عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
di sisinya ada taman tempat tinggal,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ'indahaa jannatu l-ma'waadi sisinya ada taman tempat tinggal
Terjemahan per kata (3 kata)
- عِنْدَهَا'indahaadi sisinya
- جَنَّةُjannatutaman
- الْمَأْوَىٰl-ma'waatempat tinggal
Inti bacaan
Sebelum mengikuti keinginan yang mendesak, misalnya belanja yang tidak perlu atau amarah dalam percakapan, berhenti sejenak dan menimbang apakah pilihan itu mendekatkan kepada tempat tinggal yang dijanjikan Allah atau menjauhkannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ, 'indahaa jannatu l-ma'waa) yang berarti "di sisinya ada taman tempat tinggal". Kata (عِنْدَهَا, 'indahaa) mengulang "di sisi" dari 53:14, dengan kata ganti -haa yang kembali kepada pohon bidara. Taman itu ditunjuk lewat letaknya dari pohon, sehingga pohon bidara menjadi titik acuan bagi seluruh adegan kedua.
Kata (جَنَّةُ, jannatu) berarti "taman", dan di ayat ini berbentuk tunggal. Di 32:19 susunan yang mirip muncul dalam bentuk jamak, (جَنَّاتُ الْمَأْوَىٰ, jannaatu l-ma'waa) yang berarti "taman-taman tempat kediaman", bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Taman juga disebut dengan sandaran lain, misalnya (جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ, jannaatu l-firdawsi) yang berarti "taman Firdaus" di 18:107 dan (جَنَّةُ الْخُلْدِ, jannatu l-khuldi) yang berarti "taman yang kekal" di 25:15. Ayat ini memilih sandaran tempat tinggal, sehingga taman itu dikenali sebagai tempat menetap. Dengan bentuk tunggal, taman ini ditunjuk sebagai satu tempat tertentu di sisi pohon bidara.
Kata (الْمَأْوَىٰ, l-ma'waa) berakar أ-و-ي. Kata kerjanya berarti berlindung, misalnya (إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ, idz awaa l-fityatu ilaa l-kahfi) yang berarti "ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua" di 18:10, dan (سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ, saaawii ilaa jabalin) yang berarti "aku akan berlindung ke gunung" di 11:43. Di 93:6 kata kerja yang sama dipakai untuk Allah, (أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ, a-lam yajidka yatiiman fa-aawaa) yang berarti "bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia melindungi". Dengan akar itu, l-ma'waa berarti tempat orang berlindung lalu menetap, dan diterjemahkan "tempat tinggal".
Sebutan l-ma'waa dipakai di dua puluh dua ayat di seluruh Al-Qur'an. Sembilan belas di antaranya menyebut neraka sebagai tempat tinggal, misalnya 3:197, 13:18, dan 79:39. Tiga sisanya menyebut taman, yaitu 32:19, ayat ini, dan 79:41. Dengan perbandingan itu, kata tempat tinggal dalam Al-Qur'an tidak otomatis menunjuk tempat yang baik. Tempat itu ditentukan oleh siapa yang tinggal dan apa yang dikerjakannya, sebagaimana 79:37-41 membagi tempat tinggal menurut sikap seseorang terhadap hawa nafsunya.
Di 79:40, sebelum taman disebut sebagai tempat tinggal, ada (وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ, wa-nahaa n-nafsa 'ani l-hawaa) yang berarti "dan menahan diri dari hawa nafsu". Kata kerja menahan itu berasal dari akar ن-ه-ي, akar yang sama dengan batas akhir di 53:14. Dalam satu kalimat di 79:40-41, akar itu, hawa nafsu, dan taman tempat tinggal hadir bersama.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi keterangan tempat adegan kedua. Pohon bidara di batas akhir menjadi titik acuan, dan di sisinya ada taman tempat tinggal. Penglihatan kedua dengan begitu diletakkan dekat dengan taman yang di tempat lain disediakan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh (32:19), dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya (79:40-41).
