Ayat 53:5
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ
yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ'allamahu syadiidu l-quwaayang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat
Terjemahan per kata (3 kata)
- عَلَّمَهُ'allamahudiajarkan kepadanya
- شَدِيدُsyadiidukeras
- الْقُوَىٰl-quwaakekuatan-kekuatan
Inti bacaan
Memilih guru mengaji atau pembimbing kerja yang teruji kecakapannya, mencatat pelajaran setiap pertemuan, lalu mengulangnya sampai paham sebelum meneruskannya kepada anak atau rekan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ, 'allamahu syadiidu l-quwaa) yang berarti "yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat". Kata (عَلَّمَهُ, 'allamahu) berakar ع-ل-م, berbentuk lampau, dan membawa akhiran -hu yang berarti "dia", yaitu kawan yang dibela sejak 53:2. Apa yang diajarkan tidak disebut ulang di ayat ini, karena 53:4 sudah menyebutnya sebagai wahyu.
Bentuk 'allamahu ada di 4 ayat (2:251, 2:282, 53:5, 55:4). Di 2:251 Allah mengajari Daud sebagian dari apa yang Dia kehendaki, di 2:282 pencatat utang diminta menulis (كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ, ka-maa 'allamahu llaahu) yang berarti "sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya", dan di 55:4 Ar-Rahman mengajari manusia pandai menjelaskan. Di tiga ayat itu pengajarnya Allah. Di 53:5 pengajarnya disebut lewat sifat, tanpa nama.
Sifat itu berbunyi (شَدِيدُ الْقُوَىٰ, syadiidu l-quwaa). Kata syadiidu yang diikuti kata bersandang al- ada di 17 ayat. Di 16 ayat lainnya susunan itu menjadi sifat Allah, yaitu (شَدِيدُ الْعِقَابِ, syadiidu l-'iqaabi) yang berarti "keras hukuman-Nya" di 14 ayat (2:196, 2:211, 3:11, 5:2, 5:98, 8:13, 8:25, 8:48, 8:52, 13:6, 40:3, 40:22, 59:4, 59:7), "keras siksa-Nya" di 2:165, dan (شَدِيدُ الْمِحَالِ, syadiidu l-mihaali) yang berarti "sangat kuat dayanya" di 13:13. Di 53:5 susunan yang sama menyifati pengajar yang tidak dinamai, dan kata sesudahnya menunjuk kekuatan, bukan hukuman.
Kata (الْقُوَىٰ, l-quwaa) berakar ق-و-ي dan berbentuk jamak, "kekuatan-kekuatan". Bentuk jamak ini muncul sekali, di 53:5. Bentuk tunggalnya dipakai untuk Allah di 51:58 (ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ, dzuu l-quwwati l-matiinu) yang berarti "yang mempunyai kekuatan lagi kukuh", dan untuk utusan yang membawa perkataan di 81:20 (ذِي قُوَّةٍ, dzii quwwatin) yang berarti "yang memiliki kekuatan". Terjemahan meringkas bentuk jamak itu menjadi "yang sangat kuat", sebab frasa "yang keras kekuatan-kekuatannya" terlalu berat dalam bahasa Indonesia, dan uraian ini menandai jamak yang tidak tampak di terjemahan.
Surah 81 memuat empat ungkapan yang juga ada di Surah 53. Sebutan kawan kalian ada di 81:22 dan 53:2, kekuatan pembawa perkataan ada di 81:20 dan 53:5, ufuk ada di 81:23 dan 53:7, dan ungkapan "dan sungguh dia telah melihatnya" ada di 81:23 dan 53:13. Di 81:19 pembawa itu disebut (رَسُولٍ كَرِيمٍ, rasuulin kariimin) yang berarti "utusan yang mulia", dan 81:21 menyebutnya (مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ, muthaa'in tsamma amiinin) yang berarti "yang ditaati di sana lagi terpercaya". Kedua surah itu tidak menyebut nama pengajar ini.
Tafsiran
Ayat ini menyebut mata rantai penyampaian yang pertama sesudah sumbernya. Wahyu berasal dari Allah (53:10), diajarkan oleh pengajar yang sangat kuat (53:5), diterima kawan yang dibela (53:2), lalu disampaikan kepada orang-orang yang disapa dengan akhiran -kum. Setiap mata rantai disebut dengan sifat yang menutup satu keraguan. Sumbernya bukan hawa nafsu, penerimanya tidak sesat, dan pengajarnya kuat, sehingga pesan itu tidak mungkin melemah atau berubah di tengah jalan.
Di 55:2 Ar-Rahman disebut sebagai yang mengajarkan Al-Qur'an, sedangkan 53:5 menyebut pengajar yang berdiri di antara Allah dan utusan-Nya. Kedua ayat itu tidak saling meniadakan. Allah menjadi sumber pengajaran, dan pengajar yang kuat menjadi perantara yang menyampaikannya. Di 2:97 nama Jibril disebut dalam kaitan dengan sampainya Al-Qur'an ke dalam hati utusan dengan izin Allah, sedangkan 53:5 dan 81:19-21 sendiri tidak menamai pengajar yang mereka sifati.
Kekuatan dalam ayat ini berkaitan dengan amanah pesan. Di 81:21 pembawa perkataan disebut terpercaya, dan di 81:20 kekuatannya disebut berada di sisi pemilik Arasy. Kekuatan dan kepercayaan berdiri bersama, sehingga pesan yang dibawa tidak dikurangi karena lemah dan tidak diubah karena khianat. Ayat berikutnya, 53:6, melanjutkan sifat pengajar itu.
