Ayat 53:14
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
di sisi pohon bidara di batas akhir,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ'inda sidrati l-muntahaadi sisi pohon bidara di batas akhir
Terjemahan per kata (3 kata)
- عِنْدَ'indadi sisi
- سِدْرَةِsidratipohon bidara
- الْمُنْتَهَىٰl-muntahaabatas akhir
Inti bacaan
Memilih satu pohon atau sudut jalan yang dilewati setiap hari sebagai pengingat bahwa hidup punya ujung, lalu setiap kali melewatinya menyebut satu urusan yang perlu dituntaskan sebelum waktunya habis.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ, 'inda sidrati l-muntahaa) yang berarti "di sisi pohon bidara di batas akhir". Tiga katanya melanjutkan 53:13 sebagai keterangan tempat, sehingga kedatangan yang lain itu terjadi di sisi sebuah pohon. Kata (عِنْدَ, 'inda) berarti "di sisi", dan kata yang sama mengawali 53:15 dengan kata ganti, (عِنْدَهَا, 'indahaa) yang berarti "di sisinya". Pengulangan itu mengikat kedua ayat pada satu titik acuan.
Kata (سِدْرَةِ, sidrati) berakar س-د-ر, dan di seluruh Al-Qur'an akar itu dipakai di empat ayat. Dua di antaranya memakai bentuk kumpulan, (سِدْرٍ, sidrin) yang berarti "pohon bidara". Di 56:28 disebut (فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ, fii sidrin makhdhuudin) yang berarti "berada di antara pohon bidara yang tidak berduri", dan di 34:16 (وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ, wa-syay'in min sidrin qaliilin) yang berarti "dan sedikit pohon bidara". Di ayat ini dan di 53:16 kata itu berakhiran -ah, bentuk yang menunjuk satu pohon, sepola dengan (النَّخْلَةِ, n-nakhlati) di 19:23, pangkal sebatang pohon kurma tempat Maryam bersandar.
Kata (الْمُنْتَهَىٰ, l-muntahaa) berakar ن-ه-ي dan diterjemahkan "batas akhir". Kata kerja dari akar ini berarti berhenti, misalnya (فَإِنِ انْتَهَوْا, fa-ini ntahaw) yang berarti "maka jika mereka berhenti" di 2:192. Kata itu sendiri muncul di dua ayat, di sini dan di 53:42, (وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ, wa-anna ilaa rabbika l-muntahaa) yang berarti "dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan". Bentuk yang sama dengan kata ganti ada di 79:44, (إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا, ilaa rabbika muntahaahaa) yang berarti "kepada Tuhanmulah kesudahannya". Ketiga pemakaian itu menunjuk titik tempat sesuatu berhenti dan tidak berlanjut.
Akar ن-ه-ي dipakai di lima puluh empat ayat dengan beberapa makna yang berbagi gagasan batas. Kata kerja melarang muncul di tiga puluh satu ayat, misalnya (وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ, wa-yanhaa 'ani l-fahsyaa'i) yang berarti "dan melarang perbuatan keji" di 16:90, dan kata kerja berhenti di enam belas ayat. Di 20:54 dan 20:128 akar yang sama dipakai untuk akal, (لِأُولِي النُّهَىٰ, li-ulii n-nuhaa) yang berarti "bagi orang-orang yang berakal". Larangan menetapkan batas bagi perbuatan, dan berhenti berarti sampai di batas itu, sehingga batas akhir di ayat ini berada dalam keluarga makna yang sama.
Dalam (سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ, sidrati l-muntahaa) pohon bidara disandarkan kepada batas akhir. Susunan itu membuat pohon itu dikenali lewat letaknya, dan letak itu dikenali lewat pohonnya. Ayat ini memberi jenis pohon dan letaknya, tanpa ukuran, rupa, atau buah, dan keterangan tentang keadaan pohon itu baru datang di 53:16. Dari empat ayat berakar س-د-ر, dua yang berbentuk satu pohon berada di rangkaian ini.
Tafsiran
Ayat ini memberi adegan kedua sebuah tempat. Adegan pertama berlangsung di ufuk yang tertinggi (53:7), tempat yang bisa ditunjuk dengan pandangan mata, sedangkan adegan kedua berlangsung di sisi pohon bidara di batas akhir. Kedua adegan diberi letak, dan keduanya disebut dengan kata yang menunjuk ketinggian atau ujung. Adegan pertama menunjuk arah pandang, sedangkan adegan kedua menunjuk sebuah titik yang ditandai benda.
