Ayat 53:11
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ
Hatinya tidak berdusta tentang apa yang dia lihat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا كَذَبَ الْفُؤَادُmaa kadzaba l-fu'aaduhatinya tidak berdusta
- مَا رَأَىٰmaa ra'aatentang apa yang dia lihat
Terjemahan per kata (5 kata)
- مَاmaatidaklah
- كَذَبَkadzababerdusta
- الْفُؤَادُl-fu'aaduhati
- مَاmaaapa yang
- رَأَىٰra'aamelihat
Inti bacaan
Sesudah menyaksikan sebuah kejadian, misalnya perselisihan di jalan atau di kantor, menuliskan apa yang benar-benar dilihat sebelum menceritakannya, lalu memeriksa apakah cerita yang diucapkan masih sesuai dengan catatan itu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ, maa kadzaba l-fu'aadu maa ra'aa) yang berarti "hatinya tidak berdusta tentang apa yang dia lihat". Kata (مَا, maa) muncul dua kali dengan tugas yang berbeda. Di depan, kata itu meniadakan kata kerja, dan di belakang, kata itu menunjuk apa yang dilihat. Kalimatnya pendek, tetapi memuat tiga unsur yang saling mengikat, yaitu dusta yang ditiadakan, hati yang diberi kesaksian, dan penglihatan yang menjadi pokok perkara.
Kata (كَذَبَ, kadzaba) berarti "berdusta". Al-Qur'an memakai kata kerja dari akar ك-ذ-ب dalam dua bentuk yang berbeda maknanya. Bentuk dasar yang dipakai di ayat ini muncul di sebelas ayat di seluruh Al-Qur'an, sedangkan bentuk yang huruf tengahnya digandakan muncul di seratus enam puluh tiga ayat dengan makna mendustakan. Keduanya bertemu dalam satu kalimat di 39:32, yang menyebut orang (كَذَبَ عَلَى اللَّهِ, kadzaba 'alaa llaahi) yang berarti "berbohong terhadap Allah", lalu (وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ, wa-kadzdzaba bi-sh-shidqi) yang berarti "dan mendustakan kebenaran". Berdusta berarti menyampaikan sesuatu yang tidak benar, sedangkan mendustakan berarti menganggap berita orang lain sebagai dusta. Dengan bentuk dasar itu, ayat ini meniadakan kesaksian palsu dari hati sendiri tentang apa yang dilihatnya.
Kata (الْفُؤَادُ, l-fu'aadu) berarti "hati". Akar ف-ء-د dipakai di lima belas ayat, dalam bentuk tunggal dan jamak, dan di enam ayat hati disebut bersama pendengaran dan penglihatan (16:78, 17:36, 23:78, 32:9, 46:26, 67:23). Di 17:36 ketiganya disebut (إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ, inna s-sam'a wa-l-bashara wa-l-fu'aada) yang berarti "sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati", lalu dinyatakan bahwa semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Di ayat ini penglihatan dan hati hadir berdampingan, mata melihat lalu hati memberi kesaksian atas yang dilihat.
Hati dalam Al-Qur'an tidak selalu tenang. Di 28:10 disebut (فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا, fu'aadu ummi muusaa faarighan) yang berarti "hati ibu Musa menjadi kosong", sampai Allah meneguhkan hatinya. Di 11:120 Allah menyebut kisah para rasul sebagai sesuatu (مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ, maa nutsabbitu bihi fu'aadaka) yang berarti "yang dengannya Kami teguhkan hatimu". Hati bisa kosong dan bisa diteguhkan, sehingga pernyataan bahwa hati tidak berdusta di ayat ini memuat kesaksian tentang keadaan hati itu ketika melihat.
Kata kerja lampau (رَأَىٰ, ra'aa) berarti "melihat". Akar ر-ء-ي muncul di delapan ayat Surah 53, dan empat di antaranya berada dalam rangkaian 53:11-18. Ayat ini tidak menyebut apa yang dilihat. Isinya dirujuk kembali ke 53:5-10, sosok yang tegak di ufuk lalu mendekat, dan 53:18 kelak menyebut bahwa yang dilihat itu (مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ, min aayaati rabbihi l-kubraa) yang berarti "sebagian tanda-tanda Tuhannya yang sangat besar".
Tafsiran
Ayat ini menutup adegan pertama, 53:5-10, dengan kesaksian tentang hati. Sesudah pengajar itu tegak di ufuk yang tertinggi, mendekat, lalu berada sejarak dua busur panah atau lebih dekat, Allah menyatakan bahwa hati kawan itu tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya. Pernyataan itu melanjutkan pembelaan di awal surah. Di 53:2 Allah menegaskan (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ, maa dhalla shaahibukum) yang berarti "kawan kalian tidak sesat", dan di 53:3 bahwa dia tidak berbicara dari hawa nafsu. Ketiga ayat itu memakai kata peniadaan yang sama, (مَا, maa), sehingga 53:11 terbaca sebagai sambungan pembelaan yang dimulai di 53:2.