Tiga unsur yang bertemu di 79:40-41 juga hadir dalam rangkaian Surah 53. Hawa nafsu disebut di 53:3, ketika Allah meniadakannya dari ucapan kawan itu, akar batas muncul di 53:14, dan taman tempat tinggal di ayat ini. Di 79:40-41 ketiganya berada dalam satu kalimat, dan di Surah 53 tersebar dalam satu rangkaian. Teksnya tidak menyatakan hubungan sebab di antara keduanya, sehingga susunan ini dibaca sebagai gema pemakaian, tanpa ditarik menjadi kesimpulan.
Ayat ini tidak menyebut siapa yang tinggal di taman itu. Keterangan tentang penghuninya ada di ayat lain, di 32:19 bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan di 79:41 bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu. Di Surah 53 taman itu hadir sebagai penanda tempat, dan dengan penyebutan itu kesaksian kawan itu terhubung dengan kesudahan orang-orang yang beriman.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut taman itu di sisi pohon bidara, berdekatan dengan batas akhir tanpa disebut menyatu dengannya. Tempat tinggal yang dijanjikan berada tidak jauh dari batas itu. Bagi siapa pun yang merasa perjalanannya panjang, susunan ini memberi gambaran bahwa ujung perjalanan dan tempat menetap berada berdampingan. Batas yang ditakuti sebagai akhir ternyata bertetangga dengan tempat berlindung, dan kedekatan itu disebut dalam dua ayat yang berurutan.
- Tempat tinggal dalam ayat ini berasal dari kata berlindung. Para pemuda berlindung ke gua (18:10), dan Allah melindungi anak yatim (93:6). Taman itu digambarkan sebagai tempat orang berlindung lalu menetap, sesudah perjalanan dan ketakutan. Setiap orang mencari tempat berlindung, dan sering menemukannya di tempat yang ternyata rapuh, seperti gunung yang dituju anak Nuh di 11:43. Al-Qur'an menyebut tempat berlindung yang sejati sebagai pemberian Allah.
- Dari dua puluh dua kali kata tempat tinggal dipakai, sembilan belas kali kata itu menunjuk neraka. Setiap orang akan menempati suatu tempat tinggal, dan pertanyaannya tinggal yang mana. Di 79:37-41 Allah membaginya menurut sikap seseorang, melampaui batas dan mengutamakan dunia, atau takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu. Tempat tinggal di akhir perjalanan disiapkan oleh langkah-langkah selama perjalanan, dan setiap langkah itu masih bisa dipilih.
- Di 79:40-41 taman menjadi tempat tinggal bagi orang yang menahan diri dari hawa nafsu, dan Surah 53 membuka pembelaannya dengan meniadakan hawa nafsu dari ucapan kawan itu (53:3). Menahan diri terdengar berat, karena keinginan terasa dekat dan taman terasa jauh. Rangkaian ini memperlihatkan taman tempat tinggal berada di sisi batas yang disaksikan dari dekat. Apakah keinginan hari ini sepadan dengan tempat tinggal yang kelak ditukarnya?
- Allah menyebut taman itu tanpa menguraikan isinya di ayat ini. Keterangannya cukup untuk mengetahui letaknya dan kedudukannya sebagai tempat tinggal. Di bagian lain Al-Qur'an memberi banyak gambaran taman, sedangkan di ayat ini penyebutannya singkat, karena pusat rangkaian ini penglihatan kawan itu. Menyebut sesuatu secukupnya, sesuai keperluan cerita, membuat pokok cerita tetap terjaga, dan keterangan yang berlebihan bisa mengaburkan yang pokok. Ayat ini memberi contohnya dalam tiga kata saja.
- Kesaksian kawan itu berlangsung di sisi pohon yang bersebelahan dengan taman tempat tinggal. Teksnya menyebut taman itu sebagai penanda letak, dan tidak menyatakan bahwa taman itu ikut dilihat. Janji tentang taman tetap menjadi janji, dan kesaksian tentang tempat di sisinya membuat janji itu terasa lebih dekat. Allah menghubungkan penglihatan utusan-Nya dengan tempat tinggal orang-orang yang beriman, sehingga harapan mereka punya pijakan dalam kesaksian yang disampaikan-Nya sendiri.