Renungan dan Hikmah
- Pembelaan atas kawan itu berlanjut dengan menyebut siapa yang mengajarinya. Tuduhan mengarang berarti tuduhan bahwa dia belajar dari dirinya sendiri, dan Allah menjawabnya dengan menunjuk pengajar yang sangat kuat. Nilai sebuah pelajaran sering diukur dari gurunya, dan kawan itu diberi guru terbaik bagi tugasnya. Dari siapa pelajaran yang membentuk pandangan hidup selama ini diterima, dan apakah sumber itu pernah diperiksa sebagaimana Allah memperkenalkan pengajar wahyu kepada kaum yang ragu?
- Di 81:20-21 pembawa perkataan disebut memiliki kekuatan dan terpercaya. Kekuatan tanpa kepercayaan bisa merusak pesan, dan kepercayaan tanpa kekuatan bisa gagal menjaganya. Allah memilih pengajar yang memiliki keduanya untuk wahyu-Nya. Di tempat kerja atau di rumah, orang yang diberi amanah perlu dua hal itu pula, kemampuan untuk menjalankannya dan kejujuran untuk tidak membelokkannya, terutama ketika tidak ada yang mengawasi selain Allah yang selalu melihat.
- Di 18:66 Musa meminta seorang hamba Allah mengajarinya sebagian dari apa yang telah diajarkan kepada hamba itu, berupa petunjuk yang benar. Kata petunjuk yang benar di sana berasal dari akar yang menjadi lawan dari kekeliruan yang disangkal di 53:2. Seorang utusan besar pun datang sebagai murid. Kesediaan untuk diajari, meski sudah punya kedudukan, membuka jalan bagi pengetahuan yang Allah titipkan pada orang lain. Kesombongan untuk tidak mau diajari menutup jalan yang sama.
- Susunan "sangat keras" di 16 ayat lain menjadi sifat Allah, dan 51:58 menyebut Dia pemilik kekuatan yang kukuh. Kekuatan pengajar di ayat ini disebut berada di sisi pemilik Arasy (81:20), dan 2:165 menyatakan bahwa kekuatan seluruhnya milik Allah. Makhluk yang kuat tetap bergantung kepada pemberi kekuatannya. Kekuatan yang dimiliki seseorang, entah jabatan, harta, atau kecakapan, akan lebih aman bila dipandang sebagai titipan dari Dia yang memiliki kekuatan sesungguhnya.
- Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam (2:31), mengajar dengan pena (96:4), dan menyuruh pencatat menulis sebagaimana Allah mengajarkan kepadanya (2:282). Ilmu mengalir dari Allah melalui banyak tangan. Pengajar yang kuat mengajari kawan itu, dan kawan itu mengajari kaumnya. Setiap orang yang pernah diajari sesuatu menjadi satu mata rantai, dan pertanyaannya tetap sama. Apa yang diteruskan kepada orang berikutnya, dan apakah pesan itu sampai kepada mereka tanpa berubah dari apa yang dulu diterima?
- Ayat ini memperkenalkan pengajar wahyu lewat sifatnya, tanpa menyebut nama. Perhatian diarahkan pada kekuatan dan kepercayaan, dua hal yang menentukan apakah pesan itu sampai dengan selamat. Allah menilai pembawa pesan dari sifat yang menjamin pesannya. Dalam memilih guru, pemimpin, atau sumber berita, nama besar sering lebih cepat dipercaya daripada sifat yang teruji, padahal sifat itulah yang menentukan apakah sebuah pesan akan sampai dengan utuh.
Ayat 53:6
ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ
yang mempunyai keteguhan, lalu dia tegak sempurna,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ذُو مِرَّةٍdzuu mirratinyang mempunyai keteguhan
- فَاسْتَوَىٰfa-stawaalalu dia tegak sempurna
Terjemahan per kata (3 kata)
- ذُوdzuupemilik
- مِرَّةٍmirratinketeguhan
- فَاسْتَوَىٰfa-stawaalalu tegak sempurna
Inti bacaan
Sebelum menerima tugas baru di kantor atau di lingkungan, menuliskan dengan jujur bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih lemah, lalu menunda janji sampai bagian yang lemah itu dipelajari.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ, dzuu mirratin fa-stawaa) yang berarti "yang mempunyai keteguhan, lalu dia tegak sempurna". Kalimatnya melanjutkan 53:5 tanpa kata sambung, sehingga (ذُو مِرَّةٍ, dzuu mirratin) berdiri sebagai sifat kedua bagi pengajar yang sebelumnya disebut (شَدِيدُ الْقُوَىٰ, syadiidu l-quwaa) yang berarti "yang sangat kuat". Sesudah dua sifat itu datang satu perbuatan, disambung dengan fa- yang berarti "lalu" sebagai urutan langsung.
Kata (ذُو, dzuu) berarti "yang mempunyai". Al-Qur'an memakai susunan ini untuk Allah, misalnya (ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ, dzuu l-quwwati l-matiinu) yang berarti "yang mempunyai kekuatan lagi kukuh" di 51:58, dan juga untuk utusan yang mulia di 81:20, yaitu (ذِي قُوَّةٍ, dzii quwwatin) yang berarti "yang memiliki kekuatan". Di 81:20 dan di ayat ini sifat yang dipunyai disebut tanpa kata sandang, dan sosok yang disifati dibiarkan tanpa nama.
Kata (مِرَّةٍ, mirratin) berakar م-ر-ر, dan bentuk ini hanya muncul di ayat ini. Akar yang sama dipakai di tiga puluh dua ayat, kebanyakan untuk hitungan kali (delapan belas ayat, misalnya 9:13) dan untuk gerak melewati (sembilan ayat, misalnya 25:72). Di 54:2 dan 54:19 akar itu memberi kata (مُسْتَمِرٌّ, mustamirrun) yang berarti "terus-menerus". Karena mirratin tidak muncul di tempat lain, maknanya ditimbang dari letaknya sesudah "yang sangat kuat" dan dari keluarga akarnya yang menunjuk sesuatu yang terus berlangsung. Terjemahan memakai "keteguhan", yaitu kekuatan yang bertahan dan tidak putus, dan arti itu sejalan dengan kedua petunjuk itu.