Kata batas akhir muncul lagi di 53:42, ketika surah ini menyatakan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan. Dengan begitu satu kata menandai dua hal di surah yang sama, tempat penglihatan kedua dan kesudahan segala sesuatu pada Tuhan. Teksnya tidak menjelaskan apa yang berakhir di pohon itu, dan keterangan tentangnya tidak ditambah di sini dari luar Al-Qur'an.
Pohon bidara muncul di dua tempat lain. Di 56:28 pohon itu tumbuh tanpa duri di taman bagi golongan kanan, dan di 34:16 tinggal sedikit di kebun negeri Saba' yang diganti karena penduduknya berpaling. Pohon yang sama hadir dalam gambaran anugerah dan dalam gambaran kehilangan, lalu di ayat ini menandai tempat penglihatan. Al-Qur'an memakai pohon yang dikenal manusia untuk menandai tempat yang berada di luar jangkauan penglihatan orang banyak.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tempat penglihatan kedua dengan nama benda yang dikenal, pohon bidara, lalu menambahkan letaknya di batas akhir. Rincian lain tentang pohon itu tidak diberikan. Rasa ingin tahu mendorong orang mengisi kekosongan itu dengan gambaran sendiri. Ayat ini memberi cukup untuk mengenali tempatnya, dan membiarkan sisanya tetap di luar jangkauan. Menerima batas keterangan juga bagian dari membaca dengan jujur, karena gambaran tambahan dari luar teks mudah dianggap sebagai bagian dari teks itu sendiri.
- Kata batas akhir mengingatkan bahwa segala sesuatu punya ujung. Di 53:42 kata yang sama menyatakan bahwa kesudahan itu ada pada Tuhan. Perjalanan apa pun, sejauh apa pun, berhenti di suatu titik. Kesadaran tentang batas akhir bisa menenangkan, karena perjalanan tidak berlangsung tanpa arah, dan bisa juga menyadarkan, karena waktu untuk menempuhnya terbatas. Ke mana langkah-langkah hari ini sedang menuju, dan apakah arah itu disadari?
- Pohon bidara dikenal di bumi. Allah memakai sesuatu yang dikenal untuk menunjuk tempat yang belum dikenal, sehingga orang yang mendengar punya pegangan untuk membayangkan letaknya. Pengetahuan tentang hal yang jauh sering dimulai dari hal yang dekat. Benda yang biasa dilihat setiap hari bisa menjadi pintu untuk memahami sesuatu yang belum terlihat, asalkan orang tidak berhenti pada bendanya. Allah memberi contohnya di ayat ini dengan sebatang pohon bidara di batas akhir.
- Ayat ini memakai kata di sisi. Penglihatan itu terjadi dekat dengan batas akhir, tanpa disebut melewatinya. Allah menyebut letaknya dengan cermat, dan kedekatan dengan batas berbeda dengan melampauinya. Manusia sering diberi kesempatan mendekati batas pengetahuannya, dan di tempat itu sikap yang layak berupa kesaksian atas apa yang terlihat, tanpa mengaku mengetahui apa yang ada di baliknya. Kerendahan hati di tepi pengetahuan menjaga kesaksian tetap jujur.
- Pohon yang sama tumbuh di kebun yang diganti karena penduduknya berpaling (34:16) dan di taman bagi golongan kanan (56:28). Perbedaannya terletak pada orang-orang di sekitarnya, satu kaum berpaling dan kaum lain termasuk golongan kanan. Benda yang sama bisa hadir sebagai sisa kehilangan atau sebagai bagian anugerah. Nilai sesuatu di sekitar kita sering ditentukan oleh sikap kita kepada Pemberinya. Kebun yang sama bisa berbuah manis atau pahit, tergantung kepada syukur atau berpalingnya penghuni.
