عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
di sisi pohon bidara di batas akhir,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ'inda sidrati l-muntahaadi sisi pohon bidara di batas akhir
Terjemahan per kata (3 kata)
- عِنْدَ'indadi sisi
- سِدْرَةِsidratipohon bidara
- الْمُنْتَهَىٰl-muntahaabatas akhir
Inti bacaan
Memilih satu pohon atau sudut jalan yang dilewati setiap hari sebagai pengingat bahwa hidup punya ujung, lalu setiap kali melewatinya menyebut satu urusan yang perlu dituntaskan sebelum waktunya habis.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ, 'inda sidrati l-muntahaa) yang berarti "di sisi pohon bidara di batas akhir". Tiga katanya melanjutkan 53:13 sebagai keterangan tempat, sehingga kedatangan yang lain itu terjadi di sisi sebuah pohon. Kata (عِنْدَ, 'inda) berarti "di sisi", dan kata yang sama mengawali 53:15 dengan kata ganti, (عِنْدَهَا, 'indahaa) yang berarti "di sisinya". Pengulangan itu mengikat kedua ayat pada satu titik acuan.
Kata (سِدْرَةِ, sidrati) berakar س-د-ر, dan di seluruh Al-Qur'an akar itu dipakai di empat ayat. Dua di antaranya memakai bentuk kumpulan, (سِدْرٍ, sidrin) yang berarti "pohon bidara". Di 56:28 disebut (فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ, fii sidrin makhdhuudin) yang berarti "berada di antara pohon bidara yang tidak berduri", dan di 34:16 (وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ, wa-syay'in min sidrin qaliilin) yang berarti "dan sedikit pohon bidara". Di ayat ini dan di 53:16 kata itu berakhiran -ah, bentuk yang menunjuk satu pohon, sepola dengan (النَّخْلَةِ, n-nakhlati) di 19:23, pangkal sebatang pohon kurma tempat Maryam bersandar.
Kata (الْمُنْتَهَىٰ, l-muntahaa) berakar ن-ه-ي dan diterjemahkan "batas akhir". Kata kerja dari akar ini berarti berhenti, misalnya (فَإِنِ انْتَهَوْا, fa-ini ntahaw) yang berarti "maka jika mereka berhenti" di 2:192. Kata itu sendiri muncul di dua ayat, di sini dan di 53:42, (وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ, wa-anna ilaa rabbika l-muntahaa) yang berarti "dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan". Bentuk yang sama dengan kata ganti ada di 79:44, (إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا, ilaa rabbika muntahaahaa) yang berarti "kepada Tuhanmulah kesudahannya". Ketiga pemakaian itu menunjuk titik tempat sesuatu berhenti dan tidak berlanjut.
Akar ن-ه-ي dipakai di lima puluh empat ayat dengan beberapa makna yang berbagi gagasan batas. Kata kerja melarang muncul di tiga puluh satu ayat, misalnya (وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ, wa-yanhaa 'ani l-fahsyaa'i) yang berarti "dan melarang perbuatan keji" di 16:90, dan kata kerja berhenti di enam belas ayat. Di 20:54 dan 20:128 akar yang sama dipakai untuk akal, (لِأُولِي النُّهَىٰ, li-ulii n-nuhaa) yang berarti "bagi orang-orang yang berakal". Larangan menetapkan batas bagi perbuatan, dan berhenti berarti sampai di batas itu, sehingga batas akhir di ayat ini berada dalam keluarga makna yang sama.
Dalam (سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ, sidrati l-muntahaa) pohon bidara disandarkan kepada batas akhir. Susunan itu membuat pohon itu dikenali lewat letaknya, dan letak itu dikenali lewat pohonnya. Ayat ini memberi jenis pohon dan letaknya, tanpa ukuran, rupa, atau buah, dan keterangan tentang keadaan pohon itu baru datang di 53:16. Dari empat ayat berakar س-د-ر, dua yang berbentuk satu pohon berada di rangkaian ini.
Tafsiran
Ayat ini memberi adegan kedua sebuah tempat. Adegan pertama berlangsung di ufuk yang tertinggi (53:7), tempat yang bisa ditunjuk dengan pandangan mata, sedangkan adegan kedua berlangsung di sisi pohon bidara di batas akhir. Kedua adegan diberi letak, dan keduanya disebut dengan kata yang menunjuk ketinggian atau ujung. Adegan pertama menunjuk arah pandang, sedangkan adegan kedua menunjuk sebuah titik yang ditandai benda.
