إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ

ketika pohon bidara itu diliputi oleh apa yang meliputinya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَidz yaghsyaa s-sidrataketika pohon bidara itu diliputi
  2. مَا يَغْشَىٰmaa yaghsyaaoleh apa yang meliputinya

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِذْidzketika
  2. يَغْشَىyaghsyaameliputi
  3. السِّدْرَةَs-sidratapohon bidara
  4. مَاmaaapa yang
  5. يَغْشَىٰyaghsyaameliputi

Inti bacaan

Ketika menceritakan pengalaman yang sulit dilukiskan, misalnya rasa haru saat berdoa atau suasana di sisi orang yang wafat, cukup menyebut apa yang terjadi dan mengakui bagian yang tak terkatakan, tanpa menambah rincian karangan agar cerita terdengar lengkap.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ, idz yaghsyaa s-sidrata maa yaghsyaa) yang berarti "ketika pohon bidara itu diliputi oleh apa yang meliputinya". Kata (إِذْ, idz) yang berarti "ketika" menambatkan ayat ini pada adegan sebelumnya, sehingga penglihatan di sisi pohon bidara di batas akhir yang disebut 53:14 berlangsung pada saat pohon itu sedang diliputi. Kata kerja (يَغْشَى, yaghsyaa) yang berarti "meliputi" muncul dua kali dalam ayat sependek ini. Kemunculan pertama langsung disusul sasarannya, (السِّدْرَةَ, s-sidrata) yang berarti "pohon bidara itu", dengan kata sandang yang menunjuk kembali pohon yang sudah dikenalkan 53:14. Kemunculan kedua menjadi pelaku, dalam bentuk (مَا يَغْشَىٰ, maa yaghsyaa) yang berarti "apa yang meliputinya", dan ayat ini berhenti di situ. Susunannya kata kerja, lalu sasaran, lalu pelaku di ujung, dan terjemahan memakai bentuk pasif "diliputi" supaya pohon tetap berada di depan seperti dalam bunyi ayatnya.

Pelaku kata kerja itu tidak diberi nama. Ayat ini tidak menyebut rupa, warna, atau asal dari apa yang meliputi pohon itu, dan yang tersedia bagi pembaca berupa kata kerja yang diulang sebagai pengganti nama benda. Susunan serupa, kata (مَا, maa) diikuti kata kerja yang baru saja dipakai, muncul lagi dalam surah ini. Di 53:10 terdapat (مَا أَوْحَىٰ, maa awhaa) yang berarti "apa yang Dia wahyukan", dan di 53:54 terdapat (فَغَشَّاهَا مَا غَشَّىٰ, fa-ghasysyaahaa maa ghasysyaa) yang berarti "lalu Dia menyelimutinya dengan apa yang Dia selimutkan", dari akar yang sama dengan ayat ini, tentang negeri yang dijungkirbalikkan di 53:53. Di 20:78 susunan itu dipakai untuk laut yang menutupi bala tentara Firaun, (مَا غَشِيَهُمْ, maa ghasyiyahum) yang berarti "apa yang menutupi mereka", dan di sana sumbernya tetap disebut, yaitu laut. Ayat 53:16 menempuh jalan yang lebih jauh, sebab sumbernya pun dibiarkan tanpa keterangan.

Di seluruh Al-Qur'an, kata kerja dari akar غ-ش-و ini dipakai untuk sesuatu yang datang dari luar lalu menutup dari berbagai sisi. Malam yang menutupi hadir di 91:4 dan 92:1, ombak yang menyelimuti di 31:32 dan 24:40, asap di 44:11, (يَغْشَى النَّاسَ, yaghsyaa n-naasa) yang berarti "yang meliputi manusia", api yang menutupi wajah di 14:50, dan azab yang datang dari atas dan dari bawah kaki di 29:55. Di 3:154 kata yang sama dipakai untuk kantuk yang Allah berikan sebagai rasa aman kepada segolongan orang sesudah kesedihan. Maka kata kerja ini sendiri tidak menentukan apakah yang meliputi membawa rahmat atau azab, karena 3:154 dan 29:55 memakainya untuk dua keadaan yang berlawanan. Dalam 53:16, suasananya ditentukan oleh tetangga ayat ini, yaitu pohon di batas akhir yang di sisinya ada taman tempat tinggal (53:15).

Dari akar yang sama lahir kata benda (غِشَاوَةٌ, ghisyaawatun) yang berarti "penutup" di 2:7, penutup pada penglihatan orang yang hatinya dikunci, dan (غِشَاوَةً, ghisyaawatan) di 45:23 dengan makna yang sama, penutup yang Allah jadikan pada penglihatan orang yang mempertuhan hawa nafsunya. Di kedua ayat itu penutupnya terpasang pada mata. Di 53:16 yang diliputi sebuah pohon, dan terjemahan "apa yang meliputinya" menjaga ketakjelasan pelaku itu apa adanya, tanpa mengisinya dengan dugaan.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan keterangan waktu pada penglihatan kedua yang dilaporkan 53:13-15. Kawan itu melihatnya pada kedatangan yang lain, di sisi pohon bidara di batas akhir, dekat taman tempat tinggal, dan semua itu terjadi ketika pohon bidara sedang diliputi sesuatu. Surah ini menakar dengan teliti ketika penakaran memungkinkan. Jarak di 53:9 dinyatakan sebagai dua busur panah atau lebih dekat, dan tempat di 53:14-15 dinamai dengan jelas. Ketika sampai pada apa yang meliputi pohon itu, ayat ini memilih tidak menakar dan tidak menamai, dan pilihan itu terbaca sebagai batas yang disengaja. Ada yang ditakar dengan busur panah, ada pula yang cukup ditunjuk dengan kata kerjanya sendiri.

