Ayat 53:8
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ
kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ دَنَاtsumma danaakemudian dia mendekat
- فَتَدَلَّىٰfa-tadallaalalu bertambah dekat
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- دَنَاdanaamendekat
- فَتَدَلَّىٰfa-tadallaalalu bertambah dekat
Inti bacaan
Ketika seorang anak atau rekan muda tampak kesulitan, mendatangi mejanya lebih dulu dan menjelaskan ulang sambil duduk di sampingnya, alih-alih menunggu dia datang bertanya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ, tsumma danaa fa-tadallaa) yang berarti "kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat". Dua kata sambung dipakai berurutan. Kata (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" menandai langkah berikutnya sesudah keadaan di ufuk (53:7), sedangkan fa- yang berarti "lalu" menyambung dua gerak dalam ayat ini secara beruntun. Dengan dua kata sambung itu, ayat ini memisahkan keadaan di ufuk dari gerak mendekat, lalu merapatkan dua gerak mendekat menjadi satu rangkaian.
Kata kerja (دَنَا, danaa) berakar د-ن-و dan berarti "mendekat". Kata kerja dari akar ini hanya ada di 2 ayat, yaitu di 53:8 dan di 33:59, tempat perempuan-perempuan mukmin diminta (يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ, yudniina 'alayhinna min jalaabiibihinna) yang berarti "mengulurkan jilbabnya atas diri mereka". Di 33:59 kain didekatkan ke tubuh pemakainya, dan di ayat ini pelakunya sendiri yang mendekat. Akar yang sama dipakai untuk kehidupan dunia, (الدُّنْيَا, d-dunyaa), di lebih dari seratus ayat, termasuk (السَّمَاءَ الدُّنْيَا, s-samaa'a d-dunyaa) yang berarti "langit dunia" di 37:6, dan untuk buah surga yang (دَانِيَةٌ, daaniyatun) yang berarti "dekat" di 69:23, juga buah kedua taman yang dekat di 55:54. Di semua pemakaian itu akar ini membawa makna dekat, baik dekat dalam jarak seperti buah yang mudah dipetik maupun dekat dalam urutan seperti kehidupan dunia yang datang sebelum akhirat.
Kata kerja (فَتَدَلَّىٰ, fa-tadallaa) berakar د-ل-و, dan bentuk ini hanya muncul di ayat ini. Akar ini dipakai di 3 ayat (2:188, 12:19, 53:8). Di 12:19 seorang pengambil air dari rombongan musafir mengulurkan timbanya ke dalam sumur, lalu mendapati Yusuf, dan di 2:188 orang-orang dilarang (وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ, wa-tudluu bihaa ilaa l-hukkaami) yang berarti "dan menyerahkannya kepada para hakim". Di kedua ayat itu sesuatu diulurkan dari satu pihak sampai tiba di pihak lain, yaitu timba kepada air dan harta kepada hakim. Di 12:19 dan 2:188 pelakunya mengulurkan benda lain, sedangkan di 53:8 tidak ada benda yang diulurkan, sehingga pelaku itu sendiri yang bergerak mendekat.
Terjemahan memakai "bertambah dekat" untuk (فَتَدَلَّىٰ, fa-tadallaa). Kata itu menangkap jarak yang terus menyempit sesudah danaa, sehingga dua langkah itu terbaca sebagai dua tahap mendekat. Gambaran timba yang diulurkan disimpan dalam uraian ini, karena satu kata Indonesia sulit memuat keduanya sekaligus. Ayat ini tidak menerangkan kepada siapa dia mendekat, dan 53:10 memperlihatkan bahwa gerak itu berujung pada hamba yang menerima wahyu.
Tafsiran
Ayat ini mengubah jarak menjadi gerak. Di 53:7 pengajar itu berada di ufuk yang tertinggi, lalu di ayat ini dia mendekat dalam dua langkah. Langkah pertama disebut dengan kata umum untuk mendekat, dan langkah kedua dengan kata yang berkerabat dengan mengulur ke arah tujuan. Kedekatan itu diukur di 53:9 dan diberi maksud di 53:10, yaitu penyampaian wahyu.
Rangkaian ini juga memperlihatkan bahwa seluruh gerak datang dari pihak pengajar. Penerimanya baru disebut di 53:10, sesudah jarak itu habis, sehingga kedekatan terjadi karena pengajar yang mendatangi.