Kata kerja (فَاسْتَوَىٰ, fa-stawaa) berakar س-و-ي. Bentuk lampaunya dipakai di 15 ayat dengan tiga susunan. Dengan kata depan 'alaa, kata ini berarti tegak atau menetap di atas sesuatu. Bahtera berlabuh di atas Judi (11:44), orang duduk tegak di atas kapal dan tunggangan (23:28, 43:13), dan tanaman di 48:29 (فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ, fa-stawaa 'alaa suuqihi) yang berarti "lalu tegak sempurna di atas batangnya". Di 7 ayat (7:54, 10:3, 13:2, 20:5, 25:59, 32:4, 57:4) susunan yang sama dipakai untuk Allah yang bersemayam di atas Arasy. Dengan kata depan ilaa, kata ini berarti menuju, seperti di 2:29 dan 41:11. Tanpa kata depan, kata ini hanya muncul di 53:6 dan 28:14, tempat Musa disebut (وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ, wa-lammaa balagha asyuddahu wa-stawaa) yang berarti "dan setelah dia mencapai kedewasaannya dan menjadi sempurna".
Karena itu (فَاسْتَوَىٰ, fa-stawaa) di ayat ini diterjemahkan "lalu dia tegak sempurna". Kata "tegak" diambil dari pemakaian dengan 'alaa, dan kata "sempurna" dari 28:14, pemakaian lain yang juga tanpa kata depan. Arti menampakkan diri tidak punya pijakan di kelima belas pemakaian itu. Ayat ini tidak menyebut tempat tegaknya, dan tempat itu datang di 53:7.
Tafsiran
Ayat ini menyelesaikan gambaran pengajar yang dimulai di 53:5. Dua sifat disebut lebih dulu, yaitu kekuatan dan keteguhan, baru kemudian satu keadaan, yaitu tegak sempurna. Urutan ini membuat pengajar itu dikenal dari sifat-sifatnya sebelum terlihat apa yang dikerjakannya, dan sesudah ayat ini seluruh rangkaian sampai 53:10 bergerak dari keadaan tegak itu.
Gambaran yang sama ada di 81:19-21, tempat utusan yang mulia disebut memiliki kekuatan, berkedudukan tinggi di sisi pemilik Arasy, ditaati, dan terpercaya. Di kedua surah kekuatan disebut pertama, dan di kedua surah sosok itu dibiarkan tanpa nama. Kesamaan urutan ini membuat dua bagian dari dua surah saling menerangkan, sehingga pengajar di Surah 53 dan utusan yang mulia di Surah 81 disifati dengan cara yang sama.
Keteguhan di ayat ini juga menjawab tuduhan di 53:2. Pengajar yang teguh tidak goyah di tengah penyampaian, sehingga apa yang sampai kepada kawan itu tetap utuh seperti ketika diajarkan, dan tuduhan sesat atau keliru kehilangan pijakannya.
Dengan susunan itu, 53:6 dan 53:7 terbaca sebagai satu gambaran, yaitu sosok yang kuat dan teguh berdiri tegak di ufuk yang tertinggi. Di 81:23 ufuk itu disebut ufuk yang terang, tempat kawan itu melihatnya. Penglihatan itu menjadi pokok pembelaan di 53:11-12, ketika Allah bertanya apakah para penentang membantah apa yang dilihatnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyifati pengajar wahyu-Nya dengan dua kata yang berurutan, kekuatan lalu keteguhan. Kekuatan bisa datang sesaat lalu habis, sedangkan keteguhan menahan beban itu dari hari ke hari tanpa putus. Amanah yang panjang, seperti mendidik anak, merawat orang tua yang sakit, atau menjaga pekerjaan yang dipercayakan, lebih banyak membutuhkan yang kedua. Orang yang kuat tetapi mudah goyah sering meninggalkan pekerjaannya di tengah jalan, dan ayat ini menaruh keteguhan tepat sesudah kekuatan, seakan-akan kekuatan baru lengkap ketika sanggup bertahan.
- Sebelum mendekat di 53:8, pengajar itu lebih dulu tegak sempurna di tempatnya. Allah menyebut keadaan itu lebih dulu, baru kemudian geraknya, sehingga penyampaian wahyu dimulai dari pijakan yang kokoh. Orang yang hendak mengajarkan sesuatu kepada orang lain perlu lebih dulu berdiri tegak di atas apa yang dia pahami. Penyampaian dari pijakan yang goyah hanya memindahkan kebingungan, dan murid yang menerimanya akan mewarisi keraguan gurunya bersama pelajarannya. Tegak lebih dulu, lalu mendekat, menjadi urutan yang layak ditiru siapa saja yang memikul tugas menyampaikan.
- Kata kerja yang sama dipakai untuk Allah di atas Arasy, untuk bahtera di atas Judi, untuk tanaman di atas batangnya, dan untuk pengajar di ayat ini. Al-Qur'an tidak menyamakan semua itu, sebab makna kata itu ditentukan oleh siapa pelakunya dan apa yang menyertainya. Pembaca yang tergesa bisa memindahkan makna dari satu ayat ke ayat lain begitu saja, lalu membayangkan Dia bersemayam seperti orang duduk di atas tunggangan. Kehati-hatian membaca susunan sebelum menyimpulkan termasuk bagian dari hormat kepada firman-Nya, dan kebiasaan itu melindungi pembaca dari gambaran yang tidak pernah dimaksudkan.
- Di 28:14 kata yang sama menandai saat Musa mencapai kedewasaan dan menjadi sempurna, lalu Allah menganugerahkan kepadanya putusan dan pengetahuan. Kesiapan datang lebih dulu, lalu anugerah menyusul. Apakah kita meminta ilmu, jabatan, dan tanggung jawab sebelum diri kita siap menampungnya? Ayat itu memperlihatkan bahwa Allah memberi pada saat yang tepat, dan masa menunggu sampai tegak sempurna termasuk bagian dari pemberian itu. Orang yang merasa tertinggal dari teman sebayanya bisa memandang masa itu sebagai persiapan, dan tidak perlu menganggapnya kehilangan.
