangan tanpa menyadarinya. Siapa yang sebenarnya dipatuhi ketika pilihan sulit harus diambil dan tidak ada orang lain yang melihat?
- Di 79:40 orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dipuji karena menahan diri dari hawa nafsu, dan 79:41 menyebut surga sebagai tempat tinggalnya. Pujian itu tidak diberikan kepada orang yang tidak punya keinginan, sebab keinginan tetap ada dan tetap perlu ditahan. Daud pun diperintah untuk tidak mengikutinya (38:26). Perjuangan melawan hawa nafsu karena itu berlangsung seumur hidup, dan Allah menghargai tangan yang terus menahan, meski dorongan itu datang berulang kali.
- Akar yang sama dipakai untuk berhala yang tidak dapat berbicara (21:63, 21:65, 37:92) dan untuk kawan yang berbicara tanpa hawa nafsu. Ibrahim menyuruh kaumnya bertanya kepada berhala mereka bila berhala itu dapat berbicara, dan mereka terpaksa mengakui bahwa berhala itu diam. Di antara berhala yang bisu dan ucapan yang lahir dari keinginan, ayat ini menunjuk jalan ketiga, yaitu ucapan yang asalnya dari Allah. Sesembahan yang tidak dapat menjawab dan keinginan yang tidak mau diam sama-sama tidak layak diikuti.
- Surah ini menyangkal hawa nafsu sebagai sumber ucapan kawan itu di 53:3, lalu di 53:23 menyatakan bahwa para penentangnya mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan hawa nafsu. Kedua pihak dinilai dengan ukuran yang sama, dan hasilnya berlawanan. Allah tidak membiarkan tuduhan mengarang itu menggantung, karena dua puluh ayat kemudian Dia menunjukkan bahwa ucapan para penuduh yang sebenarnya berasal dari keinginan. Tuduhan sering berkata banyak tentang sumber ucapan orang yang menuduh.
Ayat 53:4
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Ia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰin huwa illaa wahyun yuuhaaia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنْintidaklah
- هُوَhuwaia
- إِلَّاillaakecuali
- وَحْيٌwahyunwahyu
- يُوحَىٰyuuhaadiwahyukan
Inti bacaan
Saat meneruskan ayat kepada orang lain, menyalin bunyinya dari mushaf lengkap dengan nomor surah dan ayat, tanpa menyelipkan ringkasan pribadi yang bisa dikira bagian dari firman.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ, in huwa illaa wahyun yuuhaa) yang berarti "itu tidak lain wahyu yang diwahyukan". Kata (إِنْ, in) di awal ayat berfungsi menyangkal, dan (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" menutup semua kemungkinan lain. Kata ganti (هُوَ, huwa) yang berarti "itu" tidak diberi nama di ayat ini, dan rujukan terdekatnya ucapan yang dibicarakan di 53:3.
Susunan in huwa illaa ada di 11 ayat (6:90, 7:184, 12:104, 23:25, 23:38, 34:46, 36:69, 38:87, 43:59, 53:4, 81:27). Lima di antaranya menyebut Al-Qur'an sebagai peringatan (6:90, 12:104, 36:69, 38:87, 81:27), misalnya (إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ, in huwa illaa dzikrun li-l-'aalamiina) di 81:27 yang berarti "itu tidak lain kecuali peringatan bagi seisi alam". Dua menyebut utusan sebagai pemberi peringatan (7:184, 34:46), satu menyebut Isa sebagai hamba yang diberi nikmat (43:59), dan dua lagi berasal dari mulut para penentang. Di 23:25 mereka berkata (إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ, in huwa illaa rajulun bihi jinnatun) yang berarti "dia tidak lain seorang lelaki yang padanya ada kegilaan", dan di 23:38 mereka menyebut utusan sebagai lelaki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Susunan yang dipakai para penentang untuk merendahkan seorang utusan dipakai Allah di ayat ini untuk menyatakan asal ucapannya.
Kata (وَحْيٌ, wahyun) dan kata kerja (يُوحَىٰ, yuuhaa) berasal dari akar yang sama, و-ح-ي. Kata bendanya ada di 6 ayat (11:37, 20:114, 21:45, 23:27, 42:51, 53:4). Kata kerjanya berbentuk pasif dan sedang berlangsung, sehingga pemberi wahyu tidak disebut di ayat ini dan pewahyuan digambarkan sebagai sesuatu yang terus berjalan. Pemberinya disebut enam ayat kemudian, di 53:10, dengan (فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ, fa-awhaa ilaa 'abdihi) yang berarti "lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya".
Akar و-ح-ي tidak terbatas pada pesan kepada para utusan. Di 16:68 tertulis (وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ, wa-awhaa rabbuka ilaa n-nahli) yang berarti "dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah", dan di 99:5 bumi berbicara (بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا, bi-anna rabbaka awhaa lahaa) yang berarti "karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan kepadanya". Di 6:112 kata kerja yang sama dipakai untuk setan-setan dari kalangan manusia dan jin (يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ, yuuhii ba'dhuhum ilaa ba'dhin) yang berarti "sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain" kata-kata indah yang menipu. Karena kata wahyu dalam Al-Qur'an bisa datang dari berbagai pihak, pengirimnya perlu ditunjuk, dan 53:10 menunjuknya. Menurut 42:51, Allah berbicara kepada manusia dengan tiga cara, yaitu dengan wahyu, dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan yang mewahyukan dengan izin-Nya.
