فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ
Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِfa-awhaa ilaa 'abdihilalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya
- مَا أَوْحَىٰmaa awhaaapa yang Dia wahyukan
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَأَوْحَىٰfa-awhaamaka Dia mewahyukan
- إِلَىٰilaakepada
- عَبْدِهِ'abdihihamba-Nya
- مَاmaaapa yang
- أَوْحَىٰawhaamewahyukan
Inti bacaan
Puncak momen 'Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan', status 'hamba' yang dipertahankan bahkan pada momen pengalaman paling istimewa sekalipun, kerendahan hati yang konsisten.
Tafsiran
Ayat ini menutup adegan penyampaian wahyu: momen puncak yang isinya menjadi dasar wahyu-wahyu berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Sebutan hamba dipakai Allah di saat paling dekat. Bukan nabi. Hamba-Nya.
- Isi wahyunya tidak disebutkan. Bukan dirahasiakan. Tidak diuraikan.
- Jaraknya baru saja disebut Allah paling dekat. Dua busur panah. Lalu diwahyukan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar w-h-y, '-b-d): awhaa ilaa abdihi maa awhaa diterjemahkan 'mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan' (akar w-h-y + akar '-b-d, Nabi disebut abd/hamba (bukan lebih), penerima wahyu). gloss '(Jibril)/(Nabi Muhammad)' dibuang.