Kata batas akhir muncul lagi di 53:42, ketika surah ini menyatakan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan. Dengan begitu satu kata menandai dua hal di surah yang sama, tempat penglihatan kedua dan kesudahan segala sesuatu pada Tuhan. Teksnya tidak menjelaskan apa yang berakhir di pohon itu, dan keterangan tentangnya tidak ditambah di sini dari luar Al-Qur'an.
Pohon bidara muncul di dua tempat lain. Di 56:28 pohon itu tumbuh tanpa duri di taman bagi golongan kanan, dan di 34:16 tinggal sedikit di kebun negeri Saba' yang diganti karena penduduknya berpaling. Pohon yang sama hadir dalam gambaran anugerah dan dalam gambaran kehilangan, lalu di ayat ini menandai tempat penglihatan. Al-Qur'an memakai pohon yang dikenal manusia untuk menandai tempat yang berada di luar jangkauan penglihatan orang banyak.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tempat penglihatan kedua dengan nama benda yang dikenal, pohon bidara, lalu menambahkan letaknya di batas akhir. Rincian lain tentang pohon itu tidak diberikan. Rasa ingin tahu mendorong orang mengisi kekosongan itu dengan gambaran sendiri. Ayat ini memberi cukup untuk mengenali tempatnya, dan membiarkan sisanya tetap di luar jangkauan. Menerima batas keterangan juga bagian dari membaca dengan jujur, karena gambaran tambahan dari luar teks mudah dianggap sebagai bagian dari teks itu sendiri.
- Kata batas akhir mengingatkan bahwa segala sesuatu punya ujung. Di 53:42 kata yang sama menyatakan bahwa kesudahan itu ada pada Tuhan. Perjalanan apa pun, sejauh apa pun, berhenti di suatu titik. Kesadaran tentang batas akhir bisa menenangkan, karena perjalanan tidak berlangsung tanpa arah, dan bisa juga menyadarkan, karena waktu untuk menempuhnya terbatas. Ke mana langkah-langkah hari ini sedang menuju, dan apakah arah itu disadari?
- Pohon bidara dikenal di bumi. Allah memakai sesuatu yang dikenal untuk menunjuk tempat yang belum dikenal, sehingga orang yang mendengar punya pegangan untuk membayangkan letaknya. Pengetahuan tentang hal yang jauh sering dimulai dari hal yang dekat. Benda yang biasa dilihat setiap hari bisa menjadi pintu untuk memahami sesuatu yang belum terlihat, asalkan orang tidak berhenti pada bendanya. Allah memberi contohnya di ayat ini dengan sebatang pohon bidara di batas akhir.
- Ayat ini memakai kata di sisi. Penglihatan itu terjadi dekat dengan batas akhir, tanpa disebut melewatinya. Allah menyebut letaknya dengan cermat, dan kedekatan dengan batas berbeda dengan melampauinya. Manusia sering diberi kesempatan mendekati batas pengetahuannya, dan di tempat itu sikap yang layak berupa kesaksian atas apa yang terlihat, tanpa mengaku mengetahui apa yang ada di baliknya. Kerendahan hati di tepi pengetahuan menjaga kesaksian tetap jujur.
- Pohon yang sama tumbuh di kebun yang diganti karena penduduknya berpaling (34:16) dan di taman bagi golongan kanan (56:28). Perbedaannya terletak pada orang-orang di sekitarnya, satu kaum berpaling dan kaum lain termasuk golongan kanan. Benda yang sama bisa hadir sebagai sisa kehilangan atau sebagai bagian anugerah. Nilai sesuatu di sekitar kita sering ditentukan oleh sikap kita kepada Pemberinya. Kebun yang sama bisa berbuah manis atau pahit, tergantung kepada syukur atau berpalingnya penghuni.
- Allah menyebut letak lebih dulu, taman di sisinya kemudian (53:15), lalu apa yang meliputi pohon itu (53:16). Keterangan disusun dari yang bisa dikenali menuju yang tidak bisa diuraikan. Cara bercerita seperti ini memberi pijakan sebelum mengajak melangkah lebih jauh. Orang yang hendak menyampaikan pengalaman yang sulit dipercaya bisa belajar dari urutan itu, memulai dari sesuatu yang bisa dikenali orang lain, lalu bergerak perlahan menuju bagian yang sulit dibayangkan.