Pembelaan di awal surah membutuhkan gambaran ini. Kawan yang dituduh sesat, keliru, dan berbicara dari hawa nafsu (53:2-3) menerima dari dekat, dan pengajarnya yang datang mendekatinya. Di 16:103 para penentang berkata (إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ, innamaa yu'allimuhu basyarun) yang berarti "dia diajari oleh seorang manusia", dan Surah 53 menjawab tuduhan semacam itu dengan menggambarkan pengajar yang datang dari ufuk yang tertinggi.
Kedekatan ini juga menerangkan mengapa 53:11 menyatakan bahwa hati tidak berdusta tentang apa yang dilihat. Penglihatan dari jarak dekat menyisakan sedikit ruang bagi salah lihat, dan para penentang di 53:12 diajak menimbangnya sebelum membantah.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah mendekat, pengajar itu bertambah dekat lagi. Dia tidak berhenti pada jarak yang dianggap cukup, dan Allah menyebut dua langkah itu satu per satu dalam satu ayat pendek. Orang yang mengajar, merawat, atau mendampingi sering puas pada kedekatan yang sekadarnya, seperti hadir tanpa sungguh mendengar atau menjelaskan tanpa memastikan dipahami. Padahal satu langkah lagi bisa membuat apa yang disampaikan benar-benar sampai, dan langkah kedua itu sering lebih menentukan daripada yang pertama.
- Dalam rangkaian ini pengajar yang mendatangi, dan penerimanya baru disebut sesudah jarak itu habis. Allah mengatur agar wahyu dibawa mendekat kepada hamba-Nya, tanpa menunggu hamba itu datang mencarinya. Guru yang menunggu murid datang kepadanya bisa belajar dari urutan ini, karena pengetahuan yang berharga kadang perlu diantar sampai ke depan orang yang membutuhkannya. Orang tua yang ingin didengar anaknya pun sering perlu lebih dulu mendatangi dunia anaknya sebelum berharap anak itu mendatangi dunianya.
- Akar yang sama dipakai di 2:188 untuk orang yang mengulurkan harta kepada para hakim supaya dapat memakan sebagian harta orang lain dengan cara yang berdosa. Satu akar menggambarkan uluran yang menyampaikan wahyu dan uluran yang menyuap. Kepada siapa kita mengulurkan diri, harta, dan waktu kita, dan untuk tujuan apa? Allah memperlihatkan bahwa gerak yang sama bisa membawa kebenaran atau merusaknya. Pemberian yang tampak sebagai kebaikan, seperti hadiah kepada pejabat yang sedang memutus perkara kita, perlu ditimbang dari arah ulurannya.
- Di 2:186 Allah menyatakan bahwa Dia dekat dan memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Nya. Ayat ini memperlihatkan kedekatan dalam bentuk gerak yang bisa dibayangkan, pengajar yang mendekat sampai sejarak dua busur. Kedekatan Allah sendiri tidak diukur dengan busur, dan 2:186 menyatakannya tanpa ukuran apa pun. Orang yang ragu doanya didengar bisa berpegang pada dua ayat itu bersama-sama, sebab Dia yang mengatur kedekatan pengajar kepada hamba-Nya juga menyatakan diri-Nya dekat kepada setiap yang memanggil-Nya.
- Sosok yang disebut sangat kuat dan teguh di 53:5-6 mendekat dalam dua langkah, tidak sekaligus. Sekuat apa pun dia, pengajar itu tidak menyergap, dan Allah menggambarkan kedekatan itu datang bertahap. Orang yang punya kuasa atas orang lain, seperti atasan, guru, atau orang tua, dapat meniru cara ini dengan mendekat secara bertahap, supaya yang didekati tidak terkejut dan tetap sanggup menerima. Kekuatan yang tahu menahan langkahnya lebih mudah dipercaya daripada kekuatan yang datang sekaligus.
- Akar yang sama menggambarkan buah surga yang dekat dan mudah dipetik (69:23, 55:54), dan di 76:14 naungannya dekat dan buahnya dimudahkan untuk dipetik. Di akhirat Allah mendekatkan buah kepada penghuni taman, dan di dunia Dia mendekatkan wahyu kepada hamba-Nya. Kedua pemberian itu datang tanpa diminta dengan susah payah. Apa yang sudah didekatkan kepada kita hari ini, entah ayat yang mudah dibuka atau kesempatan berbuat baik di depan mata, sering terlewat karena terasa terlalu dekat untuk dihargai, padahal kedekatan itu diatur oleh-Nya.
