لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang terbesar.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. لَقَدْ رَأَىٰla-qad ra'aasungguh, dia telah melihat
  2. مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰmin aayaati rabbihi l-kubraasebagian tanda-tanda Tuhannya yang terbesar

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. لَقَدْla-qadsungguh
  2. رَأَىٰra'aamelihat
  3. مِنْmindari
  4. آيَاتِaayaatitanda-tanda
  5. رَبِّهِrabbihiTuhannya
  6. الْكُبْرَىٰl-kubraayang terbesar

Inti bacaan

Ketika bercerita sepulang dari perjalanan atau sesudah menuntaskan pekerjaan berat, memakai ungkapan seperti yang saya tangkap baru sebagian, dan memberi ruang bagi orang lain untuk menambahkan dari sudut pandang mereka.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ, la-qad ra'aa min aayaati rabbihi l-kubraa) yang berarti "sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang terbesar". Pembukanya, (لَقَدْ رَأَىٰ, la-qad ra'aa) yang berarti "sungguh, dia telah melihat", memakai penguat yang sama dengan 53:13, (وَلَقَدْ رَآهُ, wa-la-qad ra'aahu) yang berarti "dan sungguh, dia telah melihatnya". Dua kali dalam adegan ini penglihatan dikuatkan dengan (لَقَدْ, la-qad), sekali ketika mengabarkan kedatangan yang lain dan sekali ketika merangkum isinya. Akar ر-أ-ي menjadi benang adegan ini. Kata kerjanya hadir di 53:11, 53:12, 53:13, dan 53:18, lalu di 53:19 berbalik menjadi pertanyaan kepada orang-orang yang diajak bicara surah ini.

Kata (مِنْ, min) yang berarti "dari" di depan (آيَاتِ رَبِّهِ, aayaati rabbihi) yang berarti "tanda-tanda Tuhannya" menunjuk sebagian dari keseluruhan, dan terjemahan memakai "sebagian" untuk menampakkannya, seperti pada susunan yang sama di 20:23. Ayat ini mengatakan dia melihat dari tanda-tanda itu, dan tidak mengatakan dia melihat semuanya. Kata (آيَاتِ, aayaati) yang berarti "tanda-tanda" menamai isi penglihatan itu untuk pertama kali dalam adegan ini. Sepanjang 53:11-13 isi penglihatan ditunjuk dengan kata (مَا, maa) dan dengan kata ganti saja, dan 53:18 memberi namanya, yaitu tanda. Kata (رَبِّهِ, rabbihi) yang berarti "Tuhannya" menisbatkan tanda-tanda itu kepada Tuhan orang yang melihat, dengan kata ganti yang menunjuk kawan itu sendiri.

Kata (الْكُبْرَىٰ, l-kubraa) yang berarti "yang terbesar" dari akar ك-ب-ر hadir di enam ayat di seluruh Al-Qur'an, dan tiga di antaranya menyangkut tanda. Di 20:23 Allah berkata kepada Musa, (لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى, li-nuriyaka min aayaatinaa l-kubraa) yang berarti "untuk memperlihatkan kepadamu sebagian tanda-tanda Kami yang terbesar", susunan yang hampir sama dengan ayat ini, dan di 79:20 Musa memperlihatkan (الْآيَةَ الْكُبْرَىٰ, l-aayata l-kubraa) yang berarti "tanda yang terbesar" kepada Firaun. Tiga lainnya menyangkut peristiwa dahsyat, yakni hantaman yang terbesar di 44:16, malapetaka yang terbesar di 79:34, dan api yang terbesar di 87:12. Terjemahan memakai "yang terbesar" di ketiga ayat tanda itu supaya pembaca dapat melihat bahwa ungkapan yang sama dipakai untuk Musa dan untuk kawan itu.

Surah ini menyebut Musa lagi di 53:36, dalam pertanyaan tentang lembaran-lembaran Musa. Dengan begitu, susunan (مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ, min aayaati rabbihi l-kubraa) menggemakan pengalaman seorang utusan yang sudah dikenal di tempat lain dalam Al-Qur'an, dan kata (مِنْ, min) hadir pada keduanya.

Tafsiran

Ayat ini menutup adegan penglihatan dengan menyebut isinya. Sesudah hati dijamin di 53:11, kedatangan yang lain dikabarkan di 53:13, tempatnya dinamai di 53:14-15, dan penglihatannya dijamin di 53:17, barulah 53:18 mengatakan apa yang dilihat, yaitu sebagian tanda-tanda Tuhannya yang terbesar. Susunan ini juga menjawab pertanyaan yang tersisa dari 53:13 tentang apa yang dilihat pada kedatangan yang lain itu. Teks surah ini tidak memberi nama untuk sosok di 53:13, dan 53:18 merangkum seluruh penglihatan itu sebagai tanda.

