فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ
Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِfa-awhaa ilaa 'abdihilalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya
- مَا أَوْحَىٰmaa awhaaapa yang Dia wahyukan
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَأَوْحَىٰfa-awhaamaka Dia mewahyukan
- إِلَىٰilaakepada
- عَبْدِهِ'abdihihamba-Nya
- مَاmaaapa yang
- أَوْحَىٰawhaamewahyukan
Inti bacaan
Sesudah mendapat pujian atas pekerjaan yang berhasil, menyebut dalam hati nama guru yang mengajarkan caranya dan bersyukur kepada Allah sebelum membalas ucapan selamat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ, fa-awhaa ilaa 'abdihi maa awhaa) yang berarti "lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan". Kata kerja (فَأَوْحَىٰ, fa-awhaa) berakar و-ح-ي, sama dengan kata benda wahyu di 53:4, dan berbentuk lampau. Di 53:4 wahyu disebut dengan kata kerja pasif (يُوحَىٰ, yuuhaa) yang berarti "diwahyukan", tanpa menyebut pemberinya. Di ayat ini kata kerja yang sama hadir dalam bentuk aktif dan dua kali, sehingga pemberi yang di 53:4 belum disebut tampil sebagai pelaku. Huruf fa- di depannya menyambung pewahyuan itu dengan jarak di 53:9, sehingga wahyu terjadi sesudah kedekatan tercapai.
Kata depan (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "kepada" menandai arah wahyu, dari pemberi kepada penerima. Arah itu sejalan dengan gerak mendekat di 53:8-9, yang juga berujung pada penerima yang sama.
Kata (عَبْدِهِ, 'abdihi) berarti "hamba-Nya". Kata hamba dengan kata ganti tunggal ini muncul di 7 ayat (17:1, 18:1, 19:2, 25:1, 39:36, 53:10, 57:9), dan di semuanya kata ganti itu kembali kepada Allah. Di 17:1 Allah disebut (أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ, asraa bi-'abdihi) yang berarti "memperjalankan hamba-Nya", di 19:2 Zakaria disebut hamba-Nya, di 39:36 Allah disebut cukup bagi hamba-Nya, dan 18:1, 25:1, serta 57:9 menyebut hamba-Nya sebagai penerima kitab, pembeda, dan ayat-ayat yang terang. Susunan yang sama di ayat ini membuat pelaku kata kerja mewahyukan dibaca sebagai Allah, dan terjemahan memakai "Dia" dengan huruf besar. Pengajar di 53:5-9 mendekat untuk menyampaikan, sedangkan wahyu itu sendiri berasal dari Allah, sejalan dengan 53:4. Kata hamba di sini disandarkan kepada Allah dengan kata ganti dan tidak disertai nama diri, sama seperti sebutan kawan di 53:2 yang juga tanpa nama.
Susunan (مَا أَوْحَىٰ, maa awhaa) yang berarti "apa yang Dia wahyukan" mengulang kata kerjanya sendiri tanpa menyebut isi. Surah ini memakai susunan yang sama dua kali lagi, yaitu di 53:16, (إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ, idz yaghsyaa s-sidrata maa yaghsyaa) yang berarti "ketika pohon bidara itu diliputi oleh apa yang meliputinya", dan di 53:54, (فَغَشَّاهَا مَا غَشَّىٰ, fa-ghasysyaahaa maa ghasysyaa) yang berarti "lalu Dia menyelimutinya dengan apa yang Dia selimutkan", tentang negeri yang dijungkirbalikkan.
Di luar surah ini, 20:78 memakai susunan serupa untuk laut yang menutupi pasukan Firaun, dan 20:38 untuk wahyu kepada ibu Musa, (مَا يُوحَىٰ, maa yuuhaa) yang berarti "apa yang diwahyukan". Di 20:38 isi wahyu itu segera diuraikan di 20:39, yaitu perintah meletakkan bayinya di dalam peti lalu melemparkannya ke sungai. Di 53:10 isinya tidak diuraikan, dan ayat sesudahnya langsung beralih ke kesaksian hati tentang apa yang dilihat (53:11).
Tafsiran
Ayat ini menjadi tujuan rangkaian 53:5-9. Pengajar yang kuat dan teguh tegak di ufuk yang tertinggi, mendekat, bertambah dekat, sampai sejarak dua busur atau lebih dekat, dan semua itu bermuara pada satu peristiwa, yaitu Allah mewahyukan kepada hamba-Nya.
Di 42:51 Allah menyebut salah satu cara-Nya berbicara kepada manusia, yaitu mengutus seorang utusan yang mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Rangkaian 53:5-10 memperlihatkan cara itu dalam peristiwa, dengan pengajar yang mendekat dan wahyu yang tetap milik Allah. Dua cara lain yang disebut di 42:51, yaitu wahyu langsung dan dari balik tabir, tidak dibahas di sini, sebab Surah 53 memusatkan perhatian pada perantaraan pengajar.