- Di 48:29 kata yang sama menutup perumpamaan benih yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu makin kuat, menjadi besar, dan tegak di atas batangnya sampai para penanam senang melihatnya. Tegak sempurna di sana datang sesudah beberapa tahap pertumbuhan, tanpa lompatan. Dalam hidup, keteguhan yang dikagumi orang jarang lahir sekaligus, dan Allah memperlihatkan lewat perumpamaan itu bahwa yang tegak hari ini dulunya tunas yang lemah. Kesabaran terhadap pertumbuhan yang lambat, baik pada diri sendiri maupun pada anak dan murid, mendapat dasarnya di sini.
- Ayat ini menyebut sifat dan keadaan pengajar itu tanpa gambaran rupanya. Keinginan untuk mengetahui wujudnya wajar, tetapi Allah memilih memberi apa yang perlu untuk mempercayai penyampaiannya, yaitu kekuatan, keteguhan, dan keadaan tegak. Pembaca yang membayangkan warna, ukuran, atau bentuknya sedang menambahkan sesuatu yang tidak berasal dari ayat ini. Menahan diri dari mengisi kekosongan itu dengan bayangan sendiri termasuk cara menerima firman sebagaimana adanya, dan cara itu menjaga perhatian tetap pada isi yang disampaikan.
Ayat 53:7
وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ
ketika dia berada di ufuk yang tertinggi.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰwa-huwa bi-l-ufuqi l-a'laaketika dia berada di ufuk yang tertinggi
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَهُوَwa-huwadan ia
- بِالْأُفُقِbi-l-ufuqidi ufuk
- الْأَعْلَىٰl-a'laayang tertinggi
Inti bacaan
Menyisihkan lima menit saat matahari terbit atau terbenam untuk memandang langit tanpa ponsel, lalu menyebut satu tanda kebesaran Allah yang terlihat hari itu dalam doa singkat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ, wa-huwa bi-l-ufuqi l-a'laa) yang berarti "ketika dia berada di ufuk yang tertinggi". Huruf wa di depannya menerangkan keadaan pada saat 53:6 terjadi, sehingga tegak sempurna dan berada di ufuk yang tertinggi berlangsung bersamaan. Terjemahan menyalin wa itu dengan "ketika", dan tidak dengan "dan", karena ayat ini tidak menambah peristiwa baru. Kata (هُوَ, huwa) yang berarti "dia" merujuk kepada pengajar yang disifati di 53:5 dan 53:6, sebab belum ada sosok lain yang disebut sejak 53:5.
Kata (بِالْأُفُقِ, bi-l-ufuqi) berakar أ-ف-ق dan berarti "di ufuk", batas langit yang terlihat dari bumi. Akar ini dipakai di 3 ayat (41:53, 53:7, 81:23). Di 81:23 bunyinya (وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ, wa-la-qad ra'aahu bi-l-ufuqi l-mubiini) yang berarti "dan sungguh dia telah melihatnya di ufuk yang terang", dan di 41:53 bentuk jamaknya (فِي الْآفَاقِ, fii l-aafaaqi) yang berarti "di segenap penjuru" menjadi tempat Allah memperlihatkan tanda-tanda-Nya, berdampingan dengan tanda-tanda pada diri manusia sendiri. Ketiga pemakaian itu berkaitan dengan penglihatan, sebab 81:23 memakai kata kerja melihat, 41:53 memakai kata kerja memperlihatkan, dan 53:7 disusul oleh penglihatan di 53:11-13. Huruf bi- di depan ufuk menunjuk tempat, seperti di 20:12 ketika Musa disebut berada (بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ, bi-l-waadi l-muqaddasi) yang berarti "di lembah yang suci".
Kata (الْأَعْلَىٰ, l-a'laa) berakar ع-ل-و dan berbentuk perbandingan, sehingga terjemahan memakai "tertinggi". Bentuk bersandang ini muncul di 9 ayat. Allah disebut dengannya di 87:1 dan 92:20, dan sifat-Nya disebut (الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ, l-matsalu l-a'laa) yang berarti "sifat yang tertinggi" di 16:60 dan 30:27. Fir'aun memakainya untuk mengaku sebagai tuhan tertinggi di 79:24, Musa diyakinkan dengannya bahwa dia akan unggul di 20:68, dan 37:8 serta 38:69 menyebut (الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ, l-mala'i l-a'laa) yang berarti "majelis yang tertinggi". Di antara kesembilan ayat itu, pemakaiannya untuk tempat yang bisa dipandang mata terdapat di 53:7 saja, yaitu ufuk.
Ayat ini tidak menerangkan ufuk mana yang dimaksud atau di arah mana ufuk itu terlihat. Teks memberi ketinggian tempatnya, dan ketinggian itu menjadi titik mula gerak mendekat di 53:8. Kata (الْأَعْلَىٰ, l-a'laa) di sini juga membedakan ufuk ini dari ufuk di 81:23 yang disifati (الْمُبِينِ, l-mubiini) yang berarti "yang terang", karena satu sebutan menekankan tinggi dan sebutan lain menekankan jelas. Kedua sifat itu tidak saling meniadakan, dan keduanya bisa dibaca sebagai dua sisi dari satu penglihatan.
Tafsiran
Ayat ini menaruh sosok yang tegak itu di tempat yang jauh dan tinggi, dan jarak itu menjadi titik mula gerak di ayat-ayat berikutnya. Dari ufuk yang tertinggi (53:7), dia mendekat dan bertambah dekat (53:8), sampai jaraknya dua busur atau lebih dekat (53:9). Rangkaian itu bergerak dari jauh ke dekat, dan wahyu baru disebut sesudah jarak itu habis (53:10).
