فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ
sehingga jaraknya dua busur panah atau lebih dekat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِfa-kaana qaaba qawsaynisehingga jaraknya dua busur panah
- أَوْ أَدْنَىٰaw adnaaatau lebih dekat
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَكَانَfa-kaanamaka jadilah
- قَابَqaabasejarak
- قَوْسَيْنِqawsaynidua busur
- أَوْawatau
- أَدْنَىٰadnaalebih dekat
Inti bacaan
Saat melaporkan kejadian di rapat atau di grup keluarga, menyebut angka dan waktu yang benar-benar diketahui, lalu memisahkannya dengan jelas dari dugaan sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ, fa-kaana qaaba qawsayni aw adnaa) yang berarti "sehingga jaraknya dua busur panah atau lebih dekat". Huruf fa- di depannya menjadikan jarak itu akibat dari dua langkah di 53:8, sehingga terjemahan memakai "sehingga". Kata kerja (فَكَانَ, fa-kaana) yang berarti "maka jadilah" tidak menyebut apa yang menjadi sejarak itu, dan terjemahan mengisinya dengan kata "jaraknya" karena dua ayat sebelumnya membicarakan gerak mendekat.
Kata (قَابَ, qaaba) berakar ق-و-ب dan berarti "sejarak", sedangkan kata (قَوْسَيْنِ, qawsayni) berakar ق-و-س dan menunjuk dua busur. Kedua akar ini hanya dipakai di ayat ini. Karena busur tidak disebut di ayat lain, ukuran ini tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain, dan terjemahan menyalinnya apa adanya. Terjemahan juga tidak menambahkan kata "sekitar", sebab teksnya menyebut ukuran itu tanpa perkiraan.
Kata (أَدْنَىٰ, adnaa) berakar د-ن-و, sama dengan kata kerja di 53:8, dan berbentuk perbandingan. Bentuk ini muncul di 12 ayat (2:61, 2:282, 4:3, 5:108, 7:169, 30:3, 32:21, 33:51, 33:59, 53:9, 58:7, 73:20) dengan tiga arah makna, yaitu lebih dekat (misalnya 5:108, 30:3, 33:59), lebih rendah (2:61), dan kurang (58:7, 73:20). Di ayat ini maknanya lebih dekat, sebab kata itu menyambung ukuran jarak dan berasal dari akar yang sama dengan danaa di 53:8. Arah lebih rendah di 2:61 dipakai ketika Bani Israil meminta pengganti yang lebih rendah bagi yang lebih baik, dan arah itu tidak cocok dengan ukuran jarak di sini.
Susunan ukuran, lalu (أَوْ, aw) yang berarti "atau", lalu kata perbandingan dipakai Al-Qur'an di beberapa ayat lain. Di 2:74 hati yang mengeras disebut (كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً, ka-l-hijaarati aw asyaddu qaswatan) yang berarti "seperti batu atau lebih keras", di 16:77 urusan Saat itu disebut seperti sekejap mata (أَوْ هُوَ أَقْرَبُ, aw huwa aqrabu) yang diterjemahkan "atau bahkan lebih cepat", 2:200 dan 4:77 memakai (أَوْ أَشَدَّ, aw asyadda) yang berarti "atau lebih", dan 37:147 menyebut seratus ribu orang atau lebih, dengan kata kerja yang berarti bertambah. Di semua ayat itu ukuran pertama diberikan sebagai pegangan, lalu kata sesudah aw menyatakan bahwa kenyataannya bisa melampaui ukuran itu ke arah yang disebut, dan tidak pernah berbalik ke arah sebaliknya. Karena itu kata aw di sini tidak menandakan keraguan tentang jarak. Ukuran dua busur sudah pasti sebagai batas terjauh, dan kata sesudah aw menambahkan bahwa kedekatan itu bisa melampauinya. Pola yang sama di 2:74 tidak membuat kerasnya hati itu diragukan, dan di 16:77 kedatangan Saat itu tidak dibuat samar oleh tambahan "atau bahkan lebih cepat".
Tafsiran
Ayat ini menutup gerak mendekat dengan ukuran. Sesudah 53:8 menyebut dua langkah, ayat ini menyebut hasilnya dalam jarak yang bisa dibayangkan, yaitu panjang dua busur, lalu menambahkan bahwa jaraknya bisa lebih dekat lagi. Ukuran yang konkret mencegah gambaran itu menjadi samar, dan tambahan "atau lebih dekat" mencegah ukuran itu dianggap lebih jauh dari kenyataannya.
