Ayat 53:21

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ

Apakah bagi kalian yang lelaki, sedangkan bagi-Nya yang perempuan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَلَكُمُ الذَّكَرُa-lakumu dz-dzakaruapakah bagi kalian yang lelaki
  2. وَلَهُ الْأُنْثَىٰwa-lahu l-untsaasedangkan bagi-Nya yang perempuan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَلَكُمُa-lakumuapakah bagi kalian
  2. الذَّكَرُdz-dzakarulaki-laki
  3. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  4. الْأُنْثَىٰl-untsaaperempuan

Inti bacaan

Saat menyusun jadwal piket atau pembagian tugas kelompok, mencantumkan jatah kita dan jatah rekan di satu tabel, lalu menukar kolomnya dalam bayangan dan bertanya sanggupkah kita memikul jatah yang tadi kita serahkan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, a-lakumu dz-dzakaru wa-lahu l-untsaa) yang berarti "apakah bagi kalian yang lelaki, sedangkan bagi-Nya yang perempuan". Empat kata itu tersusun dalam dua bagian yang sejajar, masing-masing berisi seorang pemilik dan sebuah bagian. Bagian pertama, (أَلَكُمُ الذَّكَرُ, a-lakumu dz-dzakaru) yang berarti "apakah bagi kalian yang lelaki", dibuka dengan huruf tanya yang melekat pada kata depan milik dan kata ganti kalian. Bagian kedua, (وَلَهُ الْأُنْثَىٰ, wa-lahu l-untsaa) yang berarti "sedangkan bagi-Nya yang perempuan", mengulang susunan yang sama dengan pemilik yang berganti. Huruf penghubung di awal bagian kedua diterjemahkan "sedangkan", seperti pada dua ayat yang memuat tuduhan serupa, 52:39 dan 37:149, karena kedua bagian itu saling berhadapan dan kata "dan" akan meratakan pertentangannya.

Kedua kata benda memakai kata sandang, (الذَّكَرُ, dz-dzakaru) yang berarti "yang lelaki" dari akar ذ-ك-ر dan (الْأُنْثَىٰ, l-untsaa) yang berarti "yang perempuan" dari akar أ-ن-ث. Dengan kata sandang itu yang ditunjuk jenisnya, tanpa menunjuk orang tertentu. Pasangan bersandang yang sama muncul lagi dalam surah ini di 53:45, (الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ, adz-dzakara wa-l-untsaa) yang berarti "lelaki dan perempuan", sebagai pasangan yang Allah ciptakan. Di luar surah ini pasangan itu hadir di 75:39 dan 92:3. Ketiga ayat itu memakai pasangan kata ini dalam kalimat tentang penciptaan, sedangkan di 53:21 pasangan yang sama muncul dalam pembagian yang dibuat manusia.

Urutan dalam ayat ini layak dibandingkan dengan dua ayat tadi. Di 52:39 terdapat (أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ, am lahu l-banaatu wa-lakumu l-banuuna) yang berarti "ataukah bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan bagi kalian anak-anak lelaki", dan di 37:149 terdapat (أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ, a-li-rabbika l-banaatu wa-lahumu l-banuuna) yang berarti "apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak-anak lelaki". Kedua ayat itu menyebut bagian Allah lebih dahulu dan memakai kata anak. Di 53:21 urutannya berlawanan, bagian kalian disebut pertama, dan yang disebut jenisnya, lelaki dan perempuan, tanpa kata anak. Pertanyaannya bermula dari apa yang diambil untuk diri sendiri, lalu beralih kepada apa yang disisakan untuk Allah.

Kata perempuan dalam susunan tuduhan ini punya saudara di beberapa tempat. Surah ini memakainya lagi di 53:27, (تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ, tasmiyata l-untsaa) yang berarti "dengan nama perempuan", untuk orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat dan menamai para malaikat dengan nama itu. Bentuk jamaknya, (إِنَاثًا, inaatsan) yang berarti "perempuan", dipakai di 43:19 untuk malaikat yang mereka jadikan perempuan, disusul pertanyaan apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat itu, dan di 37:150 untuk pertanyaan yang sama. Di seluruh Al-Qur'an, kata perempuan dalam susunan tuduhan semacam ini selalu menyangkut apa yang mereka nisbatkan kepada Allah, dan tidak dipakai untuk menilai perempuan sebagai manusia.

