عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ
yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ'allamahu syadiidu l-quwaayang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat
Terjemahan per kata (3 kata)
- عَلَّمَهُ'allamahudiajarkan kepadanya
- شَدِيدُsyadiidukeras
- الْقُوَىٰl-quwaakekuatan-kekuatan
Inti bacaan
Memilih guru mengaji atau pembimbing kerja yang teruji kecakapannya, mencatat pelajaran setiap pertemuan, lalu mengulangnya sampai paham sebelum meneruskannya kepada anak atau rekan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ, 'allamahu syadiidu l-quwaa) yang berarti "yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat". Kata (عَلَّمَهُ, 'allamahu) berakar ع-ل-م, berbentuk lampau, dan membawa akhiran -hu yang berarti "dia", yaitu kawan yang dibela sejak 53:2. Apa yang diajarkan tidak disebut ulang di ayat ini, karena 53:4 sudah menyebutnya sebagai wahyu.
Bentuk 'allamahu ada di 4 ayat (2:251, 2:282, 53:5, 55:4). Di 2:251 Allah mengajari Daud sebagian dari apa yang Dia kehendaki, di 2:282 pencatat utang diminta menulis (كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ, ka-maa 'allamahu llaahu) yang berarti "sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya", dan di 55:4 Ar-Rahman mengajari manusia pandai menjelaskan. Di tiga ayat itu pengajarnya Allah. Di 53:5 pengajarnya disebut lewat sifat, tanpa nama.
Sifat itu berbunyi (شَدِيدُ الْقُوَىٰ, syadiidu l-quwaa). Kata syadiidu yang diikuti kata bersandang al- ada di 17 ayat. Di 16 ayat lainnya susunan itu menjadi sifat Allah, yaitu (شَدِيدُ الْعِقَابِ, syadiidu l-'iqaabi) yang berarti "keras hukuman-Nya" di 14 ayat (2:196, 2:211, 3:11, 5:2, 5:98, 8:13, 8:25, 8:48, 8:52, 13:6, 40:3, 40:22, 59:4, 59:7), "keras siksa-Nya" di 2:165, dan (شَدِيدُ الْمِحَالِ, syadiidu l-mihaali) yang berarti "sangat kuat dayanya" di 13:13. Di 53:5 susunan yang sama menyifati pengajar yang tidak dinamai, dan kata sesudahnya menunjuk kekuatan, bukan hukuman.
Kata (الْقُوَىٰ, l-quwaa) berakar ق-و-ي dan berbentuk jamak, "kekuatan-kekuatan". Bentuk jamak ini muncul sekali, di 53:5. Bentuk tunggalnya dipakai untuk Allah di 51:58 (ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ, dzuu l-quwwati l-matiinu) yang berarti "yang mempunyai kekuatan lagi kukuh", dan untuk utusan yang membawa perkataan di 81:20 (ذِي قُوَّةٍ, dzii quwwatin) yang berarti "yang memiliki kekuatan". Terjemahan meringkas bentuk jamak itu menjadi "yang sangat kuat", sebab frasa "yang keras kekuatan-kekuatannya" terlalu berat dalam bahasa Indonesia, dan uraian ini menandai jamak yang tidak tampak di terjemahan.
Surah 81 memuat empat ungkapan yang juga ada di Surah 53. Sebutan kawan kalian ada di 81:22 dan 53:2, kekuatan pembawa perkataan ada di 81:20 dan 53:5, ufuk ada di 81:23 dan 53:7, dan ungkapan "dan sungguh dia telah melihatnya" ada di 81:23 dan 53:13. Di 81:19 pembawa itu disebut (رَسُولٍ كَرِيمٍ, rasuulin kariimin) yang berarti "utusan yang mulia", dan 81:21 menyebutnya (مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ, muthaa'in tsamma amiinin) yang berarti "yang ditaati di sana lagi terpercaya". Kedua surah itu tidak menyebut nama pengajar ini.
Tafsiran
Ayat ini menyebut mata rantai penyampaian yang pertama sesudah sumbernya. Wahyu berasal dari Allah (53:10), diajarkan oleh pengajar yang sangat kuat (53:5), diterima kawan yang dibela (53:2), lalu disampaikan kepada orang-orang yang disapa dengan akhiran -kum. Setiap mata rantai disebut dengan sifat yang menutup satu keraguan. Sumbernya bukan hawa nafsu, penerimanya tidak sesat, dan pengajarnya kuat, sehingga pesan itu tidak mungkin melemah atau berubah di tengah jalan.