Di 81:23 ufuk yang sama disebut terang, dan di sana penekanannya jatuh pada penglihatan kawan itu. Dua surah memakai dua sifat untuk ufuk, tinggi di 53:7 dan terang di 81:23, dan keduanya membela kesaksian yang sama. Gabungan keduanya menolak anggapan bahwa kawan itu melihat sesuatu yang samar dari kejauhan, sebab tempat yang tinggi itu juga tempat yang jelas. Di Surah 53 kesaksian itu dilanjutkan di 53:11, bahwa hati tidak berdusta tentang apa yang dilihat, dan di 53:12 para penentang ditanya apakah mereka membantahnya tentang apa yang dilihatnya.
Janji di 41:53 bahwa Allah akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap penjuru memakai akar yang sama, dan 53:18 menyatakan bahwa kawan itu telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang sangat besar. Ufuk dengan demikian menjadi tempat Allah memperlihatkan, baik kepada manusia pada umumnya maupun kepada kawan yang dibela di surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut jauhnya lebih dulu, di ufuk yang tertinggi, lalu dekatnya kemudian. Petunjuk sering dikenali mula-mula sebagai sesuatu yang tinggi dan terasa jauh, lalu perlahan menjadi dekat dan bisa dipegang. Orang yang merasa ajaran agama terlalu tinggi untuk dirinya boleh melihat urutan ayat ini, sebab rangkaian yang dimulai dari ufuk itu berakhir pada kedekatan. Jarak yang terasa hari ini tidak menjadi alasan untuk berhenti mencari, dan rasa jauh itu sendiri bisa menjadi langkah pertama menuju pemahaman yang lebih dekat.
- Ufuk bisa dipandang siapa saja yang mengangkat wajahnya, dan di 41:53 Allah berjanji memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap penjuru dan pada diri manusia sendiri, sampai jelas bagi mereka bahwa itu kebenaran. Setiap kali memandang batas langit pada pagi atau senja, seseorang berdiri di depan tempat yang oleh Al-Qur'an dijadikan panggung tanda-tanda. Kebiasaan kecil memandang ufuk dengan sadar, di tengah hari yang sibuk, bisa menjadi pengingat bahwa Dia masih memperlihatkan, dan bahwa mata yang terbuka belum tentu melihat kalau hati tidak ikut memandang.
- Di Surah 53 ufuk itu disebut tertinggi, dan di Surah 81 disebut terang. Sesuatu yang tinggi sering dibayangkan samar dan sulit dijangkau, sedangkan Al-Qur'an menyandingkan ketinggian dengan kejelasan. Pesan yang datang dari Allah tidak perlu dibuat gelap supaya terasa agung. Orang yang menyampaikan agama dengan istilah berbelit dan kalimat yang sengaja dikaburkan sedang memisahkan ketinggian dari kejelasannya, padahal kedua sifat itu disandingkan oleh Al-Qur'an untuk tempat yang sama. Ajaran yang tinggi layak disampaikan dengan terang.
- Di 53:12 Allah bertanya kepada para penentang apakah mereka membantah kawan itu tentang apa yang dilihatnya. Berapa sering kita membantah kesaksian orang lain hanya karena kita tidak ikut melihat? Allah membela kesaksian itu dengan menyebut tempatnya, ufuk yang tertinggi, lalu jaraknya, lalu isi yang diterima. Kesaksian yang disusun selengkap itu layak didengar sampai habis sebelum ditolak. Dalam perselisihan sehari-hari, di rumah atau di tempat kerja, kebiasaan mendengar keterangan orang sampai tuntas sering mencegah tuduhan yang kelak disesali.
- Kata yang di ayat ini melekat pada ufuk juga dipakai Fir'aun ketika dia mengaku sebagai tuhan tertinggi bagi kaumnya (79:24), sedangkan 87:1 memakainya untuk Tuhan yang nama-Nya disucikan. Manusia yang mengambil sebutan itu untuk dirinya berakhir dengan azab di akhirat dan di dunia (79:25), dan ufuk yang disifati dengannya tetap sebuah tempat ciptaan Allah. Setiap pujian yang mengangkat manusia setinggi itu, dari pengikut kepada pemimpinnya atau dari diri kepada dirinya sendiri, perlu dikembalikan kepada Dia yang memang Mahatinggi.
- Utusan itu diperintahkan di 38:69 mengakui bahwa dia tidak mempunyai pengetahuan tentang majelis yang tertinggi ketika mereka berbantah, dan menurut 37:8 setan-setan tidak dapat mendengarkan ke sana. Pengetahuan tentang yang tinggi sampai kepada manusia lewat jalan yang Allah buka, dan di ayat ini jalan itu digambarkan datang dari ufuk yang tertinggi. Kerendahan hati tentang batas pengetahuan sendiri membuat seseorang lebih siap menerima apa yang Allah ajarkan, dan menjaganya dari mengarang tentang perkara yang tidak pernah sampai kepadanya.
Ayat 53:8
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ
kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ دَنَاtsumma danaakemudian dia mendekat
- فَتَدَلَّىٰfa-tadallaalalu bertambah dekat
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- دَنَاdanaamendekat
- فَتَدَلَّىٰfa-tadallaalalu bertambah dekat
Inti bacaan
Ketika seorang anak atau rekan muda tampak kesulitan, mendatangi mejanya lebih dulu dan menjelaskan ulang sambil duduk di sampingnya, alih-alih menunggu dia datang bertanya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ, tsumma danaa fa-tadallaa) yang berarti "kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat". Dua kata sambung dipakai berurutan. Kata (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" menandai langkah berikutnya sesudah keadaan di ufuk (53:7), sedangkan fa- yang berarti "lalu" menyambung dua gerak dalam ayat ini secara beruntun. Dengan dua kata sambung itu, ayat ini memisahkan keadaan di ufuk dari gerak mendekat, lalu merapatkan dua gerak mendekat menjadi satu rangkaian.