Penamaan itu tetap menahan diri. Ayat ini menyebut tanda, dan menyebut sebagian saja. Di tempat lain Al-Qur'an menyatakan batas penglihatan terhadap Allah. Di 6:103, (لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ, laa tudrikuhu l-abshaaru) yang berarti "Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata", dan di 7:143 Musa yang memohon untuk memandang-Nya mendapat jawaban (لَنْ تَرَانِي, lan taraanii) yang berarti "engkau tidak akan melihat-Ku". Musa di 20:23 diperlihatkan sebagian tanda-tanda yang terbesar, dan kawan itu di 53:18 melihat sebagian tanda-tanda yang terbesar. Keduanya berdiri pada batas yang sama.

Ayat ini sekaligus menjadi engsel surah. Sesudah tanda-tanda terbesar disebut, 53:19 langsung bertanya kepada orang-orang yang diajak bicara tentang al-Lata dan al-Uzza. Tanda-tanda yang dilihat seorang saksi yang matanya terjamin dihadapkan pada nama-nama yang, menurut 53:23, dinamai sendiri tanpa keterangan apa pun dari Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Orang yang dianugerahi pengalaman besar mudah tergoda merasa telah melihat semuanya. Ayat ini mencatat pengalaman terbesar dalam surah ini dengan kata sebagian. Bahkan di batas akhir, di dekat taman tempat tinggal, yang terlihat tetap sebagian tanda-tanda Tuhan. Jika saksi yang berdiri di sana pun melihat sebagian, bagaimana mungkin kita merasa telah menangkap semuanya? Kerendahan hati semacam ini memberi ruang bagi orang lain yang melihat tanda-tanda Allah dari sisi yang berbeda, dan menjaga agar pengalaman pribadi tidak berubah menjadi ukuran bagi semua orang.
  • Isi penglihatan itu dinamai tanda, dan Al-Qur'an di 6:103 menyatakan penglihatan tidak menjangkau Allah. Apa yang bisa kita tangkap dari Tuhan selalu berupa tanda-tanda-Nya, entah dalam penciptaan, dalam peristiwa, atau dalam wahyu. Kesadaran ini menjaga iman dari dua ujung, dari anggapan bahwa Allah terlalu jauh untuk dikenal dan dari anggapan bahwa Dia bisa digenggam seperti benda. Tanda menghubungkan tanpa menyamakan.
  • Ayat ini datang sesudah rangkaian rincian, tentang kedatangan, tempat, pohon, dan penglihatan yang tidak menyimpang, lalu merangkumnya dalam satu kalimat. Cara bercerita ini memberi pelajaran tentang urutan. Kesimpulan yang disampaikan sesudah rinciannya diperiksa lebih mudah dipercaya daripada kesimpulan yang mendahului bukti. Al-Qur'an menyusun kabar tentang tanda-tanda Tuhan dengan urutan yang bisa diikuti, bukti lebih dahulu, rangkuman sesudahnya.
  • Kata Tuhannya dalam ayat ini memakai kata ganti yang menunjuk kawan itu sendiri. Tanda-tanda yang dia lihat berasal dari Tuhan yang dikenalnya dan yang memeliharanya sejak awal. Hubungan itu memberi warna pada pengalaman besar itu. Kebesaran yang disaksikannya berasal dari Tuhan yang sudah lebih dahulu dekat, jauh dari kebesaran asing yang menakutkan. Siapa yang mengenal Tuhannya dalam hal-hal kecil lebih siap menerima tanda-tanda-Nya yang besar.
  • Musa diperlihatkan sebagian tanda-tanda yang terbesar di 20:23, dan pada kesempatan lain, di 7:143, memohon melihat Allah lalu dijawab bahwa dia tidak akan melihat-Nya. Kawan itu melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang terbesar. Dua utusan, dua kisah, dan satu batas yang sama. Kesamaan ini menenangkan, sebab dari situ tampak bahwa Allah memperlakukan hamba-hamba pilihan-Nya dengan ketentuan yang konsisten, dan tidak ada yang dilebihkan sampai melewati batas yang Dia tetapkan bagi penglihatan.
  • Dua kali adegan ini memakai kata sungguh sebelum menyebut penglihatan, di 53:13 dan di 53:18. Penguat itu tidak ditaburkan di setiap ayat, dan dipakai pada dua titik yang rawan dibantah, yaitu bahwa penglihatan kedua itu terjadi dan bahwa isinya tanda-tanda Tuhan. Orang yang menyimpan penegasan untuk tempat yang memang memerlukannya akan didengar ketika menegaskan, dan Al-Qur'an memperlihatkan hemat semacam itu di sini.