مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

kawan kalian tidak sesat dan tidak keliru,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْmaa dhalla shaahibukumkawan kalian tidak sesat
  2. وَمَا غَوَىٰwa-maa ghawaadan tidak keliru

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. ضَلَّdhallasesat
  3. صَاحِبُكُمْshaahibukumkawan kalian
  4. وَمَاwa-maadan tidaklah
  5. غَوَىٰghawaakeliru

Inti bacaan

Sebelum ikut meneruskan kabar miring tentang rekan kerja atau tetangga, menimbang dulu rekam jejak orang itu selama bertahun-tahun, lalu menahan pesan yang belum terbukti agar tidak beredar dari ponsel sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ, maa dhalla shaahibukum wa-maa ghawaa) yang berarti "kawan kalian tidak sesat dan tidak keliru". Isinya menjawab sumpah di 53:1. Dua kata kerjanya berbentuk lampau, dan masing-masing didahului kata penyangkal (مَا, maa) yang berarti "tidak". Akhiran -kum pada shaahibukum menyapa orang banyak, dan sapaan kepada mereka berlanjut dalam surah ini, misalnya di 53:19-23 tentang nama-nama yang mereka dan nenek moyang mereka buat sendiri.

Kata (ضَلَّ, dhalla) berakar ض-ل-ل dan berarti sesat, kehilangan jalan. Lawannya dalam Al-Qur'an berupa petunjuk. Di 2:16 orang-orang disebut (اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ, sytaraw dh-dhalaalata bi-l-hudaa) yang berarti "membeli kesesatan dengan petunjuk". Kata yang sama dipakai dalam tuduhan terhadap utusan sebelum kawan ini. Di 7:60 para pemuka kaum Nuh berkata (إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, innaa la-naraaka fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "sesungguhnya kami benar-benar melihatmu dalam kesesatan yang nyata", dan di 7:61 Nuh menjawab bahwa tidak ada kesesatan padanya. Di 83:32 orang-orang yang berdosa menyebut orang beriman (لَضَالُّونَ, la-dhaalluuna) yang berarti "benar-benar orang-orang yang sesat".

Kata (غَوَىٰ, ghawaa) berakar غ-و-ي, dan akar ini dipakai di 18 ayat (2:256, 7:16, 7:146, 7:175, 7:202, 11:34, 15:39, 15:42, 19:59, 20:121, 26:91, 26:94, 26:224, 28:18, 28:63, 37:32, 38:82, 53:2). Lawannya dalam Al-Qur'an berasal dari akar ر-ش-د. Di 2:256 tertulis (قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ, qad tabayyana r-rusydu mina l-ghayyi) yang berarti "sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat", dan 7:146 menggambarkan orang yang melihat jalan yang benar lalu tidak menempuhnya, kemudian melihat jalan yang sesat lalu menjadikannya jalan. Dengan dua pasangan lawan itu, dua kata kerja di ayat ini menyangkal dua keadaan yang berbeda. Kata dhalla menyangkal hilangnya petunjuk, sedangkan ghawaa menyangkal pilihan atas jalan yang salah ketika jalan yang benar terlihat. Terjemahan memakai "sesat" untuk dhalla dan "keliru" untuk ghawaa supaya keduanya tidak jatuh pada satu kata Indonesia. Kata kerja yang sama diterjemahkan "khilaf" di 20:121 dan "sesat" di 28:63, karena di kedua ayat itu tidak ada dhalla yang perlu dibedakan darinya.

Kata (صَاحِبُكُمْ, shaahibukum) berakar ص-ح-ب dan berarti "kawan kalian", orang yang menyertai mereka. Dalam menyangkal tuduhan terhadap seorang utusan, Al-Qur'an memakai sebutan ini di 4 ayat. Di 7:184 dan 34:46 sebutan itu datang bersama penyangkalan kegilaan, begitu pula di 81:22 (وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ, wa-maa shaahibukum bi-majnuunin) yang berarti "dan kawan kalian bukanlah orang gila", sedangkan di 53:2 sebutan itu datang bersama penyangkalan kesesatan. Keempatnya menyebut orang yang dituduh sebagai kawan dari orang-orang yang menuduh, sehingga tuduhan itu terarah kepada seseorang yang sudah lama mereka kenal.

Tafsiran

Ayat ini menjawab tuduhan yang daftarnya ada di akhir surah sebelumnya. Di 52:29 kawan itu dinyatakan bukan tukang tenung dan bukan orang gila, 52:30 memuat tuduhan bahwa dia penyair, dan 52:33 memuat tuduhan (تَقَوَّلَهُ, taqawwalahu) yang berarti "dia mengarang-ngarangnya". Surah 53 membalas dengan jawaban bertingkat. Di 53:2 kesesatan dan kekeliruan disangkal, di 53:3 hawa nafsu disangkal sebagai sumber ucapannya, dan di 53:4 asal ucapan itu dinyatakan.