Rangkaian ini memberi kesaksian kepada hati dan mata secara terpisah. Ayat ini meniadakan dusta dari hati, dan 53:17 meniadakan penyimpangan dari mata dengan (مَا زَاغَ الْبَصَرُ, maa zaagha l-basharu) yang berarti "penglihatan tidak menyimpang". Dua alat yang di 17:36 akan dimintai pertanggungjawaban diberi kesaksian masing-masing, dan kesaksian itu disampaikan Allah, yang di 16:78 menyebut diri-Nya menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagi manusia.
Pembelaan ini bergerak dari dalam ke luar. Hati yang melihat lebih dulu diberi kesaksian, lalu 53:12 berpaling kepada orang-orang yang membantah dari luar, yang tidak ikut melihat. Urutan itu menaruh kesaksian orang yang hadir di depan, dan bantahan orang yang tidak hadir di belakang, sehingga kedua pihak bisa ditimbang dengan ukuran yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Allah memberi kesaksian tentang hati seseorang, sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Orang-orang di sekitar kawan itu mendengar ceritanya dan menilainya dari luar, sedangkan Dia mengetahui apa yang terjadi di dalam hati ketika penglihatan itu berlangsung. Kejujuran batin sering tidak bisa dibuktikan kepada siapa pun dengan kata-kata. Ayat ini memperlihatkan bahwa kejujuran itu tetap tercatat, dan bisa dibela oleh Dia yang melihat ke dalam tanpa menunggu pengakuan orang banyak.
- Ada saat ketika mata melihat sesuatu, tetapi hati menolak mempercayainya, atau hati meyakini sesuatu yang tidak pernah dilihat mata. Ayat ini menggambarkan keadaan yang utuh, mata melihat dan hati membenarkan tanpa selisih, dan 53:17 menambahkan bahwa penglihatan itu tidak menyimpang. Keutuhan seperti itu jarang dirasakan dalam hidup sehari-hari, ketika apa yang dilihat dan apa yang diyakini sering berjalan sendiri-sendiri. Allah menyebutnya sebagai bagian dari kesaksian, sehingga keutuhan batin terbaca sebagai sesuatu yang berharga.
- Berdusta tidak selalu ditujukan kepada orang lain. Di 6:24 Allah menyebut orang-orang yang berdusta terhadap diri mereka sendiri. Hati bisa membujuk pemiliknya untuk mempercayai sesuatu yang tidak dilihatnya, atau menolak sesuatu yang jelas terlihat karena tidak sesuai keinginan. Ayat ini menyebut hati yang bebas dari dusta semacam itu. Seberapa sering hati kita melaporkan apa yang dilihatnya dengan jujur, tanpa ditambah atau dikurangi?
- Di 28:10 hati ibu Musa menjadi kosong, dan hampir saja rahasianya terbuka seandainya Allah tidak meneguhkan hatinya. Di 11:120 Allah menyebut kisah para rasul sebagai peneguh hati. Al-Qur'an memperlihatkan hati yang bisa kosong dan bisa diteguhkan, dan keteguhan itu datang dari Dia. Hati yang jujur di ayat ini tidak dilukiskan sebagai hati yang tidak pernah goyah. Ketika hati sendiri terasa kosong, Al-Qur'an menunjukkan kepada siapa keteguhan itu dimintakan.
- Menurut 17:36, pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban, dan ayat yang sama melarang mengikuti sesuatu yang tidak diketahui. Kesaksian kawan itu memenuhi syarat itu, karena dia berbicara tentang apa yang dilihatnya sendiri. Orang-orang yang membantahnya di 53:12 berbicara tentang apa yang tidak mereka lihat. Ukuran yang sama berlaku bagi setiap orang yang menilai kesaksian orang lain, termasuk ketika kita merasa yakin tanpa pernah menyaksikan sendiri.
- Di 53:3 kawan itu disebut tidak berbicara dari hawa nafsu, dan di ayat ini hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya. Allah membela ucapan dan penglihatan dengan pola yang sama, yaitu meniadakan sumber kekeliruan masing-masing. Hawa nafsu membelokkan ucapan, dan dusta membelokkan kesaksian. Setiap orang yang bercerita tentang pengalamannya menghadapi dua godaan itu, menambah cerita agar sesuai keinginan, atau mengurangi yang dilihat agar tidak menyusahkan dirinya.