Tafsiran

Ayat ini menyingkap apa yang tersirat dalam tiga nama di 53:19-20. Karena datang tepat sesudah al-Lata, al-Uzza, dan Manat disebut, pertanyaan tentang bagian perempuan tertuju pada apa yang mereka sandingkan dengan Allah, dan 53:27 menegaskan arah itu dengan menyebut malaikat yang dinamai dengan nama perempuan. Allah menyandingkan dua bagian yang mereka tetapkan dalam satu tarikan kalimat, lalu membiarkan ketimpangannya terlihat.

Ukuran yang dipakai pertanyaan ini diambil dari mereka sendiri. Di 16:58 wajah salah seorang dari mereka menjadi hitam ketika diberi kabar tentang anak perempuan, dan di 16:62 disebut bahwa mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka benci. Kalau perempuan mereka anggap bagian yang lebih rendah, mengapa bagian itu yang diserahkan kepada Allah, sementara bagian yang mereka banggakan disimpan untuk diri sendiri? Ayat ini meminjam timbangan mereka untuk memperlihatkan bahwa timbangan itu pun tidak mereka pakai dengan jujur.

Al-Qur'an sendiri tidak memakai timbangan itu, dan ayat ini tidak sedang menilai perempuan sebagai manusia. Di 3:195 Allah tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan, sebagian dari sebagian yang lain. Di 16:97 kehidupan yang baik dijanjikan kepada siapa pun yang beramal saleh dalam keadaan beriman, lelaki atau perempuan, dan di 49:13 kemuliaan di sisi Allah diukur dengan ketakwaan. Jawaban yang lebih mendasar datang dari dalam surah ini, dua puluh empat ayat kemudian, ketika 53:45 menyebut Dia yang menciptakan pasangan lelaki dan perempuan. Lelaki dan perempuan tidak bisa dibagi antara manusia dan Tuhan, sebab keduanya ciptaan-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menanyakan pembagian ini dengan ukuran orang-orang yang membuatnya, tanpa lebih dulu membantah ukuran itu. Cara ini menyingkap kebiasaan yang mudah luput dari diri sendiri, yaitu memegang dua timbangan sekaligus. Apa yang ditolak untuk diri sendiri ternyata rela ditimpakan kepada pihak lain, dan penolakan itu tidak terasa janggal karena kedua timbangan jarang diletakkan berdampingan. Berapa banyak penilaian kita tentang orang lain akan bertahan kalau timbangan yang sama dipakai untuk diri kita sendiri? Ayat ini meletakkan kedua timbangan itu berdampingan dalam empat kata.
  • Di 16:62 pola yang ditanyakan ayat ini diringkas dalam satu kalimat, mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka benci. Kebiasaan itu tidak berhenti pada soal anak lelaki dan perempuan. Orang bisa menyisakan untuk Tuhan waktu ketika tenaga sudah habis, harta yang tidak lagi dibutuhkan, dan perhatian yang tersisa sesudah urusan lain selesai, sementara bagian yang segar dan berharga disimpan untuk keperluan sendiri. Susunan bagi kalian dan bagi-Nya dalam ayat ini membuat pembagian semacam itu terlihat apa adanya, dan melihatnya dengan jelas menjadi langkah pertama untuk menatanya kembali.
  • Jarak antara ayat ini dan 53:45 menyimpan penghiburan bagi siapa pun yang pernah merasa dinilai rendah karena dilahirkan sebagai perempuan, dan teguran bagi siapa pun yang pernah menilai rendah orang lain dengan alasan itu. Di 53:21 lelaki dan perempuan dipakai sebagai bagian yang ditawar-tawarkan. Di 53:45 keduanya berdiri berdampingan sebagai ciptaan Allah, disebut dengan dua kata yang sama dan kata sandang yang sama. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh pembagian yang dibuat manusia di sekitarnya, sebab Penciptanya tidak pernah membuat pembagian semacam itu.
  • Wajah yang menjadi hitam di 16:58 ketika kabar tentang anak perempuan datang memperlihatkan bahwa perasaan pun bisa dibentuk oleh ukuran yang dipinjam dari lingkungan. Kecewa dan bangga sering terasa spontan, seolah-olah lahir dari dalam diri, padahal keduanya mengikuti ukuran yang sudah lama tertanam. Ukuran seperti itu terasa wajar karena semua orang di sekitar memakainya. Ayat ini mengundang pemeriksaan yang lebih dalam, sampai ke perasaan yang muncul sebelum sempat dipikirkan, dengan pertanyaan apakah ukuran yang membentuknya datang dari Allah atau dari kebiasaan orang banyak.
  • Di 52:39 dan 37:149 bagian Allah disebut lebih dahulu, sedangkan ayat ini membuka dengan bagian kalian. Urutan ini menaruh sorotan pada tangan yang mengambil. Dalam banyak perselisihan orang sibuk membicarakan apa yang diberikan kepada pihak lain, dan lupa memeriksa apa yang lebih dulu diamankan untuk dirinya. Dengan membuka dari bagi kalian, Allah mengarahkan pertanyaan kepada orang yang membagi, dan pertanyaan yang diarahkan kepada diri sendiri biasanya lebih sulit dijawab daripada pertanyaan tentang orang lain.
  • Pembagian di ayat ini dibuat atas nama Allah tanpa Dia memintanya. Orang-orang yang membuatnya merasa berhak menentukan apa yang pantas bagi Tuhan, lalu menjalankan ketetapan itu seakan-akan berasal dari-Nya. Kebiasaan berbicara atas nama Allah, menetapkan apa yang Dia sukai dan apa yang Dia terima tanpa keterangan dari-Nya, berakar pada sikap yang sama. Ayat ini menanyakan pembagian itu, dan dua ayat kemudian surah ini menyebut bahwa nama-nama yang dibagi pun tidak punya keterangan apa pun dari Allah.

