وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ
ketika dia berada di ufuk yang tertinggi.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰwa-huwa bi-l-ufuqi l-a'laaketika dia berada di ufuk yang tertinggi
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَهُوَwa-huwadan ia
- بِالْأُفُقِbi-l-ufuqidi ufuk
- الْأَعْلَىٰl-a'laayang tertinggi
Inti bacaan
Menyisihkan lima menit saat matahari terbit atau terbenam untuk memandang langit tanpa ponsel, lalu menyebut satu tanda kebesaran Allah yang terlihat hari itu dalam doa singkat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ, wa-huwa bi-l-ufuqi l-a'laa) yang berarti "ketika dia berada di ufuk yang tertinggi". Huruf wa di depannya menerangkan keadaan pada saat 53:6 terjadi, sehingga tegak sempurna dan berada di ufuk yang tertinggi berlangsung bersamaan. Terjemahan menyalin wa itu dengan "ketika", dan tidak dengan "dan", karena ayat ini tidak menambah peristiwa baru. Kata (هُوَ, huwa) yang berarti "dia" merujuk kepada pengajar yang disifati di 53:5 dan 53:6, sebab belum ada sosok lain yang disebut sejak 53:5.
Kata (بِالْأُفُقِ, bi-l-ufuqi) berakar أ-ف-ق dan berarti "di ufuk", batas langit yang terlihat dari bumi. Akar ini dipakai di 3 ayat (41:53, 53:7, 81:23). Di 81:23 bunyinya (وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ, wa-la-qad ra'aahu bi-l-ufuqi l-mubiini) yang berarti "dan sungguh dia telah melihatnya di ufuk yang terang", dan di 41:53 bentuk jamaknya (فِي الْآفَاقِ, fii l-aafaaqi) yang berarti "di segenap penjuru" menjadi tempat Allah memperlihatkan tanda-tanda-Nya, berdampingan dengan tanda-tanda pada diri manusia sendiri. Ketiga pemakaian itu berkaitan dengan penglihatan, sebab 81:23 memakai kata kerja melihat, 41:53 memakai kata kerja memperlihatkan, dan 53:7 disusul oleh penglihatan di 53:11-13. Huruf bi- di depan ufuk menunjuk tempat, seperti di 20:12 ketika Musa disebut berada (بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ, bi-l-waadi l-muqaddasi) yang berarti "di lembah yang suci".
Kata (الْأَعْلَىٰ, l-a'laa) berakar ع-ل-و dan berbentuk perbandingan, sehingga terjemahan memakai "tertinggi". Bentuk bersandang ini muncul di 9 ayat. Allah disebut dengannya di 87:1 dan 92:20, dan sifat-Nya disebut (الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ, l-matsalu l-a'laa) yang berarti "sifat yang tertinggi" di 16:60 dan 30:27. Fir'aun memakainya untuk mengaku sebagai tuhan tertinggi di 79:24, Musa diyakinkan dengannya bahwa dia akan unggul di 20:68, dan 37:8 serta 38:69 menyebut (الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ, l-mala'i l-a'laa) yang berarti "majelis yang tertinggi". Di antara kesembilan ayat itu, pemakaiannya untuk tempat yang bisa dipandang mata terdapat di 53:7 saja, yaitu ufuk.
Ayat ini tidak menerangkan ufuk mana yang dimaksud atau di arah mana ufuk itu terlihat. Teks memberi ketinggian tempatnya, dan ketinggian itu menjadi titik mula gerak mendekat di 53:8. Kata (الْأَعْلَىٰ, l-a'laa) di sini juga membedakan ufuk ini dari ufuk di 81:23 yang disifati (الْمُبِينِ, l-mubiini) yang berarti "yang terang", karena satu sebutan menekankan tinggi dan sebutan lain menekankan jelas. Kedua sifat itu tidak saling meniadakan, dan keduanya bisa dibaca sebagai dua sisi dari satu penglihatan.
Tafsiran
Ayat ini menaruh sosok yang tegak itu di tempat yang jauh dan tinggi, dan jarak itu menjadi titik mula gerak di ayat-ayat berikutnya. Dari ufuk yang tertinggi (53:7), dia mendekat dan bertambah dekat (53:8), sampai jaraknya dua busur atau lebih dekat (53:9). Rangkaian itu bergerak dari jauh ke dekat, dan wahyu baru disebut sesudah jarak itu habis (53:10).
