وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

Dan sungguh, dia telah melihatnya pada kedatangan yang lain,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ رَآهُwa-la-qad ra'aahudan sungguh, dia telah melihatnya
  2. نَزْلَةً أُخْرَىٰnazlatan ukhraapada kedatangan yang lain

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. رَآهُra'aahumelihatnya
  3. نَزْلَةًnazlatankedatangan
  4. أُخْرَىٰukhraayang lain

Inti bacaan

Ketika ragu terhadap hasil kerja rekan, datang memeriksa langsung untuk kedua kalinya sebelum menilai, lalu membandingkan catatan hari ini dengan catatan kunjungan sebelumnya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ, wa-la-qad ra'aahu nazlatan ukhraa) yang berarti "dan sungguh, dia telah melihatnya pada kedatangan yang lain". Pembukanya (وَلَقَدْ, wa-la-qad) memuat dua penguat, la- dan qad, yang diterjemahkan dengan "sungguh" dan "telah". Dengan pembuka itu, penglihatan kedua disampaikan sebagai kepastian, tepat sesudah pertanyaan kepada para pembantah di 53:12.

Susunan (وَلَقَدْ رَآهُ, wa-la-qad ra'aahu) yang berarti "dan sungguh, dia telah melihatnya" muncul di dua ayat di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 81:23, yang berbunyi (وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ, wa-la-qad ra'aahu bi-l-ufuqi l-mubiini) yang berarti "dan sungguh dia telah melihatnya di ufuk yang terang". Di kedua ayat kata ganti -hu menunjuk kembali kepada sosok yang dilukiskan sebelumnya, pengajar yang sangat kuat di 53:5 dan utusan yang mulia di 81:19. Dalam kedua ayat kata kerjanya lampau dan didahului dua penguat, sehingga penglihatan itu disampaikan sebagai peristiwa yang sudah terjadi dan pasti.

Kata (نَزْلَةً, nazlatan) hanya muncul di ayat ini. Polanya menyatakan satu kali kejadian, sepola dengan (نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ, nafkhatun waahidatun) yang berarti "sekali tiupan" di 69:13 dan (دَكَّةً وَاحِدَةً, dakkatan waahidatan) yang berarti "sekali benturan" di 69:14. Dengan pola itu, kata nazlatan menunjuk satu kedatangan tertentu, peristiwa yang bisa dihitung dan dibedakan dari kedatangan sebelumnya.

Keluarga kata yang sama dipakai Al-Qur'an untuk tamu yang datang dan penyambutannya. Di 56:56 disebut (هَٰذَا نُزُلُهُمْ, haadzaa nuzuluhum) yang berarti "inilah jamuan untuk mereka", dan di 32:19 (جَنَّاتُ الْمَأْوَىٰ نُزُلًا, jannaatu l-ma'waa nuzulan) yang berarti "taman-taman tempat tinggal, sebagai jamuan". Di 12:59 Yusuf menyebut dirinya sebaik-baik (الْمُنْزِلِينَ, al-munziliina) yang berarti "tuan rumah". Sesuai pemakaian itu, kata nazlatan di ayat ini berarti satu kali kedatangan di suatu tempat.

Kata (أُخْرَىٰ, ukhraa) berarti "yang lain". Al-Qur'an memakainya bersama kata hitungan kali di tiga ayat, yaitu (مَرَّةً أُخْرَىٰ, marratan ukhraa) yang berarti "pada kesempatan yang lain" di 20:37, dan (تَارَةً أُخْرَىٰ, taaratan ukhraa) yang berarti "sekali lagi" di 17:69 dan 20:55. Ayat ini memakai nazlatan di tempat kata hitungan itu, sehingga pengulangannya membawa makna kedatangan. Kata "yang lain" juga mengandaikan kedatangan sebelumnya, yaitu adegan di ufuk dalam 53:7-9, tanpa memakai kata "kedua". Di Surah 53 sendiri kata itu muncul lagi di 53:20, dalam (الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ, ts-tsaalitsata l-ukhraa) yang berarti "yang ketiga, yang lain", untuk salah satu berhala yang disembah para penentang.

Tafsiran

Ayat ini membuka adegan kedua. Adegan pertama berlangsung di ufuk yang tertinggi dan berakhir dengan wahyu (53:7-10), lalu hati kawan itu diberi kesaksian dan para pembantahnya ditanya (53:11-12). Sesudah itu Allah menyebut bahwa penglihatan itu terjadi lagi pada kedatangan yang lain. Susunan ini menjawab bantahan di 53:12 dengan kesaksian tambahan, karena sesuatu yang dilihat sekali masih bisa disangka keliru, sedangkan penglihatan yang terulang sulit ditolak dengan alasan yang sama.