Di 55:2 Ar-Rahman disebut sebagai yang mengajarkan Al-Qur'an, sedangkan 53:5 menyebut pengajar yang berdiri di antara Allah dan utusan-Nya. Kedua ayat itu tidak saling meniadakan. Allah menjadi sumber pengajaran, dan pengajar yang kuat menjadi perantara yang menyampaikannya. Di 2:97 nama Jibril disebut dalam kaitan dengan sampainya Al-Qur'an ke dalam hati utusan dengan izin Allah, sedangkan 53:5 dan 81:19-21 sendiri tidak menamai pengajar yang mereka sifati.
Kekuatan dalam ayat ini berkaitan dengan amanah pesan. Di 81:21 pembawa perkataan disebut terpercaya, dan di 81:20 kekuatannya disebut berada di sisi pemilik Arasy. Kekuatan dan kepercayaan berdiri bersama, sehingga pesan yang dibawa tidak dikurangi karena lemah dan tidak diubah karena khianat. Ayat berikutnya, 53:6, melanjutkan sifat pengajar itu.
Renungan dan Hikmah
- Pembelaan atas kawan itu berlanjut dengan menyebut siapa yang mengajarinya. Tuduhan mengarang berarti tuduhan bahwa dia belajar dari dirinya sendiri, dan Allah menjawabnya dengan menunjuk pengajar yang sangat kuat. Nilai sebuah pelajaran sering diukur dari gurunya, dan kawan itu diberi guru terbaik bagi tugasnya. Dari siapa pelajaran yang membentuk pandangan hidup selama ini diterima, dan apakah sumber itu pernah diperiksa sebagaimana Allah memperkenalkan pengajar wahyu kepada kaum yang ragu?
- Di 81:20-21 pembawa perkataan disebut memiliki kekuatan dan terpercaya. Kekuatan tanpa kepercayaan bisa merusak pesan, dan kepercayaan tanpa kekuatan bisa gagal menjaganya. Allah memilih pengajar yang memiliki keduanya untuk wahyu-Nya. Di tempat kerja atau di rumah, orang yang diberi amanah perlu dua hal itu pula, kemampuan untuk menjalankannya dan kejujuran untuk tidak membelokkannya, terutama ketika tidak ada yang mengawasi selain Allah yang selalu melihat.
- Di 18:66 Musa meminta seorang hamba Allah mengajarinya sebagian dari apa yang telah diajarkan kepada hamba itu, berupa petunjuk yang benar. Kata petunjuk yang benar di sana berasal dari akar yang menjadi lawan dari kekeliruan yang disangkal di 53:2. Seorang utusan besar pun datang sebagai murid. Kesediaan untuk diajari, meski sudah punya kedudukan, membuka jalan bagi pengetahuan yang Allah titipkan pada orang lain. Kesombongan untuk tidak mau diajari menutup jalan yang sama.
- Susunan "sangat keras" di 16 ayat lain menjadi sifat Allah, dan 51:58 menyebut Dia pemilik kekuatan yang kukuh. Kekuatan pengajar di ayat ini disebut berada di sisi pemilik Arasy (81:20), dan 2:165 menyatakan bahwa kekuatan seluruhnya milik Allah. Makhluk yang kuat tetap bergantung kepada pemberi kekuatannya. Kekuatan yang dimiliki seseorang, entah jabatan, harta, atau kecakapan, akan lebih aman bila dipandang sebagai titipan dari Dia yang memiliki kekuatan sesungguhnya.
- Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam (2:31), mengajar dengan pena (96:4), dan menyuruh pencatat menulis sebagaimana Allah mengajarkan kepadanya (2:282). Ilmu mengalir dari Allah melalui banyak tangan. Pengajar yang kuat mengajari kawan itu, dan kawan itu mengajari kaumnya. Setiap orang yang pernah diajari sesuatu menjadi satu mata rantai, dan pertanyaannya tetap sama. Apa yang diteruskan kepada orang berikutnya, dan apakah pesan itu sampai kepada mereka tanpa berubah dari apa yang dulu diterima?
- Ayat ini memperkenalkan pengajar wahyu lewat sifatnya, tanpa menyebut nama. Perhatian diarahkan pada kekuatan dan kepercayaan, dua hal yang menentukan apakah pesan itu sampai dengan selamat. Allah menilai pembawa pesan dari sifat yang menjamin pesannya. Dalam memilih guru, pemimpin, atau sumber berita, nama besar sering lebih cepat dipercaya daripada sifat yang teruji, padahal sifat itulah yang menentukan apakah sebuah pesan akan sampai dengan utuh.