Kata kerja (دَنَا, danaa) berakar د-ن-و dan berarti "mendekat". Kata kerja dari akar ini hanya ada di 2 ayat, yaitu di 53:8 dan di 33:59, tempat perempuan-perempuan mukmin diminta (يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ, yudniina 'alayhinna min jalaabiibihinna) yang berarti "mengulurkan jilbabnya atas diri mereka". Di 33:59 kain didekatkan ke tubuh pemakainya, dan di ayat ini pelakunya sendiri yang mendekat. Akar yang sama dipakai untuk kehidupan dunia, (الدُّنْيَا, d-dunyaa), di lebih dari seratus ayat, termasuk (السَّمَاءَ الدُّنْيَا, s-samaa'a d-dunyaa) yang berarti "langit dunia" di 37:6, dan untuk buah surga yang (دَانِيَةٌ, daaniyatun) yang berarti "dekat" di 69:23, juga buah kedua taman yang dekat di 55:54. Di semua pemakaian itu akar ini membawa makna dekat, baik dekat dalam jarak seperti buah yang mudah dipetik maupun dekat dalam urutan seperti kehidupan dunia yang datang sebelum akhirat.
Kata kerja (فَتَدَلَّىٰ, fa-tadallaa) berakar د-ل-و, dan bentuk ini hanya muncul di ayat ini. Akar ini dipakai di 3 ayat (2:188, 12:19, 53:8). Di 12:19 seorang pengambil air dari rombongan musafir mengulurkan timbanya ke dalam sumur, lalu mendapati Yusuf, dan di 2:188 orang-orang dilarang (وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ, wa-tudluu bihaa ilaa l-hukkaami) yang berarti "dan menyerahkannya kepada para hakim". Di kedua ayat itu sesuatu diulurkan dari satu pihak sampai tiba di pihak lain, yaitu timba kepada air dan harta kepada hakim. Di 12:19 dan 2:188 pelakunya mengulurkan benda lain, sedangkan di 53:8 tidak ada benda yang diulurkan, sehingga pelaku itu sendiri yang bergerak mendekat.
Terjemahan memakai "bertambah dekat" untuk (فَتَدَلَّىٰ, fa-tadallaa). Kata itu menangkap jarak yang terus menyempit sesudah danaa, sehingga dua langkah itu terbaca sebagai dua tahap mendekat. Gambaran timba yang diulurkan disimpan dalam uraian ini, karena satu kata Indonesia sulit memuat keduanya sekaligus. Ayat ini tidak menerangkan kepada siapa dia mendekat, dan 53:10 memperlihatkan bahwa gerak itu berujung pada hamba yang menerima wahyu.
Tafsiran
Ayat ini mengubah jarak menjadi gerak. Di 53:7 pengajar itu berada di ufuk yang tertinggi, lalu di ayat ini dia mendekat dalam dua langkah. Langkah pertama disebut dengan kata umum untuk mendekat, dan langkah kedua dengan kata yang berkerabat dengan mengulur ke arah tujuan. Kedekatan itu diukur di 53:9 dan diberi maksud di 53:10, yaitu penyampaian wahyu.
Rangkaian ini juga memperlihatkan bahwa seluruh gerak datang dari pihak pengajar. Penerimanya baru disebut di 53:10, sesudah jarak itu habis, sehingga kedekatan terjadi karena pengajar yang mendatangi.
Pembelaan di awal surah membutuhkan gambaran ini. Kawan yang dituduh sesat, keliru, dan berbicara dari hawa nafsu (53:2-3) menerima dari dekat, dan pengajarnya yang datang mendekatinya. Di 16:103 para penentang berkata (إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ, innamaa yu'allimuhu basyarun) yang berarti "dia diajari oleh seorang manusia", dan Surah 53 menjawab tuduhan semacam itu dengan menggambarkan pengajar yang datang dari ufuk yang tertinggi.
Kedekatan ini juga menerangkan mengapa 53:11 menyatakan bahwa hati tidak berdusta tentang apa yang dilihat. Penglihatan dari jarak dekat menyisakan sedikit ruang bagi salah lihat, dan para penentang di 53:12 diajak menimbangnya sebelum membantah.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah mendekat, pengajar itu bertambah dekat lagi. Dia tidak berhenti pada jarak yang dianggap cukup, dan Allah menyebut dua langkah itu satu per satu dalam satu ayat pendek. Orang yang mengajar, merawat, atau mendampingi sering puas pada kedekatan yang sekadarnya, seperti hadir tanpa sungguh mendengar atau menjelaskan tanpa memastikan dipahami. Padahal satu langkah lagi bisa membuat apa yang disampaikan benar-benar sampai, dan langkah kedua itu sering lebih menentukan daripada yang pertama.
- Dalam rangkaian ini pengajar yang mendatangi, dan penerimanya baru disebut sesudah jarak itu habis. Allah mengatur agar wahyu dibawa mendekat kepada hamba-Nya, tanpa menunggu hamba itu datang mencarinya. Guru yang menunggu murid datang kepadanya bisa belajar dari urutan ini, karena pengetahuan yang berharga kadang perlu diantar sampai ke depan orang yang membutuhkannya. Orang tua yang ingin didengar anaknya pun sering perlu lebih dulu mendatangi dunia anaknya sebelum berharap anak itu mendatangi dunianya.
- Akar yang sama dipakai di 2:188 untuk orang yang mengulurkan harta kepada para hakim supaya dapat memakan sebagian harta orang lain dengan cara yang berdosa. Satu akar menggambarkan uluran yang menyampaikan wahyu dan uluran yang menyuap. Kepada siapa kita mengulurkan diri, harta, dan waktu kita, dan untuk tujuan apa? Allah memperlihatkan bahwa gerak yang sama bisa membawa kebenaran atau merusaknya. Pemberian yang tampak sebagai kebaikan, seperti hadiah kepada pejabat yang sedang memutus perkara kita, perlu ditimbang dari arah ulurannya.