Ayat 53:22

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ

Kalau begitu, itu suatu pembagian yang tidak adil.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تِلْكَ إِذًاtilka idzankalau begitu, itu
  2. قِسْمَةٌ ضِيزَىٰqismatun dhiizaasuatu pembagian yang tidak adil

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. تِلْكَtilkaitulah
  2. إِذًاidzankalau begitu
  3. قِسْمَةٌqismatunpembagian
  4. ضِيزَىٰdhiizaayang tidak adil

Inti bacaan

Sebelum mengumumkan hasil pembagian warisan, hadiah, atau beban kerja, menyebut terang-terangan bila ada bagian yang timpang, termasuk ketimpangan yang menguntungkan diri sendiri, lalu memperbaikinya sebelum dibagikan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ, tilka idzan qismatun dhiizaa) yang berarti "kalau begitu, itu suatu pembagian yang tidak adil". Kata tunjuk (تِلْكَ, tilka) yang berarti "itu" merujuk pembagian yang baru saja ditanyakan di 53:21, bagi kalian yang lelaki dan bagi-Nya yang perempuan. Kata (إِذًا, idzan) yang berarti "kalau begitu" menjadikan penilaian ini akibat dari pembagian itu, sehingga maknanya kira-kira, bila memang begitu yang kalian tetapkan, begitulah nilainya. Terjemahan menaruh "kalau begitu" di depan supaya hubungan sebab dan akibat itu terbaca lebih dulu, dan susunannya diseragamkan dengan 79:12, ayat lain yang memakai pasangan kata ini.