Ayat 53:12
أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ
Maka, apakah kalian membantahnya tentang apa yang dia lihat?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَتُمَارُونَهُa-fa-tumaaruunahumaka, apakah kalian membantahnya
- عَلَىٰ مَا يَرَىٰ'alaa maa yaraatentang apa yang dia lihat
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَفَتُمَارُونَهُa-fa-tumaaruunahumaka apakah kalian membantahnya
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- يَرَىٰyaraaia lihat
Inti bacaan
Saat grup percakapan ramai menyanggah cerita seorang saksi, menahan diri dari ikut membalas, lalu menanyakan siapa di antara para penanggap yang benar-benar hadir di lokasi kejadian.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ, a-fa-tumaaruunahu 'alaa maa yaraa) yang berarti "maka, apakah kalian membantahnya tentang apa yang dia lihat?". Kalimatnya dibuka dengan dua awalan, a- sebagai penanda pertanyaan dan fa- yang berarti "maka". Dengan awalan fa-, pertanyaan ini disusun sebagai akibat dari 53:11, sehingga bantahan orang-orang itu dihadapkan langsung kepada hati yang baru saja diberi kesaksian. Di 53:19 pola yang sama dipakai dengan akar melihat, (أَفَرَأَيْتُمُ, a-fa-ra'aytumu) yang berarti "maka, apakah kalian memperhatikan", sehingga orang-orang yang membantah penglihatan kawan itu kelak ditanya tentang apa yang mereka sendiri perhatikan.
Kata (أَفَتُمَارُونَهُ, a-fa-tumaaruunahu) memuat kata kerja dari akar م-ر-ي dalam bentuk berbantah, dengan pelaku "kalian" dan sasaran -hu yang berarti "dia". Akar ini dipakai di sembilan belas ayat di seluruh Al-Qur'an. Empat belas di antaranya untuk keraguan, misalnya (مِرْيَةٍ, miryatin) yang berarti "keraguan" di 11:17, dan (الْمُمْتَرِينَ, l-mumtariina) yang berarti "orang-orang yang ragu" di 2:147. Tiga ayat memakai bentuk berbantah, yaitu 18:22, 42:18, dan ayat ini, dan dua ayat memakai bentuk saling meragukan, 53:55 dan 54:36. Keraguan dan perbantahan berasal dari satu akar, sehingga bantahan di ayat ini terbaca sebagai keraguan yang diucapkan.
Sasaran bantahan ditunjuk dengan -hu, yaitu kawan itu sendiri, dan pokok bantahannya disebut sesudahnya dengan (عَلَىٰ مَا يَرَىٰ, 'alaa maa yaraa) yang berarti "tentang apa yang dia lihat". Susunan itu memisahkan orangnya dari pokok perkaranya. Orang-orang itu membantah seseorang, dan pokok bantahannya penglihatan orang itu sendiri, sehingga penyangkalan mereka menyentuh orangnya sekaligus kesaksiannya.
Di 53:11 kata kerjanya lampau, (مَا رَأَىٰ, maa ra'aa) yang berarti "apa yang dia lihat". Di ayat ini kata kerjanya (يَرَىٰ, yaraa), bentuk yang dipakai lagi di 53:35 dalam (فَهُوَ يَرَىٰ, fa-huwa yaraa) yang berarti "sehingga dia dapat melihat". Di 53:35 kata itu muncul dalam pertanyaan tentang orang yang berpaling, apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia dapat melihat. Kata kerja yang sama dipakai untuk kawan itu yang melihat, dan untuk penentang yang ditanya apakah dia melihat. Akar melihat dengan begitu muncul di tiga ayat berturut-turut, 53:11, 53:12, dan 53:13, masing-masing dalam bentuk yang berbeda.
Ayat ini pertanyaan pertama di Surah 53. Sesudahnya surah ini membuka pertanyaan baru di delapan tempat, yaitu 53:19, 53:21, 53:24, 53:33, 53:35, 53:36, 53:55, dan 53:59. Pertanyaan di 53:55 memakai akar yang sama dengan ayat ini, (تَتَمَارَىٰ, tatamaaraa) yang berarti "yang masih engkau ragukan", sehingga akar keraguan membuka dan hampir menutup rangkaian pertanyaan di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini memalingkan pembicaraan dari kawan itu kepada orang-orang yang menuduhnya. Pihak yang ditanya sama dengan pihak yang disapa di 53:2 dengan sebutan "kawan kalian", yaitu orang-orang yang mengenal utusan itu dari dekat. Mereka mengenal orangnya, tetapi menolak kesaksiannya tentang sesuatu yang tidak mereka lihat.