- Di 2:186 Allah menyatakan bahwa Dia dekat dan memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Nya. Ayat ini memperlihatkan kedekatan dalam bentuk gerak yang bisa dibayangkan, pengajar yang mendekat sampai sejarak dua busur. Kedekatan Allah sendiri tidak diukur dengan busur, dan 2:186 menyatakannya tanpa ukuran apa pun. Orang yang ragu doanya didengar bisa berpegang pada dua ayat itu bersama-sama, sebab Dia yang mengatur kedekatan pengajar kepada hamba-Nya juga menyatakan diri-Nya dekat kepada setiap yang memanggil-Nya.
- Sosok yang disebut sangat kuat dan teguh di 53:5-6 mendekat dalam dua langkah, tidak sekaligus. Sekuat apa pun dia, pengajar itu tidak menyergap, dan Allah menggambarkan kedekatan itu datang bertahap. Orang yang punya kuasa atas orang lain, seperti atasan, guru, atau orang tua, dapat meniru cara ini dengan mendekat secara bertahap, supaya yang didekati tidak terkejut dan tetap sanggup menerima. Kekuatan yang tahu menahan langkahnya lebih mudah dipercaya daripada kekuatan yang datang sekaligus.
- Akar yang sama menggambarkan buah surga yang dekat dan mudah dipetik (69:23, 55:54), dan di 76:14 naungannya dekat dan buahnya dimudahkan untuk dipetik. Di akhirat Allah mendekatkan buah kepada penghuni taman, dan di dunia Dia mendekatkan wahyu kepada hamba-Nya. Kedua pemberian itu datang tanpa diminta dengan susah payah. Apa yang sudah didekatkan kepada kita hari ini, entah ayat yang mudah dibuka atau kesempatan berbuat baik di depan mata, sering terlewat karena terasa terlalu dekat untuk dihargai, padahal kedekatan itu diatur oleh-Nya.
Ayat 53:9
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ
sehingga jaraknya dua busur panah atau lebih dekat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِfa-kaana qaaba qawsaynisehingga jaraknya dua busur panah
- أَوْ أَدْنَىٰaw adnaaatau lebih dekat
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَكَانَfa-kaanamaka jadilah
- قَابَqaabasejarak
- قَوْسَيْنِqawsaynidua busur
- أَوْawatau
- أَدْنَىٰadnaalebih dekat
Inti bacaan
Saat melaporkan kejadian di rapat atau di grup keluarga, menyebut angka dan waktu yang benar-benar diketahui, lalu memisahkannya dengan jelas dari dugaan sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ, fa-kaana qaaba qawsayni aw adnaa) yang berarti "sehingga jaraknya dua busur panah atau lebih dekat". Huruf fa- di depannya menjadikan jarak itu akibat dari dua langkah di 53:8, sehingga terjemahan memakai "sehingga". Kata kerja (فَكَانَ, fa-kaana) yang berarti "maka jadilah" tidak menyebut apa yang menjadi sejarak itu, dan terjemahan mengisinya dengan kata "jaraknya" karena dua ayat sebelumnya membicarakan gerak mendekat.
Kata (قَابَ, qaaba) berakar ق-و-ب dan berarti "sejarak", sedangkan kata (قَوْسَيْنِ, qawsayni) berakar ق-و-س dan menunjuk dua busur. Kedua akar ini hanya dipakai di ayat ini. Karena busur tidak disebut di ayat lain, ukuran ini tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain, dan terjemahan menyalinnya apa adanya. Terjemahan juga tidak menambahkan kata "sekitar", sebab teksnya menyebut ukuran itu tanpa perkiraan.
Kata (أَدْنَىٰ, adnaa) berakar د-ن-و, sama dengan kata kerja di 53:8, dan berbentuk perbandingan. Bentuk ini muncul di 12 ayat (2:61, 2:282, 4:3, 5:108, 7:169, 30:3, 32:21, 33:51, 33:59, 53:9, 58:7, 73:20) dengan tiga arah makna, yaitu lebih dekat (misalnya 5:108, 30:3, 33:59), lebih rendah (2:61), dan kurang (58:7, 73:20). Di ayat ini maknanya lebih dekat, sebab kata itu menyambung ukuran jarak dan berasal dari akar yang sama dengan danaa di 53:8. Arah lebih rendah di 2:61 dipakai ketika Bani Israil meminta pengganti yang lebih rendah bagi yang lebih baik, dan arah itu tidak cocok dengan ukuran jarak di sini.
Susunan ukuran, lalu (أَوْ, aw) yang berarti "atau", lalu kata perbandingan dipakai Al-Qur'an di beberapa ayat lain. Di 2:74 hati yang mengeras disebut (كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً, ka-l-hijaarati aw asyaddu qaswatan) yang berarti "seperti batu atau lebih keras", di 16:77 urusan Saat itu disebut seperti sekejap mata (أَوْ هُوَ أَقْرَبُ, aw huwa aqrabu) yang diterjemahkan "atau bahkan lebih cepat", 2:200 dan 4:77 memakai (أَوْ أَشَدَّ, aw asyadda) yang berarti "atau lebih", dan 37:147 menyebut seratus ribu orang atau lebih, dengan kata kerja yang berarti bertambah. Di semua ayat itu ukuran pertama diberikan sebagai pegangan, lalu kata sesudah aw menyatakan bahwa kenyataannya bisa melampaui ukuran itu ke arah yang disebut, dan tidak pernah berbalik ke arah sebaliknya. Karena itu kata aw di sini tidak menandakan keraguan tentang jarak. Ukuran dua busur sudah pasti sebagai batas terjauh, dan kata sesudah aw menambahkan bahwa kedekatan itu bisa melampauinya. Pola yang sama di 2:74 tidak membuat kerasnya hati itu diragukan, dan di 16:77 kedatangan Saat itu tidak dibuat samar oleh tambahan "atau bahkan lebih cepat".