Sebutan hamba dipakai tepat pada puncak kedekatan itu. Di 17:1 sebutan yang sama dipakai ketika Allah memperjalankan hamba-Nya untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda-Nya, dan 53:18 menyatakan bahwa kawan itu melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang sangat besar. Di kedua tempat, orang yang menerima kedekatan itu disebut dengan kedudukan yang rendah hati, yaitu hamba. Isi wahyunya dibiarkan terbuka lewat susunan maa awhaa, dan uraian ini tidak mengisinya dengan cerita dari luar teks, sebab ayat ini membela kebenaran penerimaan itu dan tidak merinci isinya.
Renungan dan Hikmah
- Pada saat wahyu disampaikan dari jarak sedekat itu, Allah menyebut penerimanya hamba-Nya, tanpa gelar lain. Kedekatan dengan Allah tidak mengangkat seseorang keluar dari kehambaan. Semakin dekat seseorang kepada-Nya, semakin jelas dia sebagai hamba, dan orang yang merasa ibadahnya menaikkan derajatnya di atas orang lain sedang berjalan ke arah sebaliknya. Gelar, jabatan, dan pengakuan orang tidak menambah apa pun pada kedudukan itu, sebab sebutan yang Allah pilih untuk saat semulia ini bisa dimiliki setiap manusia.
- Allah tidak menguraikan isi wahyu di ayat ini, dan cukup menyebut apa yang Dia wahyukan. Rasa ingin tahu tentang isinya wajar. Apakah kita sanggup menerima bahwa sebagian hal memang tidak diceritakan, tanpa mengarang sendiri untuk mengisinya? Menghormati bagian yang dibiarkan terbuka termasuk cara menghormati bagian yang diuraikan. Kebiasaan menambal kekosongan teks dengan cerita yang terdengar meyakinkan pelan-pelan membuat cerita itu terasa sebagai bagian dari firman, padahal Allah sendiri memilih membiarkannya terbuka.
- Di 53:4 wahyu disebut tanpa pemberinya, lalu di ayat ini Allah tampil sebagai pelakunya. Pengajar yang kuat mengantarkan, dan sumbernya Dia. Setiap ilmu yang sampai lewat guru, buku, atau orang tua juga punya sumber yang lebih jauh dari mereka. Terima kasih kepada perantara tetap layak diberikan, dan terima kasih itu tidak menggantikan syukur kepada yang memberi. Orang yang mengingat gurunya lalu lupa kepada Pemberi ilmu sedang berhenti di tengah rangkaian, sama seperti membaca 53:5-9 tanpa sampai ke 53:10.
- Menurut 42:51 utusan yang diutus mewahyukan dengan izin Allah apa yang Dia kehendaki. Kebesaran pengajar di 53:5-9 tidak membuat wahyu menjadi miliknya. Orang yang dipercaya menyampaikan ilmu atau amanah tetap perantara, dan kesadaran itu menjaganya dari mengubah apa yang dia sampaikan demi kepentingan diri. Pengkhotbah, guru, dan penulis yang lupa kedudukan ini mudah mencampur pendapatnya sendiri dengan pesan yang dia bawa, lalu menuntut orang mematuhi keduanya dengan bobot yang sama.
- Surah ini tiga kali memakai susunan yang mengulang kata kerjanya sendiri, untuk wahyu (53:10), untuk apa yang meliputi pohon bidara itu (53:16), dan untuk azab atas negeri yang dijungkirbalikkan (53:54). Ada hal-hal yang Allah sebut tanpa merinci, dan susunan itu memberi kesan sesuatu yang lebih besar dari kata-kata yang tersedia. Kesadaran akan batas bahasa membuat pembaca lebih hati-hati dalam berbicara tentang yang gaib. Orang yang terlalu fasih menggambarkan surga, azab, atau malaikat dengan rincian yang tidak ada di Al-Qur'an sedang melampaui batas yang dijaga oleh susunan kecil ini.
- Kedekatan kawan itu dengan wahyu diceritakan oleh Allah, dan kawan itu sendiri tidak disebut membanggakan pengalamannya. Pembelaan datang dari Tuhannya, lewat rangkaian ayat yang tersusun dari 53:1 sampai 53:18. Orang yang dekat dengan Allah tidak perlu mengumumkan kedekatannya, sebab Dia lebih tahu siapa yang dekat, dan pengakuan dari-Nya lebih berharga daripada pengakuan diri. Kebiasaan memamerkan pengalaman rohani, di mimbar maupun di media sosial, patut ditimbang ulang di bawah cahaya ayat ini.