Keadaan ini menyiapkan ayat berikutnya. Penutup yang disebut 2:7 dan 45:23 membuat mata tidak lagi menangkap apa-apa, sedangkan dalam adegan ini sesuatu yang meliputi hadir dengan sasaran pohon itu, dan 53:17 segera menyatakan bahwa penglihatan kawan itu tidak menyimpang dan tidak melampaui batas. Pemandangannya diliputi, dan matanya tetap terbuka.

Ayat ini juga bersaudara dengan 53:54 dalam surah yang sama. Di sana Allah menyelimuti negeri yang dijungkirbalikkan dengan apa yang Dia selimutkan, dan selubung itu sama-sama dibiarkan tanpa nama. Satu susunan dipakai untuk dua peristiwa yang berlawanan arah, satu di dekat taman tempat tinggal, satu di reruntuhan sebuah negeri. Dalam kedua tempat itu Al-Qur'an memperlihatkan bahwa sebagian kejadian lebih tepat dihadirkan lewat dampaknya pada sesuatu, tanpa digambarkan wujudnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ada saat ketika sesuatu datang begitu penuh sehingga tidak ada kata yang pas untuk menamainya, dan orang yang mengalaminya cenderung memaksakan sebuah nama supaya pengalaman itu terasa terpegang. Ayat ini memilih jalan lain dengan mengulang kata kerjanya, apa yang meliputinya, dan membiarkan pelakunya tanpa nama. Di hadapan kebesaran Allah, kejujuran kadang berupa pengakuan bahwa ada yang meliputi tanpa bisa kita sebut apa, dan pengakuan itu tidak mengurangi kesungguhan kesaksian.
  • Al-Qur'an menamai banyak hal dengan cermat, dari bintang di 53:1 sampai jarak dua busur panah di 53:9. Karena itu ketika 53:16 berhenti pada apa yang meliputinya, berhentinya terbaca sebagai batas yang diakui, jauh dari kelalaian. Berapa sering kita mengisi ruang kosong dalam cerita tentang Tuhan dengan rincian yang tidak pernah Dia berikan? Ayat ini mengajarkan keberanian yang lebih tenang, yaitu berhenti di tempat teks berhenti dan membiarkan yang tidak dirinci tetap tidak dirinci.
  • Pohon itu dinamai pohon bidara, tempatnya dinamai batas akhir, dan taman di sisinya dinamai taman tempat tinggal. Semua yang bisa disebut, disebut. Maka yang tidak disebut di 53:16 tidak berasal dari kebiasaan berbicara samar. Orang yang terbiasa samar di semua hal akan sulit dipercaya ketika mengatakan ada yang tak terlukiskan, sedangkan orang yang teliti di tempat yang bisa diteliti mendapat kepercayaan ketika mengaku kehabisan kata.
  • Penutup yang digambarkan 2:7 dan 45:23 terpasang pada mata, dan penutup semacam itu membuat orang tidak lagi menangkap tanda apa pun. Di 53:16 yang diliputi pemandangannya, dan mata kawan itu tetap terbuka. Dua keadaan ini patut dibedakan dalam hidup sehari-hari. Ada kalanya keadaan di sekitar kita tertutup oleh sesuatu yang besar, dan ada kalanya penglihatan kita sendiri yang tertutup. Keadaan pertama masih bisa disaksikan dengan jernih, keadaan kedua membuat kita tidak tahu bahwa kita tidak melihat.
  • Kata kerja yang sama dipakai untuk kantuk yang Allah berikan sebagai rasa aman di 3:154 dan untuk azab yang datang dari atas dan dari bawah kaki di 29:55. Diliputi sesuatu, dengan demikian, belum memberi tahu apakah yang meliputi itu kebaikan atau hukuman. Seseorang yang sedang merasa dikepung keadaan bisa belajar dari susunan ini untuk tidak tergesa menilai. Arahnya baru terbaca dari apa yang ada di sekitarnya, dan di 53:16 sekitarnya taman tempat tinggal.
  • Dalam setiap pemakaian kata kerja ini, sesuatu datang dari luar lalu meliputi, entah malam, ombak, asap, atau kantuk, dan yang diliputi tidak menghasilkannya sendiri. Pohon bidara di ayat ini pun menerima. Sebagian pengalaman terdalam dalam hidup tidak bisa diusahakan atau diatur. Pengalaman semacam itu datang atas kehendak Tuhan, dan manusia menyambutnya dengan kesiapan. Ayat ini memperlihatkan kesiapan itu lewat seorang saksi yang tetap di tempatnya ketika sesuatu yang tak bernama datang meliputi.