Tuduhan kesesatan pernah pula dijawab oleh utusan yang dituduh. Di 7:61 Nuh menjawab sendiri bahwa tidak ada kesesatan padanya dan bahwa dia rasul dari Tuhan seisi alam. Di 53:2 kawan yang dituduh tidak bersuara, dan penyangkalannya datang dari Allah dengan sumpah. Akhiran -kum menempatkan para penuduh sebagai pihak yang diajak bicara langsung, sehingga mereka mendengar jawaban itu tentang orang yang mereka temui setiap hari.

Ayat ini tidak merinci perbuatan atau ucapan mana yang dianggap sesat oleh para penuduh. Rinciannya ada pada tuduhan-tuduhan di 52:29-33, dan 53:3-4 menjawab tuduhan yang terakhir di antaranya, yaitu tuduhan mengarang. Kata kerja dhalla muncul lagi di 53:30, ketika Allah menyatakan bahwa Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk. Penilaian tentang kesesatan yang dimulai para penuduh dengan tuduhan dikembalikan surah ini kepada pengetahuan-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Di 7:61 Nuh menjawab sendiri tuduhan kesesatan yang dialamatkan kepadanya. Di 53:2 kawan yang dituduh tidak berbicara, dan Allah sendiri yang bersumpah atas keadaannya. Orang yang dituduh sering merasa harus menjawab setiap tuduhan dengan tenaganya sendiri, sampai habis waktunya untuk membantah. Ayat ini memperlihatkan pembelaan yang datang dari atas selama kawan itu tetap berjalan di jalannya. Kesaksian Allah atas seseorang tidak menunggu orang itu menang berdebat, dan kesabaran untuk tidak membalas setiap tuduhan bisa menjadi bagian dari keteguhan itu.
  • Sebutan "kawan kalian" mengingatkan para penuduh bahwa orang yang mereka tuduh sudah lama hidup di tengah mereka. Tuduhan terhadap orang asing masih bisa beralasan tidak tahu, sedangkan tuduhan terhadap kawan sendiri berhadapan dengan ingatan tentang tahun-tahun yang dilalui bersama. Allah memakai sebutan ini di empat ayat pembelaan. Penilaian terhadap orang dekat sering dibentuk oleh kabar yang baru terdengar, sementara pengalaman panjang bersamanya terlupa pada saat keputusan diambil.
  • Al-Qur'an membedakan dua kesalahan arah. Orang bisa kehilangan petunjuk sehingga tidak tahu jalan, dan orang bisa melihat jalan yang benar lalu memilih jalan lain, seperti digambarkan 7:146. Allah menyangkal keduanya pada diri kawan itu. Bagi diri sendiri, pertanyaan yang lebih jujur diajukan terbalik. Dari dua kesalahan itu, mana yang lebih sering terjadi selama ini, tidak tahu jalan, atau sudah tahu lalu enggan menempuhnya karena jalan itu terasa berat?
  • Di 83:32 orang-orang yang berdosa menyebut orang beriman sebagai orang-orang yang sesat. Label yang sama dilemparkan ke dua arah, oleh orang yang benar dan oleh orang yang salah. Karena itu, ukuran sesat atau tidaknya seseorang tidak bisa diambil dari ramainya sebutan. Ayat ini memberi ukuran lain, yaitu pernyataan Allah tentang keadaan kawan itu. Julukan yang ramai diucapkan orang tentang diri sendiri atau tentang orang lain perlu ditimbang ulang di hadapan ukuran-Nya sebelum ikut diulang.
  • Kata kerja ghawaa yang disangkal di ayat ini dipakai di 20:121 untuk Adam, dan ayat sesudahnya, 20:122, menyebut bahwa Tuhannya kemudian memilihnya, menerima tobatnya, dan memberinya petunjuk. Kekeliruan yang disangkal pada kawan ini pernah dialami manusia pertama, dan Allah tidak menjadikannya akhir cerita. Orang yang pernah keliru jalan membaca dua ayat itu berdampingan, lalu melihat bahwa pintu kembali tetap terbuka bagi yang mau berbalik kepada-Nya.
  • Sapaan "kalian" di ayat ini mengarah kepada para penuduh, dan 34:46 memberi mereka jalan untuk menguji tuduhan itu. Mereka diminta berdiri karena Allah, berdua-dua atau sendiri-sendiri, lalu berpikir tentang kawan mereka. Tuduhan yang lahir dari keramaian diuji dalam kesendirian atau dalam percakapan dua orang yang jujur. Ajakan itu tetap berlaku ketika penilaian tentang seseorang terbentuk di tengah ramainya pembicaraan, sebelum sempat dipikirkan dengan tenang.