Pasangan (تِلْكَ إِذًا, tilka idzan) di seluruh Al-Qur'an muncul di dua ayat, di sini dan di 79:12, (تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ, tilka idzan karratun khaasiratun) yang berarti "kalau begitu, itu suatu pengembalian yang merugikan". Di 79:10-11 orang-orang yang mengingkari kebangkitan bertanya apakah mereka akan dikembalikan kepada keadaan semula sesudah menjadi tulang-belulang yang hancur, lalu di 79:12 mereka menilai pengembalian itu. Susunan kedua ayat sama, kata tunjuk, lalu kalau begitu, lalu kata benda yang diberi satu sifat. Di 79:12 penilaian itu keluar dari mulut para pengingkar tentang nasib yang mereka bayangkan, sedangkan di 53:22 penilaian yang sama bentuknya datang dari Allah tentang pembagian yang mereka buat.

Kata (قِسْمَةٌ, qismatun) yang berarti "pembagian" berasal dari akar ق-س-م, dan kata benda ini hadir di tiga ayat. Di 4:8 terdapat (الْقِسْمَةَ, l-qismata) yang berarti "pembagian itu", pembagian harta yang dihadiri kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan yang membagi diperintahkan memberi mereka rezeki darinya. Di 54:28 terdapat (أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ, anna l-maa'a qismatun baynahum) yang berarti "bahwa air dibagi di antara mereka", tentang giliran minum antara kaum Tsamud dan unta betina yang dikirim kepada mereka. Di kedua ayat itu pembagiannya diatur oleh perintah Allah, sedangkan pembagian di 53:22 disusun manusia dengan Allah sebagai salah satu pihaknya.

Kata sifat (ضِيزَىٰ, dhiizaa) yang berarti "yang tidak adil" berasal dari akar ض-ي-ز, dan akar ini tidak muncul di ayat lain di seluruh Al-Qur'an. Karena tidak ada pemakaian lain untuk dibandingkan, maknanya dibaca dari tempatnya sendiri, sebagai penilaian atas pembagian yang memberi satu pihak bagian yang dibanggakan dan pihak lain bagian yang dianggap rendah. Terjemahan "tidak adil" dipilih karena yang dinilai sebuah pembagian, dan pembagian ditimbang dari adil atau tidaknya. Kata ini berakhiran bunyi panjang yang sama dengan (الْأُنْثَىٰ, l-untsaa) di 53:21 dan (الْأُخْرَىٰ, l-ukhraa) di 53:20, sehingga penilaian itu menyatu dengan irama ayat-ayat yang ditanggapinya.

Tafsiran

Ayat ini menjatuhkan penilaian atas pembagian yang ditanyakan 53:21, dan penilaian itu berdiri di atas anggapan orang-orang yang membuatnya. Kalau memang kalian mengambil yang lelaki dan menyerahkan yang perempuan, kata ayat ini, pembagian itu tidak adil. Pada tahap ini belum dipersoalkan apakah Allah punya bagian semacam itu. Surah ini lebih dulu memperlihatkan bahwa susunan itu timpang menurut ukuran para pembuatnya sendiri, dan baru di 53:23 anggapan itu dicabut sepenuhnya dengan pernyataan bahwa yang dibagi tidak lain nama-nama yang dibuat manusia. Urutannya dua langkah, menilai dari dalam anggapan lawan bicara, lalu menunjukkan bahwa anggapan itu tidak berdasar.

Pembagian lain yang disebut Al-Qur'an memperjelas sifat pembagian ini. Di 4:8, ketika harta dibagi, kerabat, anak yatim, dan orang miskin yang hadir diberi bagian dan disapa dengan perkataan yang patut, sehingga orang-orang yang lemah pun tidak pulang dengan tangan kosong. Di 54:28 air dibagi bergiliran, dan setiap giliran minum dihadiri oleh pemiliknya. Pembagian yang Allah atur memberi tempat bagi pihak yang lemah dan menjaga hak setiap pihak, sedangkan pembagian di 53:22 menyimpan bagian yang dibanggakan untuk pembaginya dan menyodorkan bagian yang dianggap rendah kepada Allah.