Ayat 53:9
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ
sehingga jaraknya dua busur panah atau lebih dekat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِfa-kaana qaaba qawsaynisehingga jaraknya dua busur panah
- أَوْ أَدْنَىٰaw adnaaatau lebih dekat
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَكَانَfa-kaanamaka jadilah
- قَابَqaabasejarak
- قَوْسَيْنِqawsaynidua busur
- أَوْawatau
- أَدْنَىٰadnaalebih dekat
Inti bacaan
Saat melaporkan kejadian di rapat atau di grup keluarga, menyebut angka dan waktu yang benar-benar diketahui, lalu memisahkannya dengan jelas dari dugaan sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ, fa-kaana qaaba qawsayni aw adnaa) yang berarti "sehingga jaraknya dua busur panah atau lebih dekat". Huruf fa- di depannya menjadikan jarak itu akibat dari dua langkah di 53:8, sehingga terjemahan memakai "sehingga". Kata kerja (فَكَانَ, fa-kaana) yang berarti "maka jadilah" tidak menyebut apa yang menjadi sejarak itu, dan terjemahan mengisinya dengan kata "jaraknya" karena dua ayat sebelumnya membicarakan gerak mendekat.
Kata (قَابَ, qaaba) berakar ق-و-ب dan berarti "sejarak", sedangkan kata (قَوْسَيْنِ, qawsayni) berakar ق-و-س dan menunjuk dua busur. Kedua akar ini hanya dipakai di ayat ini. Karena busur tidak disebut di ayat lain, ukuran ini tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain, dan terjemahan menyalinnya apa adanya. Terjemahan juga tidak menambahkan kata "sekitar", sebab teksnya menyebut ukuran itu tanpa perkiraan.
Kata (أَدْنَىٰ, adnaa) berakar د-ن-و, sama dengan kata kerja di 53:8, dan berbentuk perbandingan. Bentuk ini muncul di 12 ayat (2:61, 2:282, 4:3, 5:108, 7:169, 30:3, 32:21, 33:51, 33:59, 53:9, 58:7, 73:20) dengan tiga arah makna, yaitu lebih dekat (misalnya 5:108, 30:3, 33:59), lebih rendah (2:61), dan kurang (58:7, 73:20). Di ayat ini maknanya lebih dekat, sebab kata itu menyambung ukuran jarak dan berasal dari akar yang sama dengan danaa di 53:8. Arah lebih rendah di 2:61 dipakai ketika Bani Israil meminta pengganti yang lebih rendah bagi yang lebih baik, dan arah itu tidak cocok dengan ukuran jarak di sini.
Susunan ukuran, lalu (أَوْ, aw) yang berarti "atau", lalu kata perbandingan dipakai Al-Qur'an di beberapa ayat lain. Di 2:74 hati yang mengeras disebut (كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً, ka-l-hijaarati aw asyaddu qaswatan) yang berarti "seperti batu atau lebih keras", di 16:77 urusan Saat itu disebut seperti sekejap mata (أَوْ هُوَ أَقْرَبُ, aw huwa aqrabu) yang diterjemahkan "atau bahkan lebih cepat", 2:200 dan 4:77 memakai (أَوْ أَشَدَّ, aw asyadda) yang berarti "atau lebih", dan 37:147 menyebut seratus ribu orang atau lebih, dengan kata kerja yang berarti bertambah. Di semua ayat itu ukuran pertama diberikan sebagai pegangan, lalu kata sesudah aw menyatakan bahwa kenyataannya bisa melampaui ukuran itu ke arah yang disebut, dan tidak pernah berbalik ke arah sebaliknya. Karena itu kata aw di sini tidak menandakan keraguan tentang jarak. Ukuran dua busur sudah pasti sebagai batas terjauh, dan kata sesudah aw menambahkan bahwa kedekatan itu bisa melampauinya. Pola yang sama di 2:74 tidak membuat kerasnya hati itu diragukan, dan di 16:77 kedatangan Saat itu tidak dibuat samar oleh tambahan "atau bahkan lebih cepat".
Tafsiran
Ayat ini menutup gerak mendekat dengan ukuran. Sesudah 53:8 menyebut dua langkah, ayat ini menyebut hasilnya dalam jarak yang bisa dibayangkan, yaitu panjang dua busur, lalu menambahkan bahwa jaraknya bisa lebih dekat lagi. Ukuran yang konkret mencegah gambaran itu menjadi samar, dan tambahan "atau lebih dekat" mencegah ukuran itu dianggap lebih jauh dari kenyataannya.
Kedekatan ini menjadi syarat bagi 53:10. Wahyu disampaikan sesudah jarak itu habis, dan 53:11 menyatakan bahwa hati tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya. Tuduhan di 53:2 bahwa kawan itu sesat atau keliru dijawab oleh rangkaian ini, karena dia tidak menerima dari kejauhan atau dari kabar orang, dan jarak penerimaannya diukur oleh Allah sendiri. Pilihan ukuran dari benda yang bisa dipegang tangan membuat peristiwa yang tidak disaksikan para penentang tetap bisa mereka bayangkan, sehingga pertanyaan di 53:12 menjadi pertanyaan yang adil.
