ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ
yang mempunyai keteguhan, lalu dia tegak sempurna,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ذُو مِرَّةٍdzuu mirratinyang mempunyai keteguhan
- فَاسْتَوَىٰfa-stawaalalu dia tegak sempurna
Terjemahan per kata (3 kata)
- ذُوdzuupemilik
- مِرَّةٍmirratinketeguhan
- فَاسْتَوَىٰfa-stawaalalu tegak sempurna
Inti bacaan
Sebelum menerima tugas baru di kantor atau di lingkungan, menuliskan dengan jujur bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih lemah, lalu menunda janji sampai bagian yang lemah itu dipelajari.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ, dzuu mirratin fa-stawaa) yang berarti "yang mempunyai keteguhan, lalu dia tegak sempurna". Kalimatnya melanjutkan 53:5 tanpa kata sambung, sehingga (ذُو مِرَّةٍ, dzuu mirratin) berdiri sebagai sifat kedua bagi pengajar yang sebelumnya disebut (شَدِيدُ الْقُوَىٰ, syadiidu l-quwaa) yang berarti "yang sangat kuat". Sesudah dua sifat itu datang satu perbuatan, disambung dengan fa- yang berarti "lalu" sebagai urutan langsung.
Kata (ذُو, dzuu) berarti "yang mempunyai". Al-Qur'an memakai susunan ini untuk Allah, misalnya (ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ, dzuu l-quwwati l-matiinu) yang berarti "yang mempunyai kekuatan lagi kukuh" di 51:58, dan juga untuk utusan yang mulia di 81:20, yaitu (ذِي قُوَّةٍ, dzii quwwatin) yang berarti "yang memiliki kekuatan". Di 81:20 dan di ayat ini sifat yang dipunyai disebut tanpa kata sandang, dan sosok yang disifati dibiarkan tanpa nama.
Kata (مِرَّةٍ, mirratin) berakar م-ر-ر, dan bentuk ini hanya muncul di ayat ini. Akar yang sama dipakai di tiga puluh dua ayat, kebanyakan untuk hitungan kali (delapan belas ayat, misalnya 9:13) dan untuk gerak melewati (sembilan ayat, misalnya 25:72). Di 54:2 dan 54:19 akar itu memberi kata (مُسْتَمِرٌّ, mustamirrun) yang berarti "terus-menerus". Karena mirratin tidak muncul di tempat lain, maknanya ditimbang dari letaknya sesudah "yang sangat kuat" dan dari keluarga akarnya yang menunjuk sesuatu yang terus berlangsung. Terjemahan memakai "keteguhan", yaitu kekuatan yang bertahan dan tidak putus, dan arti itu sejalan dengan kedua petunjuk itu.
Kata kerja (فَاسْتَوَىٰ, fa-stawaa) berakar س-و-ي. Bentuk lampaunya dipakai di 15 ayat dengan tiga susunan. Dengan kata depan 'alaa, kata ini berarti tegak atau menetap di atas sesuatu. Bahtera berlabuh di atas Judi (11:44), orang duduk tegak di atas kapal dan tunggangan (23:28, 43:13), dan tanaman di 48:29 (فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ, fa-stawaa 'alaa suuqihi) yang berarti "lalu tegak sempurna di atas batangnya". Di 7 ayat (7:54, 10:3, 13:2, 20:5, 25:59, 32:4, 57:4) susunan yang sama dipakai untuk Allah yang bersemayam di atas Arasy. Dengan kata depan ilaa, kata ini berarti menuju, seperti di 2:29 dan 41:11. Tanpa kata depan, kata ini hanya muncul di 53:6 dan 28:14, tempat Musa disebut (وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ, wa-lammaa balagha asyuddahu wa-stawaa) yang berarti "dan setelah dia mencapai kedewasaannya dan menjadi sempurna".
Karena itu (فَاسْتَوَىٰ, fa-stawaa) di ayat ini diterjemahkan "lalu dia tegak sempurna". Kata "tegak" diambil dari pemakaian dengan 'alaa, dan kata "sempurna" dari 28:14, pemakaian lain yang juga tanpa kata depan. Arti menampakkan diri tidak punya pijakan di kelima belas pemakaian itu. Ayat ini tidak menyebut tempat tegaknya, dan tempat itu datang di 53:7.
Tafsiran
Ayat ini menyelesaikan gambaran pengajar yang dimulai di 53:5. Dua sifat disebut lebih dulu, yaitu kekuatan dan keteguhan, baru kemudian satu keadaan, yaitu tegak sempurna. Urutan ini membuat pengajar itu dikenal dari sifat-sifatnya sebelum terlihat apa yang dikerjakannya, dan sesudah ayat ini seluruh rangkaian sampai 53:10 bergerak dari keadaan tegak itu.
Gambaran yang sama ada di 81:19-21, tempat utusan yang mulia disebut memiliki kekuatan, berkedudukan tinggi di sisi pemilik Arasy, ditaati, dan terpercaya. Di kedua surah kekuatan disebut pertama, dan di kedua surah sosok itu dibiarkan tanpa nama. Kesamaan urutan ini membuat dua bagian dari dua surah saling menerangkan, sehingga pengajar di Surah 53 dan utusan yang mulia di Surah 81 disifati dengan cara yang sama.