- Allah menyebut letak lebih dulu, taman di sisinya kemudian (53:15), lalu apa yang meliputi pohon itu (53:16). Keterangan disusun dari yang bisa dikenali menuju yang tidak bisa diuraikan. Cara bercerita seperti ini memberi pijakan sebelum mengajak melangkah lebih jauh. Orang yang hendak menyampaikan pengalaman yang sulit dipercaya bisa belajar dari urutan itu, memulai dari sesuatu yang bisa dikenali orang lain, lalu bergerak perlahan menuju bagian yang sulit dibayangkan.
Ayat 53:15
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
di sisinya ada taman tempat tinggal,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ'indahaa jannatu l-ma'waadi sisinya ada taman tempat tinggal
Terjemahan per kata (3 kata)
- عِنْدَهَا'indahaadi sisinya
- جَنَّةُjannatutaman
- الْمَأْوَىٰl-ma'waatempat tinggal
Inti bacaan
Sebelum mengikuti keinginan yang mendesak, misalnya belanja yang tidak perlu atau amarah dalam percakapan, berhenti sejenak dan menimbang apakah pilihan itu mendekatkan kepada tempat tinggal yang dijanjikan Allah atau menjauhkannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ, 'indahaa jannatu l-ma'waa) yang berarti "di sisinya ada taman tempat tinggal". Kata (عِنْدَهَا, 'indahaa) mengulang "di sisi" dari 53:14, dengan kata ganti -haa yang kembali kepada pohon bidara. Taman itu ditunjuk lewat letaknya dari pohon, sehingga pohon bidara menjadi titik acuan bagi seluruh adegan kedua.
Kata (جَنَّةُ, jannatu) berarti "taman", dan di ayat ini berbentuk tunggal. Di 32:19 susunan yang mirip muncul dalam bentuk jamak, (جَنَّاتُ الْمَأْوَىٰ, jannaatu l-ma'waa) yang berarti "taman-taman tempat kediaman", bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Taman juga disebut dengan sandaran lain, misalnya (جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ, jannaatu l-firdawsi) yang berarti "taman Firdaus" di 18:107 dan (جَنَّةُ الْخُلْدِ, jannatu l-khuldi) yang berarti "taman yang kekal" di 25:15. Ayat ini memilih sandaran tempat tinggal, sehingga taman itu dikenali sebagai tempat menetap. Dengan bentuk tunggal, taman ini ditunjuk sebagai satu tempat tertentu di sisi pohon bidara.
Kata (الْمَأْوَىٰ, l-ma'waa) berakar أ-و-ي. Kata kerjanya berarti berlindung, misalnya (إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ, idz awaa l-fityatu ilaa l-kahfi) yang berarti "ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua" di 18:10, dan (سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ, saaawii ilaa jabalin) yang berarti "aku akan berlindung ke gunung" di 11:43. Di 93:6 kata kerja yang sama dipakai untuk Allah, (أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ, a-lam yajidka yatiiman fa-aawaa) yang berarti "bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia melindungi". Dengan akar itu, l-ma'waa berarti tempat orang berlindung lalu menetap, dan diterjemahkan "tempat tinggal".
Sebutan l-ma'waa dipakai di dua puluh dua ayat di seluruh Al-Qur'an. Sembilan belas di antaranya menyebut neraka sebagai tempat tinggal, misalnya 3:197, 13:18, dan 79:39. Tiga sisanya menyebut taman, yaitu 32:19, ayat ini, dan 79:41. Dengan perbandingan itu, kata tempat tinggal dalam Al-Qur'an tidak otomatis menunjuk tempat yang baik. Tempat itu ditentukan oleh siapa yang tinggal dan apa yang dikerjakannya, sebagaimana 79:37-41 membagi tempat tinggal menurut sikap seseorang terhadap hawa nafsunya.
Di 79:40, sebelum taman disebut sebagai tempat tinggal, ada (وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-nahaa n-nafsa 'ani l-hawaa) yang berarti "dan menahan diri dari hawa nafsu". Kata kerja menahan itu berasal dari akar ن-ه-ي, akar yang sama dengan batas akhir di 53:14. Dalam satu kalimat di 79:40-41, akar itu, hawa nafsu, dan taman tempat tinggal hadir bersama.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi keterangan tempat adegan kedua. Pohon bidara di batas akhir menjadi titik acuan, dan di sisinya ada taman tempat tinggal. Penglihatan kedua dengan begitu diletakkan dekat dengan taman yang di tempat lain disediakan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh (32:19), dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya (79:40-41).