Fungsi yang sama tampak di 16:77, tempat urusan Saat itu diukur dengan sekejap mata lalu dilampaui. Ukuran manusia dipakai sebagai pegangan, dan kenyataan yang diukur dibiarkan lebih dari ukuran itu. Teks tidak menguraikan apakah kedekatan itu jarak tempat semata atau kedekatan jenis lain, sehingga tafsiran ini berhenti pada ukuran yang diberikan.
Renungan dan Hikmah
- Allah memberi ukuran yang bisa dibayangkan, panjang dua busur panah, dan tidak cukup dengan kata dekat saja. Ukuran yang konkret membuat orang bisa membayangkan dan mengingat, dan gambaran yang teringat bertahan lebih lama daripada kesan umum. Orang yang mengajar atau menasihati bisa meniru cara ini dengan memberi gambaran yang dapat dipegang, seperti contoh dari kehidupan sehari-hari atau angka yang jelas, supaya pesan tidak menguap sebagai kesan yang samar begitu pertemuan selesai.
- Tambahan sesudah ukuran itu mengarah ke lebih dekat, dan tidak pernah ke lebih jauh. Apa pun yang dibayangkan manusia tentang dekatnya penyampaian wahyu, kenyataannya bisa lebih dekat lagi. Prasangka bahwa Allah jauh dari urusan hamba-Nya dan membiarkan mereka menebak-nebak kehendak-Nya dijawab dengan susunan kecil ini, dan Dia sendiri yang memilih kata untuk menyatakannya. Orang yang merasa terlalu jauh untuk kembali kepada-Nya bisa menimbang ulang jarak yang dia bayangkan, sebab ukuran yang Allah berikan selalu lebih dekat dari dugaan.
- Susunan yang sama dipakai di 2:74 untuk hati yang mengeras seperti batu atau lebih keras. Ukuran bisa dilampaui ke arah kedekatan dan juga ke arah kekerasan. Apakah hati kita sedang bergerak mendekat kepada Allah, atau sedang mengeras melampaui batu? Di ayat yang sama Allah menyebut sebagian batu memancarkan sungai, sebagian terbelah lalu mengeluarkan air, dan sebagian meluncur jatuh karena takut kepada-Nya. Hati yang lebih keras dari batu kehilangan alasan untuk merasa aman, dan ayat itu mengundang pemiliknya memeriksa diri sebelum kerasnya menjadi kebiasaan.
- Di 16:77 Allah menyebut urusan Saat itu seperti sekejap mata atau bahkan lebih cepat. Ukuran yang dipakai untuk dekatnya wahyu sama bentuknya dengan ukuran untuk datangnya Saat itu, dan keduanya lebih dekat dari yang dibayangkan manusia. Kesadaran itu membuat penundaan tobat atau kebaikan terasa sebagai taruhan yang tidak masuk akal. Rencana memperbaiki diri yang selalu dijadwalkan untuk tahun depan, sesudah urusan ini dan itu beres, menjadi rapuh ketika diletakkan di samping ukuran sekejap mata.
- Teks menyebut ukuran tanpa kata sekitar, lalu memberi kemungkinan yang lebih dekat. Ketika menceritakan kembali apa yang kita dengar atau lihat, godaan untuk membesarkan atau mengaburkan selalu ada, apalagi kalau cerita itu menguntungkan diri sendiri. Allah mengajarkan lewat ayat ini cara melaporkan yang jujur, yaitu ukuran yang jelas dan keterangan tambahan yang terarah, tanpa bumbu yang mengubah gambaran. Laporan kerja, kesaksian di depan hakim, dan cerita tentang orang lain semuanya membutuhkan kejujuran ukuran seperti itu.
- Busur disebut sekali dalam Al-Qur'an, di ayat ini, dan disebut sebagai ukuran kedekatan. Alat untuk membidik dari jauh itu muncul di sini untuk mengukur jarak yang dekat. Allah memilih benda yang akrab di tangan manusia untuk menggambarkan peristiwa yang di luar jangkauan mereka, sehingga yang agung bisa dibayangkan lewat yang sederhana. Benda-benda biasa di sekitar kita pun, kalau dipandang dengan cara ini, bisa menjadi jalan untuk memahami sesuatu yang lebih besar dari benda itu sendiri, asal kita mau berhenti sejenak dan bertanya apa yang sedang diperlihatkan.