Di 81:23 ufuk yang sama disebut terang, dan di sana penekanannya jatuh pada penglihatan kawan itu. Dua surah memakai dua sifat untuk ufuk, tinggi di 53:7 dan terang di 81:23, dan keduanya membela kesaksian yang sama. Gabungan keduanya menolak anggapan bahwa kawan itu melihat sesuatu yang samar dari kejauhan, sebab tempat yang tinggi itu juga tempat yang jelas. Di Surah 53 kesaksian itu dilanjutkan di 53:11, bahwa hati tidak berdusta tentang apa yang dilihat, dan di 53:12 para penentang ditanya apakah mereka membantahnya tentang apa yang dilihatnya.
Janji di 41:53 bahwa Allah akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap penjuru memakai akar yang sama, dan 53:18 menyatakan bahwa kawan itu telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang sangat besar. Ufuk dengan demikian menjadi tempat Allah memperlihatkan, baik kepada manusia pada umumnya maupun kepada kawan yang dibela di surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut jauhnya lebih dulu, di ufuk yang tertinggi, lalu dekatnya kemudian. Petunjuk sering dikenali mula-mula sebagai sesuatu yang tinggi dan terasa jauh, lalu perlahan menjadi dekat dan bisa dipegang. Orang yang merasa ajaran agama terlalu tinggi untuk dirinya boleh melihat urutan ayat ini, sebab rangkaian yang dimulai dari ufuk itu berakhir pada kedekatan. Jarak yang terasa hari ini tidak menjadi alasan untuk berhenti mencari, dan rasa jauh itu sendiri bisa menjadi langkah pertama menuju pemahaman yang lebih dekat.
- Ufuk bisa dipandang siapa saja yang mengangkat wajahnya, dan di 41:53 Allah berjanji memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap penjuru dan pada diri manusia sendiri, sampai jelas bagi mereka bahwa itu kebenaran. Setiap kali memandang batas langit pada pagi atau senja, seseorang berdiri di depan tempat yang oleh Al-Qur'an dijadikan panggung tanda-tanda. Kebiasaan kecil memandang ufuk dengan sadar, di tengah hari yang sibuk, bisa menjadi pengingat bahwa Dia masih memperlihatkan, dan bahwa mata yang terbuka belum tentu melihat kalau hati tidak ikut memandang.
- Di Surah 53 ufuk itu disebut tertinggi, dan di Surah 81 disebut terang. Sesuatu yang tinggi sering dibayangkan samar dan sulit dijangkau, sedangkan Al-Qur'an menyandingkan ketinggian dengan kejelasan. Pesan yang datang dari Allah tidak perlu dibuat gelap supaya terasa agung. Orang yang menyampaikan agama dengan istilah berbelit dan kalimat yang sengaja dikaburkan sedang memisahkan ketinggian dari kejelasannya, padahal kedua sifat itu disandingkan oleh Al-Qur'an untuk tempat yang sama. Ajaran yang tinggi layak disampaikan dengan terang.
- Di 53:12 Allah bertanya kepada para penentang apakah mereka membantah kawan itu tentang apa yang dilihatnya. Berapa sering kita membantah kesaksian orang lain hanya karena kita tidak ikut melihat? Allah membela kesaksian itu dengan menyebut tempatnya, ufuk yang tertinggi, lalu jaraknya, lalu isi yang diterima. Kesaksian yang disusun selengkap itu layak didengar sampai habis sebelum ditolak. Dalam perselisihan sehari-hari, di rumah atau di tempat kerja, kebiasaan mendengar keterangan orang sampai tuntas sering mencegah tuduhan yang kelak disesali.
- Kata yang di ayat ini melekat pada ufuk juga dipakai Fir'aun ketika dia mengaku sebagai tuhan tertinggi bagi kaumnya (79:24), sedangkan 87:1 memakainya untuk Tuhan yang nama-Nya disucikan. Manusia yang mengambil sebutan itu untuk dirinya berakhir dengan azab di akhirat dan di dunia (79:25), dan ufuk yang disifati dengannya tetap sebuah tempat ciptaan Allah. Setiap pujian yang mengangkat manusia setinggi itu, dari pengikut kepada pemimpinnya atau dari diri kepada dirinya sendiri, perlu dikembalikan kepada Dia yang memang Mahatinggi.
- Utusan itu diperintahkan di 38:69 mengakui bahwa dia tidak mempunyai pengetahuan tentang majelis yang tertinggi ketika mereka berbantah, dan menurut 37:8 setan-setan tidak dapat mendengarkan ke sana. Pengetahuan tentang yang tinggi sampai kepada manusia lewat jalan yang Allah buka, dan di ayat ini jalan itu digambarkan datang dari ufuk yang tertinggi. Kerendahan hati tentang batas pengetahuan sendiri membuat seseorang lebih siap menerima apa yang Allah ajarkan, dan menjaganya dari mengarang tentang perkara yang tidak pernah sampai kepadanya.