مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
Penglihatannya tidak menyimpang dan tidak melampaui batas.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا زَاغَ الْبَصَرُmaa zaagha l-basharupenglihatannya tidak menyimpang
- وَمَا طَغَىٰwa-maa thaghaadan tidak melampaui batas
Terjemahan per kata (5 kata)
- مَاmaatidaklah
- زَاغَzaaghamenyimpang
- الْبَصَرُl-basharupenglihatan
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- طَغَىٰthaghaamelampaui batas
Inti bacaan
Sebelum meneruskan berita tentang sebuah peristiwa, memisahkan apa yang benar-benar disaksikan dari apa yang diwarnai rasa cemas, suka, atau benci, dan hanya meneruskan bagian pertama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ, maa zaagha l-basharu wa-maa thaghaa) yang berarti "penglihatannya tidak menyimpang dan tidak melampaui batas". Dua kata kerja ditiadakan berturut-turut dengan (مَا, maa), dan keduanya menunjuk dua arah kekeliruan yang berbeda. Kata (زَاغَ, zaagha) yang berarti "menyimpang" menggambarkan pandangan yang melenceng dari sasarannya, seperti terlihat pada pemakaiannya di 33:10 dan 38:63. Kata (طَغَىٰ, thaghaa) yang berarti "melampaui batas" menggambarkan gerak yang melewati garis yang semestinya. Penglihatan bisa luput karena melenceng dari yang ada, dan bisa luput karena menangkap lebih dari yang ada, dan ayat ini menutup kedua kemungkinan itu dalam satu kalimat.
Akar ز-ي-غ hadir di delapan ayat di seluruh Al-Qur'an, dan sebagian besar pemakaiannya menyangkut penglihatan dan hati. Di 33:10, ketika musuh datang dari arah atas dan dari arah bawah, (زَاغَتِ الْأَبْصَارُ, zaaghati l-abshaaru) yang berarti "penglihatan menyimpang" disebut berdampingan dengan hati yang sampai ke kerongkongan. Di 38:63 kata yang sama dipakai untuk penglihatan yang luput dari orang-orang yang dahulu dijadikan olok-olokan. Untuk hati, terjemahan proyek ini memakai "condong" dan "berpaling", seperti doa di 3:8 agar hati tidak dicondongkan sesudah diberi petunjuk, dan 61:5 yang menyebut Allah memalingkan hati orang yang lebih dahulu berpaling. Dengan latar itu, (مَا زَاغَ الْبَصَرُ, maa zaagha l-basharu) meniadakan keadaan yang di 33:10 dialami orang yang dilanda ketakutan.
Kata kerja (طَغَىٰ, thaghaa) dalam bentuk ini muncul 12 kali, dan di setiap kemunculannya terjemahan proyek ini memakai "melampaui batas". Pelakunya beragam. Firaun melampaui batas di 20:24 dan 79:17, manusia di 96:6, dan di 69:11 pelakunya air, yang meluap sampai orang-orang harus diangkut ke dalam yang berlayar. Pemakaian untuk air itu memperlihatkan maknanya secara kasatmata. Di 55:8 bentuk lain dari akar ini dipakai dalam larangan melampaui batas dalam timbangan, sehingga batas yang dimaksud dapat berupa takaran. Surah ini sendiri memakai akar yang sama di 53:52 untuk kaum Nuh, (أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ, azhlama wa-athghaa) yang berarti "lebih zalim dan lebih melampaui batas". Kata yang di 53:52 menjadi cela sebuah kaum, di 53:17 ditiadakan dari penglihatan seorang saksi.
Kata (الْبَصَرُ, l-basharu) yang berarti "penglihatan" hadir dalam bentuk tunggal di sembilan ayat. Di 17:36 kata ini berdiri di antara pendengaran dan hati, (إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ, inna s-sam'a wa-l-bashara wa-l-fu'aada) yang berarti "sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati", yang ketiganya akan diminta pertanggungjawabannya. Teks 53:17 memakai kata sandang tanpa kata ganti milik, dan terjemahan menambahkan "-nya" karena adegan sejak 53:11 berpusat pada satu orang yang melihat.
Tafsiran
Ayat ini menjamin alat kesaksian sebelum isi kesaksiannya disampaikan. Susunannya meniru pembukaan surah. Di 53:2 kawan itu dibela dengan dua peniadaan, (مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ, maa dhalla shaahibukum) yang berarti "kawan kalian tidak sesat", lalu (وَمَا غَوَىٰ, wa-maa ghawaa) yang berarti "dan tidak keliru". Di 53:17 penglihatannya dibela dengan dua peniadaan yang sejajar. Orangnya tidak salah arah, dan matanya pun tidak salah arah. Rangkaian itu dilengkapi 53:3 yang meniadakan bicara dari hawa nafsu dan 53:11 yang meniadakan dusta dari hati. Siapa pun yang hendak membantah apa yang dia lihat, seperti ditanyakan 53:12, berhadapan dengan orang, hati, dan mata yang masing-masing sudah dijamin.
