إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Ia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰin huwa illaa wahyun yuuhaaia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنْintidaklah
  2. هُوَhuwaia
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. وَحْيٌwahyunwahyu
  5. يُوحَىٰyuuhaadiwahyukan

Inti bacaan

Saat meneruskan ayat kepada orang lain, menyalin bunyinya dari mushaf lengkap dengan nomor surah dan ayat, tanpa menyelipkan ringkasan pribadi yang bisa dikira bagian dari firman.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ, in huwa illaa wahyun yuuhaa) yang berarti "itu tidak lain wahyu yang diwahyukan". Kata (إِنْ, in) di awal ayat berfungsi menyangkal, dan (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" menutup semua kemungkinan lain. Kata ganti (هُوَ, huwa) yang berarti "itu" tidak diberi nama di ayat ini, dan rujukan terdekatnya ucapan yang dibicarakan di 53:3.

Susunan in huwa illaa ada di 11 ayat (6:90, 7:184, 12:104, 23:25, 23:38, 34:46, 36:69, 38:87, 43:59, 53:4, 81:27). Lima di antaranya menyebut Al-Qur'an sebagai peringatan (6:90, 12:104, 36:69, 38:87, 81:27), misalnya (إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ, in huwa illaa dzikrun li-l-'aalamiina) di 81:27 yang berarti "itu tidak lain kecuali peringatan bagi seisi alam". Dua menyebut utusan sebagai pemberi peringatan (7:184, 34:46), satu menyebut Isa sebagai hamba yang diberi nikmat (43:59), dan dua lagi berasal dari mulut para penentang. Di 23:25 mereka berkata (إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ, in huwa illaa rajulun bihi jinnatun) yang berarti "dia tidak lain seorang lelaki yang padanya ada kegilaan", dan di 23:38 mereka menyebut utusan sebagai lelaki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Susunan yang dipakai para penentang untuk merendahkan seorang utusan dipakai Allah di ayat ini untuk menyatakan asal ucapannya.

Kata (وَحْيٌ, wahyun) dan kata kerja (يُوحَىٰ, yuuhaa) berasal dari akar yang sama, و-ح-ي. Kata bendanya ada di 6 ayat (11:37, 20:114, 21:45, 23:27, 42:51, 53:4). Kata kerjanya berbentuk pasif dan sedang berlangsung, sehingga pemberi wahyu tidak disebut di ayat ini dan pewahyuan digambarkan sebagai sesuatu yang terus berjalan. Pemberinya disebut enam ayat kemudian, di 53:10, dengan (فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ, fa-awhaa ilaa 'abdihi) yang berarti "lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya".

Akar و-ح-ي tidak terbatas pada pesan kepada para utusan. Di 16:68 tertulis (وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ, wa-awhaa rabbuka ilaa n-nahli) yang berarti "dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah", dan di 99:5 bumi berbicara (بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا, bi-anna rabbaka awhaa lahaa) yang berarti "karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan kepadanya". Di 6:112 kata kerja yang sama dipakai untuk setan-setan dari kalangan manusia dan jin (يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ, yuuhii ba'dhuhum ilaa ba'dhin) yang berarti "sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain" kata-kata indah yang menipu. Karena kata wahyu dalam Al-Qur'an bisa datang dari berbagai pihak, pengirimnya perlu ditunjuk, dan 53:10 menunjuknya. Menurut 42:51, Allah berbicara kepada manusia dengan tiga cara, yaitu dengan wahyu, dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan yang mewahyukan dengan izin-Nya.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan jawaban atas tuduhan mengarang di 52:33. Sesudah hawa nafsu disangkal sebagai sumber di 53:3, ayat ini menyebut sumber yang sebenarnya. Pengakuan yang searah datang dari mulut utusan sendiri di 10:15, (إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ, in attabi'u illaa maa yuuhaa ilayya) yang berarti "aku tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku", dan kalimat yang serupa diulang di 46:9. Di 53:4 kesaksian itu diberikan oleh Allah dengan susunan yang sama, in lalu illaa, dan dengan kata wahyu yang sama.