Tafsiran
Ayat ini menyelesaikan jawaban atas tuduhan mengarang di 52:33. Sesudah hawa nafsu disangkal sebagai sumber di 53:3, ayat ini menyebut sumber yang sebenarnya. Pengakuan yang searah datang dari mulut utusan sendiri di 10:15, (إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ, in attabi'u illaa maa yuuhaa ilayya) yang berarti "aku tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku", dan kalimat yang serupa diulang di 46:9. Di 53:4 kesaksian itu diberikan oleh Allah dengan susunan yang sama, in lalu illaa, dan dengan kata wahyu yang sama.
Bentuk yang terus berjalan pada yuuhaa sejalan dengan cara Al-Qur'an menggambarkan penyampaiannya. Di 20:114 utusan dilarang tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum pewahyuannya selesai, dan 17:106 menyebut bacaan itu dipisah-pisah agar dibacakan kepada manusia secara perlahan. Kawan itu menerima sedikit demi sedikit, lalu menyampaikan apa yang diterimanya.
Ayat ini berbicara tentang ucapan yang sedang dibela, yaitu apa yang disampaikan kawan itu sebagai wahyu. Pertanyaan tentang bagaimana wahyu itu sampai kepadanya dijawab oleh ayat-ayat sesudahnya, mulai dari pengajar yang disebut di 53:5 sampai pewahyuan di 53:10. Ayat ini sendiri cukup menegaskan asalnya, dan cara sampainya diurai sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Para penentang memakai susunan in huwa illaa untuk memperkecil seorang utusan (23:25, 23:38), dan Allah memakai susunan yang sama untuk menyatakan asal ucapannya. Bentuk kalimat yang sama bisa merendahkan dan bisa menegaskan, tergantung siapa yang mengucapkan dan apa yang dimasukkan sesudah kata kecuali. Kalimat "dia itu cuma..." sering keluar dengan ringan tentang orang lain. Apakah kata sesudah "cuma" dalam kalimat seperti itu pernah diuji kebenarannya di hadapan Allah, atau dipinjam begitu saja dari suara orang banyak?
- Allah mewahyukan kepada lebah agar membuat sarang di gunung, di pohon, dan di bangunan manusia (16:68), dan kelak Dia mewahyukan kepada bumi sehingga bumi menceritakan beritanya (99:5). Kata yang dipakai untuk pesan kepada utusan dipakai juga untuk makhluk yang sering dianggap kecil. Dunia yang terlihat biasa ternyata dipenuhi bimbingan-Nya. Lebah yang membangun sarangnya menjalankan wahyu yang diterimanya, dan manusia yang dibekali akal diajak untuk tidak tertinggal dari lebah.
- Di 6:112 setan dari kalangan manusia dan jin saling membisikkan kata-kata indah yang menipu, dan kata kerja yang dipakai berasal dari akar yang sama dengan wahyu. Bisikan juga bisa terasa seperti ilham, menyala tiba-tiba dan meyakinkan. Karena itu Allah menunjuk pengirim wahyu di 53:10 agar ucapan kawan itu tidak dicampur dengan bisikan yang lain. Bisikan yang datang setiap hari, dari layar, dari kerumunan, atau dari dalam diri, layak ditanya asal-usulnya sebelum diikuti.
- Di 20:114 Allah melarang utusan-Nya tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum pewahyuannya selesai. Penerima wahyu pun diajari untuk menunggu dan mendengar sampai tuntas. Pelajaran itu terasa dekat dengan kebiasaan membaca potongan kalimat lalu segera menyimpulkan. Kesabaran menerima pesan secara utuh, termasuk pesan dari sesama manusia, termasuk bagian dari adab yang diajarkan kepada penerima wahyu, sebelum dia menyampaikan apa pun kepada orang lain.
- Utusan pernah diminta mengganti Al-Qur'an dengan bacaan lain (10:15), dan dia menjawab bahwa dia tidak berhak mengubahnya atas kemauan sendiri. Allah mengukuhkan jawaban itu di 53:4. Menyampaikan pesan orang lain tanpa menambah dan tanpa mengurangi sering lebih sulit daripada menyusun pesan sendiri, terutama ketika pesan itu tidak disukai orang yang menerimanya. Kejujuran seorang penyampai terlihat ketika dia tetap setia pada isi pesan, meski perubahan kecil akan membuatnya lebih diterima.
- Kata kerja yuuhaa menggambarkan pewahyuan yang terus berjalan, dan 17:106 menyebut bacaan itu dipisah-pisah agar dibacakan secara perlahan. Allah tidak menyampaikan seluruh pesan-Nya dalam satu malam. Pertumbuhan iman dan pemahaman pun jarang terjadi sekaligus. Membaca satu ayat dengan sungguh-sungguh setiap hari, lalu membiarkannya bekerja dalam diri, mengikuti irama yang sama dengan cara wahyu itu sendiri disampaikan kepada utusan-Nya.