Tiga unsur yang bertemu di 79:40-41 juga hadir dalam rangkaian Surah 53. Hawa nafsu disebut di 53:3, ketika Allah meniadakannya dari ucapan kawan itu, akar batas muncul di 53:14, dan taman tempat tinggal di ayat ini. Di 79:40-41 ketiganya berada dalam satu kalimat, dan di Surah 53 tersebar dalam satu rangkaian. Teksnya tidak menyatakan hubungan sebab di antara keduanya, sehingga susunan ini dibaca sebagai gema pemakaian, tanpa ditarik menjadi kesimpulan.
Ayat ini tidak menyebut siapa yang tinggal di taman itu. Keterangan tentang penghuninya ada di ayat lain, di 32:19 bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan di 79:41 bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu. Di Surah 53 taman itu hadir sebagai penanda tempat, dan dengan penyebutan itu kesaksian kawan itu terhubung dengan kesudahan orang-orang yang beriman.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut taman itu di sisi pohon bidara, berdekatan dengan batas akhir tanpa disebut menyatu dengannya. Tempat tinggal yang dijanjikan berada tidak jauh dari batas itu. Bagi siapa pun yang merasa perjalanannya panjang, susunan ini memberi gambaran bahwa ujung perjalanan dan tempat menetap berada berdampingan. Batas yang ditakuti sebagai akhir ternyata bertetangga dengan tempat berlindung, dan kedekatan itu disebut dalam dua ayat yang berurutan.
- Tempat tinggal dalam ayat ini berasal dari kata berlindung. Para pemuda berlindung ke gua (18:10), dan Allah melindungi anak yatim (93:6). Taman itu digambarkan sebagai tempat orang berlindung lalu menetap, sesudah perjalanan dan ketakutan. Setiap orang mencari tempat berlindung, dan sering menemukannya di tempat yang ternyata rapuh, seperti gunung yang dituju anak Nuh di 11:43. Al-Qur'an menyebut tempat berlindung yang sejati sebagai pemberian Allah.
- Dari dua puluh dua kali kata tempat tinggal dipakai, sembilan belas kali kata itu menunjuk neraka. Setiap orang akan menempati suatu tempat tinggal, dan pertanyaannya tinggal yang mana. Di 79:37-41 Allah membaginya menurut sikap seseorang, melampaui batas dan mengutamakan dunia, atau takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu. Tempat tinggal di akhir perjalanan disiapkan oleh langkah-langkah selama perjalanan, dan setiap langkah itu masih bisa dipilih.
- Di 79:40-41 taman menjadi tempat tinggal bagi orang yang menahan diri dari hawa nafsu, dan Surah 53 membuka pembelaannya dengan meniadakan hawa nafsu dari ucapan kawan itu (53:3). Menahan diri terdengar berat, karena keinginan terasa dekat dan taman terasa jauh. Rangkaian ini memperlihatkan taman tempat tinggal berada di sisi batas yang disaksikan dari dekat. Apakah keinginan hari ini sepadan dengan tempat tinggal yang kelak ditukarnya?
- Allah menyebut taman itu tanpa menguraikan isinya di ayat ini. Keterangannya cukup untuk mengetahui letaknya dan kedudukannya sebagai tempat tinggal. Di bagian lain Al-Qur'an memberi banyak gambaran taman, sedangkan di ayat ini penyebutannya singkat, karena pusat rangkaian ini penglihatan kawan itu. Menyebut sesuatu secukupnya, sesuai keperluan cerita, membuat pokok cerita tetap terjaga, dan keterangan yang berlebihan bisa mengaburkan yang pokok. Ayat ini memberi contohnya dalam tiga kata saja.
- Kesaksian kawan itu berlangsung di sisi pohon yang bersebelahan dengan taman tempat tinggal. Teksnya menyebut taman itu sebagai penanda letak, dan tidak menyatakan bahwa taman itu ikut dilihat. Janji tentang taman tetap menjadi janji, dan kesaksian tentang tempat di sisinya membuat janji itu terasa lebih dekat. Allah menghubungkan penglihatan utusan-Nya dengan tempat tinggal orang-orang yang beriman, sehingga harapan mereka punya pijakan dalam kesaksian yang disampaikan-Nya sendiri.