أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ

Maka, apakah kalian membantahnya tentang apa yang dia lihat?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَفَتُمَارُونَهُa-fa-tumaaruunahumaka, apakah kalian membantahnya
  2. عَلَىٰ مَا يَرَىٰ'alaa maa yaraatentang apa yang dia lihat

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَفَتُمَارُونَهُa-fa-tumaaruunahumaka apakah kalian membantahnya
  2. عَلَىٰ'alaaatas
  3. مَاmaaapa yang
  4. يَرَىٰyaraaia lihat

Inti bacaan

Saat grup percakapan ramai menyanggah cerita seorang saksi, menahan diri dari ikut membalas, lalu menanyakan siapa di antara para penanggap yang benar-benar hadir di lokasi kejadian.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ, a-fa-tumaaruunahu 'alaa maa yaraa) yang berarti "maka, apakah kalian membantahnya tentang apa yang dia lihat?". Kalimatnya dibuka dengan dua awalan, a- sebagai penanda pertanyaan dan fa- yang berarti "maka". Dengan awalan fa-, pertanyaan ini disusun sebagai akibat dari 53:11, sehingga bantahan orang-orang itu dihadapkan langsung kepada hati yang baru saja diberi kesaksian. Di 53:19 pola yang sama dipakai dengan akar melihat, (أَفَرَأَيْتُمُ, a-fa-ra'aytumu) yang berarti "maka, apakah kalian memperhatikan", sehingga orang-orang yang membantah penglihatan kawan itu kelak ditanya tentang apa yang mereka sendiri perhatikan.

Kata (أَفَتُمَارُونَهُ, a-fa-tumaaruunahu) memuat kata kerja dari akar م-ر-ي dalam bentuk berbantah, dengan pelaku "kalian" dan sasaran -hu yang berarti "dia". Akar ini dipakai di sembilan belas ayat di seluruh Al-Qur'an. Empat belas di antaranya untuk keraguan, misalnya (مِرْيَةٍ, miryatin) yang berarti "keraguan" di 11:17, dan (الْمُمْتَرِينَ, l-mumtariina) yang berarti "orang-orang yang ragu" di 2:147. Tiga ayat memakai bentuk berbantah, yaitu 18:22, 42:18, dan ayat ini, dan dua ayat memakai bentuk saling meragukan, 53:55 dan 54:36. Keraguan dan perbantahan berasal dari satu akar, sehingga bantahan di ayat ini terbaca sebagai keraguan yang diucapkan.

Sasaran bantahan ditunjuk dengan -hu, yaitu kawan itu sendiri, dan pokok bantahannya disebut sesudahnya dengan (عَلَىٰ مَا يَرَىٰ, 'alaa maa yaraa) yang berarti "tentang apa yang dia lihat". Susunan itu memisahkan orangnya dari pokok perkaranya. Orang-orang itu membantah seseorang, dan pokok bantahannya penglihatan orang itu sendiri, sehingga penyangkalan mereka menyentuh orangnya sekaligus kesaksiannya.

Di 53:11 kata kerjanya lampau, (مَا رَأَىٰ, maa ra'aa) yang berarti "apa yang dia lihat". Di ayat ini kata kerjanya (يَرَىٰ, yaraa), bentuk yang dipakai lagi di 53:35 dalam (فَهُوَ يَرَىٰ, fa-huwa yaraa) yang berarti "sehingga dia dapat melihat". Di 53:35 kata itu muncul dalam pertanyaan tentang orang yang berpaling, apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia dapat melihat. Kata kerja yang sama dipakai untuk kawan itu yang melihat, dan untuk penentang yang ditanya apakah dia melihat. Akar melihat dengan begitu muncul di tiga ayat berturut-turut, 53:11, 53:12, dan 53:13, masing-masing dalam bentuk yang berbeda.

Ayat ini pertanyaan pertama di Surah 53. Sesudahnya surah ini membuka pertanyaan baru di delapan tempat, yaitu 53:19, 53:21, 53:24, 53:33, 53:35, 53:36, 53:55, dan 53:59. Pertanyaan di 53:55 memakai akar yang sama dengan ayat ini, (تَتَمَارَىٰ, tatamaaraa) yang berarti "yang engkau ragukan", sehingga akar keraguan membuka dan hampir menutup rangkaian pertanyaan di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini memalingkan pembicaraan dari kawan itu kepada orang-orang yang menuduhnya. Pihak yang ditanya sama dengan pihak yang disapa di 53:2 dengan sebutan "kawan kalian", yaitu orang-orang yang mengenal utusan itu dari dekat. Mereka mengenal orangnya, tetapi menolak kesaksiannya tentang sesuatu yang tidak mereka lihat.