Adegan kedua dilukiskan dengan penanda tempat, berbeda dari adegan pertama yang dilukiskan dengan gerak mendekat. Sesudah ayat ini datang pohon bidara di batas akhir (53:14), taman tempat tinggal di sisinya (53:15), apa yang meliputi pohon itu (53:16), penglihatan yang tidak menyimpang (53:17), dan tanda-tanda Tuhannya yang sangat besar (53:18). Ayat ini menjadi pintu dari satu adegan ke adegan berikutnya.

Keluarga kata kedatangan di ayat ini bertemu dengan kata (الْمَأْوَىٰ, l-ma'waa) di 32:19, dalam jamuan bagi orang-orang yang beriman di taman-taman tempat kediaman. Di 53:13-15 kedua kata itu hadir lagi dalam satu rangkaian, kedatangan di ayat ini dan taman tempat tinggal di 53:15. Kedekatan pemakaian itu layak dicatat, walaupun teksnya berhenti di situ tanpa menjelaskan hubungan keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Sekali melihat bisa disangka salah lihat, dan dua kali melihat tidak semudah itu ditolak. Allah menyebut kedatangan yang lain tepat sesudah bantahan di 53:12, sehingga kesaksian kedua menjadi jawaban bagi keraguan. Kesaksian yang diulang memberi pegangan yang lebih kuat daripada satu pengalaman yang berdiri sendiri. Dalam hidup sehari-hari, keyakinan yang bertahan biasanya dibangun dari pengalaman yang terulang, lebih daripada satu kejadian yang mengejutkan lalu dilupakan.
  • Allah memakai kata yang menunjuk satu kedatangan, sesuatu yang terjadi pada waktu tertentu dan bisa dihitung. Penglihatan itu tidak digambarkan sebagai suasana yang samar, atau perasaan yang menyelimuti tanpa awal dan akhir. Kesaksian yang bisa ditunjuk waktunya lebih mudah dipertanggungjawabkan daripada kesan yang mengambang. Pengalaman batin yang sungguh-sungguh sering bisa disebut kapan terjadinya dan apa yang dilihat saat itu. Kesaksian di ayat ini punya bentuk seperti itu, satu kedatangan yang bisa ditunjuk, di tempat yang disebut di ayat berikutnya.
  • Kalimat pembuka yang sama muncul di dua surah, di 81:23 dan di ayat ini. Di 81:23 penglihatan itu terjadi di ufuk yang terang, dan di ayat ini pada kedatangan yang lain. Al-Qur'an mengulang kesaksian itu di tempat yang berbeda dengan kata yang sama, sehingga orang yang membaca salah satunya menemukan penguatnya di tempat lain. Kesaksian yang tetap sama dari satu kesempatan ke kesempatan lain menjadi tanda kejujuran penuturnya. Pembukanya tetap sama, sedangkan keterangan tempat dan waktunya berganti sesuai adegan yang dituturkan.
  • Kata "yang lain" tidak berdiri sendiri. Kata itu mengandaikan kedatangan sebelumnya, dan pembaca diajak menoleh ke 53:7-9. Allah menyusun kesaksian ini sehingga adegan kedua selalu terbaca bersama adegan pertama. Pengalaman kedua sering memberi arti baru pada pengalaman pertama, dan pengalaman pertama menjadi ukuran bagi yang kedua. Keduanya saling menguatkan tanpa harus diceritakan ulang dari awal. Pertemuan kedua dengan sesuatu sering lebih jernih, karena pertemuan pertama sudah menyiapkan mata.
  • Allah tidak menjawab bantahan di 53:12 dengan debat. Jawaban yang datang berupa kesaksian baru. Ketika seseorang dibantah tentang apa yang dilihatnya, dorongan pertama biasanya berdebat panjang untuk membela diri. Ayat ini menempuh jalan lain, menambahkan apa yang dilihat dan membiarkan kesaksian itu berbicara. Bukankah kesaksian yang bertambah sering lebih meyakinkan daripada debat yang memanjang?
  • Kawan itu tidak menceritakan pengalamannya sendiri dalam surah ini. Seluruh laporan, dari 53:5 sampai 53:18, disampaikan dalam firman Allah. Kesaksian seseorang tentang pengalamannya mudah dituduh sebagai pengakuan diri. Di sini pengalaman itu diceritakan oleh Dia yang mengetahui kedua kedatangan, sehingga kesaksian itu berdiri di atas dasar yang lain. Orang yang pengalamannya diragukan tidak selalu harus menjadi penutur ceritanya sendiri.