Selain penyimpangan karena takut yang dicatat 33:10, Al-Qur'an juga mencatat penglihatan yang letih. Di 67:4 penglihatan yang disuruh memandang berulang kali kembali kepada pemiliknya dalam keadaan letih. Adegan di sisi pohon bidara, yang sedang diliputi sesuatu tanpa nama, termasuk keadaan yang sanggup menggoyahkan mata, dan ayat ini menyatakan mata itu tidak goyah ke samping dan tidak meluap ke depan.
Ketepatan ini berbuah pada ayat berikutnya. Karena penglihatannya tidak melampaui batas, laporan di 53:18 pun tidak melampaui batas. Laporan itu menyebut sebagian tanda-tanda, dan tidak mengklaim melihat semuanya. Mata yang jujur menghasilkan kabar yang jujur, dan surah ini menyusunnya dalam urutan itu, jaminan lebih dahulu, isi sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Kekeliruan melihat punya dua arah. Ada yang luput karena perhatiannya bergeser, dan ada yang luput karena menambahkan apa yang ingin dilihatnya. Ayat ini menutup keduanya sekaligus. Dalam menilai orang lain, dalam membaca peristiwa, bahkan dalam memahami ayat-ayat Allah, kita sering waspada terhadap satu arah lalu lengah terhadap arah lainnya. Orang yang takut kurang cenderung melebih-lebihkan, dan orang yang takut berlebihan cenderung mengurangi. Kesaksian yang lurus menjaga keduanya, dan ayat ini memperlihatkan bahwa penjagaan itu mungkin.
- Surah ini tidak segera menyampaikan apa yang dilihat, dan lebih dahulu menjamin hati di 53:11 dan penglihatan di 53:17, baru kemudian menyebut isinya di 53:18. Urutan itu layak ditiru setiap orang yang menyampaikan kabar. Apakah alat yang kita pakai untuk melihat sudah bisa dipercaya sebelum kita meminta orang lain mempercayai apa yang kita lihat? Pertanyaan ini jarang diajukan, padahal Al-Qur'an mendahulukannya.
- Pengalaman di sisi pohon bidara di batas akhir jauh di luar kebiasaan, dan di tempat seperti itu dorongan untuk menambah biasanya menguat. Ayat ini menutup dorongan itu dengan kata yang sama yang dipakai untuk air bah yang meluap dan untuk Firaun. Melebih-lebihkan pengalaman rohani, betapa pun tulusnya niat, tetap termasuk melampaui batas. Laporan yang setia kepada Tuhan cukup menyampaikan apa yang terlihat, dan membiarkan kebesaran-Nya berbicara tanpa dibantu hiasan.
- Di 17:36 Allah menyebut pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai amanah yang akan ditanya. Surah ini memperlihatkan dua di antaranya lulus dari pertanyaan itu, hati yang tidak berdusta dan penglihatan yang tidak menyimpang. Setiap orang memikul pertanyaan yang sama atas matanya sendiri, tentang apa yang dipilih untuk dilihat, apa yang sengaja dilewatkan, dan apa yang ditambahkan ketika menceritakan ulang. Ayat ini memberi gambaran jawaban yang diharapkan.
- Di 33:10 penglihatan menyimpang ketika musuh datang dari atas dan dari bawah dan hati sampai ke kerongkongan. Ayat itu menambahkan bahwa pada saat yang sama orang-orang berprasangka bermacam-macam terhadap Allah, sehingga rasa takut menggeser pandangan dan prasangka sekaligus. Kawan itu berada di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar dari pasukan musuh, dan penglihatannya tetap di tempatnya. Keteguhan semacam itu tidak lahir dari keberanian pribadi semata, dan bersandar pada kepercayaan kepada Tuhan yang memperlihatkan.
- Di 55:8 Allah melarang melampaui batas dalam timbangan, dan di 53:17 kata dari akar yang sama ditiadakan dari penglihatan. Mata pun bekerja seperti timbangan. Mata bisa berat sebelah, menambah di satu sisi dan mengurangi di sisi lain, terutama ketika kita melihat orang yang kita sukai atau yang kita benci. Menjaga penglihatan agar tidak melampaui batas sama nilainya dengan menjaga takaran di pasar, keduanya soal keadilan terhadap apa yang ada.