Dengan ayat ini rangkaian yang dibuka 53:19 mencapai penilaian pertamanya. Dua ayat bertanya tentang tiga nama, satu ayat bertanya tentang pembagian, dan satu ayat menilai. Penilaian kedua, yang lebih mendasar, menyusul di ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menilai pembagian itu dengan anggapan para pembuatnya sendiri, kalau begitu, dan baru di ayat berikutnya mencabut anggapan itu. Dalam perbedaan pendapat, cara ini memberi pelajaran yang berharga. Menunjukkan bahwa sebuah pendirian gagal menurut ukurannya sendiri lebih mudah diterima daripada membantahnya dari luar, sebab orang yang ditunjukkan cacat di dalam jalan pikirannya tidak punya alasan menolak dengan tuduhan bahwa lawannya memakai ukuran asing. Kesabaran untuk masuk sebentar ke dalam cara berpikir orang lain sering membuka jalan yang tidak terbuka oleh bantahan yang keras.
  • Setiap pilihan membawa penilaiannya sendiri, dan kata kalau begitu di ayat ini mengikat penilaian pada pilihan yang sudah dibuat. Orang sering berharap bisa memilih tanpa menanggung penilaian itu. Seseorang bisa bertanya kepada dirinya, kalau aku mengambil yang terbaik untuk diriku dan menyisakan yang lain untuk orang di sekitarku, pembagian macam apa yang sedang kubuat? Mengajukan pertanyaan itu kepada diri sendiri lebih ringan daripada mendengarnya kelak dari Allah, dan ayat ini memberi contoh bunyinya.
  • Dalam pembagian ini, bagian yang dianggap rendah disodorkan kepada Allah, dan Dia sendiri yang menilainya tidak adil. Dia tidak dirugikan, sebab 6:101 menyangkal bahwa Dia mempunyai anak. Penilaian itu tidak lahir dari rasa tersinggung. Penilaian itu menjaga ukuran keadilan tetap utuh, bahkan ketika pihak yang disodori bagian rendah tidak memerlukan apa pun. Orang yang dirugikan dalam pembagian kecil kadang memilih diam karena merasa tidak butuh, padahal ketidakadilan tetap perlu disebut dengan namanya, siapa pun yang menanggungnya.
  • Pembagian yang Allah atur di 4:8 dan 54:28 memberi tempat bagi yang lemah dan menjaga giliran setiap pihak. Siapa pun yang pernah memegang wewenang membagi, warisan dalam keluarga, tugas di tempat kerja, atau jatah dalam sebuah kelompok, sedang berdiri di persimpangan antara pembagian semacam itu dan pembagian di 53:22. Setiap kali membagi, dia memilih salah satunya, sering tanpa menyadari bahwa dia sedang memilih. Ayat ini membuat pilihan itu terlihat, sehingga pembagian berikutnya bisa dijalankan dengan sadar.
  • Pembagian yang timpang tidak selalu soal harta. Orang bisa membagi keberhasilan dan kegagalan dengan pola yang sama, keberhasilan dianggap buah usahanya sendiri, dan kegagalan diserahkan kepada takdir. Di 4:79 pembagian yang benar disebut dengan terang, kebaikan yang menimpa datang dari Allah, dan keburukan yang menimpa berasal dari diri sendiri. Apakah cara kita menceritakan hidup sendiri menyimpan pembagian yang berlawanan arah dengan ayat itu?
  • Ayat ini menilai pembagiannya dan tidak mencaci orang yang membaginya. Ketika menghadapi perbuatan yang keliru, kita sering tergoda menyerang pelakunya dengan sebutan yang merendahkan, dan serangan itu membuat orang sibuk membela diri. Allah memilih kata yang tepat sasaran, pembagian itu tidak adil. Memisahkan perbuatan dari orangnya menyisakan ruang bagi orang itu untuk berubah, sebab yang dinilai pilihannya, dan pilihan bisa diganti.