Kedekatan ini menjadi syarat bagi 53:10. Wahyu disampaikan sesudah jarak itu habis, dan 53:11 menyatakan bahwa hati tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya. Tuduhan di 53:2 bahwa kawan itu sesat atau keliru dijawab oleh rangkaian ini, karena dia tidak menerima dari kejauhan atau dari kabar orang, dan jarak penerimaannya diukur oleh Allah sendiri. Pilihan ukuran dari benda yang bisa dipegang tangan membuat peristiwa yang tidak disaksikan para penentang tetap bisa mereka bayangkan, sehingga pertanyaan di 53:12 menjadi pertanyaan yang adil.
Fungsi yang sama tampak di 16:77, tempat urusan Saat itu diukur dengan sekejap mata lalu dilampaui. Ukuran manusia dipakai sebagai pegangan, dan kenyataan yang diukur dibiarkan lebih dari ukuran itu. Teks tidak menguraikan apakah kedekatan itu jarak tempat semata atau kedekatan jenis lain, sehingga tafsiran ini berhenti pada ukuran yang diberikan.
Renungan dan Hikmah
- Allah memberi ukuran yang bisa dibayangkan, panjang dua busur panah, dan tidak cukup dengan kata dekat saja. Ukuran yang konkret membuat orang bisa membayangkan dan mengingat, dan gambaran yang teringat bertahan lebih lama daripada kesan umum. Orang yang mengajar atau menasihati bisa meniru cara ini dengan memberi gambaran yang dapat dipegang, seperti contoh dari kehidupan sehari-hari atau angka yang jelas, supaya pesan tidak menguap sebagai kesan yang samar begitu pertemuan selesai.
- Tambahan sesudah ukuran itu mengarah ke lebih dekat, dan tidak pernah ke lebih jauh. Apa pun yang dibayangkan manusia tentang dekatnya penyampaian wahyu, kenyataannya bisa lebih dekat lagi. Prasangka bahwa Allah jauh dari urusan hamba-Nya dan membiarkan mereka menebak-nebak kehendak-Nya dijawab dengan susunan kecil ini, dan Dia sendiri yang memilih kata untuk menyatakannya. Orang yang merasa terlalu jauh untuk kembali kepada-Nya bisa menimbang ulang jarak yang dia bayangkan, sebab ukuran yang Allah berikan selalu lebih dekat dari dugaan.
- Susunan yang sama dipakai di 2:74 untuk hati yang mengeras seperti batu atau lebih keras. Ukuran bisa dilampaui ke arah kedekatan dan juga ke arah kekerasan. Apakah hati kita sedang bergerak mendekat kepada Allah, atau sedang mengeras melampaui batu? Di ayat yang sama Allah menyebut sebagian batu memancarkan sungai, sebagian terbelah lalu mengeluarkan air, dan sebagian meluncur jatuh karena takut kepada-Nya. Hati yang lebih keras dari batu kehilangan alasan untuk merasa aman, dan ayat itu mengundang pemiliknya memeriksa diri sebelum kerasnya menjadi kebiasaan.
- Di 16:77 Allah menyebut urusan Saat itu seperti sekejap mata atau bahkan lebih cepat. Ukuran yang dipakai untuk dekatnya wahyu sama bentuknya dengan ukuran untuk datangnya Saat itu, dan keduanya lebih dekat dari yang dibayangkan manusia. Kesadaran itu membuat penundaan tobat atau kebaikan terasa sebagai taruhan yang tidak masuk akal. Rencana memperbaiki diri yang selalu dijadwalkan untuk tahun depan, sesudah urusan ini dan itu beres, menjadi rapuh ketika diletakkan di samping ukuran sekejap mata.
- Teks menyebut ukuran tanpa kata sekitar, lalu memberi kemungkinan yang lebih dekat. Ketika menceritakan kembali apa yang kita dengar atau lihat, godaan untuk membesarkan atau mengaburkan selalu ada, apalagi kalau cerita itu menguntungkan diri sendiri. Allah mengajarkan lewat ayat ini cara melaporkan yang jujur, yaitu ukuran yang jelas dan keterangan tambahan yang terarah, tanpa bumbu yang mengubah gambaran. Laporan kerja, kesaksian di depan hakim, dan cerita tentang orang lain semuanya membutuhkan kejujuran ukuran seperti itu.
- Busur disebut sekali dalam Al-Qur'an, di ayat ini, dan disebut sebagai ukuran kedekatan. Alat untuk membidik dari jauh itu muncul di sini untuk mengukur jarak yang dekat. Allah memilih benda yang akrab di tangan manusia untuk menggambarkan peristiwa yang di luar jangkauan mereka, sehingga yang agung bisa dibayangkan lewat yang sederhana. Benda-benda biasa di sekitar kita pun, kalau dipandang dengan cara ini, bisa menjadi jalan untuk memahami sesuatu yang lebih besar dari benda itu sendiri, asal kita mau berhenti sejenak dan bertanya apa yang sedang diperlihatkan.