Keteguhan di ayat ini juga menjawab tuduhan di 53:2. Pengajar yang teguh tidak goyah di tengah penyampaian, sehingga apa yang sampai kepada kawan itu tetap utuh seperti ketika diajarkan, dan tuduhan sesat atau keliru kehilangan pijakannya.
Dengan susunan itu, 53:6 dan 53:7 terbaca sebagai satu gambaran, yaitu sosok yang kuat dan teguh berdiri tegak di ufuk yang tertinggi. Di 81:23 ufuk itu disebut ufuk yang terang, tempat kawan itu melihatnya. Penglihatan itu menjadi pokok pembelaan di 53:11-12, ketika Allah bertanya apakah para penentang membantah apa yang dilihatnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyifati pengajar wahyu-Nya dengan dua kata yang berurutan, kekuatan lalu keteguhan. Kekuatan bisa datang sesaat lalu habis, sedangkan keteguhan menahan beban itu dari hari ke hari tanpa putus. Amanah yang panjang, seperti mendidik anak, merawat orang tua yang sakit, atau menjaga pekerjaan yang dipercayakan, lebih banyak membutuhkan yang kedua. Orang yang kuat tetapi mudah goyah sering meninggalkan pekerjaannya di tengah jalan, dan ayat ini menaruh keteguhan tepat sesudah kekuatan, seakan-akan kekuatan baru lengkap ketika sanggup bertahan.
- Sebelum mendekat di 53:8, pengajar itu lebih dulu tegak sempurna di tempatnya. Allah menyebut keadaan itu lebih dulu, baru kemudian geraknya, sehingga penyampaian wahyu dimulai dari pijakan yang kokoh. Orang yang hendak mengajarkan sesuatu kepada orang lain perlu lebih dulu berdiri tegak di atas apa yang dia pahami. Penyampaian dari pijakan yang goyah hanya memindahkan kebingungan, dan murid yang menerimanya akan mewarisi keraguan gurunya bersama pelajarannya. Tegak lebih dulu, lalu mendekat, menjadi urutan yang layak ditiru siapa saja yang memikul tugas menyampaikan.
- Kata kerja yang sama dipakai untuk Allah di atas Arasy, untuk bahtera di atas Judi, untuk tanaman di atas batangnya, dan untuk pengajar di ayat ini. Al-Qur'an tidak menyamakan semua itu, sebab makna kata itu ditentukan oleh siapa pelakunya dan apa yang menyertainya. Pembaca yang tergesa bisa memindahkan makna dari satu ayat ke ayat lain begitu saja, lalu membayangkan Dia bersemayam seperti orang duduk di atas tunggangan. Kehati-hatian membaca susunan sebelum menyimpulkan termasuk bagian dari hormat kepada firman-Nya, dan kebiasaan itu melindungi pembaca dari gambaran yang tidak pernah dimaksudkan.
- Di 28:14 kata yang sama menandai saat Musa mencapai kedewasaan dan menjadi sempurna, lalu Allah menganugerahkan kepadanya putusan dan pengetahuan. Kesiapan datang lebih dulu, lalu anugerah menyusul. Apakah kita meminta ilmu, jabatan, dan tanggung jawab sebelum diri kita siap menampungnya? Ayat itu memperlihatkan bahwa Allah memberi pada saat yang tepat, dan masa menunggu sampai tegak sempurna termasuk bagian dari pemberian itu. Orang yang merasa tertinggal dari teman sebayanya bisa memandang masa itu sebagai persiapan, dan tidak perlu menganggapnya kehilangan.
- Di 48:29 kata yang sama menutup perumpamaan benih yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu makin kuat, menjadi besar, dan tegak di atas batangnya sampai para penanam senang melihatnya. Tegak sempurna di sana datang sesudah beberapa tahap pertumbuhan, tanpa lompatan. Dalam hidup, keteguhan yang dikagumi orang jarang lahir sekaligus, dan Allah memperlihatkan lewat perumpamaan itu bahwa yang tegak hari ini dulunya tunas yang lemah. Kesabaran terhadap pertumbuhan yang lambat, baik pada diri sendiri maupun pada anak dan murid, mendapat dasarnya di sini.
- Ayat ini menyebut sifat dan keadaan pengajar itu tanpa gambaran rupanya. Keinginan untuk mengetahui wujudnya wajar, tetapi Allah memilih memberi apa yang perlu untuk mempercayai penyampaiannya, yaitu kekuatan, keteguhan, dan keadaan tegak. Pembaca yang membayangkan warna, ukuran, atau bentuknya sedang menambahkan sesuatu yang tidak berasal dari ayat ini. Menahan diri dari mengisi kekosongan itu dengan bayangan sendiri termasuk cara menerima firman sebagaimana adanya, dan cara itu menjaga perhatian tetap pada isi yang disampaikan.