Bentuk yang terus berjalan pada yuuhaa sejalan dengan cara Al-Qur'an menggambarkan penyampaiannya. Di 20:114 utusan dilarang tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum pewahyuannya selesai, dan 17:106 menyebut bacaan itu dipisah-pisah agar dibacakan kepada manusia secara perlahan. Kawan itu menerima sedikit demi sedikit, lalu menyampaikan apa yang diterimanya.

Ayat ini berbicara tentang ucapan yang sedang dibela, yaitu apa yang disampaikan kawan itu sebagai wahyu. Pertanyaan tentang bagaimana wahyu itu sampai kepadanya dijawab oleh ayat-ayat sesudahnya, mulai dari pengajar yang disebut di 53:5 sampai pewahyuan di 53:10. Ayat ini sendiri cukup menegaskan asalnya, dan cara sampainya diurai sesudahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Para penentang memakai susunan in huwa illaa untuk memperkecil seorang utusan (23:25, 23:38), dan Allah memakai susunan yang sama untuk menyatakan asal ucapannya. Bentuk kalimat yang sama bisa merendahkan dan bisa menegaskan, tergantung siapa yang mengucapkan dan apa yang dimasukkan sesudah kata kecuali. Kalimat "dia itu cuma..." sering keluar dengan ringan tentang orang lain. Apakah kata sesudah "cuma" dalam kalimat seperti itu pernah diuji kebenarannya di hadapan Allah, atau dipinjam begitu saja dari suara orang banyak?
  • Allah mewahyukan kepada lebah agar membuat sarang di gunung, di pohon, dan di bangunan manusia (16:68), dan kelak Dia mewahyukan kepada bumi sehingga bumi menceritakan beritanya (99:5). Kata yang dipakai untuk pesan kepada utusan dipakai juga untuk makhluk yang sering dianggap kecil. Dunia yang terlihat biasa ternyata dipenuhi bimbingan-Nya. Lebah yang membangun sarangnya menjalankan wahyu yang diterimanya, dan manusia yang dibekali akal diajak untuk tidak tertinggal dari lebah.
  • Di 6:112 setan dari kalangan manusia dan jin saling membisikkan kata-kata indah yang menipu, dan kata kerja yang dipakai berasal dari akar yang sama dengan wahyu. Bisikan juga bisa terasa seperti ilham, menyala tiba-tiba dan meyakinkan. Karena itu Allah menunjuk pengirim wahyu di 53:10 agar ucapan kawan itu tidak dicampur dengan bisikan yang lain. Bisikan yang datang setiap hari, dari layar, dari kerumunan, atau dari dalam diri, layak ditanya asal-usulnya sebelum diikuti.
  • Di 20:114 Allah melarang utusan-Nya tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum pewahyuannya selesai. Penerima wahyu pun diajari untuk menunggu dan mendengar sampai tuntas. Pelajaran itu terasa dekat dengan kebiasaan membaca potongan kalimat lalu segera menyimpulkan. Kesabaran menerima pesan secara utuh, termasuk pesan dari sesama manusia, termasuk bagian dari adab yang diajarkan kepada penerima wahyu, sebelum dia menyampaikan apa pun kepada orang lain.
  • Utusan pernah diminta mengganti Al-Qur'an dengan bacaan lain (10:15), dan dia menjawab bahwa dia tidak berhak mengubahnya atas kemauan sendiri. Allah mengukuhkan jawaban itu di 53:4. Menyampaikan pesan orang lain tanpa menambah dan tanpa mengurangi sering lebih sulit daripada menyusun pesan sendiri, terutama ketika pesan itu tidak disukai orang yang menerimanya. Kejujuran seorang penyampai terlihat ketika dia tetap setia pada isi pesan, meski perubahan kecil akan membuatnya lebih diterima.
  • Kata kerja yuuhaa menggambarkan pewahyuan yang terus berjalan, dan 17:106 menyebut bacaan itu dipisah-pisah agar dibacakan secara perlahan. Allah tidak menyampaikan seluruh pesan-Nya dalam satu malam. Pertumbuhan iman dan pemahaman pun jarang terjadi sekaligus. Membaca satu ayat dengan sungguh-sungguh setiap hari, lalu membiarkannya bekerja dalam diri, mengikuti irama yang sama dengan cara wahyu itu sendiri disampaikan kepada utusan-Nya.