Surah ini dibuka dengan sumpah di 53:1 untuk meniadakan tuduhan sesat. Di ayat ini pembelaannya berganti bentuk menjadi pertanyaan. Sumpah menegaskan dari pihak yang bersumpah, sedangkan pertanyaan mengembalikan beban kepada pihak yang ditanya. Orang yang membantah diminta memeriksa dasar bantahannya sendiri, dan 53:35 kelak memperlihatkan kekurangannya, karena orang yang berpaling tidak mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia dapat melihat.
Al-Qur'an memberi batas bagi perbantahan. Di 18:22 utusan dilarang berbantah tentang jumlah para pemuda gua (إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا, illaa miraa'an zhaahiran) yang berarti "kecuali perbantahan yang jelas", dan di 42:18 orang-orang yang membantah tentang hari kiamat disebut berada dalam kesesatan yang jauh. Ayat ini memakai kata yang sama untuk orang-orang yang membantah penglihatan yang tidak mereka alami, sehingga ketiga ayat itu berbagi satu pola, yaitu bantahan tentang perkara yang berada di luar pengetahuan pembantahnya.
Renungan dan Hikmah
- Orang-orang itu membantah kesaksian tentang sesuatu yang tidak mereka lihat. Bantahan seperti itu terasa kuat karena diucapkan dengan yakin dan beramai-ramai, padahal dasarnya kosong. Allah menanyakan dasarnya, dan pertanyaan itu berlaku bagi setiap orang yang menolak kesaksian orang lain semata-mata karena dirinya tidak ikut mengalaminya. Sebelum membantah, ada baiknya bertanya apakah bantahan itu lahir dari pengetahuan atau dari ketidakhadiran.
- Surah ini dibuka dengan sumpah, lalu di ayat ini Allah membela kawan itu dengan pertanyaan. Pertanyaan tidak memaksa orang yang ditanya menerima jawaban tertentu. Cara ini memberi mereka kesempatan untuk melihat kelemahan bantahannya sendiri, tanpa dijejali jawaban dari luar. Pembelaan yang menghormati akal lawannya sering bertahan lebih lama daripada pembelaan yang membungkam, karena orang yang menemukan kekeliruannya sendiri jarang kembali kepadanya.
- Kata untuk membantah berasal dari akar yang sama dengan keraguan, sehingga bantahan di ayat ini terbaca sebagai keraguan yang diberi suara. Keraguan yang disimpan masih bisa diperiksa dengan tenang, sedangkan keraguan yang sudah diucapkan sebagai bantahan cenderung dibela mati-matian, karena mundur terasa seperti kalah. Di 53:55 akar yang sama dipakai lagi dalam pertanyaan tentang nikmat Tuhan yang manakah yang masih diragukan. Ragu yang dibiarkan tumbuh bisa berubah menjadi perbantahan.
- Ayat ini mempertemukan dua pihak yang tidak setara. Satu pihak melihat sendiri dari jarak dekat, pihak lain berdiri jauh dan tidak ikut melihat, tetapi suaranya lebih banyak. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mengalami sesuatu sering kalah suara oleh orang-orang yang mendengar ceritanya dari kejauhan. Ayat ini berpihak kepada kesaksian, dan Allah sendiri yang menanyakan dasar dari suara yang lebih banyak itu.
- Di 18:22 Allah melarang berbantah tentang jumlah para pemuda gua kecuali dengan perbantahan yang jelas, karena jumlah itu termasuk perkara yang tidak diketahui. Larangan itu memberi batas bagi perbantahan, yaitu berhenti di tempat pengetahuan berhenti. Orang-orang di ayat ini melewati batas itu, membantah perkara yang berada di luar jangkauan mereka. Perdebatan yang memanas sering terjadi tentang perkara yang sama-sama tidak diketahui kedua pihak. Mengakui bahwa suatu perkara berada di luar pengetahuan kita bisa mengakhiri perdebatan sebelum dimulai.
- Di 53:11 penglihatan disebut dengan kata kerja lampau, dan di ayat ini dengan bentuk yang sama dengan 53:35, penglihatan yang dipegang oleh orang yang melihat. Kesaksian kawan itu tidak berhenti sebagai kenangan yang memudar. Dia tetap memegang apa yang dilihatnya meski orang-orang di sekitarnya membantah. Kesetiaan kepada apa yang disaksikan sendiri membutuhkan keteguhan hati, dan hati itu sudah diberi kesaksian oleh Allah di 53:11. Apa yang membuat seseorang tetap memegang kesaksiannya ketika banyak suara di sekitarnya menyangkal?