Tafsiran
Ayat ini menutup gerak mendekat dengan ukuran. Sesudah 53:8 menyebut dua langkah, ayat ini menyebut hasilnya dalam jarak yang bisa dibayangkan, yaitu panjang dua busur, lalu menambahkan bahwa jaraknya bisa lebih dekat lagi. Ukuran yang konkret mencegah gambaran itu menjadi samar, dan tambahan "atau lebih dekat" mencegah ukuran itu dianggap lebih jauh dari kenyataannya.
Kedekatan ini menjadi syarat bagi 53:10. Wahyu disampaikan sesudah jarak itu habis, dan 53:11 menyatakan bahwa hati tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya. Tuduhan di 53:2 bahwa kawan itu sesat atau keliru dijawab oleh rangkaian ini, karena dia tidak menerima dari kejauhan atau dari kabar orang, dan jarak penerimaannya diukur oleh Allah sendiri. Pilihan ukuran dari benda yang bisa dipegang tangan membuat peristiwa yang tidak disaksikan para penentang tetap bisa mereka bayangkan, sehingga pertanyaan di 53:12 menjadi pertanyaan yang adil.
Fungsi yang sama tampak di 16:77, tempat urusan Saat itu diukur dengan sekejap mata lalu dilampaui. Ukuran manusia dipakai sebagai pegangan, dan kenyataan yang diukur dibiarkan lebih dari ukuran itu. Teks tidak menguraikan apakah kedekatan itu jarak tempat semata atau kedekatan jenis lain, sehingga tafsiran ini berhenti pada ukuran yang diberikan.
Renungan dan Hikmah
- Allah memberi ukuran yang bisa dibayangkan, panjang dua busur panah, dan tidak cukup dengan kata dekat saja. Ukuran yang konkret membuat orang bisa membayangkan dan mengingat, dan gambaran yang teringat bertahan lebih lama daripada kesan umum. Orang yang mengajar atau menasihati bisa meniru cara ini dengan memberi gambaran yang dapat dipegang, seperti contoh dari kehidupan sehari-hari atau angka yang jelas, supaya pesan tidak menguap sebagai kesan yang samar begitu pertemuan selesai.
- Tambahan sesudah ukuran itu mengarah ke lebih dekat, dan tidak pernah ke lebih jauh. Apa pun yang dibayangkan manusia tentang dekatnya penyampaian wahyu, kenyataannya bisa lebih dekat lagi. Prasangka bahwa Allah jauh dari urusan hamba-Nya dan membiarkan mereka menebak-nebak kehendak-Nya dijawab dengan susunan kecil ini, dan Dia sendiri yang memilih kata untuk menyatakannya. Orang yang merasa terlalu jauh untuk kembali kepada-Nya bisa menimbang ulang jarak yang dia bayangkan, sebab ukuran yang Allah berikan selalu lebih dekat dari dugaan.
- Susunan yang sama dipakai di 2:74 untuk hati yang mengeras seperti batu atau lebih keras. Ukuran bisa dilampaui ke arah kedekatan dan juga ke arah kekerasan. Apakah hati kita sedang bergerak mendekat kepada Allah, atau sedang mengeras melampaui batu? Di ayat yang sama Allah menyebut sebagian batu memancarkan sungai, sebagian terbelah lalu mengeluarkan air, dan sebagian meluncur jatuh karena takut kepada-Nya. Hati yang lebih keras dari batu kehilangan alasan untuk merasa aman, dan ayat itu mengundang pemiliknya memeriksa diri sebelum kerasnya menjadi kebiasaan.
- Di 16:77 Allah menyebut urusan Saat itu seperti sekejap mata atau bahkan lebih cepat. Ukuran yang dipakai untuk dekatnya wahyu sama bentuknya dengan ukuran untuk datangnya Saat itu, dan keduanya lebih dekat dari yang dibayangkan manusia. Kesadaran itu membuat penundaan tobat atau kebaikan terasa sebagai taruhan yang tidak masuk akal. Rencana memperbaiki diri yang selalu dijadwalkan untuk tahun depan, sesudah urusan ini dan itu beres, menjadi rapuh ketika diletakkan di samping ukuran sekejap mata.
- Teks menyebut ukuran tanpa kata sekitar, lalu memberi kemungkinan yang lebih dekat. Ketika menceritakan kembali apa yang kita dengar atau lihat, godaan untuk membesarkan atau mengaburkan selalu ada, apalagi kalau cerita itu menguntungkan diri sendiri. Allah mengajarkan lewat ayat ini cara melaporkan yang jujur, yaitu ukuran yang jelas dan keterangan tambahan yang terarah, tanpa bumbu yang mengubah gambaran. Laporan kerja, kesaksian di depan hakim, dan cerita tentang orang lain semuanya membutuhkan kejujuran ukuran seperti itu.
- Busur disebut sekali dalam Al-Qur'an, di ayat ini, dan disebut sebagai ukuran kedekatan. Alat untuk membidik dari jauh itu muncul di sini untuk mengukur jarak yang dekat. Allah memilih benda yang akrab di tangan manusia untuk menggambarkan peristiwa yang di luar jangkauan mereka, sehingga yang agung bisa dibayangkan lewat yang sederhana. Benda-benda biasa di sekitar kita pun, kalau dipandang dengan cara ini, bisa menjadi jalan untuk memahami sesuatu yang lebih besar dari benda itu sendiri, asal kita mau berhenti sejenak dan bertanya apa yang sedang diperlihatkan.