Surah ini dibuka dengan sumpah di 53:1 untuk meniadakan tuduhan sesat. Di ayat ini pembelaannya berganti bentuk menjadi pertanyaan. Sumpah menegaskan dari pihak yang bersumpah, sedangkan pertanyaan mengembalikan beban kepada pihak yang ditanya. Orang yang membantah diminta memeriksa dasar bantahannya sendiri, dan 53:35 kelak memperlihatkan kekurangannya, karena orang yang berpaling tidak mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia dapat melihat.

Al-Qur'an memberi batas bagi perbantahan. Di 18:22 utusan dilarang berbantah tentang jumlah para pemuda gua (إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا, illaa miraa'an zhaahiran) yang berarti "kecuali perbantahan yang jelas", dan di 42:18 orang-orang yang membantah tentang hari kiamat disebut berada dalam kesesatan yang jauh. Ayat ini memakai kata yang sama untuk orang-orang yang membantah penglihatan yang tidak mereka alami, sehingga ketiga ayat itu berbagi satu pola, yaitu bantahan tentang perkara yang berada di luar pengetahuan pembantahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Orang-orang itu membantah kesaksian tentang sesuatu yang tidak mereka lihat. Bantahan seperti itu terasa kuat karena diucapkan dengan yakin dan beramai-ramai, padahal dasarnya kosong. Allah menanyakan dasarnya, dan pertanyaan itu berlaku bagi setiap orang yang menolak kesaksian orang lain semata-mata karena dirinya tidak ikut mengalaminya. Sebelum membantah, ada baiknya bertanya apakah bantahan itu lahir dari pengetahuan atau dari ketidakhadiran.
  • Surah ini dibuka dengan sumpah, lalu di ayat ini Allah membela kawan itu dengan pertanyaan. Pertanyaan tidak memaksa orang yang ditanya menerima jawaban tertentu. Cara ini memberi mereka kesempatan untuk melihat kelemahan bantahannya sendiri, tanpa dijejali jawaban dari luar. Pembelaan yang menghormati akal lawannya sering bertahan lebih lama daripada pembelaan yang membungkam, karena orang yang menemukan kekeliruannya sendiri jarang kembali kepadanya.
  • Kata untuk membantah berasal dari akar yang sama dengan keraguan, sehingga bantahan di ayat ini terbaca sebagai keraguan yang diberi suara. Keraguan yang disimpan masih bisa diperiksa dengan tenang, sedangkan keraguan yang sudah diucapkan sebagai bantahan cenderung dibela mati-matian, karena mundur terasa seperti kalah. Di 53:55 akar yang sama dipakai lagi dalam pertanyaan tentang nikmat Tuhan yang manakah yang diragukan. Ragu yang dibiarkan tumbuh bisa berubah menjadi perbantahan.
  • Ayat ini mempertemukan dua pihak yang tidak setara. Satu pihak melihat sendiri dari jarak dekat, pihak lain berdiri jauh dan tidak ikut melihat, tetapi suaranya lebih banyak. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mengalami sesuatu sering kalah suara oleh orang-orang yang mendengar ceritanya dari kejauhan. Ayat ini berpihak kepada kesaksian, dan Allah sendiri yang menanyakan dasar dari suara yang lebih banyak itu.
  • Di 18:22 Allah melarang berbantah tentang jumlah para pemuda gua kecuali dengan perbantahan yang jelas, karena jumlah itu termasuk perkara yang tidak diketahui. Larangan itu memberi batas bagi perbantahan, yaitu berhenti di tempat pengetahuan berhenti. Orang-orang di ayat ini melewati batas itu, membantah perkara yang berada di luar jangkauan mereka. Perdebatan yang memanas sering terjadi tentang perkara yang sama-sama tidak diketahui kedua pihak. Mengakui bahwa suatu perkara berada di luar pengetahuan kita bisa mengakhiri perdebatan sebelum dimulai.
  • Di 53:11 penglihatan disebut dengan kata kerja lampau, dan di ayat ini dengan bentuk yang sama dengan 53:35, penglihatan yang dipegang oleh orang yang melihat. Kesaksian kawan itu tidak berhenti sebagai kenangan yang memudar. Dia tetap memegang apa yang dilihatnya meski orang-orang di sekitarnya membantah. Kesetiaan kepada apa yang disaksikan sendiri membutuhkan keteguhan hati, dan hati itu sudah diberi kesaksian oleh Allah di 53:11. Apa yang membuat seseorang tetap memegang kesaksiannya ketika banyak suara di sekitarnya menyangkal?